Selepas menjadi dokter, Clarissa Aluna Sebastian, atau yang kerap disapa Luna itu, bertugas jauh dari kota kelahiran. Ia menemui banyak sekali karakter manusia. Salah satunya ketua geng motor yang mendadak membuat keributan saat dia sedang dinas di rumah sakit.
Arash Frederic mengalami luka di kepala akibat tawuran tengah malam. Semua anak buahnya bergegas ke rumah sakit, mengamuk agar ketua geng motor itu didahulukan. Tanpa diduga, Dokter muda yang terlihat anggun melawan mereka karena dianggap membuat keributan. Kemampuan bela diri yang mumpuni mampu melumpuhkan para anggota geng motor tersebut. Luna menegaskan, jika ingin diobati harus sesuai prosedur.
Sejak Dokter Luna menanganinya, Arash tidak bisa mengelak pesona dokter cantik yang multitalenta itu. Ia selalu berusaha menarik simpati gadis itu.
Akankah Arash bisa meluluhkannya? Mengingat, Luna berasal dari keluarga terpandang, memiliki saudara kembar yang posesif, ditambah seorang lelaki yang mencintainya sedari dulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 : GARA-GARA KAMU!
Suara bariton yang memekik diiringi pintu dibuka dengan kasar, tentu membuat Luna terlonjak kaget. Segera menegakkan tubuh menoleh pada sumber suara yang tidak asing itu.
“Ka ... Kakak?” panggilnya terbata-bata, manik matanya membeliak. Buru-buru menghampiri dan hendak memeluknya seperti biasa.
Namun, Xavier menjulurkan tangan menahan gerakan Luna. Ia lalu mencengkeram bahu itu cukup kuat, gerahamnya mengetat dengan tatapan yang siap mengoyak siapa pun di depannya.
“Kak, aku beneran enggak ngapa-ngapain!” elak Luna meringis kesakitan. Sadar akan kemarahan saudara kembarnya itu.
“Sejak kapan dia tinggal di sini?” tanya Xavier tidak peduli dengan kesakitan adiknya, suaranya penuh penekanan. Bahkan justru menyodorkan pertanyaan lain.
“Tiga minggu yang lalu, Kak. Tapi ....”
Ucapan Luna terhenti seketika karena sebuah tamparan yang berhasil mendarat di pipinya. Xavier tidak pernah main main. Siapa pun yang bersalah di matanya, harus diberi pelajaran. Tubuh kecil itu terhempas ke lantai, menunduk dengan isak tangis yang mulai pecah. Rambut panjangnya tergerai hingga menutupi muka.
“Dokter, Anda tidak apa-apa.” Arash refleks berjongkok, menyentuh kedua bahu Luna, bermaksud membantunya berdiri.
Tetapi di mata Xavier memang terlihat berbeda. Dua sejoli itu bak pasangan yang romantis. Sehingga amarahnya kembali menanjak. Mencengkeram kaos Arash hingga membuatnya berdiri. Sebuah bogem mentah pun melayang di pipi Arash. Pria itu diam saja menerimanya.
“Kak! Cukup!” jerit Luna menarik kaki panjang Xavier. Ia hanya khawatir dengan bekas luka Arash jika kembali terbentur.
“Cukup kamu bilang? Aku bahkan ingin membunuh kalian saat ini juga, Luna. Feelingku tidak pernah salah. Kamu telah menodai kepercayaan Kakak, Mommy dan Daddy! Ini ‘kan tujuan kamu sebenarnya jauh dari rumah? Biar kamu bisa seenaknya menjalin hubungan dengan laki-laki!” berang Xavier menunduk, mengeluarkan segala emosinya.
“Kakak salah paham, dia pasienku, Kak!” elak Luna mendongak.
“Pasien jika di rumah sakit. Lalu di sini? Di apartemen? Satu kamar? Apa yang ada di otak kamu, Luna! Kakak benar-benar kecewa sama kamu!” teriak lelaki itu kesal luar biasa.
