NovelToon NovelToon
Mengejar Cinta Suamiku

Mengejar Cinta Suamiku

Status: tamat
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:254.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Dayang Rindu

Halo readers semuanya..!
Othor kembali dengan kisah rumah tangga yang penuh liku-liku. Perjodohan, penghianatan, dan banyak lagi kisah di dalamnya.

Kisah seorang gadis yang menikah karena perjodohan yang membawa pada kekecewaan. Harapan terakhir sang kakek cucu satu-satunya akan hidup bahagia bersama pria pilihan, putra dari asisten pribadinya.
Namun takdir kehidupan tak sejalan dengan apa yang ia harapkan.

Bram tak mencintai Habibah!

"Aku meminta hak ku sebagai seorang istri!" Begitu Habibah sudah tidak tahan ketika mendapati suaminya sedang bersama wanita lain.


Walaupun terus saja terjadi.

"Ternyata..." ucap Habibah di tengah guyuran air, dia tersenyum getir, menangis bersamaan membayangkan betapa hangatnya ciuman mereka. Dadanya bergemuruh seolah sedang terisi penuh dengan bara api.

"Ku rasa neraka tak hanya ada di perut bumi, tapi di dadaku." ucapnya pelan, mengadukan kekecewaan yang sudah sangat keterlaluan.

Bagaimana kisah Habibah selanjutnya?

Yuk baca>>

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dayang Rindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa yang selingkuh?

Masih ingin berdebat, namun sayangnya Habibah sudah tidur dengan memunggungi Bram. Pria itu hanya bisa menatapnya dari belakang dengan rasa kesal yang mengonggok di dadanya. Walau akhirnya beberapa saat kemudian Bram juga ikut tertidur di ranjang yang sama.

*

*

*

Suara lirih mengaji terdengar perlahan di telinga Bram, mengganggu tidur nyenyak laki-laki yang masih berada dalam selimut. Bram membuka matanya.

Gadis itu duduk dengan mukena putihnya, wajahnya tenang dengan bibirnya bergerak-gerak menyebut huruf-huruf Al-Qur'an kecil yang di pegang jari-jari lentik nan halus. Hingga beberapa saat kemudian ia sudah selesai, dan Bram tak mau beranjak, malah berpura-pura tidur dengan posisi yang sama.

Habibah menoleh suaminya, menatap wajah yang terpejam pulas. Dia sangat tampan, Habibah bergumam di dalam hati.

Habibah mencoba menarik selimut Bram sedikit, namun tak ada pergerakan. "Dia masih tidur." ucapnya kemudian melepas mukena dan menggantungnya di dekat lemari.

Kembali menoleh Bram memastikan pria itu masih tertidur pulas, Habibah ingin mengganti pakaiannya lalu bekerja lebih pagi hari ini.

Kerudung sederhana itu mulai terlepas dari kepala Habibah, rambut hitam lurusnya tergerai indah berayun dan terlihat menyenangkan untuk di belai. Habibah tidak tahu jika Bram sedang memperhatikannya, hingga terus melepas dan mengganti pakaiannya sampai selesai. Tak hanya itu, Habibah berdandan di depan kaca. Bram sampai tak berkedip memperhatikan semua gerak-gerik istrinya.

Hingga kerudung baru itu sudah terpasang rapi, Habibah tersenyum puas di depan kaca. Lalu menyadari sesuatu, ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dan itu bisa di lihat di cermin.

Habibah berbalik mendekati Bram dan menarik selimutnya. "Sejak kapan kau sudah bangun?"

"Aku_"

"Aku apa? Kau sengaja mengintip ku." kesal Habibah melempar Bram dengan bantal.

"Aku tidak mengintip! Lagi pula kau tidak terlalu membuatku tertarik, untuk apa mengintip." Bram beringsut duduk menjauhi Habibah yang terlihat masih ingin mengamuk.

"Katakan apa saja yang kau lihat?" Habibah masih berdiri dengan menatap tajam Bram.

