Jelly Putri Wijaya sadar, menikahi seseorang yang tidak dicintai hanya akan membawa masalah. Itulah alasan mengapa ia harus menghentikan rencana pernikahannya dengan Benjamin Huang. Mungkin lebih tepatnya melarikan diri dari pernikahan itu.
Pelarian Jelly ke Hongkong mempertemukan gadis itu dengan Oscar Liu, musisi muda yang sedang naik daun dan digilai fans. Sosok Jelly yang kikuk dan misterius, membuat Oscar tertarik menjadikan gadis itu tameng dari serbuan gosip media.
Perasaan Oscar yang semakin kuat dan kenyataan bahwa Jelly bukanlah gadis sembarangan, membuat Oscar jadi mempertanyakan niatnya. Jelly pun sadar bahwa ia tidak bisa selamanya melarikan diri. Ketika masa lalu dan masa depan bertarung di depannya, akankah Jelly kembali lari dan menjauh dari kebahagiaan?
Bagaimana kisahnya? yuk ikuti di novel baruku.. 🙏
Jika suka, like, komen positif, sub, rate 5 and share ya.. Terimaka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Violetta Slyterin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8.
Pingsan? Dirinya baru saja pingsan?
Merasa perlu mengurangi rasa gugupnya, Jelly Putri Wijaya meraba-raba isi tasnya mencari- cari buku desainnya. Mustahil, pikirnya menggeleng. Pasti ia hanya tertidur. Jelly Putri Wijaya masih meragukan penjelasan Oscar Liu yang mengatakan dirinya baru saja pingsan. Terlepas itu lelucon ala Oscar Liu atau benar sekalipun, ia kelihatan bodoh tadi.Saat" Dirinya pingsan " itu.
Ini gila, pikir Jelly Putri Wijaya kalut. Otaknya terlalu lemah memikirkan apa pun saat ini. Ia pun beralih ke buku desainnya di pangkuannya dan mencoba untuk menggambar karya baru.
Mungkin menggambar bisa mengalihkan kengerian yang menerjang benaknya. Mungkin menggambar bisa menenangkan dirinya. Mungkin....Mungkin ....
Sambil mengedik Jelly Putri Wijaya mulai mencoret halaman buku dan membuat desain yang sederhana. Tangannya bergerak lincah melukis bangunan pada kertasnya. Jelly Putri Wijaya memang merasa lebih baik setelah menggambar. Menggambar, melukis, selalu bisa membuat hatinya terasa ringan. Tetapi saat mengintip Oscar Liu yang kini sudah asyik luar biasa mendengarkan musik dari earphones, Jelly Putri Wijaya pun melanjutkan gambarnya sambil ia tak pernah berhenti untuk menggerutu.
****
Kalau gadis ini berpikir bahwa aku tidak mendengar omelannya, ia keliru. Oscar Liu menggeleng- geleng. Oscar Liu memang memasang earphones pada telinganya, tapi bukan untuk mendengarkan lagu, melainkan melindungi pendengarannya dari bising yang berasal dari dengungan mesin pesawat. Ia tahu pendengaran sangat penting bagi seorang musisi, terutama dalam mengidentifikasi nada. Oscar Liu harus mengingatkan dirinya bahwa ia bukan seorang Beethoven yang jenius.
"Sulit dipercaya, bodoh.... menyedihkan... "
Oscar Liu melepas earphones- nya." Aku ini sangat bisa mendengarmu, " sergahnya. Gadis itu menoleh ke arahnya. "Bodoh, sangat bodoh, sulit dipercaya,.. menyedihkan..."
"Kau mendengarnya? "
Oscar Liu menoleh dan melihat gadis itu membelalak kaget. "Ya.Keras dan jelas."
"Oh, maafkan aku.A.. ku.. " Gadis itu mendekap mulut dan menatap canggung ke arahnya. "Aku tidak tahu kau mendengarkannya."
Oscar Liu hanya tersenyum datar. Enggan sekali bagi dirinya untuk berkomentar.
"Kurasa aku harus ke toilet." Gadis itu melepaskan sabuk pengaman dan cepat- cepat bangkit.
"Hei." Oscar Liu terlihat tanpa ragu untuk menahan pergelangan tangan gadis itu. Ia tahu mungkin ini berlebihan, terbukti dari reaksi gadis itu yang kini ia lihat melirik takut pada tangannya. Tapi Oscar Liu tidak peduli. Ia harus memastikan dirinya tidak akan mendobrak pintu untuk kedua kalinya hari ini. "Kamu bisa menjamin tidak akan terkunci dalam toilet lagi? "
Mata gadis itu melebar.
"Baiklah." Oscar Liu melepaskan tangannya." Kau ini jangan membuatku mendobrak pintu toilet pesawat kali ini."
Bibir gadis itu bergerak hendak mengucapkan suatu hal yang mungkin se gentong kekesalan. Tetapi dan anehnya ia tidak mengatakan apapun dan memilih untuk cepat- cepat berlalu.
