Putri seorang gadis berusia 17 tahun. Harus rela menerima kenyataan dijodohkan dengan seorang tentara berpangkat Lettu dari kesatuan Angkatan Udara skuadron pesawat tempur. Seperti gadis kebanyakan seusainya. Alias lagi masa puber-pubernya, dan zaman sekarang lagi demam-demamnya K-POP. Tentu dia mengidam-idamkan memiliki pacar seperti Oppa-Oppa Korea. Meski calon tunangannya ganteng dan berpangkat. Tapi masa, dia nikah sama om-om?
Ken yang saat ini menginjak usai 33 tahun. Tak menyangka akan mendapatkan malapetaka ini. Sejak ditinggal kekasihnya 5 tahun silam. Dia belum siap menjalin hubungan lagi. Tapi sekarang dia bisa apa? Tambah bikin suntuk lagi, kenapa lah calonnya cabe-cabean?!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nonelondo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Cepat Naik!
Aroma kopi menyeruak seisi ruangan. Ibu Ken meletakkan di atas meja, berikut sepiring singkong goreng yang didapatnya dari hasil Bumi mereka. Nampan di taruh di kolong meja, lalu dia duduk di sisi suaminya. Mereka lagi menemani Putri belajar. Peralatan sekolah, buku-buku pelajaran berserakan di meja, ada pun sebagian di lantai. Putri duduk melantai mengerjai PR.
Bisa dibilang kehidupan keluarga Ken sederhana. Orang tua Ken suka memanfaatkan sumber alam yang ada untuk kebutuhan perut. Kadang kalau hasil Bumi melimpah mereka suka membagikan ke tetangga. Padahal keluarga Ken bukan dari golongan bawah alias orang berada. Dari luas tanah, dan luas bangunan yang ditinggalin mereka saja, bukanlah ukuran kecil. Belum lagi, bapak Ken memiliki usaha, dan punya banyak cabang. Dan juga, anak pertama mereka seorang Perwira, dan yang bontot menikah dengan pria mapan.
Sungguh berbeda dengan Wati dan Bimo. Dua orang itu memang benar-benar memakai semua jerih payah mereka untuk kebutuhan gaya hidup kelas atas. Namun karena itu bukan berarti yang terlihat sederhana itu miskin. Contohnya orang tua Ken. Karena manusia punya cara masing-masing menikmati jalan hidup mereka.
Sehabis mereka makan, Ken mengurung diri di kamar. Dari siang dia sudah dibuat pusing oleh Putri. Ya, apa lagi kalau bukan mengantar dan mengangkat barang-barang Putri. Dia malas meladeni lagi. Bapaknya tadi merayunya untuk menemani Putri belajar. Tentu dia nggak mau.
“Putri... Tahu kan, besok harus bangun subuh?” Bapak Ken bertanya.
Mulai besok Ken mengantar Putri berangkat sekolah. Karena menempuh waktu lama dari sekolah Putri belum lagi Ken ke kantor. Putri jadi harus bangun lebih awal. Nanti urusan Putri pulang sekolah, baru tugas bapak Ken. Orang tua Putri sudah bilang ke anak mereka. Ken pun sudah diberi tahu perihal itu oleh orang tuanya.
Menengok. “Tahu.”
“Nanti pulang sekolah, baru Bapak Om Ken yang jemput.”
“Bapak Om, nggak usah jemput Putri aja. Putri bisa pulang sendiri kok!"
“Jangan... Nanti kamu ke sasar.”
“Nggak, Putri bisa kok! Tadi aja Putri bisa ke sini. Nanti Putri tinggal bilang aja sama bapak supir taxinya."
“Jangan... Nanti Bapak Om ditegur sama orang tua kamu. Kalau kamu sampai hilang.”
“Ya udah deh! Tapi kalau Putri ada acara, Bapak Om Ken, nggak usah jemput Putri ya.”
“Memang Putri suka ada acara apa?” Ibu Ken bertanya.
“Putri kadang suka ikut kegiatan sekolah. Kadang juga suka belajar kelompok ke rumah teman, atau jalan sama teman-teman.”
