Afgans Radithia Zafran harus menikah dengan wanita bernama Alisya, gadis yang tidak dikenal dan merupakan calon pengantin dari adiknya sendiri. Sang adik yang bernama Vincent hilang entah kemana sehari sebelum seharusnya dia menikahi kekasihnya tersebut.
Karena keluarga Afgan sudah mengeluarkan banyak uang untuk acara pernikahan dan undangan pun sudah di sebar, maka terpaksa Afgan menggantikan sang adik.
Satu tahun pernikahan mereka, Vincent tiba-tiba kembali dan meminta kakaknya itu mengembalikan wanita yang seharusnya menjadi istrinya, sementara benih-benih cinta sudah terlanjur hadir di hatinya dan dia sudah bisa menerima Alisya sebagai istrinya.
Seperti apa kisahnya? Mampukan Afgan mempertahankan wanita yang bernama Alisya itu sebagai istrinya? dan apakah istrinya itu masih bisa setia setelah sang adik yang seharusnya menjadi suami gadis itu kembali dan menggoyahkan biduk rumah tangga yang sudah susah payah mereka bangun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reni t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengigau
Milan hendak masuk ke dalam kamar dimana Afgan dan istrinya sedang bermalam pertama, namun, dengan segera, pemuda yang bernama Zergo itu menarik tangan Milan dan membawanya menjauh dari pintu kamar.
''Kamu mau apa, hah ...?'' tanya Zergo menghentakkan tubuh gadis bernama Milan itu di tembok.
''Aku mau masuk, aku gak terima dia melakukan hubungan itu dengan wanita yang tidak jelas,'' jawab Milan diiringi dengan suara tangisan.
''Apa kamu lupa, mereka sepasang suami-istri, dan malam ini adalah malam pertama mereka, kalau kamu masuk ke sana, itu sama saja kamu menjadi pelakor jahat, apa kamu mau di cap sebagai pelakor, hah ...?'' teriak Zergo merasa geram.
''AKU GAK PEDULI, AKU NGGAK PEDULI ... LEPASIN AKU, ZERGO hiks hiks hiks ...'' Milan pun berteriak histeris.
''Nggak, aku gak akan lepasin kamu, sekarang lebih baik kita pulang, kalau kamu mau menuntut kejelasan dari pria brengsek itu, tunggu sampai besok, kamu temui dan bicara dengan dia baik-baik, jangan sekarang, heuh ...'' Ucap Zergo, menatap wajah Milan, dengan tatapan sayu.
Seketika, Milan ambruk di dalam pelukan pemuda yang baru dikenalnya itu, tangisnya pun pecah seketika tidak kuasa menerima kenyataan bahwa kekasih yang selama ini dia tunggu dengan sabar dan setia tiba-tiba menikah dengan wanita lain, bahkan dia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri kekasihnya itu bermalam pertama dengan istrinya.
''KAMU JAHAT AFGAN, JAHAT ... HIKS HIKS HIKS ...'' Milan memukul dada bidang Zergo secara berkali-kali seolah laki-laki itu adalah Afgan.
''Sudah cukup, aku antar kamu pulang sekarang.''
''Nggak, aku gak mau pulang. Aku ingin pergi ke suatu tempat.'' Milan mengurai pelukan.
''Kemana?''
''Aku ingin minum malam ini, aku ingin melupakan sejenak luka dan sakit hati yang sedang aku rasakan saat ini, antar aku ke Dis*otik.''
''Apa, Dis*otik? gila kamu?''
''Ya udah kalau kamu gak mau ikut juga gak apa-apa, aku bisa pergi sendiri,'' ketus Milan berjalan meninggalkan tempat itu.
''Hey ... tunggu gadis aneh. Aku ikut, aku akan ikuti kemanapun kamu pergi, sebelum kamu membayar lunas hutang kamu sama aku ...'' teriak Zergo berlari mengejar.
🍀🍀🍀
Alisya masih meringkuk di atas tempat tidurnya, kakinya dirapatkan sedemikian rupa masih merasakan ada sesuatu yang mengganjal di bawah sana serta rasa perih yang masih belum juga hilang.
Raganya yang masih polos pun ditutup rapat dengan selimut, dia benar-benar masih belum terbiasa tidur dengan tanpa mengenakan busana, sementara sang suami terkulai lemas tepat di belakang punggungnya dengan tangan yang dilingkarkan di pinggang dirinya.
Alisya pun mencoba untuk bangkit dan hendak memakai kembali pakaian yang kini berserakan tidak beraturan di atas lantai, namun, baru saja dirinya hendak mengangkat tubuhnya, tiba-tiba saja, tangan suaminya itu mencengkeram erat pinggang rampingnya, membuat Al sontak kembali berbaring.
''Kamu mau kemana, sayang,'' terdengar suara Afgan mengigau.
