Tirta Adira selalu percaya bahwa perasaan manusia adalah hal yang paling sulit ditebak. Hari ini bisa mencintai, esok bisa memilih pergi. Karena itulah, setelah sebuah hubungan yang melelahkan meninggalkan luka, ia memutuskan untuk berhenti menggantungkan kebahagiaannya pada siapa pun.
Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang terkenal kasar, keras kepala, dan memilih mengurung dirinya di balik masa lalu yang belum selesai. Pertemuan mereka tidak pernah berjalan mulus, tetapi di antara setiap perdebatan dan perbedaan, tumbuh sebuah chemistry yang tak mampu dijelaskan oleh logika.
Ini bukan kisah tentang cinta yang rumit. Ini adalah kisah tentang dua orang yang saling menemukan di waktu yang tak pernah mereka rencanakan, lalu perlahan belajar bahwa terkadang, cinta hadir bukan untuk mengubah seseorang, melainkan untuk mengajarkan bagaimana menerima dan menyembuhkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tr_w, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Keesokan paginya, saat Tirta sedang mencuci sayuran untuk memasak, tiba-tiba seseorang muncul begitu saja di belakangnya.
"Astaga!!" Pekiknya spontan hingga hampir saja baskom berisi sayuran itu terlepas dari tangannya. Gadis itu memegang dadanya yang masih berdegup cepat.
"Kamu mengagetkanku!" Marchel hanya menatapnya santai, seolah tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Kamu pagi-pagi sudah berisik. Lanjutkan saja aktivitasmu."
Tirta hanya bisa menggeleng pelan. Ia meletakkan baskom berisi sayuran di samping kompor, lalu berbalik menghadap pria itu. Kedua tangannya bertumpu di sisi kursi roda Marchel sambil sedikit membungkukkan badan.
Mata mereka kembali saling bertemu. Tanpa berkata apa-apa, Tirta perlahan mendorong kursi roda itu menjauh dari kompor.
"Jauhlah sedikit. Minyak panasnya bisa terciprat kalau terlalu dekat." Barulah Marchel mengerti alasan gadis itu mendorongnya menjauh.
Sesaat kemudian Tirta kembali melanjutkan acara memasaknya. Waktunya sudah sangat mepet. Semalam ia tidur terlalu larut hingga pagi ini sedikit terlambat bangun.
"Tumben sekali bangun lebih awal? Kata Kak Arga, kamu bahkan tidak akan keluar kamar sampai tanggal dua puluh nanti. Kenapa sekarang keluar?"
Tirta bertanya dengan nada sedikit senang. Setidaknya pria itu mulai menunjukkan sedikit perubahan. Namun beberapa menit berlalu tanpa jawaban. Ia pun menoleh.
"Aku tidak suka menjawab pertanyaan yang tidak berbobot." Jawaban datar itu membuat Tirta mendengus pelan.
"Baiklah, Tuan Muda. Terserah Anda. Apalah saya yang hanya ilalang." Meski menggerutu, gadis itu malah terkekeh sendiri.
"Hari ini kamu akan lembur?" Kali ini justru Marchel yang membuka percakapan sambil memperhatikan Tirta memasukkan beberapa potong ayam ke dalam minyak panas.
"Hmm... sepertinya tidak. Tapi nanti malam mungkin aku akan keluar bersama Lala." Jawabnya santai. Marchel hanya diam.
"Nanti kemungkinan aku juga tidak pulang ke rumah. Aku titip pesan ke Kak Arga supaya mengambilkan makanan box-mu dan membawanya langsung ke kamar."
Sambil berbicara, Tirta memotong bawang dengan cekatan. Bahkan dirinya sendiri terkadang heran. Dulu ia sama sekali tidak bisa memasak, tetapi hidup merantau memaksanya belajar melakukan semuanya sendiri.
Beberapa menit kemudian, aroma masakan memenuhi dapur. Tirta mulai menghidangkan semuanya ke meja makan. Marchel masih saja membisu. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Ayo makan bersama." Tirta mendorong kursi roda pria itu mendekati meja makan. Mereka duduk berdampingan, lalu gadis itu mengambilkan nasi.
"Ayamnya agak pedas. Mungkin lidah bulemu tidak terlalu cocok." Ujarnya sambil meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk di depan Marchel.
"Aku tidak bisa pakai tangan." Tirta menghela napas pelan, lalu meraih sendok dan meletakkannya di tangan pria itu.
"Katanya tidak manja."
"Memang tidak." Jawaban itu membuat Tirta kembali terkekeh. Pria itu tetap makan dengan wajah datarnya, bahkan tidak mau melirik ke arahnya.
"Makan yang banyak ya, Tuan Muda." Ledek Tirta sambil mulai menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri. Mereka menikmati sarapan dalam keheningan. Sesaat setelah selesai makan, Marchel langsung memutar kursi rodanya menuju kamar.
Brak!
Pintu kamarnya tertutup sedikit lebih keras dari biasanya.
"Kekanak-kanakan sekali."