"Aku tidak melihat apa-apa, hanya melihatmu bercermin dengan tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Kau berdandan merasa kau yang paling cantik."

"Tentu saja aku cantik, hanya kau saja yang buta karena cintamu pada wanita tidak tahu malu itu. Kau hanya melihat dan merasa dia yang paling sempurna, hingga tidak menyadari ada dunia yang indah di belahan lainnya."

"Dunia yang mana, hah? Kau sedang menyombongkan diri dihadapan ku?" Bram terkekeh menertawai Habibah yang semakin kesal karena dirinya. "Kau merasa sangat cantik rupanya."

"Tentu saja, dan jangan berpikir bahwa kau yang paling tampan hanya karena kau berpacaran dengan Larisa. Masih ada banyak stok laki-laki di luar sana, yang lebih tampan dan muda daripada dirimu." Habibah tersenyum menang, melenggang menuju meja rias meraih ponselnya. "Lee, jemput aku sekarang ya." ucapnya lembut pada ponsel ditangannya.

Bram beranjak dari tempat tidur dan meraih ponsel Habibah. "Kau masih bersuami. Selingkuh dari suami tak ada ampunan sampai mati, jangan hanya kepalamu yang ditutup." kesal Bram menatap tajam.

Habibah merebut ponselnya dari tangan Bram, meraih tasnya dan berlalu meninggalkan Bram sendiri.

"Siapa juga yang berselingkuh, tidak sadar diri." gumam Habibah bejalan menuruni anak tangga.

"Habibah."

Frans dan ibu mertuanya kebetulan sudah keluar dari kamarnya, sepertinya akan jalan-jalan pagi.

"Ibu. Aku akan berangkat bekerja pagi ini. Pak Rudy akan ada rapat di luar kota, dan aku harus berangkat bersamanya."

"Ibu sudah tau, baru saja ayahmu bercerita." jawab ibu mertuanya, mereka berjalan bersama menuju keluar.

"Aku berjanji akan menemani Ibu jalan pagi jika akhir pekan." ucap Habibah lagi.

"Tentu saja Nak."

"Kalau begitu aku pergi Bu." Habibah memeluk wanita paruh baya tersebut, juga meraih dan mencium punggung tangan Frans kemudian.

Mobil baru Habibah sudah siap di halaman rumah itu. "Assalamualaikum." ucap Habibah.

"Wa'alaikum salam." kedua orang tuanya itu berdiri sejenak sampai mobil Habibah berlalu pergi.

"Ayah!"

Tampak Bram tergopoh-gopoh keluar melihat sekeliling seperti sedang mencari sesuatu.

"Ya." jawab Frans menoleh putranya yang bahkan belum memakai jasnya dengan sempurna.

"Aku mendengar suara mobil baru saja." ucapnya terlihat sangat ingin tahu.

"Oh, itu istrimu." jawab ibunya menjelaskan.

"Dia dijemput seseorang." jawab Frans lalu mengajak istrinya berjalan-jalan menuju halaman belakang.

Tentu saja itu bukan jawaban yang memuaskan. Bram menuju mobilnya dan segera pergi.

"Sepertinya mereka tidak sarapan pagi ini." ucap istri Frans melihat kepergian Bram yang terburu-buru.

"Biarkan saja, mereka sudah dewasa." jawab Frans sedikit tertawa.

"Hanya saja putramu masih seperti anak kecil." Istrinya ikut tertawa di sela jalan-jalan mereka.

Sementara itu, di kantornya Media Utama Habibah sudah ada di ruangannya. Menyiapkan berkas yang sebentar lagi akan di bawa bersama Pak Rudy ke luar kota.

"Habibah." suara seorang wanita memanggilnya, tentu itu adalah Kiki.

"Hem, masuklah." jawabnya masih sibuk dengan beberapa berkas.

"Kau akan pergi?" tanya Kiki lagi.

