NovelToon NovelToon
Sugar

Sugar

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:51.9M
Nilai: 5
Nama Author: fitTri

Warning!! Adult content, dibawah umur dilarang mampir!

Bijaklah dalam memilih bacaan, novel ini bergenre Adult romance.

Membaca novel ini bisa membuat senyum-senyum, panas dingin dan baper berkepanjangan. Mengandung konten dewasa, pembaca dibawah umur dilarang ngintip, atau nanti akan penasaran.

Sofia Anna harus tercebur kedalam dunia yang tak pernah dibayangkannya. Satu masalah hidup membuat dia menjalani pekerjaan yang tak biasa. Menjadi simpanan pria-pria beristri.

Hingga suatu hari seseorang dari masa lalu menemukannya dan merubah segala yang ada di hidup Sofia.

"Apa kamu adalah kak Niko?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Dan Perpisahan

*

*

🍃 Flashback On 🍃

Seorang pemuda berusia 20an berjalan tersaruk-saruk tak tentu arah. Dengan menenteng tas lusuh dipunggung, dia mengikuti kemana saja kakinya melangkah, asal bebas dari belenggu keluarga. Bebas menentukan jalan hidup dan kemauannya, tanpa bayang-bayang dan aturan dari ayahnya.

Tanpa uang, tanpa fasilitas yang selalu memudahkan hidupnya sedari bayi.

Cukup sudah! Selama ini dia melaksanakan perintah ayahnya dalam diam. Tanpa mendengarkan apa yang diinginkannya.

Setelah lulus SMA dia harus melanjutkan pendidikan di aekolah militer, meneruskan jejak ayahnya yang memang anggota pasukan elit di negara asalnya, Rusia.

Kini dia tengah duduk di pinggir sebuah lapangan sepakbola disebuah kawasan pemukiman padat penduduk. Mengamati segerombolan anak-anak kampung yang tengah asyik bermain bola.

Keseruan nampak dari permainan yang dilakukan dua tim yang masing-masing terdiri dari 11 orang itu. Sorak Sorai memenuhi area lapangan orang-orang yang menonton. Seru. Pikirnya.

Niko tak pernah merasakan hidup diluar, sejak kecil pemuda dengan tinggi 180cm itu hidup dalam lingkungan rumah besar yang dikelilingi pagar. Dia menempuh pendidikan di sekolah internasional mulai dari TK hingga SMA. Dan setelah lulus SMA dia langsung diterbangkan ke Rusia untuk menempuh pendidikan militer disana.

Namun dia hanya mampu bertahan dua tahun. Segera setelah ujian akhir tahun selesai dia memutuskan untuk kembali ke negara asal mendiang ibunya di Indonesia. Bersembunyi dari kejaran sang ayah.

*

*

Sebuah bola menggelinding mengenai tungkai kaki Niko yang tertekuk di tanah, yang kemudian segera diraihnya. Beberapa anak datang menghampiri hendak meminta bola tersebut, namun merasa segan karena melihat sosok tinggi yang kini berdiri menjulang dihadapan mereka. Belum lagi dengan wajahnya yang cukup asing, begitu kontras dengan penampilan pemuda pada umumnya dikampung itu.

Kulit putih yang kemerahan diterpa cahaya matahari tropis, rambut hitam legam, alis tebal dengan iris mata yang gelap. Rahang yang tegas dengan postur tubuh seperti prajurit pasukan khusus, jelas sekali dia berbeda.

Niko mengulurkan bola ditangannya, menyerahkannya kepada anak-anak tersebut, yang kemudian disambut riang oleh mereka. Lalu anak-anak itu kembali berlarian ke lapangan untuk meneruskan permainan mereka yang sempat terhenti.

Namun seorang dari mereka berhenti berjalan, kemudian berbalik.

"Mau ikut main kak?" tawarnya, membuat Niko terdiam, namun kemudian tersenyum dan mengangguk.

Keseruan pun makin bertambah dengan kehadiran pemuda tinggi itu yang bermain bak bintang profesional, menambah hiburan bagi warga kampung yang kebetulan lewat.

*

*

Niko kembali duduk ditempatnya tadi beristirahat, melepaskan kaus hitamnya yang basah oleh keringat.

