Saat Larisa ketahuan hamil, pihak keluarga syok dan juga tak menyangka.
Larisa dituntut untuk jujur siapa pria yang sudah menghamilinya sampai mencuat satu nama pria yang tak lain saudara sepupunya sendiri.
Setelah menikah hubungan Bassta dan Larisa semakin ricuh, jauh dari rukun dan tenteram. Bassta juga sudah memilih perempuan lain yang jauh di atas Larisa yakni Jema, tetapi Jema belum tahu bahwa pria yang dia cintai sudah beristri.
Dalam niat yang begitu besar, Larisa ingin mengubah rumah tangga hambarnya menjadi rumah tangga yang harmonis. Sementara Bassta sudah mengatur dan meniatkan perpisahan setelah bayi yang dikandung Larisa lahir.
Terombang-ambing dalam rasa kecewa dan juga bimbang atas perasaannya, Larisa dihadapkan pada sosok pria yang berusaha dia lupakan tetapi malah mendadak muncul dan mengaku ingin bertanggung jawab.
Lantas, apakah Larisa akan kembali ke pelukan pria berinisial J atau bertahan dengan Bassta yang mulai menyadari ketulusannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melaheyko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kenyataan Yang Menyakitkan
“Tante duluan ya, Bass.” Monica tersenyum lebar, tangannya menepuk-nepuk bahu Bassta lembut.
Bassta mengangguk, menunduk kemudian diam menatap kepergian Monica. Bassta langsung memejamkan mata, merasa lega.
“Bass,” panggil Larisa yang sudah berada di sebelah kanan Bassta.
Bassta tersentak, menoleh dan menoleh lagi pada Monica yang belum jauh.
“Siapa yang ngasih izin kamu keluar?” bisik Bassta, Larisa diam, hanya menatap.
Bassta yang terlanjur emosi kemudian menyambar pergelangan tangan Larisa, mencekiknya kuat dan Larisa mengaduh kesakitan.
“Ayo pulang,” ajak Bassta dengan kasar.
“Bass, sakit.” Larisa berusaha melepaskan tetapi Bassta terus menariknya.
Sepanjang perjalanan menuju ke rumah, Bassta terus misuh-misuh dan tidak peduli dengan Larisa yang terus menangis terisak sambil mengelus pergelangan tangannya. Ngilu, cekalan dari tangan Bassta benar-benar membuat Larisa tersiksa belum lagi dengan semua umpatan dan hinaan.
Setelah sampai di rumah, keduanya disambut Asih. Asih mendekati Larisa dan melontar tanya.
“Gimana kehamilan, Mbak? Nggak kenapa-kenapa, kan, Mbak?” Asih menatap dan Larisa berhenti memegangi tangannya.
“Nggak apa-apa kok, Bi. Semuanya baik-baik aja.” Larisa menyunggingkan senyuman palsu.
Asih mengembuskan napas lega. “Alhamdulillah kalau begitu. Ayo duduk, Mbak,” ajaknya dan Larisa mengangguk. Keduanya berjalan ke arah sofa di mana Bassta sudah duduk sembari memangku satu kakinya, tangan kanannya sibuk dengan ponsel.
Setelah Larisa duduk, Asih kembali bersuara.
“Kenapa bisa Mbak Larisa jatuh dari tempat tidur?” Asih melirik Bassta sekilas. “Bibi takut banget tadi.” Ia menyambung dan menunduk ketika Bassta melayangkan tatapan bengis.
“Saya yang dorong Larisa sampai jatuh. Seharusnya Bibi nanya sama saya, biar saya jawab dengan sejujur-jujurnya!” tegas Bassta kemudian berdiri.
Asih tersengal, beristighfar dalam hati. Ia tak menyangka memiliki majikan sekejam itu.
“Mas Bassta cuman bercanda, Bi.” Larisa dengan gugup berusaha menutupi.
“Nggak usah sok kamu, Ris!” timpal Bassta ketus, kemudian dia menatap Asih lekat. “Bibi mau buatin minum atau mau nanya apalagi?” Suaranya semakin meninggi.
“Maaf, Mas.” Asih buru-buru bangkit kemudian bergegas pergi.
Larisa yang tak tega melihat Asih ketakutan pun menegur Bassta. “Kamu kalau mau marah sama aku aja. Jangan ke Bibi juga, dong! Dia nggak tahu apa-apa, ya, Bass tentang hubungan kita.”
“Hubungan yang mana yang kamu maksud?” balas Bassta kemudian berlalu menaiki tangga.
Larisa mengeram kesal, dengan mata berkaca-kaca, ia akhirnya menyusul Bassta.
Bassta masuk ke dalam kamarnya, melepas kemeja dan Larisa menyelonong membuatnya kaget.
“Keluar! Nggak sopan kamu, ya!” Dia layangkan tangannya ke arah pintu, matanya membulat sempurna. Tangan kirinya berusaha menutupi dada bidangnya.
Larisa mendelik saat melihat dada pria itu.
“Salah aku apa, sih, Bass? Kamu marah kayak begini karena aku keluar dari mobil tadi? Aku cuman mau menyapa wanita yang ngobrol sama kamu. Aku istri kamu, seharusnya juga kamu memperkenalkan aku, bukan aku sendiri yang memiliki inisiatif kayak begitu.”
Bassta terbelalak mendengarnya. Kedua tangannya berpindah ke pinggang, berkacak penuh kemurkaan.
