NovelToon NovelToon
Mohabbat

Mohabbat

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / CEO Amnesia / Cinta pada Pandangan Pertama / Tamat
Popularitas:105.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: aisy hilyah

Cinta datang tak pernah sendiri, selalu membawa serta ujian yang harus dihadapi. Sanggupkah bertahan, ataukah mengalah pergi?

Daisha, gadis buta yang hidup berdua dengan sang adik sebagai penjual bunga di sebuah desa, tanpa sengaja menemukan sesosok tubuh yang terdampar di tepi sungai dekat kebun bunga miliknya.

Laki-laki yang tak tahu siapa dirinya, pada akhirnya Daisha menamainya 'Al'. Seiring waktu berjalan, rasa di hati keduanya pun tumbuh dan berkembang. Sampai suatu ketika, kedatangan seseorang yang kerap mengganggu Al perlahan memulihkan ingatannya.

Bagaimana kisah mereka selanjutnya? Temukan kisahnya di sini. Kisah tentang cinta dan dua hati yang harus saling bertahan dalam ujiannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kakak dan Adik

"Ka-kakak?" panggil Dareen saat mengingat siapa sosok di depannya itu.

Laki-laki itu tertegun mendengar Dareen memanggilnya, langkahnya terhenti dengan perasaan yang campur aduk. Ia membuka topi dan kacamata, menatap sang adik yang tampak kegirangan melihat dirinya.

"Dareen?" Dia memastikan bahwa Dareen sudahlah mengingat semuanya.

"Kakak! Tolong aku, Kak. Mereka tiba-tiba menculikku. Tolong, Kak. Tanganku sakit," pinta Dareen yang lemah seperti biasanya.

Cakra tak habis pikir, bagaimana Dareen bisa mengingat tentang dirinya. Demi menutupi semua kebusukan, Cakra mengubah alur cerita yang sudah dia siapkan bersama anak buahnya.

"Kau tenang saja, Kakak memang datang untuk menyelamatkanmu," ucapnya menekan rasa gugup yang tiba-tiba melanda.

Cakra menatap semua orang suruhannya, mereka tampak bingung, tapi kode darinya membuat mereka mengerti apa yang harus terjadi setelahnya.

"Siapa kau? Kenapa menganggu kesenangan kami?" tanya salah satu dari mereka.

"Hati-hati, Kak. Mereka memiliki senjata," ingat Dareen sembari meronta mencoba membebaskan diri.

Cakra tercenung, berpikir sangat dalam tentang sikap Dareen terhadapnya.

Apakah dia tidak mengingatnya? Dia melupakan bagian itu? Ah, baiklah. Ini menarik, aku akan memanfaatkan situasi ini.

Cakra menyusun rencana dalam otaknya yang licik, tersenyum puas karena Dareen melupakan bagian terpenting dalam ingatannya.

"Lepaskan adikku! Apa kalian tidak tahu siapa yang telah kalian sandera itu, hah? Dia pewaris sah dari perusahaan terbesar di Jakarta. Jadi, aku sarankan sebelum kalian berhadapan dengan mereka, lepaskan adikku!" bentak Cakra penuh percaya diri.

Semua orang berseragam hitam itu tampak ketakutan, desas-desus tentang pewaris tahta pun membuat mereka kocar-kacir meninggalkan hutan tempat yang seharusnya mereka jadikan makam Dareen, tapi gagal lantaran sebuah hal yang tak mereka ketahui.

"Kakak hebat sekali! Membuat mereka kabur begitu saja hanya dengan kata-kata," puji Dareen sambil tersenyum senang.

Ia tak sabar untuk dapat melepaskan diri dari jerat tali yang mengikatnya. Cakra meragu, apakah tindakannya itu benar. Ia tak yakin jika Dareen tidak mengingat semua yang telah terjadi di antara mereka.

"Kenapa mereka mengikat tubuhku begitu kencang? Rasanya sakit sekali," gerutu Dareen sambil terus menggerakkan tangannya mencoba lepas dari ikatan.

Cakra mendekat, memperhatikan lekat-lekat penampilan Dareen yang begitu berbeda.

Kau memang pantas jadi gelandangan seperti ini, Dareen. Sayang, kenapa orang tua itu memilih dirimu untuk menduduki kursi utama di perusahaan? Padahal, kau sangat lemah dan tak berguna seperti ini.

Hatinya menggerutu tidak terima, ia berdiri di depan Dareen membantunya melepaskan diri dari ikatan.

