NovelToon NovelToon
Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Tiba-tiba Dilamar Ceo Dingin

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Contest / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Airlangit

Follow IG-Airlangit9

Nekat pergi ke kota, bermodalkan Ijazah SMA untuk mengadu nasib. Siapa sangka, sebuah insiden membuatku terperangkap dalam hubungan tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Airlangit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serba terburu

Dengan sangat terpaksa, Dilara memesan ojek online, kendati ongkos perjalanan mahal, ia harus merelakan uang sakunya untuk hal tersebut agar tiba tepat waktu di kantor.

"Ayok, ngebut, Mang!" pekik Dilara sambil melirik jam di tangannya dan terkadang menunjuk-nunjuk ke jalanan depan.

"Ini sudah ngebut, Bu! Please deh, diam! Biarkan saya fokus pada perjalanan." Akhirnya si sopir mengeluh.

"Ngebut lagi, Mang!"

"Nanti ditangkap polisi!"

"Saya tambahin ongkosnya!"

Kesal dengan ocehan Dilara. Tukang ojek online itu langsung tancap gas. Jika saja gadis itu tak berpegangan pada besi belakang, mungkin ia sudah terjengkang.

Kerudung Dilara mengapung-ngapung hampir terlepas dari kepala, untungnya ia mengenakan ciput dalam dan menaruh pentul di atas kepalanya. Terkadang pula ia meringis, ketika ojek itu menyenggol pengendara lain dan mengenai betisnya.

Motor tiba di halaman gedung perusahaan. Dilara langsung turun dan menyerahkan helm pada tukang ojek itu.

"Ini ongkosnya, Mang. Makasih, ya." Dilara menyelipkan uang 40 ribu di tangan pria muda itu kemudian berjalan setengah berlari memasuki gedung. Ongkos sebenarnya adalah 20 ribu.

"Terima kasih, Mbak. Bintang lima, ya!" seru si tukang ojek sambil menatap punggung Dilara.

Dilara mengangkat satu tangan kanannya, tanpa membalikkan badan, pertanda setuju.

Setibanya depan ruangan tempat kerjanya, ia melihat ketua divisi sedang mengawasi para karyawan. Diam-diam Dilara melangkah menuju kursinya, saat ketua divisi itu hendak menoleh, sontak Dilara jongkok dan berjalan mengendap-endap sehingga berhasil sampai di kursinya.

Ia mengabaikan tatapan sinis para rekannya dan mulai menata barang-barangnya ke atas meja.

"Hay kamu!"

Dilara langsung menoleh dan si ketua divisi telah berdiri tak jauh darinya.

"Tadi kamu tak ada! Kamu pikir ini kantor punyamu, apa. Seenaknya datang." Pria itu berkata lantang.

Wajah Dilara memerah, belum reda gerah yang menyiksa, bertambah lagi perasaan tak nyaman lainnya.

"Berdiri kamu depan kantor! Untuk menjadi contoh bagi karyawan yang lain! Agar tak ada lagi orang-orang ngaret seperti kamu. Bagaimana perusahaan mau maju, jika kedisiplinan diabaikan."

Dilara membuka mulutnya, tak menyangka hukuman setrap yang ia rasakan di sekolah dasar ternyata dipakai juga di perusahaan. Dengan perasaan malu, gadis itu berdiri dan melangkah lesu melewati rekan-rekannya.

Ia berdiri depan ruangan, menekurkan pandangan. Ketika melihat pantulan dirinya di cermin pilar yang tak jauh darinya, Dilara membelalakkan mata. Penampilannya acak-acakan. Mungkin karena mengendarai motor sambil mengebut tadi, yang membuat pakaiannya awut-awutan seperti itu. Serta wajahnya tampak sangat kucel dan kusam.

Dilara merengut, melirik pada para wanita di kantor itu. Penampilan mereka rapi dan wajah mereka bersih.

Ia meniup ke atas, topi kerudungnya langsung bergerak dan turun lagi. "Kapan aku cantik seperti mereka?" keluhnya kemudian menghela napas panjang.

Saat itu, beberapa orang lelaki melangkah hampir melewatinya. Melihat salah satu dari lelaki itu Dilara langsung menundukkan kepala dalam-dalam.

Tak disangka, para lelaki itu berhenti di hadapannya. Tentu saja membuat Dilara mematung berwajah pucat.

"Bu, tolong buatkan kami kopi. Kami akan berada di ruangan itu." Salah satu pria itu berkata dan menunjuk sebuah pintu.

"Saya maksudnya?" Dilara menoleh ke kanan kiri, kemudian menunjuk diri sendiri.

"Ya, kamu, siapa lagi."

Para lelaki itu pun pergi.

"Saya bukan office girl," lirih Dilara menahan kesal, lantas melangkah mencari-cari dapur.

Dalam sekejap, ia selesai membuat lima gelas kopi kemudian bergegas membawa minuman itu menuju tempat di mana para lelaki itu berada.

Setibanya di ruangan yang dimaksud, terlihat para lelaki itu duduk mengelilingi meja dan menyimak apa yang dijelaskan Daniel depan layar proyektor.

Dilara menata kopi itu ke atas meja dengan hati-hati.

"Sekalian camilannya, Bu." Lagi pria yang sama yang meminta.

"Camilan, apa?" Dilara tak mengerti.

"Apa saja yang ada di pantri. Masa kamu sebagai pembantu tak mengerti."

Dilara mengusap wajahnya kemudian berkata, "Saya tak mau."