“Oo... Ya udah. Kalau gitu, pas acara Putri selesai. Putri kasih tahu aja Bapak Om Ken. Biar Bapak Om Ken tahu jemput Putri di mana,” tukas bapak Ken, setelah dengar itu.
Putri mengerucutkan bibirnya. Orang dia nggak mau diledekin teman-temannya. Takutnya nanti disangka dia dijemput sama om-om lagi. Kalau jemput di sekolah sih, nggak apa-apa, dia bisa ngumpet-ngumpet. Tapi, ini masalahnya? Namun karena dia malas berdebat. Dia jadi melanjutkan lagi belajarnya. Palingan nanti dia nggak kasih tahu.
“Putri udah simpan nomor Bapak Om Ken, dan Om Ken, 'kan?” tanya bapak Ken lagi.
“Mm." Putri menjawab datar.
Saat orang tuanya beri tahu dia di antar, dan di jemput oleh siapa. Dia pun sudah diberi tahu hal itu.
“Putri bisa ngerjain PR-nya?” tanya ibu Ken.
”Mm."
Nggak lama tugas sekolah Putri selesai. Karena perutnya tiba-tiba lapar lagi, dia jadi bertanya ke orang yang mengurus makanan di rumah ini.
“Tante, di kulkas ada apa?”
“Oh! Di kulkas ada... Mm...” Ibu Ken bingung mau menjawab.
Mereka sudah lama nggak punya anak kecil. Lagi pula, dia sekarang tinggal berdua saja sama suaminya. Jadi jarang menyiapkan hal itu. Pasti anak ini minta cemilan. Ya, memang benar.
“Ini, ada singkong goreng Putri,” tawar bapak Ken, disaat istrinya mau menjawab.
“Ah, Putri nggak mau. Putri mau es krim."
“Oh! Putri mau es krim."
Ibu Ken jadi merespon begitu setelah dengar itu. Kemudian dia lanjut melihat suaminya.
"Ibu saja yang ke dalam, tadi Bapak sudah,” paham suaminya, istrinya minta merayu anak mereka.
"Duh!" keluh istrinya, kemudian berdiri.
"Bentar ya, Putri.”
Lalu ibu tua itu berjalan ke kamar Ken. Pas sudah di depan pintu kamar itu, dia mengetuk sambil memanggil.
Tok! Tok! Tok!
“Mas...”
Karena gak ada sahutan, dia memberanikan diri masuk ke dalam. Dilihatnya anaknya lagi rebahan di kasur. Lekas dia datang menghampiri.
“Mas... Ayo, dong keluar... Kasihan kan, anak itu sendirian gak ada teman. Ibu dan Bapak, tahu sendiri bingung mau ngobrol apa sama anak umur segitu.”
“Anak itu juga kan, sama seperti Mas terpaksa menjalani wasiat itu. Jadi jangan gini dong, Mas...”
"Itu, Putri minta dibeliin es krim lagi... Ibu dan Bapak bingung mau beliin es krim kayak gimana."
Ibunya terus mengeluarkan suara. Ken mendesah lalu berdiri. Capek juga dari tadi dengarnya. Orang tuanya memang pasti bakal nggak berhenti-henti merayunya. Ibunya tersenyum. Ken mengambil dompet dan keluar dari kamar berjalan ke teras. Ibu Ken di depan pintu berkata ke Putri.
“Putri... Ayo, itu ikut Om Ken. Om Ken mau beliin Putri es krim.”
“Iya, Tante?” senang Putri.
Mengangguk. “Iya.”
Gadis itu berdiri meninggalkan peralatan belajarnya. Bapak Ken mendekati istrinya. Mereka berdua memandangi anak mereka dan calon mantunya. Yang lagi berjalan keluar dari pintu pagar.
“Ibu sebenarnya gak sabaran loh! Ingin lihat mereka cepat jatuh cinta.”
“Ya ampun, Bu... Sabar dong... Baru juga hari ini, hari pertama mereka dekat.”
"Bapak sadar gak mereka gak ada yang pakai cincin?"
