Kisah Sofia dalam menghadapi tujuh tahun naik turun dalam pernikahannya yang penuh kesedihan.
Di awali dengan berbagai kebohongan yang dibuat oleh Suaminya sejak awal pernikahan mereka.
Evan yang telah merenggut hal paling berharga milik Sofia.
Satu persatu kebohongan terungkap, Sofia mencoba bertahan dan memaafkan Suaminya lagi dan lagi karena cintanya pada Evan, dan Sofia yang melihat ketulusan Suaminya yang menerima kelemahannya.
Namun Suaminya tidak pernah berubah, kebohongan demi kebohongan selalu dia buat, sikapnya yang perlahan berubah dan menyakitinya, dan menghacurkannya.
Ibu Mertua yang selalu mencari masalah dengannya.
Sampai akhirnya, kesabaran Sofia tiba pada batasnya.
Batas Akhir dari Cintanya Pada Evan.
Apakah dia masih sanggup bertahan?
Atau malah bisa menemukan kebahagiaannya yang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Za L Lucifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8: Kecewa
Ketika Sofia membuka kembali matanya dia berada di sebuah ruangan ketika familiar dengan aroma obat-obatan. Yang sedikit berbeda kali ini adalah rasa sakit yang dia rasakan pada perutnya.
"Sofia? Kamu akhirnya bangun? Apakah ada yang sakit?"
Seorang Pria dengan wajah familiar lagi-lagi duduk di samping tempat tidur Sofia, menunjukan ekspresi kesedihan yang jelas.
Sofia entah bagaimana membenci rumah sakit. Rasanya tidak ada hal yang baik jika dia pergi ke sini dan dirawat ingat di sini.
"Apa yang terjadi padaku?"
Namun kali ini Evan tidak menjawab, Sofia memperhatikan bahwa kepala Evan memiliki beberapa perban, begitu pula dengan tangan Evan. Sofia sudah memperkirakan hal apa yang mungkin terjadi.
Keduanya baru saja terlibat sebuah kecelakaan ketika Evan kehilangan kendali akan mobilnya. Dan melihat Evan masih bisa menjaganya ketika berada di ruang rawat ini itu artinya Evan Suaminya baik-baik saja.
Hanya saja, Sofia tiba-tiba memiliki firasat buruk tentang ini.
"Lalu... Lalu bagaimana dengan calon bayiku?"
Sofia bertanya dengan khawatir sambil memegangi perutnya yang masih datar. Ini baru bulan ke tiga, jadi perutnya masih belum membuncit.
Evan yang ditanya itu segera menjadi diam.
"Mas Evan jawab! Bagaimana dengan calon anak kita? Tidak terjadi apa-apa kan padanya? Jika sampai terjadi apa-apa.... Aku... Aku..."
Sofia yang begitu ketakutan itu mulai meneteskan air matanya. Namun Evan segera memeluk Sofia dengan lembut.
"Calon anak kita baik-baik saja."
"Benarkah?"
"Benar, ini baik-baik saja."
"Kamu sudah percayakan sekarang, jika ini calon anak kita?"
Evan yang kemudian mengingat tentang pertengkaran sebelumnya tiba-tiba saja dihantui dengan rasa bersalah wajahnya menjadi begitu sedih.
"Ma... Maafkan Aku Sofia... Aku sempat berkata hal-hal yang keterlaluan..."
"Asal kamu sudah percaya padaku itu baik-baik saja,"
Evan tidak ingin lagi membahas tentang pertengkaran sebelumnya. Mungkin karena dia takut dengan kenyataannya, ataukan takut dengan tragedi yang baru saja meminta mereka berdua.
Evan hanya bisa memeluk Sofia, dan tidak mengatakan apa-apa. Sofia juga akhirnya merasa lega karena bayi yang ada dalam kandungannya baik-baik saja.
Setelah itu, Dokter segera datang dan memeriksa Sofia.
"Bagaimana keadaan Istri saya, Dok?"
"Saat ini, kondisi Istri anda normal setelah operasi. Tidak ada efek samping apa-apa."