Para lelaki itu kaget dengan sikap tak sopannya. Bagaimana mungkin pembantu bersikap seperti itu.

"Kenapa ada jenis pembantu seperti itu, Daniel?" tanyanya sembari terkekeh.

"Berhenti, Teman-teman. Perempuan itu bukan pembantu." Daniel menyahut sambil tersenyum. Namun, senyumannya cepat lenyap ketika matanya beradu pandang dengan Dilara. "Karakter tokoh-tokoh dalam film animasi ini, adalah hasil tangan perempuan itu."

Seketika para pria itu menegakkan punggung.

"Ya ampun, benarkah?" Salah satu dari pria itu melirik pada Dilara tak menyangka.

"Bukan salah kita. Penampilannya--" Pria itu tak meneruskan ucapannya.

Merasa tak enak hati, Dilara langsung membungkuk kemudian melangkah keluar ruangan.

Lagi-lagi penampilannya jadi tolak-ukur orang menghargainya atau tidak.

Gadis itu kembali berdiri depan ruangan kantor sambil menekurkan pandangan. Wajahnya tampak sendu, pandangannya kosong.

"Hay, Nak! Sudah hukumannya, lekas kembali bekerja." Pak Cipto kepala divisi berdiri di sampingnya.

Dilara mengangguk kemudian memasuki ruangan dan duduk di kursinya, mulai mengerjakan tugasnya.

***

Dilara duduk di bangku tukang baso memperhatikan lalu-lalang kendaraan di jalan raya itu.

"Hay! Tumben sebelum pulang nongkrong di tukang makanan?" Datang-datang Arsi langsung duduk di sampingnya.

Dilara menghela napas panjang, kemudian menekuk dagunya.

"Ada masalah?" tanya Arsi menaikkan kedua alisnya.

Dilara tak menyahut.

"Cerita dong. Kemarin aja ceria nempel terus sama Said. Sekarang kok mendadak buram wajahnya."

Dilara berdiri di hadapan Arsi dan bertanya dengan nada rendah, "Arsi, apakah saya jelek?"

Bukannya menjawab, Arsi malah terdiam.

"Jawab dengan jujur, katanya suruh cerita." Dilara langsung manyun dan melipat tangan di dada.

Arsi berdiri, meraih kedua tangan kawannya itu dan menatap selidik Dilara dari ujung kaki ke ujung kepala sambil mengetuk-ngetuk dagunya sendiri dengan ujung jari.

"Wajahmu tak jelek, tetapi penampilanmu kampungan," ucap Arsi.

Dilara langsung melotot.

"Jangan marah!" Arsi mengangkat dua tangannya. "Kamu tadi bilang suruh jujur."

"Apanya yang kampungan?" Dilara cemberut. "Ini tuh cantik, penampilan kaya gini tuh adalah seragam qasidah modern almanar yang terkenal itu." Dengan bangganya Dilara menjelaskan dari mana ide berpakaiannya.

Mendengar ucapan Dilara, Arsi menahan tawa mati-matian, takut temannya itu tersinggung jika ia terbahak, kendati perutnya sangat tergelitik. Bagaimana mungkin seorang gadis modern masih mengenakan konsep pakaian era 2000-an.

"Kamu mengenakan kerudung pashmina, topinya terlalu ke belakang, dan ciputnya itu dibiarkan terlihat. Kemudian pakaian atasanmu lebih mirip pakaian emak-emak jenis kebaya, pakai celana gombrang lagi bawahnya, terus itu pakai sepatu karet." Arsi menjelaskan.

"Apa yang salah dengan penampilan, ini? Emakku juga pakai yang begini." Dilara membela diri sendiri.

"Ya udah, kalau kamu merasa nyaman." Arsi pun memilih diam. Dan duduk kembali kemudian memesan makanan.

1
Nur RaudLoh NauRa
menakjubkan/Drool/
Nur RaudLoh NauRa
bagus sila, dasar pemalas tu mbk2 m mas seenak e udelle
Nur RaudLoh NauRa
lucunya/Drool/
Apreel Leeya
typo trus..ayahnya dipanggil Murad..Murad...
Teresia Atik tinus
Kecewa
Cechen Mei li
lelaki dancuk
Cechen Mei li
kok murad sih
Cechen Mei li
said kk
Cechen Mei li
saik kk bukan Danil🤦‍♀️
Nayla Azizah
kasihan ms dilara menderita mulu Thor??kpan bahagia menghampiri'n??
Shen shandian luo
gak mau uangnya tapi tetep ikutan bohong...kan percuma bicara soal dosa....😂😂😂😂😂😂😂😂
Irma Yanti
dilara lugu.. kadang bikin emosi ya..maaf Thor
Irma Yanti
cerita bagus Thor...semangaaad
Yuniarti Rossyidie
ceritanya lumayan menghibur...lucu...
💟노르 아스마💟
sejauh ini bayik suka ...gk bertele²
Marchel
halo kakak author yang baik hati aku ijin share novel aku ya yang berjudul " Bos and me " dan " gadis cantik itu milikku " terimakasih kakak author 🙏
Cusy Low Aty
lanjut
Suriani Anhy
biarlah said bersama Dilara, utk daniel mudah2hn selamat dn mnjdi mafia utk bisa bls dendam kpd murad.... 😀😀🤭, bisa dong kita menghayal juga thor🤭
Ziza Yazid
lanjut persi dilara
Ziza Yazid
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!