"Menikahlah denganku, aku akan memberikanmu uang untuk balas dendam. Habiskan semua uang, bahkan semua uang yang ada di rumahku..." Kalimat yang diucapkan oleh seorang pemuda rupawan, dengan tubuh sempurna, mengecup bibirku. Harum parfumnya yang maskulin telah menyatu dengan tubuhku.
Semalam kami memang melakukannya, benar-benar melakukannya. Pria yang paling sempurna di kantor tempatku bekerja, tampan, pintar, karier cemerlang. Apa yang kurang darinya? Kenapa dia mau-maunya tidur dengan si cupu muka jerawatan sepertiku.
Keberuntungan yang gila-gilaan!
*
Namaku Valentino, manager pemasaran. Tidak memiliki ambisi maupun cinta. Tapi ketika gadis berkacamata ini berani menentang dan menamparku di hadapan umum, saat itulah aku sadar. Aku membutuhkan gadis ini, predator yang akan aku bawa ke dalam rumah untuk melawan ayah dan ibu angkatku.
Memberinya cinta, dia akan menjadi kesatria. Sedangkan aku akan memeluknya dari belakang. Itulah aku, yang ingin bersembunyi di bawah rok istriku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cari Cara
...Kala angin musim gugur menyapu tubuhku, aku semakin rapuh. Apakah kamu tau? Aku benar-benar membenci musim dingin....
...Kala tubuhmu gugur terjatuh di tanah. Aku hanya dapat tertidur menunggu musim semi tiba. Perasaan yang berdebar-debar kala menunggumu kembali....
...Ulat di musim dingin? Itulah aku, menunggu daun musim gugur menemuiku kala musim semi tiba. Berharap kamu kembali, tapi apa bisa....
Valentino.
Dentuman suara musik terdengar kali ini pemuda itu minum sendirian. Dirinya benar-benar merasa penat, bahkan sekarang enggan untuk kembali ke kantor.
Bau asap rokok yang menyengat, mengedarkan pandangan ke sekelilingnya. Yudistira tiba-tiba datang duduk di sampingnya.
"Kenapa minum? Sedang suntuk?" tanya Yudistira, menuangkan wiski ke dalam gelasnya sendiri.
Valentino tersenyum, tidak menjawab kemudian kembali minum.
"Ada apa? Siapa tau aku mempunyai ide gila untuk membantumu?" Pemuda itu kembali bertanya.
"Bisa carikan aku pacar? Aku ingin wanita yang lebih pemberani di bandingkan denganku. Rela berkorban untukku, tidak tertarik pada uang. Apa kamu memilikinya?" tanya Valentino dengan wajah tersenyum. Dirinya belum mabuk, walaupun seperempat botol wiski telah berkurang dari botolnya.
"Tidak ada wanita yang tidak materialistis. Jika wanita yang rela berkorban untukmu juga tidak ada. Wanita yang rela berkorban untuk pasangannya lumayan langka, apalagi kamu tidak suka mendekati wanita. Bagaimana caranya mengambil hati mereka. Wanita itu butuh perhatian, berikan dompet dan kasih sayangmu sebagai pancingan. Baru perlahan dia akan memberikan hatinya." Yudistira tersenyum, untuk pertama kalinya sahabatnya menceritakan tentang perempuan.
Dari kalangan mana? Apa model? Selebriti? Atau mungkin putri tunggal pengusaha? Berbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya.
"Lumayan langka ya? Jika aku menemukan wanita yang rela berkorban demi pasangannya. Apa jika aku berhasil menaklukkan hatinya dia akan melindungiku dengan nyawanya?" tanya Valentino, menyipitkan matanya. Tidak mudah memang menemukan wanita yang sesuai dengan kriterianya.
"Mungkin..." Itulah jawaban dari Yudistira, kembali sedikit meminum minuman di hadapannya.
"Bagaimana cara menaklukan wanita yang akan menikah dengan pria lain?" tanya Valentino kini.
Pertanyaan yang sukses membuat Yudistira terbatuk-batuk. Matanya menatap ke arah wajah rupawan sahabatnya. Apa pria seperti ini dapat ditolak oleh wanita?
Saldo rekening yang berjumlah puluhan miliar, memiliki beberapa saham. Mungkin pekerjaan sebagai manager hanya iseng dilakukannya. Tampang bagaikan aktor film-film China, bentuk tubuh ideal. Wanita yang menolak Valentino pasti sudah gila.
"Kamu ditinggal nikah?" tanyanya. Satu pertanyaan yang benar-benar sensitif.
Valentino menatap ke arah satu titik kemudian mengangguk.
"Tuan sempurna ditinggal nikah?" batinnya menipiskan bibir menahan tawanya. Sejenak kemudian berusaha menguasai diri agar tidak tertawa di hadapan pemuda ini.
