Di usia dua puluh lima tahun, Gurkha pergi meninggalkan keluarganya dan habitatnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PAK SURYA
Perjalanan tidak memakan waktu begitu lama, Gukhar sudah sampai di Apartement. Mereka mengangkut koper dan barang-barang lainnya keluar dari mobil.
"Aku sekarang akan tinggal disini. Rumah ini cukup nyaman dan tidak begitu menyeramkan seperti di Hutan." guman Gukhar sendiri, dia mengingat ayahnya, ada perasaan sedih tiba-tida menderanya. Benar kata kakeknya bahwa dia terlalu kemayu, lebay, berprikemanusian atau ke kanak-kanakan. Tidak cocok menjadi Pangeran Naga, yang harus bengis dan liar.
Tapi kakeknya tidak tahu, bahwa ada dua sifat yang mendominasi jiwanya. Dia akan beringas dan liar apabila jiwanya terancam, dan dia akan mellow jika menghadapi orang baik.
"Maaf Tuan, barang-barang sudah semua turun, apakah saya boleh merapikannya." tanya bibi Asti sopan.
"Kerjakan sesuai pengalaman bibi, setelah selesai bibi boleh istirahat."
"Maaf Tuan, apakah setelah saya beres-beres, saya boleh memasak?"
"Tentu saja boleh, saya lupa kalian belum makan. Bibi lebih tahu apa yang harus di kerjakan, untuk itu silahkan bibi mengatur sendiri, saya ingin semuanya beres."
"Baik Tuan, trimakasih."
Gurkha masuk ke kamarnya, dan merebahkan dirinya di bed king size, dia sudah hafal semua peralatan yang menunjang kehidupan manusia Dia banyak belajar, otaknya lumayan encer untuk menerima pembaharuan di dalam kehidupannya.
Semenjak ada perkataan AIDS antara dirinya dan Nyonya Surya, Rina, tidak pernah mengunjunginya. Begitu juga Nyonya Surya, yang datang kesini adalah Guru les privat bahasa Inggris dan seorang Business consultant yang memberikan arahan, nasehat kepada Gurkha sebagai pelaku bisnis Dan juga memberikan solusi atas masalah – masalah dalam bisnis yang akan di gelutinya. Semua ini atas perintah Bapak Surya, ayah angkatnya.
Waktu Pak Surya mengetahui Rina di selamatkan oleh Gurkha, saat itu juga dia langsung tertarik kepada pemuda itu. Feeling nya yang tajam bisa mengendus bahwa Gurkha bisa di andalkan untuk memimpin perusahannya suatu hari. Dia ingin menguji kejujuran Gurkha, serta dedikasinya untuk sementara waktu.
Tanpa berpikir panjang Bapak Surya mengangkat Gurkha sebagai anak angkat, di saksikan oleh beberapa karyawan perusahan, bawahan Pak Surya beserta yang berwenang. Rina dan Ibunya tidak setuju atas ide yang di keluarkan oleh Pak Surya. Tapi Pak Surya tidak peduli, dia tahu apa yang harus dia perbuat, mengingat Rina, anak semata wayangnya tidak bisa di andalkan.
"Paa... kita belum mengetahui siapa Gurkha sebenarnya, dia begitu culun dan kampungan." gerutu Nyonya Surya sebel.
"Kamu urus usahamu saja, kita sudah gagal mempunyai anak. Rina terlalu manja, kerjanya ke Bar, Pub, semua badannya di tatto, dan hidupnya terlalu bebas." keluh Pak Surya. Dia kecewa terhadap tingkah Rina yang tidak punya attitude.
"Rina adalah anak zaman sekarang, dia bergaul dengan anak orang kaya yang tidak mempermasalahkan kebebasan, asal tidak narkoba saja. Papa, berpikiran picik terhadap anak sendiri, kita orang kaya modern."
"Terima kenyataan, kita sudah gagal mendidik anak, lihat anak Pak Anwar, Pak Surya Dinata, Pak Putra Laksana, semua anaknya baik, patuh kepada orang tua, bertanggung jawab dan mau bekerja di Kantor." tungkas Pak Surya, seraya mengambil ponselnya.
"Aku mau ke Apartement, ingin tahu perkembangan anak angkatku."
"Asal jangan bikin masalah di kemudian hari, aku sih tidak masalah kau mau ngapain dengan Gurkha. Asal kau ingat, anak kandungmu itu adalah Rina." ketus suara Nyonya Surya.
"Rina hanya perlu uang." sahut Pak Surya beranjak pergi. Akhir-akhir ini Pak Surya merasa kurang nyaman berada disisi istrinya yang kerjanya mengomel dan meminta uang. Ada perasaan jenuh nengarungi bahtera perkawinan ini. Dulu Pak Surya sangat berambisi bekerja, berpikir kalau sukses mereka akan hidup bahagia. Kenyataannya, anak dan istrinya cendrung memilih jalan masing-masing untuk mencari ke senangan.
Pagi ini Gurkha bangun lebih pagi. Ayah angkatnya akan mengajaknya ke perusahannya untuk meeting. Dia melihat ponsel yang di berikan oleh Nyonya Surya, benda pipih itu hanya berisi kontak Rina, Nyonya Surya dan Tuan Surya. Ingin dia menambahkan ke kontaknya nama Ayahnya Dracon Gamayo dan Goreon, juga nama pengawalnya. Tapi dia tidak ingin menambahkan nama kakek ketua. Kakeknya telah mengusirnya, hatinya masih sakit.
Gurkha tersenyum miring, dia ingat bahwa Dracon dan Goreon tidak punya ponsel, bukankah mereka seekor Naga? pikir Gurkha baru sadar.
Dia kemudian membuka playlist dan terdengar suara dari Tracy Chapman dengan lagu Give me one reason. Lagu lama tapi Gurkha menikmatinya dia senang. Lagu pertama yang dia dengar dan berbahasa asing.
Give me one reason to stay here. ( Beri aku satu alasan untuk tetap disini). Lirik lagu itu mengena dihati.
Tokk...tokk...tokk...
Tuan ada Tuan besar di ruang tamu, beliau ingin bertemu dengan Tuan." kata bibi Asti ketika Gurkha nongol di pintu.
"Aku keluar, tolong siapkan sarapan." sahut Gurkha keluar dari kamar.
"Pagi paa, kita sarapan dulu sebelum ke Kantor, aku tahu papa pasti belum sarapan." sapa Gurkha Gamayo.
Dia tahu kebiasaan ayahnya sarapan sendiri dirumah, tanpa di temani oleh sang istri. Ntah, apa penyebabnya di rumah ayahnya yang besar dan mewah itu, tidak terasa nyaman. Lebih tepatnya gersang. Padahal segalanya ada.
"Sengaja tidak sarapan di rumah, ingin disini sarapan denganmu."
Mereka menuju ruang makan, bibi Asti tersenyum senang ketika melihat Pak Surya.
"Silahkan makan Pak..."
"Trimakasih Asti, tapi saat ini saya membutuhkan kamu untuk memijit, rasanya sudah seminggu ini masuk angin." kata Pak Surya menatap Asti.
"Baiklah Pak, saya akan bersiap." sahut bibi Asti hormat, kemudian dia berlalu dan digantikan oleh bibi Tina, sebenarnya kedua bibi ini berumur sekitar tiga puluh tahunan. Mereka masih muda dan belum menikah.
"Gurkha, kamu sarapan dulu, nanti papa menyusul, kamu langsung ke Kantor habis sarapan. Papa sekitar setengah sepuluh baru ke Kantor."
"Siap paa... aku duluan." jawab Gurkha tanpa prasangka, dia tidak mengerti akal-akalan Bapak Surya. Semenjak dia pindah ke Apaternent, Papa nya ikut mengambil satu kamar untuk beristirahat.
Ada saja alasan Pak Surya, supaya bisa tidur di Apartement.
"Di rumah sepi, mamamu sering keluar rumah dan suka ngomel. Papa malas di rumah." kata Pak Surya kalau ingin menginap di Apartement.
Gurkha yang tidak mengerti, manut saja di suruh duluan ke Kantor. Dia memacu mobilnya dengan hati-hati, ada rasa bangga di dadanya setelah menyadari kedudukannya sebagai manusia sejati.
Sampai di Kantor Gurkha bertemu dengan Rina dan Nyonya Surya, atau Mama angkatnya yang kurang setuju jika di panggil Mama. Hampir saja Gurkha mendekati Nyonya Surya, untung dia ingat bahwa dirinya AIDS, jadi dia bebas melenggang tanpa harus meladeni Nyonya Surya yang genit.
"Gurkha papa angkatmu dimana? aku tidak melihatnya dari tadi, padahal Mama mengatakan Papa sudah berangkat dari jam tujuh pagi." tanya Rina memasang jarak.
"Papa lagi di Apartement, katanya lagi tidak enak badan, bibi sedang memijatnya."
"Ssstttt....." Rina memberi kode supaya Gurkha diam.
"Kalau Mama tanya, katakan Papa sudah jalan." bisik Rina. Gurkha cuma mengangguk.
Dulu Gurkha tidak mengerti penyakit AIDS tapi sekarang dia sudah tahu dari Google. Setelah tahu dia tidak sudi memberitahu kebenarannya, lebih baik Nyonya Surya tetap menganggapnya punya penyakit AIDS dari pada Nyonya Surya nudis di ranjangnya.
*****
penasaran sama lanjutannya
KARYA NYA BAGUS SAYA SUKA😍👌👌👌
SEMOGA MAKIN SUKSES KARYA NYA
GOOD JOB👍👍👍
aku merasa blm puas thooooor ceritanya gantung bgm si gukha
ktnya mau menikahi Devi
terus Devi kerja apa dan pd akhirnya mereka bs bersatu apa gk