"Oke. Dua Cinnamon Pumpkin Chai latte," jawab gue sambil mencatat di kasir. Gue perhatikan dia. "Kalau mau sekalian nambah satu, gue kasih gratis, deh!"
"Lo kira gue butuh belas kasihan lo?" Nada suaranya ... gila, ketus banget.
Gue sempat bengong.
"Bukan gitu. Lo, kan tetangga. Gue juga naruh kupon gratis buat semua toko di jalan ini, ya sekalian aja," jelas gue santai.
"Gue enggak mau minuman gratis. Skip aja!!"
Ya ampun, ribet banget hidup ini cowok?
"Ya udah, bebas," balas gue sambil mengangkat alis, cuek saja. Yang penting niat baik sudah gue keluarkan, terserah dia kalau mau resek. "Mau pakai kupon gratis buat salah satu ini, enggak?"
"Gue bayar dua-duanya!"
Oke, keras kepala.
"Seratus sebelas ribu," sahut gue sambil sodorkan tangan.
Dia malah lempar duit ke meja. Mungkin jijik kalau sampai menyentuh tangan gue.
Masalah dia apa, sih?
────୨ৎ────
Dear, Batari Season IV
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
White Party
Semua yang Jully lakukan kepadaku, itu jauh banget dari kata teman.
“Dia bukan tipe Ailsa, dan emang kita enggak berteman,” gue angkat bahu santai. Tatapan gue bertemu sama Papa, terus gue batuk kecil, mencoba kelihatan tenang. “Tapi ya, yang datang tuh bukan Jully. Yang datang Caspian. Dia lagi mampir ke kota, pingin lihat cafe sama apartemen Ailsa.”
Meja langsung hening. Gue tengok ke arah Kakek, berharap dia bakal nimbrung buat cairkan suasana. Tapi ternyata, Papa yang lebih dulu buka suara.
“Ngapain dia tiba-tiba ke sini? Dia baru aja kelar dari rehab, dan kita sudah bayarin apartemen dia buat enam bulan ke depan. Itu kan perjanjiannya. Selesain programnya, hidup bersih selama enam bulan, baru deh kita omongin soal dia bisa balik ke rumah atau enggak. Tapi yang jelas, dia udah langgar perjanjian itu lagi.” Papa mengelap mulut pakai serbet, rahangnya tampak kencang, dan gue langsung sadar kalau dia tegang banget cuma gara-gara nama Caspian disebut.
“Caspian kan tinggal jauh banget dari sini, dan dia kangen keluarga. Dia cuma mampir pas weekend. Sekarang dia udah dapat kerjaan dan minggu ini mulai kerja. Ailsa cerita soal cafe dan dia pingin kasih kejutan. Dia udah berubah, Pa dan kelihatan kayak Caspian yang dulu. Dia pingin balik lagi dalam waktu dekat, dan Ailsa janji bakal ngomong sama kalian soal itu. Menurut Ailsa, aturan enam bulan itu udah enggak masuk akal. Dia udah nyelesain programnya. Dia kangen keluarga. Dia kangen kalian,” papar gue panjang lebar sambil melirik Mama dan Papa bolak-balik.
Mereka sama sekali enggak pernah jenguk Caspian waktu dia di rehab. Mereka benar-benar nge-cut off dia. Cuma gue sama Kakek yang sempat jenguk dia.
“Kamu sendirian sama dia?” suara Papa sekarang dingin banget, lebih tegas dari biasanya.
“Papa nanya, Ailsa sendiri sama adik kandung Ailsa di apartemen? Serius nih? Ya iyalah, Ailsa sendirian. Ailsa enggak takut sama Caspian, tapi kayaknya kalian deh yang takut.”
Gue bersandar di kursi, menyilangkan tangan di dada. Gue sebal banget lihat keluarga ini sudah terbelah jadi dua.
Kakek langsung batuk kecil, coba menenangkan suasana.
“Udah ya, yuk kita tenang dulu. Ada hal-hal yang belum kamu tahu, Ailsa. Ini bukan cerita yang bisa Kakek ceritain, tapi Caspian udah bikin keluarga ini sakit hati banget. Dan sekarang dia harus berusaha mendapatkan kepercayaan orang tuanya lagi."