Ada yang menyodorkan sebotol air mineral kedepan wajahnya, Niko mendongak.

Seorang gadis cilik kira-kira berusia 8 tahun berdiri didepannya dengan senyum secerah mentari.

"Kakak haus?" tanyanya.

Niko mengerutkan dahi.

Gadis itu tak merubah posisi tangannya yang masih menggenggam botol kecil berisi air mineral.

Niko segera meraihnya dan membukanya dengan sekali putaran, menenggaknya hingga habis tak bersisa karena dia memang benar-benar sangat kehausan.

"Terimakasih," katanya. Kemudian anak perempuan itu pergi meninggalkannya tanpa sepatah katapun.

Sedetik kemudian dia menepuk jidatnya, baru menyadari kesalahannya setelah anak perempuan itu menghilang ditikungan. Dia belum bertanya siapa namanya.

Dengan langkah lebarnya, Niko segera mengejar gadis kecil tersebut. Hingga dia memasuki gerbang sebuah bangunan yang disampingnya ada plang dengan tulisan 'Panti Asuhan'.

Niko menghela napas, lalu memasuki pekarangan panti asuhan tersebut. Dia berdiri didepan bangunan tua yang sudah usang yang cat dindingnya sebagian besar telah mengelupas.

"Ada yang bisa dibantu?" seorang wanita paruh baya keluar dari dalam, mendapati pemuda asing yang berdiri dipekarangan gedungnya.

"Saya ... " Niko menatap sekeliling, mencari sosok yang dikenalinya tadi.

"Ibuuuuu!!!!!!!" teriakan nyaring terdengar dari dalam, berasal dari sebuah kamar diujung bangunan.

Wanita itu berlari dengan tergesa. Tanpa permisi, Niko berlari mengikuti beberapa orang di depannya. Hingga mereka tiba diambang pintu sebuah kamar.

Gadis kecil itu ada disana, sedang menangis.

"Ada apa?"

Sebuah boneka beruang berwarna coklat tergeletak dilantai dengan keadaan kepala telah terpisah dari badannya.

"Teddyku!!!!" gadis kecil itu terisak. Sementara satu anak perempuan lainnya berdiri tak jauh darinya. Tampaknya mereka baru saja berebut mainan.

"Astaga!! Kalian berebut lagi?!"

Tiba-tiba Niko melangkah masuk kedalam ruangan, memungut boneka tersebut, menatap kedua anak perempuan itu bergantian. Tatapan matanya jatuh pada sosok anak perempuan yang terdiam tak jauh dari gadis kecil yang beberapa saat yang lalu memberinya air minum. Menatapnya dengan tajam.

"Aku nggak sengaja, Bu!! Fia nggak ngasih waktu aku mau pinjam!!" anak itu kemudian berlari keluar ruangan.

"Sudah ya, Fia ... nanti kita perbaiki. Sekarang, diamlah." ucap wanita itu mendekat.

Niko berjongkok untuk memungut boneka yang tergeletak dilantai. Menatap wajah anak perempuan di depannya.

"Nama kamu, Fia?" tanyanya, masih berjongkok.

Gadis kecil itu mengangguk, masih terisak.

"Mau aku perbaiki?" tawarnya, dengan suara yang lembut. Tiba-tiba tangisan Fia terhenti, menatap wajah di depannya. Dia mengangguk. Niko tersenyum.

"Ada jarum dan benang, Bu?" tanyanya, kepada wanita yang dipanggil ibu tersebut. Lalu dia segera mengambilkan barang yang disebutkan dan menyerahkannya kepada Niko.

Dengan cekatan pemuda itu menjahit bagian boneka yang sempat terkoyak hingga kembali tersambung dengan rapi. Pendidikan militer ternyata berguna juga untuknya, selain dia jadi pribadi yang mandiri, juga membuat dirinya mampu melakukan hal-hal kecil yang biasanya tak mungkin dilakukan oleh seseorang seperti dirinya.

Bonekapun selesai diperbaiki. Niko menyerahkannya kepada Fia yang dari tadi menunggu di depannya dengan sabar.

