NovelToon NovelToon
LUDIRA

LUDIRA

Status: tamat
Genre:Romantis / Janda / Chicklit / Tamat
Popularitas:244.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Bahureksa

Namaku Ludira.
Janda berusia kepala tiga dengan anak perempuan berusia dua belas tahun. Hidup kami, aku dan putriku begitu tenang Damai dan lurus seperti jalan tol, hingga usaha pria bernama Narendra membuat kehidupan kami berdua menjadi berbeda.

Dekat dengan Narendra membuatku juga mengenal semua anggota keluarga Narendra, pria tampan baik hati cerdas dan bonusnya dia memang sedikit mirip dengan suamiku.

Narendra, pria yang membuatku harus berada di zona rumit dengan kondisi perasaan yang tidak menentu. Rasa ingin pergi meninggalkan Narendra begitu besar, namun saat menatap wajah berseri milik Almeera, putriku. Aku lelah, aku memilih bertahan dan menjalani semua ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahureksa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan

"Selamat pagi, Kesayangan Mama." sapaku begitu Almeera turun dari tangga.

"Pagi, Mama terbaik di dunia."

Wajah Almeera terlihat baik baik saja. Padahal aku lebih lega jika ada kemarahan atau rasa penasaran bahkan kesal di wajah cantik ini. Setelah kejadian malam itu, kami tidak membahas soal Narendra.

Bahkan di kampus pun Narendra sibuk sekali, entah memang dia sibuk. Hingga tidak pernah bertemu di kantor atau dia sedang menghindar, aku tidak terlalu ambil pusing. Meskipun sedikit ada yang kurang.

"Are you oke sweetie?"

"Almeera baik baik saja, Ma. Mama jangan khawatir."

"Soal om Narendra, apa pendapat kamu, nak?" tanyaku pelan.

Baiklah, ini saatnya kita berdiskusi. Dari pada terus di pendam dan terus berusaha tampil baik baik saja namun nyatanya tidak begitu.

Almeera menarik kursi, "Yakin nih, mama mau diskusi di meja makan dan sebelum kita selesai makan?"

Ah, senyum jahil putriku membuatku sadar. Yaa, aku bukan tipe yang suka diskusi sebelum makan.

"Ah, kamu. Ayo.. Makan dulu aja. Mama udah masakin udang tepung."

"Terima kasih, SuperMom. Hehehe."

Aku menatap lekat wajah cantik di depanku ini, kulit putih bersih, hidung mancung, mata besar dengan bulu mata tebal dan lentik sekali serta lesung di pipi dan gigi gingsul yang menakjubkan.

Dulu, sebelum Narendra mendobrak paksa pertahanan ku untuk tetap hidup berdua dengan Almeera di dalam gelembung kami sendiri, aku tidak pernah menyadari jika wajah di depanku ini tidak hanya warisan sempurna dari Mas Dodi, namun juga memang sekilas mirip dengan Narendra. Pantas saja, dulu Mas Dodi langsung akrab dengan Narendra. Ternyata wajah mereka berdua juga sedikit mirip.

"Jadi mama, Pendapat Almeera... Almeera baik baik saja, Ma. Seperti simbiosis mutualisme. Kita saling menguntungkan. Om Narendra bisa mewujudkan impian beliau soal menebus kesalahan masa lalu karena kehilangan buah hatinya dan Almeera bisa.. Um.. I'm so sorry, Mama. Maaf jika nanti kalimat Almeera menyakiti hati Mama, tapi Maa. Al--Almeera bisa... Bisa sedikit mengobati rasa rindu Almeera sama Bapak."

Aku menangis dalam diam, mataku masih menatap putriku yang kini menunduk, menyembunyikan air matanya yang menetes. Air mata sialan ini menetes begitu saja, mengalir deras hingga membasahi pipiku.

Aku menarik nafas berat, mencoba menahannya sedemikian lama saat punggung rapuh putriku bergetar hebat. Yaa, Almeera menangis tanpa suara. Sama sepertiku.

Ternyata selama ini kami hanya mencoba menyakinkan diri kami bahwa semua baik baik saja. Mengabaikan kehancuran atas rasa kehilangan yang begitu mendadak.

Maafkan kami, Tuhan. Kami hanya memang butuh banyak sekali proses untuk benar-benar bisa ikhlas dengan semua ini. Ternyata waktu lima tahun ini tidak cukup lama bagi kami untuk menyembuhkan rasa kehilangan.

Mas Dodi meninggal dunia saat beliau selesai sholat dhuha, selepas salam. Waktu yang sangat istimewa memang. Tidak sakit ataupun apa. Pulang kepada Tuhan dengan cara yang luar biasa baik. Disisi rasa kehilangan, ada rasa bangga yang membuncah di dalam dada.

Beliau memiliki usaha sendiri, jadi memang bisa mengambil hari Jum'at sebagai hari libur. Kalau hari minggu biasanya kami liburan tipis-tipis. Mengunjungi berbagai tempat yang sekiranya bisa di jadikan tempat usaha baru. Entah itu nanti di buat perumahan atau ruko.

Saat mengetahui kabar tentang orang yang paling di sayangi di dunia ini, Almeera membisu. Seperti mati rasa. Tidak menangis atau berteriak histeris seperti pada umumnya orang kehilangan. Pandangan mata Almeera kosong. Wajahnya datar juga dingin, pucat pasi. Semua itu bertahan hingga tujuh hari ayahnya wafat. Baru semua kesedihannya meladak. Bahkan hingga hilang kesadaran sampai tiga hari lamanya. Koma, putriku kecilku sempat koma.

Apa yang aku rasakan saat itu? Dunia seperti hancur lebur. Aku mencoba tetap kuat demi Almeera. Bukan waktunya bersedih lagi, tapi semua harus baik baik saja demi hari baik di masa mendatang.

****

[Almeera apa kabar, Mbak? Maaf, berat banget kalau harus nahan diri buat enggak tanya tentang kalian. Sekali lagi maaf, mbak.]

Pesan masuk dari Narendra membuatku bimbang. Akhirnya ku putuskan untuk membalas pesan tersebut.

[Lagi demam. Sejak tadi siang Almeera demam.]

Setelah menulis balasan untuk Narendra, aku kembali menoleh ke arah Almeera yang terbatas lemas. Panasnya belum turun juga, sedangkan ini sudah jam sepuluh lebih lima belas menit dua puluh detik.

"Mah, mamah tidur aja ya. Almeera enggak apa-apa kok. Nanti juga mendingan." bisik putriku lemah.

"Adek istirahat aja, Mama nggak papa juga. Maafin mama ya."

"Mama nggak pernah punya salah sama Almeera, Almeera aja yang suka ngrepotin Mama."

Aku benci kalau membuat Almeera sampai menangis seperti taditadi pagi. Aku juga menyesal, menyesal kenapa harus ribut dengan Narendra kemarin malam. Harusnya aku lebih bisa menahan emosiku sendiri.

"Maafin mama, Nak. Mama egois." Batinku kacau.

Handphone Android ku kembali nyala, pesan WhatsApp dari Narenda.

[Boleh telpon mbak? Please.]

[Oke.]

Saat memastikan Almeera kembali memejamkan mata, aku berdiri secara perlahan takut sekali menganggu istirahat putri kecilku ini.

"Waalaikumsalam, Ren." Jawabku pelan setengah berbisik.

Bahkan suara kamu terdengar cemas seperti ini, Ren.

"Gimana mbak? Enggak di bawa ke rumah sakit aja? Udah manggil dokter belum? Aduh mbak, gimana ya. Aku kesitu sama ibu bapak aja yaa. Aduh, Ya Allah."

"Istighfar dulu, Ren. Tenang. Oke?"

Narendra bukan pria labil yang mudah panik seperti ini. Jelas sekali bukan.

Suara istighfar terdengar beberapa kali di sebrang sana.