Memang ke dua orang itu gak ada satu pun yang pakai. Jadi sehabis acara mereka pada melepas cincin tunangan tersebut.
"Tahu. Yahhh... Namanya mereka dijodohkan, pasti masih pada belum rela."
“Menurut Bapak, Putri bakal jatuh cinta nggak sama anak kita? Dan kira-kira juga anak kita bakal jatuh cinta nggak sama Putri? Melihat watak anak kita kayak gitu? Diitambah lagi kisah cintanya yang dulu tragis. Kira-kira kita bakal berhasil gak buat anak kita berubah?"
“Bapak yakin! Witing tresno jalaran soko kulino. Cinta akan menemukan jalannya. Semua butuh proses. Putri masih muda belum mengenal cinta. Dia anak manja, semua kemauannya minta dituruti. Nanti dia akan menemukan rasa disayang lewat Mas Ken. Sedangkan anak kita, akan sembuh dari luka masa lalunya lewat hari-harinya bersama Putri. Dia sudah 5 tahun tanpa wanita, sudah pasti selama ini di hatinya itu sebenarnya kesepian."
Witing tresno jalaran soko kulino adalah sebuah ungkapan Jawa. Yang artinya, cinta tumbuh karena terbiasa.
“Semoga lah! Berarti besok Ibu harus belanja nih, memenuhi kulkas buat Putri.”
*********
Sekitar 30 menit Ken dan Putri tiba di mini market. Harusnya mereka nggak memakan waktu selama itu. Mini market sekitar 200 meter dari rumah. Akibat Putri banyak mengeluh. Ken terpaksa jadi terus berhenti demi menuruti kemauan anak itu yang minta istirahat melulu.
(Gambar hanya ilustrasi)
Putri ngeloyor masuk ke dalam. Malas mendampingi Ken hanya menunggu di kasir. Putri mengambil keranjang, berjalan ke lorong makanan. Di ambilnya beberapa makanan kesukaannya di sana, lalu dia berjalan ke area permen dan cokelat. Di ambilnya juga yang disukainya. Begitu pula ke bagian minuman. Baru, terakhir dia mengambil es krim. Kemudian semua di bawanya ke kasir.
Ken memperhatikan belanjaan yang membumbung tinggi di keranjang Putri. Perasaan anak itu cuman minta es krim. Kenapa banyak banget?
Untungnya kasir tempat Ken berdiri sepi. Jadi memudahkan Putri menuangkan isi dalam keranjangnya ke meja. Kasir menghitung, memasukkan satu persatu barang ke kantong. Setelah selesai, sang kasir bicara.
“Semua 425 ribu.”
Ken mendelik. Gila! Banyak banget anak ini jajannya. Kalah jajannya si Ayu. Ken membuka dompet, dan membayarnya. Lalu dengan muka sepet dia keluar dari sana. Tanpa mau membantu Putri membawa barang belanjaan itu. Namun baru saja mereka keluar alias di depan mini market. Putri sudah mengeluh.
“Om... Duduk dulu, yuk di sini... Putri capek nih!"
Di depan mini market memang ada bangku-bangku buat pengunjung. Yang di atasnya ada payung besar.
Sebenarnya kali ini Ken mau menolak. Tapi sehabis berkata begitu, Putri langsung duduk. Mau nggak mau dia jadi ikutan menyusul. Tapi biar begitu, mukanya tetap diselimuti aura sepet.
Putri membuka kantong dan mengambil es krim. Lalu dia memakannya sambil bersenandung riang. Ken buang muka malas melihat.
“Nanana.... Nanana....”
“Om!” panggil Putri kemudian.
"....." Ken tidak menoleh, termasuk menyahut.
“Kok, Om nggak punya pacar sih? Kalau Putri wajar nggak punya pacar karena masih kecil... Kalau Om kan, udah tua.”
Secepat kilat Ken jadi memalingkan kepalanya akibat dikatain begitu.
“Harusnya untuk seumur Om udah menikah. Masa, Om ganteng-ganteng nggak laku!" ucap Putri lagi.