Kau akan merasa berhutang budi padaku, Dareen. Setelah ini, mudah saja bagiku mengendalikan dirimu. Dasar bodoh. Kau memang tetap bodoh!

Cakra mengejek adiknya itu dengan penuh kebencian. Dengan Dareen tidak mengingat apa yang terjadi di antara mereka, merupakan sebuah keuntungan untuknya.

"Bagaimana kau bisa berurusan dengan mereka?" tanya Cakra setelah melepas ikatan di tubuh Dareen.

"Aku juga tidak tahu, Kak. Siapa mereka, dari mana asalnya, kenapa mereka melakukan itu terhadapku. Aku benar-benar tidak tahu, Kak, tapi beruntung Kakak datang tepat waktu. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi padaku selanjutnya?" ungkap Dareen sambil menatap sayu pada sang kakak.

Cakra menoleh padanya, tersenyum sambil mengangguk. Mereka berdua terlihat layaknya kakak dan adik di luar, tapi batin Cakra tak henti menyumpahi Dareen.

"Astaga! Aku hampir lupa. Ibu mencarimu, beliau tak henti menangis sepanjang malam dan siang. Sebaiknya kita segera pulang, Ibu pasti senang melihatmu baik-baik saja," ucap Cakra sembari mengguncang bahu Dareen.

Pulang? Itulah yang juga diinginkan Dareen, tapi bagaimana dengan Daisha? Dia ingin mengajak keduanya ke Jakarta, memperkenalkan mereka pada semua keluarga, dan lalu menikah setelahnya. Tak akan Dareen pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menolongnya.

"Tapi, Kak ... aku tidak bisa pulang sekarang. Aku akan pulang, tapi nanti setelah semua urusanku di sini selesai. Kakak tolong sampaikan pada Ibu jika aku baik-baik saja dan pasti akan pulang," ucap Dareen penuh sesal.

Bukan ia tak rindu pada wanita di rumah itu, tapi mengingat Daisha, Dareen ingin pulang bersamanya dan mengenalkan gadis itu sebagai calon istrinya.

"Tapi kenapa? Apa kau tak merindukan Ibu? Dareen, Ibu terus menerus memanggil-manggil namamu. Ayah bahkan mengerahkan banyak orang untuk mencarimu, kami semua tak henti mencari keberadaanmu. Sekarang, kita sudah bertemu dan kau masih ingin di sini?" cecar Cakra tak habis pikir.

Namun, jauh di lubuk hatinya, ia menginginkan Dareen untuk tidak kembali. Tetap di sana dan lupa pada jalan pulang.

Dareen menghela napas, ia menunduk menatap daun-daun berguguran dan mengering. Memikirkan tentang Daisha dan segala kehidupannya, ia tak tega meninggalkan gadis itu bersama adiknya.

"Aku tahu, Kak. Aku hanya butuh beberapa waktu lagi saja, setelah aku memastikan sesuatu aku berjanji akan pulang sendiri. Aku berjanji, Kak. Untuk sekarang, aku akan tetap tinggal di sini. Hanya katakan saja pada Ayah dan Ibu jika aku baik-baik saja dan pasti akan kembali," ucap Dareen sembari menatap sayu kedua manik sang kakak.

Cakra menilik mata adiknya itu, ada sesuatu yang tersembunyi di sana yang membuatnya harus bersikap waspada dan hati-hati. Ia menghela napas, menepuk bahu sang adik berpasrah pada keputusan yang diambilnya.

"Baiklah, jika nanti kau ingin pulang hubungi saja aku. Bukankah kau ingat nomor teleponku? Aku pasti akan datang menjemput. Jangan sungkan, kau adikku," ucapnya sembari menarik tubuh Dareen ke dalam pelukan.

Sungguh, seorang Kakak yang baik hati dan penuh pengertian, tapi di dalam hanya dia yang tahu rencana apa yang tengah disusunnya.

Dareen tersenyum, bersyukur dan merasa lega karena dipertemukan dengan Cakra. Ia melepas pelukan, tersirat kebahagiaan pada maniknya yang hangat.

"Terima kasih, Kak. Aku pasti akan menghubungi Kakak jika ingin pulang nanti. Sekarang, aku harus kembali khawatir mereka mencemaskan aku," ucapnya berpamitan.

Cakra mengangguk, berpura-pura tak tahu tentang kehidupan Dareen selama ini.