''Dasar, udah enak-enak malah langsung tidur pulas,'' Al memutar badan dan meringkuk tepat di depan dada sang suami.
Alisya nampak menatap wajah tampan Afgan, rahangnya yang tegas, hidung mancung dan juga alisnya yang sedikit tebal, menggambarkan bahwa dia adalah pria yang berkarisma dan teguh juga dengan pendirian.
Alisya bahkan tidak tau pekerjaan suaminya, sifat dan kehidupan Afgan seperti apa, pun dia sama sekali tidak tahu. Sejenak batinnya berfikir, apakah dia sanggup menjalani rumah tangga bersama Laki-laki yang sama sekali tidak dikenalkannya itu?
Sementara hatinya masih terpaut kepada laki-laki lain yang saat ini tidak diketahui keberadaannya, bahkan baunya pun tidak tercium dimana pun. Apakah kekasihnya itu sudah mati di suatu tempat? Akh ... Tiba-tiba saja dadanya terasa sesak memikirkan hal itu.
Al pun larut dalam lamunannya, masih dengan mata yang semakin intens dalam memandangi wajah suaminya itu. Sampai akhirnya, lamunannya buyar seketika saat mendengar suaminya kembali mengigau, dengan tangan yang meremas pinggang polosnya.
'Jangan tinggalkan aku, Milan. Aku minta maaf ...'
Lirih Afgan dengan mata yang masih terpejam sempurna. Sontak mendengar hal itu membuat hati Alisya merasa sakit, sakit memikirkan bagaimana hancurnya hati wanita yang bernama Milan itu saat mengetahui bahwa pria bernama Afgan ini, kini telah menjadi suaminya, bahkan mereka telah bermalam pertama.
''Maaf, karena aku. Kamu harus meninggalkan kekasihmu itu, Afgan.'' Lirih Al, masih memandang wajah Afgan.
Tanpa di sangka, tiba-tiba saja mata suaminya itu terbuka sempurna, membuat Al terkejut seketika lalu menggeser posisi tubuhnya memberi jarak di antara tubuh mereka yang kini hampir saling menempel.
''Mau kemana, sayang ...'' tanya Afgan, entah dia sudah benar-benar terbangun atau memang masih dalam keadaan mengigau, membuat Alisya merasa bingung.
''Lepasin, aku mau turun. Aku mau pakai baju, dingin tau ...'' ketus Al mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Afgan yang saat ini semakin melingkar kuat di pinggangnya.
''Gak usah pake baju, sayang. Kita baru sekali melakukannya, lagipula punya aku belum seluruhnya masuk kedalam sana,'' lirih Afgan dengan nada suara yang sedikit diliuk'kan.
''Ish, dasar gila ...'' Tubuh Al tiba-tiba terasa bergetar.
''Milan sayang, cintaku ...'' lirih Afgan lagi, membuat Al sadar bahwa suaminya itu benar-benar sedang mengigau.
Merasa kesal, Alisya pun kini menghempaskan tangan suaminya itu dengan kasar, lalu mendorong dada bidang sang suami dengan bertenaga sampai akhirnya jarak pun tercipta diantara mereka.
''Dasar kurang ajar. Dia meminta itu padaku tapi sambil menyebut nama wanita lain?'' ketus Al, lalu turun dari atas ranjang, meraih satu-persatu pakaiannya yang masih berserakan di atas lantai.
Setelah pakaian yang dia kenakan lengkap di tubuhnya, Alisya pun segera turun dari atas ranjang. Berdiri tepat di samping ranjang, lalu menatap wajah suaminya dengan tatapan tajam yang ternyata memang masih tertidur dengan begitu lelapnya.
''Dasar ... Kamu ... Tidur sama siapa yang di sebut siapa? aku buka Milan, Afgan ...'' bisik Al, berbicara tepat di depan wajah suaminya yang kini terlihat tidur dengan begitu pulas-nya.
Keesokan harinya.
Afgan mulai membuka mata, mengedipkan'nya secara perlahan dengan kedua tangannya yang rentangkan, lalu membuka mulutnya lebar-lebar, menguap.
Dengan mata yang masih terpejam, Afgan meraba ke arah samping, mencari sosok sang istri, dan terkejut seketika membuka bola matanya secara sempurna saat tangannya tidak dapat menemukan sosok Alisya di sisinya.
Sontak saja, hal itu sukses membuat pria itu membuka matanya lebar lalu menarik napas lega, karena sang istri kini meringkuk di kursi yang seharusnya menjadi tempat dirinya tidur semalam.
Afgan mengangkat kepalanya, menatap wajah Alisya yang terlihat masih memejamkan mata dan sudah berpakaian lengkap.
'Sepertinya kamu wanita baik-baik, adikku memang bodoh, karena telah meninggalkan wanita, cantik, lucu dan imut kayak kamu ...' ( Batin Afgan, semakin intens menatap wajah istrinya )
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀*