Edrico Stevanus, pria single, belum pernah menikah, tiba-tiba harus menjadi hot daddy? Bagaimana bisa?
Ikuti yuk petualangan Rico—sang bodyguard dalam keribetannya mengurus seorang balita.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 ~ Menyebalkan
Selang beberapa detik, keduanya sama-sama tak bersuara. Hanya deru napas mereka yang saling beradu. Juga debaran jantung keduanya yang memberontak kuat di dalam sana.
“Bicaramu ngawur. Aku masih single, masih ori belum pernah kepake. Mau coba?” seloroh Rico mengabaikan perih yang mulai terasa di pipinya.
Senyum tipis tersungging di bibirnya, karena akhirnya ia tahu bagaimana perasaan Lala kepadanya. Hatinya bersorak bak dihujani bunga.
Geram mendengar candaan lelaki itu, Lala menyikut tulang rusuk Rico hingga terpaksa pelukannya terlepas. Memutar tubuh sembari melayangkan tatapan yang begitu tajam.
“Sakit, La,” rintih Rico membungkuk menekan dadanya sendiri. Mundur dua langkah agar bokongnya mendarat di kursi tadi.
Ada rasa tidak tega menyusup di hati Lala. Ia merasa bersalah, menghampiri Rico penuh rasa khawatir. Ikut duduk di sebelah Rico, memberanikan diri untuk menyentuh bahu lelaki itu.
“Ma ... maaf, sakit banget ya?” ucap Lala tidak tega.
Erangan kesakitan Rico semakin terdengar, yang tentu saja membuat Lala semakin panik. “Aduh, maaf, Ric. Aku harus gimana dong? Tunggu! Kamu ‘kan bodyguard. Masa iya cuma segitu doang kesakitan!”
Rico membeliak, segera menegakkan punggungnya dan mencengkeram pergelangan tangan Lala, sebelum gadis itu marah dan meninggalkannya.
“Tuh ‘kan! Dasar pembohong!” dengkus Lala kesal. Wajahnya memerah bak tomat yang sudah matang. Marah sekaligus kesal.
Rico tertawa pelan, merasa gemas dengan gadis itu. “Dengar! Jangan sela ceritaku sebelum aku selesai bicara.” Sorot mata tajam itu mengintimidasi lawan bicaranya. Hingga tanpa sadar, Lala pun mengangguk.
“Aku nggak tahu apa yang terjadi pada Rainer. Di tengah jalan hampir aku tabrak, tengah malam menangis sendirian. Bayangin, anak sekecil itu nangis jerit-jerit kehujanan, tengah malam, siapa yang tega ngebiarin gitu aja?”
Lala tak berkedip, masih menyorot pada sepasang netra Rico. Mencari kebohongan di mata lelaki itu.
“Kalau kata Jihan, sepertinya dia dibuang orang tuanya. Dan memang aku lihat, dia seperti trauma. Apalagi setiap aku singgung mengenai orang tuanya. Jadi, aku pikir tidak ada salahnya merawat anak itu. Maukah kamu membesarkannya bersamaku?” tanya Rico menyelipkan kalimat mencengangkan.
Tentu saja Lala membelalak lebar sesampainya di ujung kalimat. Tangannya tiba-tiba berubah dingin. Bibirnya terasa kaku, tak mampu bersuara.
“Apa-apaan kamu?” cetus Lala yang bingung mau menjawab apa.
Memang, selama ini Rico tidak pernah mengungkapkan rasa suka atau tertariknya pada Lala. Hanya sering mengajak ngobrol sesekali jika ada waktu senggang, sekedar dekat tanpa pernah ada ikatan.
Apalagi diperkuat ketika Lala sering memergoki Rico melakukan hal yang sama dengan perempuan di luar sana. Ia tentu berpikir, jika Rico memang seperti itu sifatnya. Oleh karena itu, selama ini Lala hanya mampu menekan perasaannya.
“Kamu masih nggak percaya?” Rico meraih dompet di sakunya. Menyodorkan kartu identitas yang juga tertera status belum kawin di kartu tersebut.
Lala melirik sekilas, lalu membuang muka. “Aku nggak percaya dengan pria yang pandai menggombal.”
“Siapa, La? Yaampun. Aku pendiem loh ya,” bela Rico tidak terima.
“Mana ada pendiem, buktinya para karyawan butik ini selalu kamu dekati. Hampir semuanya!” Lala melipat kedua lengan di dada. Bersandar dengan kasar hingga menimbulkan getaran di kursi itu.
“Tahu nggak, kenapa aku begitu?” ucap Rico mencondongkan tubuhnya hingga mengikis jarak antara keduanya.
Lala semakin menjauh. Melirik dengan kesal dan bergerak hingga ke ujung kursi. “Ya mana kutahu!” seru Lala mendengkus kesal.
“Karena aku cuma mau lihat reaksi kamu. Aku mau lihat bagaimana perasaan kamu ke aku. Dan sekarang, sudah cukup." Rico bergeser meraih kedua tangan Lala, menggenggamnya dengan erat. “Ayo kita menikah. Aku tidak suka pacaran. Nanti langsung dapet bonus. Buy one get one,” sambung Rico masih dengan nada candaan.
“Edrico Stevanus, kamu menyebalkan!” teriak Lala geram setengah mati. “Ini lamaran model apa? Udah nggak romantis, bercanda mulu lagi.” Kesal, Lala pun berlari masuk ke butik.
“Starla Caramel! Aku mencintaimu!” balas Rico berteriak pula.
Lala berhenti sejenak, menoleh pada Rico meninggalkan senyuman yang memesona. Lalu bergegas masuk dengan detakan jantung bak lari maraton.
Bersambung~
lanjutkan perjuanganku utknya...
bahagiakan Dia... kok jadi nyayi sih aku 😅