Senyuman tercipta di bibir mungil gadis kecil itu. Mata bulatnya memancarkan binar bahagia. Seketika gadis kecil itu menghambur ke pelukannya. Melingkarkan kedua tangan kecilnya di leher Niko. Mendadak hati pemuda itu menghangat.

*

*

Karena tak memiliki arah dan tujuan, Niko akhirnya meminta izin untuk tinggal di panti asuhan tersebut untuk sementara waktu, dan beruntungnya sang pengelola mengijinkan.

Berbaur dengan anak-anak dipanti membuat dia merasakan kehidupan yang berbeda. Menyenangkan dan penuh canda tawa. Mengerjakan banyak hal secara bersama-sama.

Pribadinya yang menyenangkan membuat dia mampu mengakrabkan diri dengan semua penghuni panti. Tiba-tiba saja di panti itu dia menjadi sosok panutan yang di cintai semua orang. Dan itu rasanya menyenangkan. Membuatnya merasa berarti.

*

*

"Dia ditinggalkan waktu masih bayi di depan pintu," suara Bu Farrah membuyarkan lamunan Niko pada saat mereka sedang duduk-duduk di teras samping, memperhatikan anak-anak yang tengah bermain, memperhatikan Fia.

Niko mendongak, menatap wanita paruh baya berwajah teduh itu yang kemudian ikut duduk di kursi usang disampingnya.

"Banyak dari mereka yang bernasib sama. Ditinggalkan karena tak diinginkan." Bu Farrah dengan wajah sendu.

"Tidak ada yang pernah mencari mereka?" tatapannya beralih lagi.

"Sebagian ada, sesekali. Namun kebanyakan tidak. Mereka memang telah dibuang. Masih beruntung mereka membuangnya disini, bukan di tempat sampah atau ditenggelamkan di sungai."

Niko menghela napas dalam. Betapa banyak orang yang tak seberuntung dirinya. Pandangannya kini beralih lagi ke sosok gadis kecil berusia 8tahun yang tengah memainkan beberapa boneka di tengah teras sendirian.

"Dia tidak mudah bergaul, makannya tak banyak teman yang dia miliki. Seringnya dia asyik bermain sendiri dengan boneka-boneka nya."

Niko tersenyum, "Dia manis kalau diam seperti itu. Tapi cerewet kalau sudah bicara. Bikin telinga pengang." katanya, ketika mengingat beberapa kali Fia mengajaknya ngobrol saat sendirian.

Bu Farrah pun tergelak, "Ya, ... dia memang begitu dengan orang yang menurutnya enak diajak bicara. Saya lihat dia cepat akrab dengan kamu."

Niko kembali tersenyum. Mengingat saat pertama kali dia bertemu gadis kecil itu yang tiba-tiba muncul memberikannya sebotol air mineral, yang kemudian diikutinya hingga sampai di panti asuhan tersebut. Hal kecil yang membuat hatinya tergerak. Hingga membuatnya betah berlama-lama diam di panti tersebut.

"Kalau saya tinggal disini selamanya, boleh Bu?" Niko yang tiba-tiba.

Bu Farrah mengerutkan dahi.

"Kenapa? Kamu masih muda, dan sepertinya kamu bukan dari kalangan sembarangan. kenapa mau hidup disini selamanya. Hidup disini sangat sulit."

Niko menggeleng pelan. "Disini menyenangkan." katanya, dengan senyum secerah mentari.

Bu Farrah menatap pemuda tampan dihadapannya dengan heran. "Terserah kamu saja, kami dengan senang hati menerima." katanya lagi, kemudian beranjak dari sana.

*

*

Banyak hal yang dilakukan selama Niko tinggal dipanti itu. Salah satunya menjadi guru baca tulis bagi anak-anak. Dan itu sangat menyenangkan menurutnya. Menyimak betapa antusiasnya anak-anak itu, betapa bersemangatnya mereka mengikuti semua yang dia ajarkan.

Tiba-tiba terdengar keributan dari arah depan, semua orang berhamburan ke halaman. Tak terkecuali Niko.

DEGG!!

Tubuh pemuda itu membeku menatap beberapa orang berseragam Hitam yang telah berdiri di halaman panti, terlihat beberapa mobil berjejer di luar pagar.