Mendengar kata-kata Dokter, Evan akhirnya bisa menghela nafas lebah namun wajahnya menjadi sedikit lebih pucat ketika Sofia tiba-tiba bertanya,
"Lalu bagaimana dengan kandunganku Dokter? Apakah anak dalam kandunganku baik-baik saja sekarang? Kata Mas Evan, sebelumnya baik-baik saja,"
Dokter itu segera menahan Evan dengan ekspresi penuh tanya, Evan hanya segera memberikan kode pada Dokter itu. Seolah mengerti, Dokter itu segera berkata,
"Semuanya baik-baik saja jadi saya harap, Nyonya Sofia bisa Istirahat yang cukup. Jangan pikirkan apa-apa lagi."
"Baik, Dokter."
Dengan itu, Sofia di rawat di Rumah Sakit selama beberapa hari lagi bersama Evan yang menemaninya.
Mereka juga sudah tidak membahas tentang pertengkaran mereka sebelumnya, terutama Evan. Sofia juga merasa cukup lega karena semuanya baik-baik saja.
Sampai ketika Keluarga Evan datang menjenguk Evan. Itu adalah Ibu Mertuanya dan Kakak Evan berserta Istrinya Olivia.
"Apakah Istrimu sudah baik-baik saja?"
"Benar, Ma. Dia sudah membaik sekarang."
"Kalau begitu kamu sebaiknya pulang dan istirahat saja di rumah, biarkan Istrimu di Rumah Sakit sendiri, sepertinya kamu kelelahan menjaganya selama beberapa hari ini."
"Tidak apa-apa Ma, ini sudah kewajibanku. Aku tidak bisa membiarkan Sofia sendiri di sini pasti dia khawatir jika sendirian,"
"Sofia, kamu Jangan manja dong jadi orang biarkan suamimu ini pulang dulu, Apakah kamu tidak lihat dia itu juga sedang sakit dan kelelahan pasti susah mengurusimu di rumah sakit terus."
Diana terlihat menyalahkan menantunya itu. Sofia jangan mendengar itu jelas menjadi tidak nyaman juga. Ini tidak seperti dirinya ingin dirawat di rumah sakit dan lagi alasan kenapa kecelakaan ini terjadi juga karena kecerobohan Evan.
Namun Sofia juga merasa kasihan pada suaminya yang selalu setia dan merawatnya selama ini.
"Bener, Mas Evan pulang saja ini istirahat Aku tidak apa-apa kok di sini."
"Eh, tapi aku tidak bisa membiarkanmu sendiri."
Diana yang melihat keduanya itu jelas merasa tidak tahan dan akhirnya berkata,
"Evan, sudah kamu pulang saja biar aku saja yang menjaga Istrimu sementara,"
"Mama beneran tidak apa-apa?"
"Iya, tidak apa-apa, ada Kakak Iparmu juga yang akan menemani, Mama."
Sofia yang mendengar itu, sedikit kaget dengan respon Mertuanya, sejujurnya di temani Mertuanya akan terasa lebih canggung dan buruk. Namun Sofia tentu saja tidak bisa meluangkan isi hatinya dan hanya tersenyum sambil berkata,
"Benar Mas, Mas Evan pulang saja, Kan ada Mama."
Dengan itu, Evan akhirnya pergi dari sana, dan tersisa tiga wanita disana.
"Ma, kenapa harus nemenin Si Gak Guna sama Tukang Selingkuh ini sih?" Keluh Olivia terlihat sekali tidak senang disuruh menjaga Sofia disini.
Diana segere menatap tajam Sofia dan berkata,
"Memang, ini Menantu enggak tahu diri! Aku dah dengar soal perselingkuhanmu di belakang Putraku! Benar-benar deh, nggak habis pikir ngapain sih Evan bisa-bisanya maafin kamu!"
"Enggak, Ma... Sofia enggak pernah selingkuh."
"Cih, jangan males deh aku jelas udah lihat sendiri gimana kamu malah mesra-mesraan sama cowok lain di belakang Evan."
"Enggak Ma...."
