"Angie Thio hanyalah seorang gadis biasa yang terpaksa bekerja sebagai pengasuh bayi di kediaman keluarga Liem — salah satu konglomerat paling berkuasa di Indonesia.
Tugasnya sederhana: merawat Guai, bayi mungil yang menolak semua susu formula dan terus menangis sepanjang malam.
Tapi Angie menyimpan rahasia yang bisa menghancurkan segalanya.
Diam-diam, di tengah kegelapan malam, dia menyusui Guai dengan ASI-nya sendiri. Bayi itu langsung tenang di pelukannya — seolah mengenali sentuhan ibunya. Angie tidak mengerti kenapa tubuhnya masih memproduksi ASI, kenapa hatinya terasa begitu terikat pada bayi yang bukan anaknya.
Atau... benarkah Guai bukan anaknya?
Sementara itu, sang Tuan Muda — Hansen Liem, CEO Liem Corporation — menyimpan rahasianya sendiri. Selama setahun, tubuhnya tidak pernah bereaksi terhadap wanita mana pun. Dokter memvonisnya mengalami disfungsi. Dingin. Mati rasa.
Sampai Angie datang.
Setiap kali gadis itu mendekat, jantungnya berdebar tak terkendali. Setiap kali aroma tubuhnya tercium, seluruh pertahanannya runtuh. Hansen tidak mengerti kenapa hanya Angie — seorang pengasuh bayi biasa — yang bisa membuat tubuhnya bereaksi seperti ini.
Di balik dinding mansion mewah Keluarga Liem, Celine Lau duduk di singgasananya sebagai ""ibu"" Guai dan calon istri Hansen. Tapi setiap kali Guai menangis, bayi itu hanya mau Angie. Setiap kali Hansen menatap seseorang, matanya hanya mencari Angie.
Celine tahu posisinya terancam. Dan Nyonya Lau — dalang di balik segalanya — tidak akan membiarkan seorang pengasuh menghancurkan rencana yang sudah disusun sejak setahun lalu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arka R., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 18 Ciuman yang Dicuri
"Mama menelepon."
Hansen mengangkat ponsel ketika Angie masuk untuk jadwal pijat beberapa hari kemudian. Nama Mama Thio terlihat di layar, tetapi sambungan sudah terjawab.
"Halo, Ma?" Angie mendekat karena Hansen masih memegang ponsel.
"Angie, kamu sudah makan?" suara Mama terdengar melalui pengeras suara.
"Sudah. Mama bagaimana?"
Angie membungkuk sedikit agar suaranya terdengar jelas. Bahunya hampir menyentuh Hansen. Ia fokus mendengar Mama mengeluh tentang buah yang terlalu banyak dan tidak menyadari tatapan pria di sampingnya.
Hansen mengangkat tangan, menyibakkan satu helai rambut dari dahi Angie, lalu mengecup tempat itu dengan lembut.
Angie tersentak. Ponsel hampir jatuh.
"Kamu kenapa?" tanya Mama.
"Tidak apa-apa!" jawab Angie terlalu cepat.
Hansen mengambil alih ponsel sebelum benar-benar terlepas. Sudut bibirnya bergerak tipis.
Angie menyelesaikan percakapan dengan wajah panas. Begitu panggilan berakhir, ia mendorong dada Hansen satu langkah menjauh.
"Tuan berjanji tidak menyentuh tanpa bertanya."
Senyum Hansen hilang. "Benar."
"Ciuman di dahi tetap sentuhan."
"Aku salah."
Angie tidak menyangka ia akan mengaku secepat itu. Rasa hangat bekas bibirnya masih tinggal di dahi, mengganggu kemarahan yang sedang dibangun.
"Jangan ulangi tanpa izin."
"Kalau aku minta izin?"
"Saya belum bilang akan memberi."
"Berarti masih mungkin."
Angie meraih bantal sofa dan hampir melemparkannya ketika ketukan terdengar di pintu.
Sebelum suara dari luar muncul, timer pijat di meja sebenarnya baru berjalan dua menit. Angie telah menyetujui jadwal harian maksimal sepuluh menit selama kondisi tangan dan pekerjaannya memungkinkan. Setiap sesi tercatat, tidak dianggap cicilan wajib, dan dapat dibatalkan tanpa alasan.
Hari itu Hansen bahkan sudah bertanya, "Boleh mulai?" sebelum membiarkan Angie meletakkan tangan di bahunya.
Karena itulah ciuman mendadak terasa semakin mengganggu. Ia mampu meminta izin, tetapi memilih tidak melakukannya.
"Sesi hari ini selesai," kata Angie.
"Karena ciuman tadi?"
"Karena Tuan melanggar aturan."
"Berapa lama hukumannya?"
"Sampai saya tidak kesal."
"Itu ukuran waktu yang tidak jelas."
"Bagus."
Hansen menerima keputusan itu. Ia merapikan kerah dan tidak mencoba membujuk. Sikap tersebut membantu Angie percaya bahwa batas yang ia tetapkan benar-benar punya akibat.
"Hansen?" suara Celine datang dari luar. "Aku perlu bicara."
Angie memandang pintu, lalu Hansen. Sejak insiden ruang cuci, ia tidak ingin Celine melihat mereka berdua dalam posisi yang bisa dipelintir menjadi fitnah baru.
Gagang pintu bergerak sebelum Hansen menjawab.
Dalam kepanikan yang sama sekali tidak masuk akal, Angie merunduk di balik meja kerja besar. Ruang di bawahnya cukup luas untuk kakinya, tetapi ia harus duduk meringkuk agar kepala tidak terbentur.
Hansen menatap ke bawah. "Apa yang kamu lakukan?" bisiknya.
"Diam."
Celine masuk.
Hansen duduk di kursi, menutupi sebagian pandangan ke bawah meja. Kakinya berada hanya beberapa sentimeter dari bahu Angie. Aroma kain celana, kulit, dan parfum kayu samar memenuhi ruang sempit itu.
Angie baru menyadari betapa buruk pilihannya. Di bawah meja, suara napas sendiri terdengar terlalu keras. Setiap kali Hansen mengubah posisi, ujung celananya menyentuh lengan Angie dan memicu panas kecil di kulit.
Ia mengeluarkan ponsel untuk menulis pesan.
`Jangan bergerak.`
Ponsel Hansen menyala di atas meja. Ia membaca, lalu mengetik tanpa mengubah ekspresi.
`Kamu yang bersembunyi di dekat kaki saya.`
Angie membalas satu emoji marah. Bahu Hansen bergerak sedikit karena menahan tawa tepat saat Celine mulai bicara.
"Aku dengar tes DNA tetap dilakukan," kata Celine.
"Ya."
"Aku ingin dibatalkan."
"Tidak."
"Kamu bahkan tidak memberiku kesempatan menjelaskan."
"Tidak ada penjelasan yang mengubah perlunya tes."
Di bawah meja, Angie mencoba mengubah posisi. Rambutnya tersangkut pada pegangan laci. Ia menahan napas sambil melepaskannya perlahan.
Celine berjalan lebih dekat. Sepatu haknya berhenti di sisi meja.
"Tes itu mempermalukan keluarga," katanya. "Media bisa tahu. Pemegang saham bisa mengira ada masalah garis keturunan."
"Hasilnya bersifat pribadi."
"Laboratorium bisa bocor."
"Karena seseorang sedang mencoba menghubungi mereka?"
Celine terdiam.
"Mama Liem juga tidak setuju semua orang diperiksa," katanya setelah menemukan suara. "Kamu seharusnya mendengar keluarga sendiri."
"Mama menyetujui pemeriksaan kesehatan. Tes DNA dilakukan secara sukarela dan hasilnya tertutup."
"Kalau sukarela, aku bisa menolak."
"Bisa."
Jawaban itu membuat Celine tampak lega terlalu cepat.
Hansen melanjutkan, "Tapi penolakanmu akan dicatat dalam perkara hak asuh Guai, bersama catatan racun, formula yang salah, dan upaya menabrak yang sedang diselidiki."
"Tidak ada perkara hak asuh."
"Belum."
Satu kata tersebut menghapus kembali warna dari wajah Celine.
"Sampel Guai diambil atas persetujuanku sebagai ayah sah. Sampel siapa pun yang ingin mengklaim hubungan biologis dengannya harus mengikuti rantai pengawasan yang sama."
Celine merapatkan tas ke tubuh. Ia tidak pernah membayangkan Hansen akan mengubah status palsunya menjadi pertanyaan hukum.
Hansen menyandarkan punggung. Lututnya tanpa sengaja menyentuh lengan Angie. Panas menjalar di kulit perempuan itu. Ia menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara.
"Aku tidak tahu maksudmu," kata Celine.
"Kalau begitu tidak ada alasan khawatir."
"Mama Lau hanya ingin memastikan laboratoriumnya tepercaya."
"Aku tidak pernah mengatakan Nyonya Lau yang menelepon."
Celine menyadari kesalahannya terlalu terlambat.
"Tes tetap berlangsung," lanjut Hansen. "Sampel dibagi ke dua laboratorium berbeda. Tidak ada satu panggilan yang bisa mengubah keduanya."
Wajah Celine mengeras. "Kamu memperlakukanku seperti penjahat."
"Aku memperlakukan bukti seperti bukti."
Celine pergi setelah tidak mendapat celah. Pintu tertutup keras.
Angie menunggu beberapa detik sebelum merangkak keluar. Rambutnya berdiri di satu sisi, blusnya kusut, dan satu klip tersangkut di bawah meja.
Hansen melihatnya, lalu tertawa.
Bukan senyum tipis atau ejekan pendek. Tawa hangat benar-benar keluar dari dadanya.
Angie memasang tangan di pinggang. "Ini lucu bagi Tuan?"
"Sangat."
"Saya bersembunyi supaya tidak ada pertengkaran."
"Kamu bisa berdiri saja di sini."
"Setelah kemarin dia menuduh saya mencuci pakaian dalam Tuan?"
"Dia akan menuduhmu apa pun."
Hansen mengambil klip dari rambutnya dan menyerahkan. Kali ini ia tidak menyentuh Angie.
"Dan kamu tidak perlu bersembunyi dari siapa pun di ruang kerjaku."
Pintu terbuka lagi. Lina berdiri sambil menggendong Guai.
"Maaf, Tuan Muda. Baby terus mencari Kak Angie."
Guai melihat mereka berdiri berdampingan. Ia mengangkat kedua tangan, menoleh dari Hansen ke Angie, lalu berseru riang.
"Ba! Mama!"
Hansen mengambil Guai dari Lina. Bayi itu langsung meraih Angie dengan tangan lain, memaksa keduanya mendekat agar ia bisa menyentuh wajah mereka sekaligus.
Jari Guai menempel di pipi Hansen, telapak satunya di dagu Angie. Ia tertawa puas seperti baru menyatukan dua bagian mainan.
"Dia meminta kita berdiri lebih dekat," kata Hansen.
"Dia hanya ingin menarik rambut saya."
Guai membuktikan ucapan itu dengan mencengkeram satu helai rambut Angie.
Hansen melepaskannya hati-hati. Ketiganya berdiri begitu dekat sehingga bayangan mereka menyatu di lantai. Untuk beberapa detik, tidak ada majikan, pengasuh, atau rahasia. Hanya seorang anak yang aman di antara dua orang yang paling dikenalnya.
Angie dan Hansen sama-sama membeku.
Lina menutup senyum dengan tangan. Guai kembali berkata, "Ba... Mama," seolah dua orang di depannya memang satu kesatuan yang seharusnya selalu berdiri bersama.
Ponsel Hansen berdering.
Nama William muncul. Kehangatan di wajah Hansen lenyap ketika ia mendengar laporan.
"Tuan Muda, Nyonya Lau sedang menelepon laboratorium tempat kita akan melakukan tes DNA."
"Apa yang dia minta?"
"Dia menawarkan kontrak pemeriksaan kesehatan keluarga Lau dengan nilai besar jika kepala laboratorium bersedia memakai staf yang dia tunjuk. Mereka merekam panggilannya."
"Bekukan jadwal di tempat itu. Gunakan laboratorium cadangan dan kirim sampel pembanding ke Singapura tanpa memberitahu siapa pun."
"Baik, Tuan Muda."
Angie hanya mendengar soal campur tangan laboratorium. Ia belum tahu bahwa salah satu sampel yang paling ingin dilindungi Hansen adalah miliknya.
Tatapan Hansen berubah sedingin baja.
Permainan itu kini tidak lagi sekadar pertengkaran keluarga. Seseorang sedang berusaha mengubah kebenaran di atas kertas.
Hansen tidak akan membiarkan mereka berhasil untuk kedua kalinya.