"Ya, aku harus pergi bersama Pak Rudy." jawabnya meraih map kosong.

"Jika kau pergi maka pelakor itu akan senang sekali menggoda suamimu." ucap Kiki membuat Habibah menatapnya.

"Kalau begitu aku titip suamiku padamu. Jangan lupa memberitahuku tentang apa saja yang mereka lakukan." ucap Habibah setengah berbisik, karena pintunya tidak tertutup rapat.

"Kau percaya padaku?" ucap Kiki sangat bersemangat.

"Tentu saja, kau temanku."

Kiki tertawa senang, matanya melirik ke kiri dan kanan seperti sedang membayangkan sesuatu.

"Baiklah, aku pergi." Habibah beranjak terburu-buru melihat Pak Rudy dan salah satu asistennya melewati ruangan Habibah.

"Hati-hati." ucap Kiki, hanya di jawab dengan acungan jempol oleh Habibah.

Perjalanan menuju kota B sekitar dua jam, Habibah membawa sekotak roti untuk berjaga-jaga karena ia belum sempat sarapan.

"Kau pasti belum sarapan?" tanya Rudy yang juga duduk di belakang bersama Habibah.

"Belum Ayah. Eh_" Habibah menutup mulutnya. "Ma_maaf." ucapnya gugup.

Rudy tertawa lebar melihat tingkah Habibah. "Tidak perlu sungkan." ucapnya."Aku mengingat seseorang dengan sekotak roti yang selalu ia bawa jika tidak sempat sarapan." Rudy tersenyum, lalu menatap keluar seperti sedang mengenang sesuatu.

"Boleh aku tahu, dia siapa?" tanya Habibah pelan dan sedikit ragu.

Rudy menoleh Habibah, bola mata hitamnya seperti sedang menemukan sesuatu pula di wajah Habibah.

"Entahlah, lama-lama aku merasa jika kau mirip dengannya." ucap Rudy kemudian.

Habibah tersenyum tapi juga ingin menangis. 'Tentu saja Ayah, karena aku adalah anaknya, putrimu.' ucap Habibah di dalam hati.

"Dia adalah wanita yang baik, dan aku sudah menyakitinya karena suatu kesalahan yang aku tak mungkin lari dari tanggung jawab." jelas Rudy lagi.

1
Nitnot
Luar biasa
Hana Nisa Nisa
top bgt
Hana Nisa Nisa
kerennnnnn
Hana Nisa Nisa
😭😭😭😭
Hana Nisa Nisa
deg degan ini
Hana Nisa Nisa
😍😍😍😍
Hana Nisa Nisa
gitu donghh
Hana Nisa Nisa
😚😚😚😚😚
Hana Nisa Nisa
okelah
Hana Nisa Nisa
tarik nafas dulu
Hana Nisa Nisa
suka
Hana Nisa Nisa
😑😑😑😑
Hana Nisa Nisa
nyimak dulu
Ayu Dwi S
konten tidak sesuai judul
Dayang Rindu: itu orang yang sengaja kak, dia bukan murni hanya menilai tapi ingin menjatuhkan. biasanya itu akun fake,
total 3 replies
Soraya
mksh y thor karyanya🙏👍
Soraya
knp sih sllu perempuan yang dibikin jatuh cinta duluan, smga karakter habibah ga lmh dn lby cm krna cinta
Soraya
permisi numpang duduk dl ya kak
Dayang Rindu: makasih kak Soraya 😍😍😍
total 1 replies
Desa Febri
ceritanya sngt bagus aku suka bngt
Sela Pertiwi
lah lee nya sama ku aja boleh gak. wkwkwkwkwkwwkwk
Dayang Rindu: boleh kak, 😁😁😁
mampir di Karya baruku ya, "Anak Kos di rumah sebelah"
total 1 replies
Dayang Rindu
jangan lupa Mampir di karya terbaru otor, " Anak Kos Di Rumah Sebelah, selingkuhan suamiku. "
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!