“Ngaca kamu kalau berpikir aku mau memperkenalkan kamu sebagai istri sama orang-orang di luar sana.”
Larisa terpukul mundur mendengarnya.
“Seharusnya emang kayak begitu, kan, Bass?”
“Kamu terlalu kepedean. Kamu lupa gara-gara apa kita bisa terjalin dalam ikatan neraka ini, hah!?”
Bibir Larisa bergetar mendengarnya. Ia mengira Bassta hanya marah, tapi ia tidak berpikir bahwa Bassta juga enggan mengakuinya sebagai istri.
“Dan kamu tahu siapa wanita tadi?” Bentak Bassta, tak peduli sedikitpun dengan Larisa yang sudah basah wajahnya karena air mata.
“Dia ibu dari pacar aku, puas!!!”
Kedua mata Larisa yang basah langsung membulat saking kagetnya.
“Kamu punya pacar, Bass? Padahal kamu udah punya istri dan kamu terus terang begini sama istri kamu?” kata Larisa dengan suara parau, air matanya tak kuasa ia bendung.
“Cih!” Bassta berdecak kesal. “Kita hanya bersama karena terpaksa dan ingat ini, setelah anak itu lahir. Kita pisah!”
Larisa mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ungkapan Bassta kali ini benar-benar puncak sebuah siksaan baginya.
“Jema Sisilia, kami sudah berhubungan jauh sebelum kita menikah. Aku bahkan sudah berniat buat nikah sama dia, dan catat ini baik-baik di otak kamu yang DONGO INI!!” Bassta lagi-lagi menoyor kepala Larisa. “Kalau sampai hubungan aku sama Jema berantakan karena kelakuan ceroboh kamu. Awas kamu!”
Larisa mengalihkan pandangan, tak sanggup lagi menatap laki-laki di hadapannya ini.
“KELUAR!!!” teriak Bassta lalu mendorong bahu Larisa saking jengkelnya. Namun, Larisa tetap diam Awas kamu!”
Larisa mengulum bibirnya rapat-rapat, air mata terus jatuh mengaliri pipi bahkan beberapa tetesnya dia ***** di tempatnya. Kakinya mendadak terasa kaku, sulit dia pindahkan.
“Aku bilang keluar. Selain bego, tolol, dan dongo, kamu juga tuli ternyata. Keluar aku bilang!”
Seketika Larisa mengangkat dagunya, ia tatap pria tega di hadapannya. Keduanya sama-sama diam, bersitatap dengan kecamuk pikiran dan sangkaan masing-masing.
“Kamu suami aku, Bass. Selamanya akan selalu begitu, sekarang kamu boleh nggak suka, tapi nanti kamu nggak bakalan bisa jauh-jauh dari aku barang sedetikpun!” tegas Larisa dan Bassta diam mendengarnya.
Mustahil, Larisa bukanlah seleranya, juga sepupunya. Rasa itu tidak akan pernah ada, pikir Bassta. Entah kenapa dia bisa memikirkan ini, atau dia takut dengan ucapan Larisa barusan?
Larisa berlalu, membanting pintu kemudian dia pergi ke kamarnya sendiri.
Perlahan, Bassta duduk di tepi kasur. Ia pijat keningnya kasar lalu sedetik kemudian perhatiannya berpindah pada pintu tertutup itu.
Sementara di kamarnya, Larisa meringkuk di bawah selimut, menatap gorden jendela kamarnya yang berayun tertiup angin dari pendingin ruangan. Matanya terasa perih, karena terlalu lama dan terlalu banyak ia mengeluarkan air mata.
Dan Larisa juga tak menyangka dia berani menjawab Bassta bahkan melontarkan sumpah serapah yang ia sendiri pun merasa itu sangatlah mustahil.
Dua manusia ini sekarang galau di satu atap tetapi di sudut yang berbeda. Satu jam kemudian Bassta memilih pergi untuk bekerja, dia akan terkena masalah lagi di kantor karena datang sangat telat.
“Mas, minumannya...” Asih berseru karena teh manis hangat yang ia buat sudah dingin.
Bassta menoleh, raut wajahnya kaku dan ia juga tidak menjawab.
Saat mobil Bassta berlalu melewati pintu gerbang menjulang tinggi berwarna hitam itu, dari kamarnya, Larisa memerhatikan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Sakit juga ngilu, ia tidak menyangka sepupunya bisa berubah drastis seperti ini. Ke mana Bassta yang dulu? Walaupun memang sejak dulu pun cara bicara lelaki itu selalu ceplas-ceplos tapi kali ini, Bassta benar-benar jauh berbeda.
“Aku baru saja terbuai dengan perhatian yang kamu berikan, Bass. Tapi tak lama kemudian, kamu hancurkan semua itu dengan kalimat menyakitkan dan cekalan. Apa benar kita akan berpisah? Sementara aku berharap semuanya bisa diubah agar lebih baik. Aku harus tetap mencoba atau pasrah?”
Larisa bergumam, terus menatap walaupun pandangannya buram karena air mata yang terus jatuh. Jauh, sampai mobil putih itu hilang dari pusat perhatiannya.
Larisa merasa sakit hati, semua keinginannya tergerus oleh kenyataan yang begitu menyakitkan. Ia berniat memperbaiki juga mempertahankan sementara di lain sisi, Bassta ingin berpisah dan berbahagia dengan perempuan lain.
semoga sehat2 ya
masih setia menunggu kabarmu