"Anak sultan mana yang berani berebut perempuan denganmu? Atau anak politikus? Tinggal tunjukkan saja uangmu, mereka tidak ada apa-apanya." Yudistira sedikit melirik ke arah sahabatnya.
"Pria desa, mereka akan menikah dan menjadi petani cabai di kampung." Valentino kembali minum kali ini menuang sedikit lebih banyak. Menghabiskan dalam sekali tegukan.
"Pria desa yang berkulit sawo matang? Membawa cangkul dan sabit? Menaiki motor bebek tua membawa tumpukan rumput? Pria seperti itu mengalahkan Valentino dan mobil sportnya?" Yudistira kembali membatin tidak percaya.
Tapi sahabat tetap sahabat. Dirinya harus memberikan saran yang terbaik untuk sahabatnya yang tidak pernah jatuh cinta. Yang pastinya saran dari Yudistira tidak akan merugikan orang lain, tidak boleh juga melanggar tata susila, menjaga image sahabatnya sebagai pria perjaka baik-baik.
"Gampang! Tiduri dia, masukan saus mayonesmu sebanyak-banyaknya. Buat dia hamil, hingga tidak memiliki jalan lain selain menikah. Dengar! Anak dapat mengikat wanita lebih dari cintai sejati! Karena itu hamili dia, lalu mulailah bersikap manis dan melamarnya." Saran laknat dari sahabat laknat yang sempat dipuji setinggi langit oleh author.
Valentino terdiam sesaat, menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Pemuda yang menatap ke arah etalase kaca mulai berfikir apa yang akan dilakukannya. Meraba pipinya sendiri dengan senyuman picik. Benar-benar sekuat tenaga, rasa kebas yang masih terasa. Mungkin hanya inilah predator yang dapat dimasukkan ke dalam rumahnya.
"Akan aku fikirkan caranya. Meskipun dia bekas orang lain," jawaban darinya penuh senyuman. Bekas orang lain? Tentu saja bekas sang tukang ojek online. Setidaknya itulah yang ada dibenaknya saat ini.
Wanita yang benar-benar memenuhi kriteria, menghela napas kasar. Apa bisa seorang istri mengalahkan ibu mertua? Pertarungan yang unik baginya.
*
Pagi menjelang saat itu mata Zizy masih sebab menyadari keputusan salah yang diambilnya. Valentino benar, usianya saat ini sudah menginjak 30 tahun. Perusahaan lain pasti akan memilih yang lebih muda dengan penampilan menarik. Ditambah denda kontrak kerja senilai tiga kali gaji, atau dapat dihitung 30 juta rupiah.
Wanita itu mulai menyeduh mie instan dalam kemasan. Menunggunya melunak untuk matang, surat pengunduran diri sudah ditulisnya. Walaupun sayang ini harus dilakukan olehnya, egonya tidak mengijinkan untuk kembali bekerja.
Kepulan asap dari mie instan lengkap dengan potongan sayuran kering terlihat.
Brak!
Brak!
Brak!
Suara gebrakan pintu terdengar, seseorang yang berusaha membukanya dengan kasar."Zizy! Keluar kamu! Keluar kamu dari kontrakan saya! Pelakor s*al!" teriak pemilik kost-kostan dari luar sana.
Susan berdiri di sana, bersama dengan saudara jauhnya Tia. Sudah bertahun-tahun saling mengenal, dirinya tidak terima kala Zizy mengatakan dengan lantang itu adalah pekerjaannya. Padahal Valentino sendiri yang memberikan pada Susan sebagai tanda cintanya. Setidaknya itulah yang ada dalam imajinasi Susan.
Pak Valentino yang mencintainya diam-diam atasan dingin yang membayar orang untuk mengerjakan pekerjaannya. Kemudian menaikkan jabatannya, sebagai tanda cinta sejati."Oh Valentino..." batinnya.
Kala pintu terbuka, terlihat keadaan Zizy benar-benar kacau."Ada apa?" tanya wanita itu.
"Ada apa!? Saya dan ibu-ibu yang ada disini ingin kamu pergi dari tempat ini! Sudah jelek ditambah pelakor lagi!" teriak pemilik kost-kostan yang datang bersama dengan beberapa tetangga yang mayoritas adalah ibu-ibu anti pelakor.
"Uang untuk dua bulan kan sudah saya bayar. Untuk apa saya harus pergi?" tanya Zizy tidak mengerti.
"Uang memang sudah dibayar! Tapi kamu tidak ada adab! Tidak ada moral! Susan, teman kamu sendiri yang cerita! Kamu meniduri suami orang! Bahkan istri pertama rela dimadu agar suaminya tidak melakukan dosa!" tunjuk sang pemilik kost-kostan menatap nyalang padanya.