"Almeera enggak nyaman sama rumah sakit atau dokter, Ren. Tadi udah minum air kelapa muda sama Madu kok." jelasku tenang.

Sejak kejadian itu, Almeera tidak pernah sekalipun berkunjung ke rumah sakit.

"Takut kejang, Mbak. Tadi mbak bilang panasnya tinggi banget."

Aku diam membisu. Aku hanya sedang berusaha tetap waras di saat genting seperti ini.

"Mbaak? Bisa tolong kalau sebentar lagi enggak ada perubahan, tolong... Tolong Almeera di bawa kerumah sakit."

"Nanti aku kabarin lagi. Sudah dulu ya, Ren. Assalamu'alaikum."

Aku menutup panggilan sepihak, tanpa menunggu jawaban dari Narendra. Dan kembali ke kamar Almeera.

"Bapak... Bapak... "

Suara Almeera terdengar begitu aku membuka kamar tidurnya. Ya Tuhan, ternyata sampai ngigau begini. Suhu tubuh juga semakin memburuk.

Sepertinya aku memang harus membawa Almeera ke rumah sakit.

"Basmallah, Ya Alloh. Semoga baik baik saja." bisikku pelan. Mencoba menggendong tubuh Almeera. Namun kembali aku urungkan, sepertinya tidak baik jika harus ke rumah sakit menggunakan mobil sendiri dengan kondisi seperti ini.

Aku membuka android ku lagi, mencoba mencari nomor telepon ambulance. Sebaiknya memang begitu, bukan malah menghubungi Narendra. Bagaimanapun, Narendra hanya orang asing bagi kami berdua.

1
matcha
duuuh hiruk pikuk bgt sih hatinya mbk ludira..pusiiing
matcha
duuh lelah..ludira sma Narendra tarik ulur terus..
matcha
rumit sekalih batiniahnya semua tokoh2 dsni..jd terbawa batin ini ikutan lelah
Wiwin Jazf
benar benar cerita dg banyak moral values di dalam nya, salut. berharap ada season 2 nya, sayangnya baru Nemu cerita ini sekarang
Oka Luthfia
jane salahe janda ki opo to ,kok di rendahkan bgt
Erni Fitriana
mampir thor
Deti Endung Aufa
dr part² pertama hgga part ini...Ludira kesannya jd seorang ibu yg egois..memaksakan kehendak dan pikirannya serta zona nyamannya kepada anak semata wayangnya...yg terpaksa harus menutupi segala ingin dan rasanya hanya untuk membuat sang ibu bahagia..
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓.
Nur AdaChihara
awal yang sedih thoor😓
Noorhayati Noorhayati
ceritanya bagus...dari bab pertama ampe sini mataku pedih thor...smgt ya thor buat promosiin novelnya...
Kiki Dhevin
ahaha sesuai ekspektasi gw thanks you
Kiki Dhevin
yampun berarti aksara anak nya rendra? pantesan kata nya mirip rendra astaga..
itu syailendra kasian bgt ya idup nya..
untung dia ga selemah rendra mental nya..
pliss ludira sama syailendra aja, lebih hidup dia tuh kalo sama lendra
Kiki Dhevin
fix gw ngeship syailendra aja..
ga labil, dewasa, walopun konyol..
tapi dia bisa nge cover kelemahan nya dira..
Queen Bee
nggak ada kelanjutannya?
Astri Yunianti
vote dan bunga sekebon untuk ending nya.. terimakasih author 😘🥰
Astri Yunianti
berarti Aksara tuh anak nya Narendra 😯
Lili Faiz
ini asli ludira yang rempong,gampang nyaman sama orang lain,lama² aku jadi ilfil sama ludira,
Astri Yunianti
yg bilang novel ini bagus, yg bilang novel ini keren, yg suka baca novel ini...bagi vote dan hadiah donk..biar tambah semangat author nya..💕
Lili Faiz
iya kayanya Dira kesannya murahan ya,dipeluk² sampai dikelonin juga loh.....padahal udah dihormati banget sama rendra
Lili Faiz
tambah runyammmmm
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!