Mereka semua jelas-jelas menyimpan rahasia besar waktu gue masih sekolah. Tapi entah kenapa, enggak ada yang mau cerita. Tapi satu hal yang pasti, ada yang berubah sejak terakhir Caspian bertemu sama Mama dan Papa.
“Sekarang dia kerja keras buat ngidupin dirinya sendiri. Dia itu pecandu. Itu bukan salah dia. Dia lagi sakit!” suara gue mulai berat, ada gumpalan di tenggorokan.
Capek banget rasanya terus-terusan membela Caspian. Gue cuma pingin suatu hari nanti dia benar-benar membuktikan kalau gue enggak salah menaruh harapan ke dia. Tapi sudah berapa kali, sih gue bilang dia berubah, terus dia kumat lagi secepat itu juga.
“Tapi suatu saat, dia harus mulai tanggung jawab, Ailsa. Dia pecandu, dan kita udah kirim dia ke rehab delapan kali. Kita bayarin semua program. Tapi dia tetap aja nyakitin keluarga ini, dan sekarang Mama udah enggak percaya lagi sama dia,” kata Mama, matanya mulai berkaca-kaca. Dan sumpah, gue benci banget lihat Mama sedih cuma gara-gara gue sebut nama Caspian. Tapi gue harus coba. Soalnya gue tahu, sebenarnya dia juga kangen sama Caspian.
Kita semua kangen dia.
“Ailsa ngerti, kok. Tapi dukungan dari kita tuh bakal bantu penyembuhan dia.”
“Dia udah dapat dukungan finansial dari kita. Sisanya, dia harus berusaha sendiri, pelan-pelan,” kata Papa sambil menimpuk serbet ke meja. Kayaknya topik ini benar-benar bikin selera makannya hilang. “Kita dengarin kok, dan bakal kita pikirin. Tapi sekarang Papa minta satu hal.”
“Oke,” jawab gue, sambil menelan gumpalan besar di tenggorokan.
“Papa enggak mau kamu ketemu Caspian sendirian. Itu enggak aman, terserah kamu mau percaya atau enggak. Kalau dia hubungin kamu, kasih tahu kita, dan kita yang atur buat temanin kamu.”
Enggak sempurna sih, tapi juga bukan jawaban paling buruk. Setidaknya Papa enggak menutup kemungkinan buat bertemu sama Caspian suatu hari nanti. Itu sudah lumayan ada kemajuan.
“Oke, bisa kok. Mungkin nanti pas dia balik, kita bisa makan malam bareng sekeluarga.”
Mama Papa saling tatap. Gue enggak mengerti itu tatapan apa, tapi ekspresi Mama kayak … kosong dan menyisakan bekas. Gue jadi berpikir, bakal ada enggak, ya hari di mana membicarakan soal adik gue enggak bikin semuanya berat banget.
“Kita lihat dulu gimana dia kerja di tempat barunya, baru kita pikirin langkah selanjutnya,” kata Mama pelan. “Gimana kalau sekarang kita bahas soal White Party?”
“Wah, itu bagian favorit Nenek,” sahut Nenek dengan senyum lebar.
Royal Blossom White Party itu acara tahunan keluarga gue di kota ini, dari gue kecil sudah ada. Nenek sama Mama yang selalu mengurusnya, mereka bikin perayaan yang megah, sekalian jadi acara amal juga. Semua orang di kota pasti datang.
Mama biasanya menyiapkan acara ini berbulan-bulan sebelumnya, dan tiap tahun acaranya makin ramai dan makin keren.
“Tahun ini Mama bakal undang beberapa band juga buat tampil. Pasti seru banget buat anak-anak muda di kota ini,” tegas Mama.
"Ailsa senang banget bisa tinggal di sini lagi tahun ini, jadi Ailsa bisa bantuin Mama kapan aja," jawab gue.
"Pastinya. Mama juga senang banget kamu bisa bantuin," kata Mama sambil tersenyum.
"Rasanya enak banget cucu cewek kita balik ke rumah," tambah Kakek.
Dan iya, memang enak rasanya bisa pulang. Tapi sekarang, gue harus cari cara biar keluarga ini bisa bersatu lagi.
sampe Nauru akhirnya mau minuman gratis di cafe Ailsa 🤭
walau di cerita awal, Caspian itu adiknya tapi disini jd kakaknya, gpplah. mohon lanjutannya Thor 🙏🙏🙏🙏