Ya ampun.... Anak ini...! Sabar, sabar, sabar...
Ken mengelus-elus dada, sekaligus menghembuskan nafasnya berkali-kali demi menenangkan diri.
“Hallo... Mas Ken.”
Tiba-tiba ada tetangga Ken yang menegurnya. Seorang wanita paruh baya.
Menoleh. "Oh! Bu.”
“Lagi di sini.”
Semua tetangganya tahu, Ken sudah nggak serumah dengan orang tuanya.
“Iya, Bu.”
“Siapa ini?’
“Mm...” Ken bingung menjawab.
Kalau dia bohong takutnya orang tuanya nanti bilang Putri calon istrinya. Ah, bodo amat!
“Keponakan,” katanya.
“Oo... Cantik ya. Ya sudah, Ibu masuk dulu.”
Mengangguk. “Iya, Bu.”
“Bagus tuh, Om... Putri juga nggak mau kalau Om tadi bilang pacar Om,” ucap Putri sesudah ibu itu pergi.
"Siapa juga yang mau jadi pacar kamu!" jengkel Ken, akhirnya buka suara.
Mungkin karena dia sudah sangat gregetan sekali. Lucunya, Putri malah menanggapi lain.
“Om! Bagi duit dong..." Putri berdiri.
"....." Ken melongo.
“Tangan Putri kotor nih! Putri mau beli tisu.” Putri menunjukkan tangannya yang berlumuran sisa-sisa es krim.
Sebenarnya Ken lagi kesal banget. Tapi karena tahu anak itu gak bawa duit. Jadi terpaksa dia menuruti. Kemudian selanjutnya mereka berjalan pulang. Namun ditengah jalan, Putri lagi-lagi mengeluh.
“Om, capek nih! Udah mana Om gak bantuin Putri bawa belanjaan lagi!"
Saat ini sudah habis kesabaran Ken. Dia gak peduli terus saja berjalan. Selain karena sangat kesal anak itu mengeluh capek melulu. Tapi juga tadi masih teringatnya. Dia dikatain tua, gak laku, dan seakan-akan dia menginginkan Putri jadi pacarnya. Yang benar saja!
“....." Putri melongo, karena ditinggalkan.
Kemudian sesampai Ken di rumah, orang tuanya kaget lihat dia pulang sendiri.
“Loh, Putri mana Mas?” tanya ibunya.
"...." Ken tidak menjawab.
“Mas, Putri mana?” tanya juga bapaknya.
“Ya ampun, Mas... Jangan gitu dong, Mas... Masa, Putri ditinggal," tuduh ibunya.
“Gak boleh gitu dong, Mas... Nanti kalau ada apa-apa sama Putri gimana? Nanti kita bakal disalahin sama orang tuanya,” tuduh juga bapaknya, sekaligus mengingatkan.
Pria yang habis dikatain habis-habisan oleh gadis itu lalu menghela nafas. Terpaksa dia jadi memutar badannya kembali ke tempat tadi. Lalu sebelum tiba, dia mendengar suara isak tangis anak nyebelin itu.
“Huhuhu... Om Ken, jahat! Huhuhu.... Om Ken, jahat! Huhuhu....”
Kemudian Ken tiba. Dia langsung meraih belanjaan di tangan yang mendumel itu. Lalu jongkok, dan berteriak lantang.
Mungkin dia begitu, karena dari pada nanti di jalan anak itu mengeluh capek melulu jadi buat lama.
“CEPAT, NAIK...!”
“Huhuhu....”
“NAIK...!”
Putri menempelkan badannya. Ken menaikkan badan itu, dan membawanya pulang. Lepek semua baju belakang Ken dari air mata dan ingus Putri. Karena Putri selain memeluk, namun juga dia mengusek-usek mukanya di punggung Ken.
maaf othor sekedar koreksi menurut saya🙏
sampai sekarang kalo baca pasti lupa kasih like karwna keasyikan baca
tengah malam tahan2 Tawa 🤣🤣🤣🤣
tengah malam ketawak2 sendiri Thor..
semangat trus ya