Seorang pria setinggi dirinya berjalan tegap ke arahnya yang membeku di ambang pintu, disamping Bu Farrah yang berpegangan pada lengannya.

Pria asing yang dikenalinya sebagai ayahnya berhenti tepat beberapa langkah dihadapannya. Berbicara dalam bahasa Rusia yang hanya mereka berdua yang mengerti.

"Sudah cukup bersenang-senangnya. Sekarang kau harus pulang untuk melanjutkan sekolahmu!" Ayahnya dengan tegas.

"Tidak! Aku tak mau!" Niko menolak.

"Kenapa kau senang sekali hidup seperti ini? Tidak berguna!!"

"Aku dan ayah berbeda, aku tak suka menjadi apa yang ayah mau!!"

Pria itu menatap sekeliling, "Baik," membalikkan badannya. Sejenak Niko terheran, ternyata semudah itu bicara pada ayahnya yang otoriter. Cukup bilang tak mau, dan dia sudah mengerti.

"Ratakan tempat ini!!" teriaknya kemudian pada pengawal yang berjajar di halaman. Seketika wajah Niko memucat. Tau apa maknanya. Dia sangat kenal ayahnya.

Beberapa orang berseragam Hitam itu segera bergerak ke segala arah, melemparkan barang yang ada. Menghancurkan yang bisa dihancurkan. Merusak yang bisa dirusak. Sementara semua penghuni berteriak tak rela, namun tak mampu berbuat apa-apa karena ketakutan.

Niko tahu, ayahnya tak mungkin tinggal diam. Dia akan melakukan apapun agar bisa memaksanya pulang ke Rusia. Kembali melanjutkan keinginannya. Meski dia tak mau.

Tapi sampai harus menghancurkan orang lain seperti ini? Dirinya tak percaya Ayahnya akan berbuat sejauh itu.

"Lihatlah, kau membuat tempat usang ini hancur dengan segera."

"Hentikan, yah. Jangan libatkan mereka!" Niko akhirnya bereaksi.

"Hanya jika kau mau ikut pulang." ayahnya berbalik.

"Ayah tahu itu tak mungkin!!" sergahnya.

"Kau lebih senang aku menghancurkan tempat ini daripada pulang? Baiklah, aku kabulkan keinginanmu." dia berteriak lagi.

"Teddy!!" suara nyaring itu melengking dari area samping. Fia berlari mengekori pria yang mengangkat kotak mainan yang kemudian dilemparkannya ke tumpukkan barang yang tadi terlebih dahulu telah dikeluarkan. Dilemparkannya pula sekotak mainan itu termasuk boneka beruang coklat yang direbut dari pelukan Fia.

Gadis kecil itu meraung melihat mainan kesayangannya dilempar tak karuan. Sempat berusaha meraihnya, namun tubuh kecilnya ditahan pria berbadan besar itu.

"Hey!!! jangan ganggu dia!!" Niko bereaksi. Berlari menghampiri. Meraup tubuh mungil yang sedang meronta berusaha meraih mainannya. Menendang kaki pria bertubuh besar itu kemudian memungut boneka beruang dari tumpukkan berbagai macam barang di depannya.

"Apapun, tapi jangan tempat ini, yah. Jangan mereka!!" Niko akhirnya menyerah. Dia tak mampu melihat orang-orang baik ini hidup lebih terpuruk lagi.

"Aku hanya menyuruhmu pulang, tapi kau membuat segalanya lebih sulit."

"Aku tak mau kembali lagi ke sekolah itu! Setidaknya jangan disana!" Niko mencoba bernegosiasi.

"Baik. Pulanglah untuk mengurus usaha kakekmu."

"Tapi yah, ...

"Tak ada pilihan lain. Pulang atau aku ratakan tempat ini! kau yang tentukan." ancamnya lagi, tak memberikan pilihan lain pada anak satu-satunya itu.

Niko menghela napasnya dalam.

*

*

Tas lusuh itu kembali tersampir dipundaknya. Niko melangkahkan kakinya dengan lemas. Sementara semua orang telah bersiap.

Dia harus berpamitan.

