"Diterima ya, Mba. Dijalani saja dulu, banyak shalat dan baca Qur'an. Semoga tugas akhirmu, lekas selesai. Insya Allah, ini keputusan yang baik, Mba. Sepertinya Mas Akbar, anak yang shaleh."
"Iya, Pak, Bu. Saya jalani. Makasih restu dan doanya."
Aku berdiri, pamit. Masuk ke kamar. Kututup pintu, segera sujud syukur kepada Pemilik Semesta.
"Bismillah, semoga aku bisa."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lilinur m, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Opor Ayam ala Sekar
Puasa Ramadhan sudah memasuki minggu terakhir. Para Ibu dan remaja putri, di rumah mereka, sibuk membuat kue dan hidangan yang akan disajikan pada keluarga. Ada bapak-bapak yang sedang memanjat pohon kelapa, untuk dibuat ketupat dan lontong.
Di desa Makmur, setiap malam Lebaran, diadakan takbir keliling. Jika tidak hujan, boleh membawa motor dan mobil. Dulu, zaman listrik belum masuk desa, kami berjalan bersama sambil memegang obor yang terbuat dari bambu dan melantunkan takbir di sepanjang jalan.
Tahun 2015, listrik PLN baru masuk desa. Sebelumnya kami menyalur listrik dengan tetangga yang memiliki mesin diesel. Sekarang, biarpun sudah pakai PLN, kalau hujan deras ataupun ada angin kencang, pasti mati lampu. Sudah hafal kami. Namanya daerah pasang surut, terus sebelumnya hutan. Jadi, masih banyak pohon besar yang kadang menghalangi kabel listrik tersebut.
Bapak sudah minta tolong Mas Andra untuk diambilkan janur. Ibu dan Mba Sila nanti yang membuat ketupat. Sedangkan aku kebagian membuat bumbu opor ayam. Itu tugas dari Pak Presiden.
Oya, aku dan Mas Andra, kalau di rumah, ketika memanggil Bapak dan Ibu, tidak selalu dengan sebutan itu. Kadang Pak Presiden, Bupati atau Romo. Begitu juga dengan Ibu. Bagi kami, panggilan itu doa, makanya kami panggil dengan sebutan yang baik. Presiden tidak harus disematkan pada jabatan yang tinggi, tapi untuk keluarga bisa. Bukankah, awal yang harus dimulai dari yang kecil? Keluarga juga bentuk pemerintahan yang paling dasar.
Kembali ke dapur Ibu.
"Mba, bisa buat bumbu opornya?" Tanya Mba Sila melihatku sedang mengotak-atik benda pipih berwarna silver.
"Bisa dong, Mba. Ini lagi nyari di internet." Jawabku tertawa bahagia.
"Lain ya, anak sekarang. Dulu Mba boro-boro buka di internet. Hp saja belum punya." Ingatan Mba Sila melayang beberapa tahun silam.
"Sudah, dikerjakan. Wis jam berapa ini." Ibu datang sambil membawa janur.
Sudah kudapat resep membuat opor ayam. Lalu mulai kupilih bumbu yang kuperlukan. Dari bawang putih, bawah merah, ketumbar, merica, jahe, kunyit, daun salam, lengkuas, serai dan daun jeruk. Gula dan garam juga, unsur wajib dalam memasak, gitu pesan Mba Sila.
Kutumbuk jadi satu sampai halus, enggak halus banget sih. hehe. Selesai kutumis di panci yang sudah kusiapkan. Tuangkan minyak secukupnya, lalu masukan bumbu halus tadi. Setelah bumbu masak, baru daging ayamnya dimasukan ke panci, diaduk merata. Diberi air secukupnya. Kemudian, kira-kira sudah empuk dagingnya, masukan santan kelapa. Diaduk ya, tunggu sampai matang. Masukan garam dan gula. Setelah itu, baru di
"Taraaa, semuanya opor ayam Sekar sudah matang." Heboh Sekar. "Taburi bawang goreng, Mba, sudah?" Sekar menggeleng.
"Rasanya gimana, Mba?" Tanya Mba Sila. "Belum tau, Mba. Dira, mana?"
Sekar tanya Dira untuk meminta tolong supaya mencicipi masakannya. Tapi kata Mba Sila, Dira puasa. Okelah kalau gitu, mumpung Dira main, Sekar yang mencicip.
"Mba Sekar, tidak puasa?" Teriak Dira yang masuk dapur tiba-tiba. Sekar yang sedang mencicipi kuah opornya tersedak melirik Mba Sila yang mengacungkan jari membentuk huruf V.
Ibu dan Mba Sila terbahak-bahak melihat iklan lewat. Kepalang basah, aku minum saja sekalian, sambil duduk, aku mengusap dada pelan.
"Mba, nggak puasa. Dosa, lho!" Tanya Dira.
"Mba Sekar lagi dapet cuti, dek." Jawabku sambil mengusap pelan kepala Dira.
"Aku juga mau, Mba. Ikutan yaa." Kata sambil mengambil minum.
"Belum waktunya dek, nanti kamu dapet juga kok." Tuturku sambil mengambil minuman.
Gara-gara Mba Sila ini, ketahuan minum di depan ponakan lagi.