Dibuang ibu kandungku, disiksa keluarga tiriku. Tapi itu belum cukup...
Saat Lania beranjak dewasa, ia justru harus menggantikan kakak tirinya untuk menjadi tunangan pria yang tidak dikenalnya.
Penyiksaan itu terus berlanjut sampai Lania benar-benar menikahi pria itu. Karena sebuah kesalahpahaman, suaminya terus menyiksanya karena kebencian yang tidak seharusnya ia terima.
Sabar... sabar... sabar... hanya satu kata itu yang bisa menguatkan Lania dalam menjalani kehidupannya yang sangat keras.
Akankah kehidupan Lania menjadi lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 💞💋😘M!$$ Y0U😘💋💞, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepulangan Juanda
Amel baru saja menuruni anak tangga tepat di saat Juanda Furhet masuk ke dalam rumah. Sontak wanita itu pun terkejut melihat suaminya sudah kembali dari perjalanan bisnis ke luar kota.
"Papa... bukankah seharusnya kau pulang dua hari lagi?" tanya Amel.
Juanda mempercepat langkahnya mendekati istrinya.
"Apa kau tidak melihat berita? Dimana Lisa?" tanya Juanda.
"Berita?"
"Ya Tuhan... apa papa melihat berita saat Lania membantu korban kecelakaan itu. Ia kembali karena mengkhawatirkan putrinya?" pikir Amel.
"Oh... soal itu... papa tak perlu khawatir, Lisa baik baik saja," imbuh Amel.
"Lisa baik baik saja? Apa maksud mama? Apa terjadi sesuatu pada putri kita?"
Amel terbelalak, "berita... berita apa maksud papa? Bukannya..."
"Ya Tuhan mah... aku kembali lebih cepat dengan memesan tiket penerbangan lebih awal karena berita ini sangat besar. Bukankah sudah masuk televisi beritanya, keluarga Jamiko mengalami kecelakaan tadi pagi."
Amel terkejut karena ia benar benar tidak tahu masalah itu. Ia seharian hanya sibuk memikirkan cara menghukum Lania saja.
"Keluarga Jamiko kecelakaan? Aku benar benar tidak tahu pah. Lalu bagaimana keadaan mereka?"
"Itulah kenapa aku langsung kembali, berita ini sangat mengejutkan mah. Darwin dan Leyni dikabarkan meninggal di lokasi kejadian, sedangkan Daley aku dengar masih dalam keadaan kritis di rumah sakit. Aku mencari Lisa karena ingin mengajak kalian ke rumah sakit untuk melihat keadaannya. Bagaimanapun mereka akan segera menjadi keluarga kita juga."
"Darwin dan Leyni meninggal? Ya Tuhan... Bagaimana nasib Daley pa? Kasihan sekali, pasti anak itu mengalami syok berat. Lalu bagaimana dengan kakek Jamiko?"
"Sepertinya kecelakaan ini hanya menimpa Daley dan kedua orang tuanya. Cepatlah panggil Lisa, lebih baik kita ke rumah sakit sekarang untuk memastikannya."
"Apa papa tidak ingin beristirahat terlebih dahulu?"
Juanda menggelengkan kepalanya, "aku tidak bisa tenang mah. Oh ya, dimana Lania?"
"Lania..."
"Jika papa tahu Lania sakit saat ini dan banyak bertanya, bisa bisa apa yang kami lakukan selama ini ketahuan. Lebih baik saat ini aku berbohong saja agar papa tidak melihat keadaan Lania sekarang," pikir Amel.
"Mah... kenapa kau malah melamun?"
"Ah... iya pah... aku baru ingat. Lania sepertinya belum pulang kuliah. Aku akan memanggil Lisa sekarang, papa tunggu saja di mobil."
"Baiklah, aku menunggu kalian. Jangan lama lama mah, hari semakin sore."
"Iya pah, sebentar," jawab Amel seraya berlari kecil menaiki anak tangga lagi.
Amel justru langsung ke kamar Lania sebelum memanggil Lisa. Wanita itu menerobos masuk ke dalam kamar, membuat mbok Iyem dan Lania terkejut.
"Jangan keluar kamar sampai kami kembali lagi. Lania... papa mu sudah kembali, sebisa mungkin kau tutupi rasa sakitmu itu. Jangan sampai lukamu terlihat oleh papa, aku tidak ingin ia banyak tanya. Jika kau berani mengatakan sesuatu padanya yang membuat kami ketahuan, maka kau akan merasakan akibatnya," ancam Amel.
"Papa sudah kembali? Bukankah..."
"Kau tak perlu banyak tanya," celetuk Amel, "kami akan pergi karena ada urusan yang penting. Ingatlah untuk tidak keluar kamar sampai kami kembali, aku sudah mengatakan pada papa mu kalau kau masih di kampus," imbuhnya.
Lania pun menganggukkan kepalanya. Amel beralih ke pelayannya.
"Kau juga harus tutup mulut mbok, jika kau berani mengadu pada suamiku. Aku tidak segan segan akan menyiksa Lania lebih kejam lagi, ingat itu."
"I... i... iya... nyonya," jawab mbok Iyem.
Amel pun meninggalkan kamar setelah mengatakan hal tersebut. Ia pun segera menuju kamar Lisa. Saat Amel masuk ke dalam kamar putrinya, ia melihat Lisa yang sedang asyik dengan ponselnya. Gadis itu bahkan tertawa dengan gembira.