Oscar Liu mendesah dan memutar mata. Beberapa menit kemudian, ia sudah mendengarkan musik dari earphones- nya. Sambil mengetuk- ngetukkan ujung jemarinya di lutut mengikuti ketukan nada-nada yang ringan dari lagu yang sedang diputar, Oscar Liu pun melirik ke kursi kosong di sampingnya.
Sudah lima belas menit dan gadis itu belum kembali. Apa wanita harus selama itu di toilet? Oscar Liu pun tersenyum samar saat pramugari datang kepadanya untuk mengantarkan hidangan makan siang. Lalu ia tiba-tiba berdiri dan berkata, "Kurasa aku ini harus memeriksa temanku di toilet sebentar."
"Tentu saja, Tuan. Silakan."
Temanku? Hebat. Sejak kapan gadis aneh itu yang sinis luar biasa menjadi temannya?Oscar Liu hanya bisa menggertakkan gigi. Ia sungguh-sungguh heran menemukan dirinya kini berjalan di lorong pesawat untuk memastikan keadaan gadis pengeruk sampah aneh itu seharusnya sudah duduk tenang dan sibuk untuk menghabiskan makan siang di sampingnya.
Oscar Liu mengetuk pelan pintu toilet pesawat dan berbisik, "Hei...um, ini aku. Makan siangmu sudah di meja. Kau baik- baik saja didalam?"
"Ya, aku baik-baik saja. Hanya sedikit.. tunggu,.. aku menumpahkan barang- barangku sekarang!"
"Syukurlah, kupikir kau pingsan lagi, " sahut Oscar Liu heran. "Kau bisa membuka pintu ini, kan?"
"Tentu saja, " jawab gadis itu cepat." Sebentar..."
Pintu itu terbuka. Oscar Liu refleks mundur. Melihat wajah gadis itu murung, Oscar Liu bertanya lagi." Kau yakin kau ini baik- baik saja?"
"Aku hanya tidak biasa."
"Tidak biasa...?" Oscar Liu mengedik ketika gadis itu memijat pelipis.
"Lupakan saja. " Gadis itu menurunkan pandangan, Oscar Liu melihatnya sedang menerawang. Lalu ia melihat gadis itu mengangkat wajah dan menatap ke arahnya."Kau ingin memakai toilet?"
"Tidak." Oscar Liu menggeleng cepat, tapi tiba-tiba, " Ya, maksudku.Aku perlu ke toilet." Tanpa berpikir panjang Oscar Liu segera masuk, setelah gadis itu menggeser tubuh. Oscar Liu tidak mungkin dirinya ini mengatakan tentang tujuannya ke toilet hanya untuk memastikan keadaan gadis itu.
"Hei, kau harus makan, " kata Oscar setelah kembali ke kursinya. Keningnya mengernyit dan menatap ke arah gadis itu, lalu makan siangnya yang masih utuh.
"Aku tidak berselera, " gumam gadis itu. " Aku tidak bisa menikmati apa pun selama masih berada di dalam pesawat. "
"Kau apa? "
"Aku benci naik pesawat, " jelas gadis itu."Ini bukan fobia, tapi..." Kata-katanya tertahan di udara.
Tunggu, jangan bilang gadis ini tadi pingsan karena takut naik pesawat?"
"Kau.. takut naik pesawat?" Oscar Liu tidak bisa lagi menahan diri untuk bertanya.
"Apa kau menertawaiku sekarang?"
"Tentu saja tidak, " sahut Oscar Liu. Tapi sedetik yang kemudian tawanya pecah."Maaf.Aku tidak tahu kau takut naik pesawat. Astaga. Ini lucu sekali! "
Gadis itu melirik pundak Oscar Liu yang turun- naik dan seperti pemandangan itu mengintimidasinya. " Bisakah kau berhenti menertawakanku?" katanya itu yang tajam.
"Baiklah... baiklah. Maafkan aku." Setidaknya Oscar Liu mulai mengerti alasan dibalik sorot waswas pada diri gadis itu. Takut naik pesawat.
Sial,ia masih ingin tertawa. Sambil meredakan geli di perutnya, Oscar Liu mengamati gadis itu dan berkata secara halus, "Kalau kau takut naik pesawat, kenapa kau tidak menggunakan kapal laut untuk dirimu itu nyaman?Ya, untuk masalah yang terjadi pada orang sepertimu ini?"
"Orang sepertiku? Apa maksudnya itu?" balas gadis itu dengan nada tersinggung.
"Hanya saran."
"Aku tidak butuh saranmu."
"Oke, " sahut Oscar Liu pendek. "Sudah terlanjur bagi dirimu untuk mendengarkan saran, bukan begitu?"
"Aku lega kau mengerti." Gadis itu bersedekap.Saat mendapati Oscar Liu tidak bereaksi, ia melirik." Apa? " tanyanya ke Oscar Liu, masih tetap sinis.
Senyuman Oscar Liu melebar, tetapi ia tidak ada niat untuk menyahut lagi. Ia baru menyadari bahwa gadis itu memiliki sepasang mata cokelat yang indah. Dan, tepat ketika ia berpaling ke jendela, pesawat mereka berguncang cukup keras. ia menoleh lagi saat dirinya merasakan lengannya di cengkeram.
Bersambung!!