"Apa Kakak ingin ikut? Aku akan memperkenalkan Kakak pada mereka yang sudah menolongku," pintanya bersungguh-sungguh.

Ia ingin Cakra mengenal kedua gadis itu, dua gadis yang telah menolongnya dan salah satunya berhasil mencuri hati Dareen. Cakra menggeleng, bukan tak ingin, tapi ia sendiri sudah tahu siapa yang ingin dikenalkan Dareen padanya.

"Ah, lain waktu saja. Kebetulan Kakak sedang ada meeting di sekitar sini dan sebentar lagi akan dimulai. Kau pergilah, hati-hati!" ucapnya setelah melirik jam yang melingkar di tangan.

Dareen kecewa, tapi ia tak dapat memaksakan keinginannya. Dari dulu, Cakra adalah orang yang sibuk. Ia mengerti sebagai anak pertama di keluarga mereka, sudah pasti Cakra adalah calon pemimpin perusahaan di masa depan. Ia tidak memaksa meskipun kecewa.

"Ya sudah, aku pergi dulu. Kakak juga hati-hati," ucap Dareen seraya berbalik dan pergi meninggalkan hutan di mana kakaknya berada.

Dareen menghela napas, mobil milik Daisha dalam keadaan baik.

"Sial! Kenapa dia mengingatku? Jadi kacau semua rencanaku," umpat Cakra sembari menatap arah di mana Dareen pergi.

1
Mareew
bagusss t o p begete
Lin Lin
permainan karakternya hebat banget... tanpa d duga2 yin and yang nya ada d setiap karakter menandakan ketidak sempunaan manusia... mantaaaf...👍👍👍
Rosmawati/jnr
Bagus banget
Ratna Susianingsih
bener kan bardy yg bunuh keluarga daisha....sadis banget daisha cocok jadi ketua mafia...alhamdulilah Dewi juga berubah selamat ya daisha dan dareen semoga menjadi ortu yang bisa mendidik anak dengan baik...jangan dlu tamat donk ..bonchapnya.....
Megawati Goanidjaja
terima kasih Author 🤗😘😘
L0v€💜
extra part Thor❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️🙏🙏🙏
Yeni Yanti
penasaran kisah Laila kak..
request kisah Laila dan serta kan daisa dan Daren 😘😘😘
Lusia
extra part ya kk.. min. 10 bab 😁😁😁🤭🤭🤭
Yeni Yanti: setuju..
total 1 replies
Alfiyati Al-Ikhlas
thanks a lot
Liana Liana
ada bonchap nya gak ya
Yeni Yanti: wajib ada
total 1 replies
Ratna Susianingsih
kok blum up
Bil Jak Jak Bil
mantap
Darsih suranto
oh oh siapa dia,?????
Darsih suranto
typo kak, Cakra y maksudnya.bukan Darren
Darsih suranto: sama² kak
total 2 replies
Tri Ernawati
menurut saya pembunuhnya ortu ya daisha pak hendrawan...dia memanfaatkan Cakra yang ambisi akan jabatan,untuk membunuh paman daisha
Bardy kan udah tau kalo daisha anak ya Damian sahabatnya,,
Yeni Yanti
mungkin kah bardy..???
andai ya mungkin dia akan mati terperosok di makam yg dia hali 🤔🤔
Ratna Susianingsih
aku maafkan itulah kehidupan pasti yang pergi bardy dan datang anak dareen dan daisha....daisha punya hati yg peka dia gelisah karena da yg mo ngebongkar malam ayahnya dasar si dareen ga ngerti ga mau ngabulin kemauan daisha udh tau daisha ga bisa tidur dasar laki2 ga peka banget...bardy bener bener jahat kasihan dareen punya ortu yg jahat..semoga aja dareen bisa melihat kejahatan ayahnya.....lanjut thor upnya yang banyak tanggung
Sepriyanti Adelina
bapaknya Alena kah yg udah bunuh orang tua Daisha🤔
Ratna Susianingsih
good job....semoga daisha dan dareen selalu bersama dan bahagia..siapa ya pembunuh ortunya daisha...ga mungkinkan klo bardy kasihan dareen klo bardy yg membunuh ke 2 ortunya daisha...kak upnya bnyakin satu mah kurang ..
Yeni Yanti: bisa saja bardy, sebab Bardy sahabat Damian,,
total 1 replies
Megawati Goanidjaja
siap2 Aleena dan Dewi...apa yg akan dilakukan Daisha sama kalian 🤔😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!