Tirta hanya menggeleng pelan. Semakin lama mengenal pria itu, semakin banyak sisi unik yang ia temukan. Tanpa sadar, rasa penasarannya terhadap Marchel perlahan tumbuh semakin jauh.
Di depan rumah, Tirta bertemu dengan Arga. Ia tak lupa menitipkan pesan agar makanan box nanti langsung dibawakan ke kamar Marchel. Reaksi Arga justru membuat Tirta bingung.
"Apa... Marchel keluar dari kamarnya?" Nada suaranya bergetar penuh ketidakpercayaan.
"Iya. Kemarin juga aku menyuapinya saat makan malam. Memang tempramennya masih buruk sih, tapi tidak apa-apa. Hari ini kemungkinan aku tidak pulang karena ada urusan di luar."
Arga masih terdiam.
Matanya membulat.
"WAH!!"
Hanya satu kata itu yang berhasil keluar dari mulutnya. Bahkan pria itu tampak nyaris menangis karena terlalu bahagia.
"Aku pergi dulu ya, Kak. Sampai jumpa." Tirta melajukan motornya meninggalkan Arga yang kini tertawa sendiri sambil mengusap sudut matanya. Benar-benar seperti orang yang baru saja mendapat keajaiban.
...****************...
Menjelang malam, Tirta sudah berada di rumah Lala. Begitu pintu terbuka, ia langsung melihat wajah sahabatnya yang begitu suram. Tak lama setelah hanya mereka berdua di kamar, tangis Lala akhirnya pecah.
"Tirta..." Isaknya lirih sambil memeluk tubuh sahabatnya erat-erat. Tirta membalas pelukan itu. Tangannya mengusap pelan punggung Lala, membiarkan gadis itu meluapkan semua sesaknya terlebih dahulu.
"Aku tahu ini pasti menyakitkan..." Tangis Lala kembali pecah.
"Tapi aku tidak tahu kalau rasanya akan sesakit ini." Air matanya terus mengalir.
"Dia berselingkuh di belakangku..." Ucapan itu membuat Tirta langsung membeku. Rahangnya mengeras. Ia benar-benar membenci kata itu.
"Dia jujur padamu?" Tanya Tirta pelan, berusaha menahan umpatan yang sudah memenuhi kepalanya.
"Iya..." Lala mengangguk pelan.
"Dia bilang... dia ingin merasakan sesuatu yang baru." Tirta menganga tak percaya.
"Dia pikir wanita itu permen dengan banyak rasa? Tapi bagaimana mungkin? Bukankah selama ini dia selalu protektif dan posesif sama kamu?"
Setiap hari Rico selalu mengantar Lala ke kantor. Menjemputnya setiap pulang kerja. Ke mana pun Lala pergi, pria itu hampir selalu ikut menemani. Selama ini Tirta mengira semua perhatian itu adalah bukti cinta.
Nyatanya...
Semua hanyalah sandiwara.
Tangis Lala kembali pecah. Dengan tangan gemetar, ia mengambil ponselnya lalu memutar sebuah rekaman suara.
"Hei, Sayang. Jangan pergi. Aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Sejak kamu kembali ke negara ini, aku berjanji pada diriku sendiri akan menjagamu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi. Walaupun hubungan kita tidak direstui keluargaku, kita tetap bisa pergi bersama."
Lalu terdengar suara lain.
"Berhentilah memohon. Bagaimana dengan gadis itu? Kamu sudah membuatnya terbang tinggi, sekarang malah ingin menjatuhkannya? Kamu jahat, Ric."
Suara Rico kembali terdengar.
"Demi menutupi hubungan kita, aku rela menjalani hubungan yang tidak aku sukai. Aku tidak peduli dengannya. Dia masih bisa mencari pria lain, tapi aku tidak bisa kehilanganmu."
Ruangan mendadak sunyi.
Tirta menatap sahabatnya dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan.
"Suaranya..." Ia sengaja menggantung ucapannya.
"Iya..." Lala tersenyum pahit.
"Itu suara seorang pria." Tangisnya kembali pecah.
"Selama ini Rico memacariku hanya untuk menutupi orientasi seksualnya. Dia ternyata gay." Tirta mengepalkan tangannya kuat-kuat. Amarahnya benar-benar memuncak.
"Jadi... selama ini aku pikir dia tidak pernah menyentuhku karena ingin menjagaku." Lala tertawa getir di sela tangisnya.
"Ternyata bukan itu alasannya."
"Dia bilang... dia memang tidak pernah tertarik pada wanita."
"Tirta..."
"Aku kalah telak... oleh seorang pria!" Teriaknya sambil mengacak rambutnya frustasi. Kini semuanya terasa masuk akal.
Bukan karena Lala kurang cantik.
Bukan karena Lala kurang baik.
Justru sebaliknya.
Lawan yang selama ini tidak pernah ia bayangkan... ternyata bukan seorang wanita, melainkan seorang pria.
...****************...
💌 Terima kasih sudah menemukan dan membaca kisah ini bersama. Sampai jumpa di halaman berikutnya. Tr_w 💜