"Maaf." ucapnya pada Bu Farrah yang berdiri dengan mata yang berkaca-kaca. Meraih tangan hangat yang sudah keriput itu, menciuminya dengan takdzim.

Bu Farrah mengusap kepalanya dengan lembut, seperti seorang ibu kepada anaknya.

Beberapa orang lainnya juga sempat dia salami. Termasuk gadis kecil yang berdiri di ujung. Menatapnya penuh kesedihan.

"Aku pergi." katanya, sebelumnya menata sekeliling gedung untuk menyimpannya di dalam ingatannya. Kalau-kalau suatu hari dia akan kembali.

Langkahnya lunglai, melewati jalan setapak menuju keluar gerbang. Masuk kedalam mobil dimana ayahnya telah duduk menunggu dengan tenang.

Mobil mulai melaju menuju jalan raya, namun teriakan nyaring masih terdengar jelas di telinganya. Niko menoleh. Gadis kecil itu berlari mengejar iring-iringan mobil yang membawanya.

"Stop!!"

"Jalan terus, kita sudah terlambat!!"

"Tidak!! stop! aku hanya sebentar." katanya, kemudian mobilpun berhenti. Niko berlari keluar menghampiri Fia yang masih mengejar.

"Jaga dirimu baik-baik, Fia. Aku akan kembali." katanya, berjongkok. Mensejajarkan tubuh tingginya dengan gadis kecil berusia 8 tahun itu.

"Kakak janji?" Fia dengan mata yang berkaca-kaca.

"Ya, aku janji. Asal kamu juga berjanji akan jadi anak yang baik." katanya lagi.

Fia menganggukkan kepalanya, "Aku janji." dan gadis itupun menghambur ke pelukan Niko, melingkarkan kedua tangan kecilnya dileher pemuda tinggi itu, menghirup aroma tubuhnya yang akan dia rindukan. Mengingatnya dalam alam bawah sadarnya.

🍃 Flashback Off 🍃

*

*

Bersambung ...

like

koment

vote

1
Adeeva Haboo
tenang ada didim,ada daryl sama darren..
ya ampun padahal udah 5 tahun lalu tapi masih apal 🤭🤭
ㅤㅤ ㅤ𓂃𑁍ࠬ·ꗥₜₐₗₗᵧ·🫧 ||
meninggalkan jejak sek
Adeeva Haboo
setelah puyeng ma emaknya nanti puyeng ma anaknya double pula puyengnya atas bawah 🤣🤣🤣
Adeeva Haboo
ahhh kang jaheeeee
Adeeva Haboo
kangeeeen maaa
Borahe 🍉🧡
Kasian banget si Papa Bear saking paniknya jd kek org bodoh😁
Borahe 🍉🧡
Sabar Fan🙈🤣🤣
Borahe 🍉🧡
Salting 😋
Borahe 🍉🧡
Hahah lucu banget 🤣🤣🤣. Dari dapam kandungan sampai gede anak Satria merepotkan Om Arfan terus🙈😂😂.
Borahe 🍉🧡
Fan Fan. Lucu banget. Calon mertua mu itu Fan di 10 thn yg akan dtg😂😋
Borahe 🍉🧡
Sengaja banget terbar pesona🙄😂
Borahe 🍉🧡
betul fan🙄
Borahe 🍉🧡
tak ada yg luput dari pantauan om Arfan😁
Borahe 🍉🧡
plek ktiplek dgn kisah anaknya🤣ternyata story turunan
Borahe 🍉🧡
Fia gak pernah mens ya🙊🙈. Bercocok tanam mulu
Borahe 🍉🧡
selama masih muda si papi gak pernah pacaran hanya sibuk kerja jd saat ketemu Fia udah kek anak ABG yg baru merasakan cinta cintaan😋😂😂
Borahe 🍉🧡
Calon mertua mu Fan 😁
Borahe 🍉🧡
Salah satu kalimat spesial Papi ke Pasangannya. "Berkat doa kamu saya selalu sehat"😍 sweet banget kalimatnya
Borahe 🍉🧡
kata andalan si Papi. "Move" 😋
Borahe 🍉🧡
Back again. Sesuka itu bacanya🙊😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!