Zizy menghela napas kasar, menghapus air matanya. Berusaha tegar."Ini salah! Dia janda yang merebut Wijaya pacar saya!"
Tia menggeleng kemudian menangis."Saya menangkap basah Zizy sedang tidur dengan calon suami saya. Saya rela dimadu menjadi yang kedua. Karena tidak ingin suami saya yang masih mencintainya berbuat dosa. Ini! Kalian bisa lihat sendiri saya sudah menikah dengan Wijaya. Mana ada istri yang dengan sengaja mau dimadu. Saya hanya tidak ingin mereka melakukan dosa lebih dari ini." Jelasnya yang masih ditagih penagih hutang hingga kini. Bingung harus bagaimana membayar cicilan hutang. Sedangkan selama ini tiga juta setiap bulan yang didapatkannya dari Zizy melalui Wijaya. Beralasan untuk membayar biaya hidup dan sekolah anak-anak.
"Nah! Kamu dengar sendiri kan!? Dia ini korban! Kamu itu tersangka! Keluar dari kontrakan saya!" Ucap sang pemilik kontrakan lagi emosi.
Zizy menghirup napas dalam-dalam. Menatap ke arah Susan."Kamu tau kejadiannya kan? Kenapa tidak menjelaskannya?"
"Yang sebenarnya kamu wanita murahan yang ingin merebut suami saudaraku!" dusta Susan penuh senyuman."Sama seperti saat di kantor. Berani-beraninya kamu mengakui proyek yang diberikan pak Valentino atas nama cinta sebagai milik dan gagasanmu."
"Jadi karena itu? Pertemanan kita hancur karena proyek yang aku buat? Begitu murah?" gumam Zizy berkali-kali menyeka air matanya.
"Yang kamu buat? Kamu hanya dipekerjakan pak Valentino untuk merebut hatiku. Menaikkan jabatanku." Ucapan darinya penuh keyakinan.
"Aku akan pindah sekaligus aku menitipkan ini." Zizy masuk sejenak mengambil surat pengunduran dirinya."Katakan pada ulat karung! Kalian pasangan yang serasi!"
"Daun kering yang harus diinjak sepertimu memang bisa apa?" Gumam Susan terlihat sinis meraih surat pengunduran diri milik Zizy.
Tidak ada lagi kata yang terucap dari bibir Zizy. Biarlah soal denda kontrak kerja dirinya akan menghubungi pihak HRD melalui e-mail. Wanita yang mengemasi barang-barangnya hendak pulang ke kampung halamannya. Air matanya mengalir, satu persatu pakaian sudah dikemas olehnya.
Ibunya benar, jika sudah cukup umur dirinya sebaiknya pulang. Menikah dengan kak Jaka, seorang perjaka tua, tetangga sebelahnya yang sudah sempat melamarnya.
Tapi karena pertimbangan Jaka yang sejatinya penjudi kelas berat dan pekerjaannya di kota dirinya urung untuk menerimanya. Namun, kini keadaan berbeda, tidak ada pilihan lain. Mungkin dirinya dapat merubah Jaka yang berusia 48 tahun pelan-pelan.
Tidak ada yang mau dengannya. Karier pas-pasan di kota juga hancur. Melewati ibu-ibu yang menatap sinis padanya dirinya berlalu.
"Tunggu! Kamu harus menikah dengan Wijaya! Agar---" Kalimat Tia disela.
"Kamu tidak dengar aku mengundurkan diri dari perusahaan!? Kamu fikir dapat memeras pengangguran!?" bentakan menggelegar dari mulut Zizy membuat nyali wanita itu ciut.
Wanita yang menaiki ojek pangkalan menuju stasiun bis. Dirinya memang harus pulang, sebelum uang tabungannya yang tinggal 90 juta setelah dipotong denda kontrak habis.
Kala menaiki bis, kala itu juga dirinya menghela napas. Setidaknya dirinya mengirimkan uang untuk orang tuanya 7 tahun ini. Diperuntukkan sebagai modal membeli beberapa ekor sapi. Walaupun miskin tapi setidaknya dirinya tidak begitu miskin.
Wanita yang tidak menyadari kesialan bertubi-tubi yang akan menimpanya ketika pulang ke kampung halaman. Membeli sapi? Bahkan orang tuanya kini dikejar dept collector.
*
Suasana kantor yang tenang, bahkan terlalu tenang. Valentino kini berada di lobby mengerjakan tugasnya. Dengan laptop masih berada di hadapannya.
Setidaknya wanita murahan itu (Zizy) akan datang membawa surat pengunduran diri. Seperti yang dikatakan Yudistira, setelah bertemu cari cara menidurinya.
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
sukses ya kak💪