"Apa yang kau lihat sayang, serius sekali," ucap Amel.
Sontak Lisa pun terkesiap, "mama... mengejutkan saja. Lihatlah kolom komentar di berita penyelamatan itu. Mereka benar benar memujiku, aku sekarang semakin terkenal."
Amel menyunggingkan senyumnya, "itu hikmah dari kebodohan Lania untukmu. Tapi sekarang bukan waktunya untuk mengagumi hal itu nak, papa sudah kembali."
Lisa terbelalak, "papa kembali? Bagaimana jika Lania ketahuan terluka mah?"
"Kau tak perlu khawatir, papa sedang tidak memperhatikannya. Segera bersiap-siap, kita ke rumah sakit sekarang."
"Ke rumah sakit? Untuk apa?"
"Keluarga Jamiko kecelakaan, tunangan kecilmu dalam keadaan kritis sekarang. Cepatlah, kita harus berangkat, papa sudah menunggu kita di mobil."
"Daley kritis? Baguslah, aku tidak perlu mengikuti keinginan kakek untuk menikah dengannya, aku berharap..."
"Huuussss... kau ini... Bukankah kau juga sudah bertemu dengan Daley beberapa kali. Kau bilang ia pria yang sangat tampan dan..."
"Ia memang tampan mah, tapi aku tidak suka pria pendiam. Haisssss... menyebalkan sekali. Ini bukan zaman perjodohan, tapi kakek malah melakukannya padaku."
"Berhentilah menggerutu, cepatlah... jika papa menyusul kita ke atas, ia akan tahu jika Lania ada di kamarnya."
Lisa menghela nafas panjang, wanita itu memberengut sambil mengganti pakaiannya. Ia juga tak lupa memakai maskernya karena akan ke tempat umum yang akan mengekspos wajahnya. Setelah selesai, keduanya pun segera keluar dari kamar menuju mobil ayahnya.
"Kalian lama sekali," ucap Juanda saat istri dan anaknya masuk ke dalam mobil.
"Lisa kan harus berganti pakaian pah. Jadi papa pulang karena mendengar kecelakaan ini?" tanya Lisa.
Juanda menganggukkan kepalanya, "keluarga kita memiliki hutang budi pada mereka. Dan kau juga memiliki perjanjian pernikahan nak. Kau tidak melupakan itu kan? Dan inilah mengapa papa tidak suka kau menjadi seorang artis, kau akan keluar dengan menutupi wajahmu seperti itu."
"Papa terus saja mengingatkan soal pernikahan itu, apa aku sama sekali tidak punya pilihan lagi? Dan pekerjaan sebagai artis adalah keinginanku pah. Apa aku juga tidak boleh memilih karirku sendiri?" gerutu Lisa.
"Ya Tuhan... berhentilah kalian berdebat. Bukankah masalah ini sering kita bicarakan. Kita sudah sama sama sepakat, Lisa menuruti keinginan kakek dan kita membiarkan Lisa memilih karirnya," ujar Amel.
Juanda menarik nafasnya dalam-dalam, "Lisa, calon mertuamu dikabarkan sudah tiada."
"Hah? Mereka..."
"Keduanya meninggal di lokasi kecelakaan karena mobilnya meledak. Beruntung sekali Daley bisa diselamatkan walaupun sekarang aku belum tahu keadaannya," sambung Juanda.
Lisa menatap ibunya, "bukankah ini sama persis dengan kejadian penyelamatan Lania. Apa jangan jangan..." bisiknya.
"Ssstttt... diamlah..." ucap Amel.
Seketika Lisa membungkam mulutnya sendiri. Sopir pun segera mengendarai mobilnya menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, mereka tidak lagi saling bicara. Terlihat Juanda Furhet sangat gelisah di tempat duduknya.
"Papa tenanglah, kita doakan saja semoga Daley baik baik saja," ujar Amel.
"Aku hanya tidak menyangka ini akan terjadi pada keluarga Jamiko. Mereka pergi secepat ini sebelum menyaksikan anak anak kita menikah. Ya Tuhan... aku tak bisa membayangkan bagaimana perasaan kakek Jamiko sekarang. Ia harus kehilangan anak dan menantunya, dan cucunya pun masih dalam keadaan kritis," kata Juanda.
"Ini adalah takdir untuk keluarga Jamiko pah. Kita sebagai manusia biasa tak bisa mengubah takdir Tuhan itu."
"Dan berhentilah membahas soal pernikahan, aku benar benar kesal mendengarnya," sahut Lisa.
"Lisa... kau berhenti bertengkar dengan papa tentang masalah ini. Kau sudah menyetujuinya saat kami memberitahumu."
"Papa juga terus mempermasalahkan pekerjaanku," gerutu Lisa.
"Oh baiklah, papa tidak akan membahas pekerjaanmu lagi. Bersikap baiklah nak, kau akan bertemu mereka," pinta Juanda.
"Iya, iya..." jawab Lisa malas.
...****************...
Happy Reading All...
ngenes banget kamu Lisss nggak ada yang muasin 😄
harusnya minuminnya sekalian sama botol²nya tuh 😂
kasihan Lisa nungguin sampe karatan , eh yang di unboxing malah lania 🤣🤣🤣