"Udah deh, Sofia kamu jangan ngeles. Sekarang sebutin aja, berapa banyak uang yang kamu mau biar ningalin Evan! Mama gak tahan Putra Mama ini nikah sama tukang selingkuh! Kamu kan bisa sama cowok di luar sana, nanti udah Mama bayarin deh, buat modal kalian pargi dari hidup Evan!"
Sofia yang mendengar itu, jelas saja hatinya dipenuhi dengan rasa kesedihan dan kemarahan bisa bicaranya, Ibu Mertuanya bilang kayak gitu?
"Mama Jangan bicara yang aneh-aneh deh! Gimanapun saat ini, Aku sedang mengandung Anak Mas Evan... Sofia enggak bakal ninggalin Mas Evan."
Mendengar itu, baik Diana maupun Olivia segera tertawa,
"Hah? Anak Evan? Kamu belum tahu ya, kalau kamu Itu Keguguran? Hah, Evan itu masih aja neyembuyiin hal penting kayak gini dari kamu, enggak ngerti lagi, pikiran Evan."
"Bener, Ma. Dan lagi enggak tahu juga kan, anak yang di kandung Sofia sebelumnya anak Evan atau bukan..."
Sofia sendiri terlalu syok ketika mendengar hal-hal itu, dan tidak percaya tentang apa yang didengarnya terasa seperti tersambar petir di siang bolong. Hatinya tiba-tiba terasa hancur.
"Apa Ma? A--Aku keguguran?"
"Hahal, masih sok sedih, hamil hasil perselingkuhan juga!"
"Ma! Jawab Aku! Apa Aku benar Keguguran?"
"Iya! Tanya saja sana sama Dokter!!"
"Enggak! Enggak mungkin Ma! Enggak!"
Sofia menjadi histeris dan mencekam bahu Ibu Mertuanya saking syoknya.
Diana jelas segera mendorong Sofia.
"Ih, Dasar Wanita Gila! Udah kali keguguran ya keguguran aja!"
"Tapi ini juga calon Cucu Mama... Bagaimana bisa..."
"Bukan! Itu pasti anak hasil Perselingkuhanmu!"
"Mama jangan sembarang!!"
"Udahlah, Ma. Mending pergi aja dari sini cari makan, dari pada mendengarkan Omong Kosong wanita tukang selingkuh ini!"
Dengan itu, mereka berdua pergi, meninggalkan Sofia yang menagis sendirian di dalam Kamar sambil memegangi perutnya.
"A--Apa benar Aku Keguguran.... Nak... Kamu udah enggak ada sama Mama?"
Sofia mengelus perutnya itu, seorang anak yang sudah sangat dia harapkan bahkan walaupun ini baru bulan kedua.
Hati Sofia menjadi begitu hancur menerima semua kenyataan ini seolah-olah langit runtuh.
Dan hal paling utama yang membuat hatinya hancur adalah tentang bagaimana Suaminya, Evan menyembunyikan hal sepenting ini darinya....
"Bagaimana bisa, Mas Evan keliatan baik-baik saja dan membohongiku?"
Sofia benar-benar tidak tahu harus bersikap seperti apa. Hanya, hatinya begitu hancur. Seolah semua kekecewaan pada Suaminya, Evan muncul satu demi satu, dan siap meledak.
Namun dia mencoba menghapus air matanya, dan mulai memanggil dokter yang bertanggung jawab untuk bertanya tentang kondisinya yang sebenarnya.
Sayangnya, kondisi Sofia yang sebenarnya ternyata lebih buruk daripada yang dia kira.
dan akhir yg cukup memilukan bagi Evan yg terakhir ini sdh berubah lebih baik 👍😊
selamat ya bas, calon Bastian junior akan launching n licya akan jadi kakak 🤗😘
sabar ya Van, semua butuh waktu
terimakasih kakak, telah menemani emak dengan kisah mu yang cukup menguras emosi 😊
tetap semangat dan sukses selalu
so mulailah saling terima kekurangan dan kelebihan masing-masing, karena kepercayaan adalah dasar kuatnya sebuah hubungan 🤗
ayo dong Sofia jangan bikin emak n readers se-Indonesia gemas saking g tahan pada ego kalian 😚