Masalah ekonomi membuat sepasang suami istri terpaksa harus tinggal di salah satu rumah orang tua mereka setelah menikah. Dan mereka memutuskan untuk tinggal di rumah orang tua sang istri, Namira.
Namira memiliki adik perempuan yang masih remaja dan tengah mabuk asmara. Suatu hari, Dava suami Namira merasa tertarik dengan pesona adik iparnya.
Bagaimana kisah mereka?
Jangan lupa follow ig @wind.rahma
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wind Rahma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengaman
Siangnya Namira dan Dava pulang. Mereka membawa beberapa jenis kue sisa acara arisan kemarin. Sera senang lantaran bangun tidur mendapati banyak kue di meja makan, kebetulan ia memang belum sarapan.
"Ibu baik-baik aja kan selama kakak tinggal nginap semalam?" tanya Namira seraya menata kue bawannya ke piring di atas meja makan.
"Aman," sahut gadis itu seraya mengunyah kue di mulutnya.
"Syukurlah, kakak khawatir semalam. Takut ibu kenapa-kenapa."
"Gak usah khawatir, pokoknya semuanya aman. Kalau kakak mau nginap lagi juga gak apa-apa, aku siap kok jagain ibu. Mau dua hari, tiga hari, seminggu juga aku siap."
Namira mengulas senyum seraya menatap adiknya tidak percaya. Apalagi Sera belum bisa masak, jadi mana mungkin mau di tinggal selama itu olehnya.
"Kenapa tiba-tiba semangat di tinggal nginap, ada apa?"
Sera menggeleng. "Enggak, enggak ada apa-apa. Ya kan siapa tahu kakak mau nginap lagi kapan-kapan. Aku siap aja jagain ibu, asal kakak tambahin aja uang saku aku dua kali lipat buat aku beli makan."
"Tuh kan, pasti ada maunya." tunjuk Namira pada adiknya.
Sera hanya bisa senyum memamerkan sederet giginya yang rapi. Padahal bukan itu alasan dia ingin kakaknya nginap lebih lama, tapi karena dia ingin Riki nginap lagi dan tidur bareng di kamarnya.
Soal Riki, Sera jadi kepikiran soal laki-laki itu. Ia belum mengecek hp nya lagi karena sebelum melanjutkan tidur tadi ia men charger ponselnya. Ia berharap Riki memberi kabar ketika ia membuka hp nya.
"Kakak mau masak apa buat makan sekarang?" tanya Sera kemudian.
"Belum tahu, kakak belum cek stok bahan masakan di kulkas."
"Oh, kalau gitu aku mau balik ke kamar lagi aja. Kue yang ini aku bawa buat cemilan, ya."
"Iya, boleh."
Sera beranjak dari tempat duduknya pergi dengan membawa sepiring kue lapis surabaya menuju kamarnya.
Begitu langkahnya di ambang pintu dapur, Sera berpapasan dengan kakak iparnya. Ia langsung menunduk, menghindari tatapan yang sempat saling terlempar.
Tiba-tiba tangan Dava meraih rambut Sera hingga pemiliknya terkejut.
"Kak!" Sera memekik pelan dengan spontan.
"Biar kakak kamu gak lihat hansaplast nya," ujar pria itu membuat Sera semakin kaget.
Tanpa merasa bersalah, Dava melipir pergi menghampiri Namira di dapur. Sementara Sera masih mematung di tempat. Entah kenapa ia merasa sikap suami kakaknya akhir-akhir ini berubah.
Lantaran sudah tidak sabar ingin mengecek ponselnya, Sera buru-buru pergi dan masuk ke kamarnya.
Sera tidak memperdulikan apa yang terjadi barusan. Ia lebih perduli dengan ponsel dan kabar dari Riki. Begitu ia menyalakan ponselnya, ia tidak kunjung mendapat kabar dari Riki. Ia berusaha untuk menghubungi laki-laki itu, akan tetapi tidak bisa.
"Ayang, kamu kemana, sih? Kenapa gak bisa di hubungi coba?" gumamnya.
Sera jadi khawatir terhadap Riki. Dia takut Riki kenapa-kenapa. Padahal semalam mereka masih bisa tidur berduaan dan bercanda tawa bersama.
Semetara di dapur, Dava berniat membantu istrinya yang mau memasak. Akan tetapi Namira menolak.
"Kamu tunggu aja di depan, mas. Mau aku buatin kopi?" tawar Namira kemudian.
"Aku mau buat sendiri aja, kamu masak aja ya."
"Serius gak mau aku buatin?"
"Iya, aku buat sendiri aja, sayang." ujar pria itu di akhiri dengan mencium pipi sang istri.
Namira semakin berbunga-bunga. Ia merasa beruntung memiliki suami seperti Dava.
Dava pun mengambil satu sachet kopi cappucino. Dan membuang bungkusnya ke tempat sampah. Akan tetapi ia menemukan sesuatu di sana.
"Pengaman?" pikirnya.
Dava tidak pernah merasa pakai pengaman selama berhubungan dengan istrinya. Lalu itu pengaman bekas siapa?
Seketika pikiran Dava tertuju pada Sera.
"Apa mungkin semalam Sera bawa pacarnya ke rumah?" pikirnya lagi.
Dava semakin yakin, jika adik iparnya memang sudah pernah melakukan hubungan itu bersama pacarnya atau bahkan sudah lama melakukan hal tersebut.
"Kenapa, mas?" tanya Namira begitu lihat suaminya tengah memandangi tempat sampah.
Dava dengan cepat membuang bungkus kopi dan ia sengaja membuang tepat di atas bekas pengaman tersebut untuk menutupinya. Lalu pria itu membalikan badan dan memberi seulas senyum.
"Gak apa-apa, sayang."
Dava lekas mengaduk kopinya, menaruh sendok bekas mengaduk kopi ke wastafel tempat mencuci piring. Setelah itu duduk di kursi makan dan mulai menyantap kue sebagai teman ngopinya.
"Sera udah kamu sisain kue nya?"
"Dia udah makan duluan, tadi dia bawa sepiring ke kamarnya," jawab Namira sambil mengupas bawang di pantry.
Dava bertanya hanya untuk basa-basi saja.
"Ibu udah di kasih?"
"Belum, mas. Nanti aja, tadi aku lihat ibu lagi tidur istirahat. Biarin aja gak usah di ganggu."
"Oh gitu."
"Iya, mas. Oh iya, Sera tadi bilang kalau kapan-kapan kita mau nginap lagi ke rumah mama, dia gak apa-apa jagain ibu. Gak tahu kenapa tiba-tiba jadi exited begitu, bahkan katanya gak masalah kalau kita mau nginap seminggu di sana."
"Serius di bilang gitu?"
"Iya, tapi aku yakin dia pasti bercanda. Aku tahu sebenarnya dia pasti gak mau aku tinggal karena harus jagain ibu, apalagi Sera juga kan belum bisa masak."
Namira geleng-geleng kepala sambil senyum-senyum mengingat ucapan adiknya. Sementara Dava menanggapi hal itu dengan serius, sebab Dava yakin jika itu pasti ada hubungannya dengan pengaman yang ia temukan di tempat sampah.
"Aku yakin semalam Sera pasti bawa pacarnya ke sini, dan pengamanan itu bekas mereka," ucap Dava dalam hati.
"Berani juga Sera," ucapnya lagi di akhiri dengan senyum tipis.
_Bersambung_