Luna enggan menjawab, hanya menggigit bibirnya sesekali menyeka air mata yang masih berderai menghujani kedua pipinya. Dia lelah. Menurutnya, percuma bicara. Xavier akan gelap mata jika sedang dalam keadaan emosi.
“Kamu! Kamu harus tanggung jawab!” titah Xavier pada Arash, yang masih bingung sekaligus terkejut dengan kedatangan Xavier.
Arash menggaruk kepala yang mendadak gatal, “Sa ... saya? Tanggung jawab yang bagaimana, Tuan?” tunjuk Arash pada dirinya sendiri.
“Kak, apanya yang harus tanggung jawab. Arash, bantuin ngomong sama Kakakku! Jangan iya iya aja! Kita sama sekali tidak melakukan apa pun! Kita juga tidak pernah tidur sekamar!” cerocos Luna kesal dengan lelaki yang pernah ia tolong itu.
“Mulutmu sudah tidak bisa dipercaya lagi, Luna. Kalian harus segera dinikahkan!” tegas Xavier merogoh ponsel dari saku, dengan geram ia segera menghubungi orang tuanya.
“Kak! Astaga! Harus berapa kali aku bilang. Aku enggak ngapa-ngapain sama dia, Kak! Jangan gila! Ini masa depanku! Kakak jangan seenaknya sendiri gini dong!” protes Luna beranjak berdiri. Ia tidak terima dengan keputusan sepihak yang diambil oleh Xavier.
“Kamu yang gila, Luna!” teriak Xavier menatap tajam.
Hendak protes kembali, namun terlambat, Xavier tengah berbincang dengan orang tuanya via telepon. Luna menggeram kesal, tidak berani berbicara kala telepon mereka tersambung. Khawatir membuat orang tuanya panik.
“Segera datang ke sini, Mom, Dad. Luna mau menikah!” tutur Xavier melirik tajam adik satu-satunya itu.
Kedatangannya ke Jakarta tanpa pamit, ditambah kabar yang tiba-tiba disampaikan sungguh di luar dugaan, jelas mengejutkan orang tuanya.
Setelah perdebatan panjang melalui pesawat telepon itu, Khansa dan Leon segera melakukan penerbangan pagi itu juga ke tempat putrinya.
“Kita bicara di luar. Sambil menunggu Mommy dan Daddy. Dan kamu, panggil orang tuamu datang ke sini!” perintah Xavier mengedikkan dagu ke arah Arash. Manik matanya seperti singa yang tengah memindai mangsa. Dua ketua geng musuhnya, bahkan tidak ada apa-apanya dibanding lelaki di hadapannya itu.
“Sa ... saya tidak punya orang tua, Tuan,” cetus Arash dengan ragu-ragu.
Xavier memicingkan matanya, berbalik sembari mengibaskan jasnya, “Keluar! Kita tunggu kedatangan Mommy dan Daddy!” perintah Xavier melenggang pergi lebih dulu.
Arash mengembuskan napas lega setelah kepergian Xavier. Setidaknya, oksigen di ruangan itu mulai terhirup bebas untuk sementara waktu. Ia mengusap-usap dadanya yang berdegup hebat sedari tadi.
“Dokter, maksudnya gimana ini? Kita digerebek?” tanya Arash yang tidak tahu situasi dan kondisi.
Telinga Luna terasa memanas, ekor matanya meruncing. Dadanya naik turun dengan kasar. Kakinya melangkah cepat, mengayunkan kepalan tangan pada Arash.
“Do ... Dokter!” Arash panik dengan serangan brutal Luna yang memukuli wajah dan perutnya. Ia hanya bisa menghindari sebisanya. Tidak berani menyerang balik juga, pasrah saja akan setiap hantaman dokter cantik itu.
“Gara-gara kamu! Semua gara-gara kamu! Aku benci sama kamu, Arash!” teriak Luna menggila menindih tubuh Arash, duduk di atas perutnya, dengan tangan yang mencengkeram kaos Arash sedang satunya sibuk menghujani pukulan demi pukulan.
“Luna hentikan!” teriak Xavier kembali masuk mendengar jeritan adiknya.
Bersambung~