Tahun kelima pernikahannya, Renata dan Haris belum juga dikaruniai seorang anak. Betapa sedih saat mertua menyalahkan Renata karena dia tak bisa mengandung, apalagi melahirkan seorang cucu untuknya.
Hati Renata merana saat mertua menyuruh Haris, suaminya, untuk menikah lagi dengan pilihan sang mertua demi mendapatkan seorang cucu.
Tak disangka Haris goyah juga menghadapi desakan orang tuanya hingga dia menikahi wanita pilihan ibunya.
Namun, di saat keputusan perceraian, hal yang tak disangka, Renata yang selalu dihina oleh mertuanya karena miskin dan merupakan anak yatim piatu, ternyata mendapatkan warisan yang begitu banyak!
Bagaimanakah penyesalan Haris? Bagaimana pula Renata bisa membalas semua perlakuan mertua dan suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudhi Nita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NIKAHI AKU
Saat Renata sedang menikmati ketenangan di rumah kontrakan, Haris tak kalah juga. Dia sedang menikmati malam bersama dengan Melia. Siang tadi, Haris sudah menghubunginya. Dia bilang akan menjemput Melia jalan-jalan.
Dengan berdalih akan mengambil barang yang tertinggal di rumah ibunya, Haris pergi dengan baju rapi. Tak ada kecurigaan di pikiran Renata. Dia sedang merebahkan diri karena kelelahan usai sore tadi selesai memasak nasi kluban, telur rebus, tempe goreng, ikan asin serta kerupuk untuk diantar ke para tetangga sebagai perkenalan.
"Wah, Mas Haris tambah cakep ya?" puji Melia.
Haris yang dipuji makin besar kepala. Dia pun mengusap-usap hidungnya, tersipu. Baru kali ini seorang bidadari cantik memujinya habis-habisan.
"Kamu bisa aja, kamu juga sangat cantik malahan."
Haris mulai dengan gombalannya pada Melia. Namun, bukan hanya gombalan, Melia memang nampak cantik malam itu.
"Aku nggak cantik, Mas."
Melia mengerucutkan bibirnya, merajuk. Haris ingin sekali mengecup bibir yang menggoda itu. Namun, tunggu dulu masih belum sah.
"Sudah cantik, masih rendah hati. Sempurna sekali sih?" puji Haris.
Bukan senyum, tapi Melia tambah cemberut mendengar pujian itu. Haris jadi bingung dibuatnya.
"Kok malah cemberut, kenapa?" tanya Haris.
"Wanita itu cantik kalo pakai perhiasan, Mas!" tukasnya menggaruk jari tangan yang polosan tanpa perhiasan apa-apa.
"Duh ...," desis Haris. Dia memutar otak untuk mencari jawaban yang pas untuk Melia.
"Nanti kalau aku melamar, pasti kubelikan cincin."
"Trus kapan lamar aku, Mas?" tanya Melia.
Haris terbelalak. Dia pikir Melia akan mengira itu hanya candaan belaka. Namun, nyatanya wanita itu malah menantangnya untuk menikah.
"Keburu aku dilamar orang lain," imbuh Melia.
"Eh, jangan ...," sahut Haris cepat.
Hati Haris sudah kecantol pada Melia. Rasanya akan patah hati kalau melihat Melia menikah dengan orang lain. Apalagi ibunya akan marah mencari wanita lain untuk dijodohkan dengannya. Iya kalo cantik, kalo jelek?
Haris tak ingin kehilangan kesempatan itu. Dia berpikir keras untuk melamar Melia dalam waktu dekat.
"Iya, aku akan berusaha untuk melamar kamu tahun ini," tambah Haris lagi.
"Bener nggak?" tanya Melia seperti tak percaya.
"Suer," sahut Haris mengangkat dua jari tangannya.
"Oke, aku menunggu janjimu, Mas," sahut Melia melingkarkan tangan ke lengan Haris.
Pria itu agak meneguk salivanya melihat 'isi' baju Melia yang agak turun di bagian dada. Dia memejamkan mata. Ah, kenapa sih wanita di sebelahnya itu selalu memakai baju minim bahan? Bagaimana dia kuat menghadapinya? Haris hanya menahan diri selama bersama Melia.
***
"Nggak tahan aku, Bu."
Haris mengeluh pada ibunya saat sore itu berkunjung ke rumah. Sekarang dia bebas berbincang dengan sang ibu soal Melia.
"Ya sudah, kamu segera nikahi saja Melia itu, Ris."
Haris mengerucutkan bibir. Uangnya belum cukup di rekening.
"Apa? Kamu kurang duit? Itu, Ibu ada kalo cuma lima puluh juta di bank. Kamu tinggal tambahi aja," ujar Bu Helen.
Wajah Haris langsung semringah mendengarnya. Tumben sekali ibunya tak pelit. Biasanya dia tak pernah memberikan apapun pada rumah tangganya saat bersama Renata.
Ah, apakah Melia memang menjadi pembuka rejekiku?
"Baik, Bu. Segera aku urus!" sahut Haris tersenyum lebar.
"Biar nanti cincinnya Ibu yang belikan, Ris. Kamu urus saja segala sesuatu yang menyangkut acara," ujar Bu Helen.
Haris merasa lega. Sikap ibunya berubah baik sekali. Dia makin mantap untuk melangkah meminang Melia. Sudah cantik, seksi, pembawa rejeki, dapat restu dari orang tua. Bayangan keluarga yang damai dan hangat terbersit di kepala Haris.
***
"Mas Haris kok belum pulang-pulang, ya?" gumam Renata saat duduk di ruang makan.
Ayam goreng lengkuas yang dia masak sedari sore tadi sudah mulai dingin. Tadinya dia memasak untuk Haris yang menyukai ayam. Sudah lama dia tak membeli ayam demi menghemat uang belanja. Namun, kali ini Renata ingin merayakan kebahagiaan hati dengan makan masakan kesukaan suaminya. Satu mangkuk sambal tak ketinggalan. Renata sampai mengabaikan perutnya yang keroncongan.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Suara pintu diketuk membuat Renata yang terkantuk di meja makan menjadi terperanjat.
Dia segera beranjak untuk membukakan pintu. Walau dia sempat lelah menunggu suaminya, tapi dia tetap tersenyum saat pria itu pulang dengan selamat.
"Lembur lagi, Mas?" tanya Renata tanpa curiga.
"Nggak, tadi aku mampir ke tempat ibu. Biasa, ibu kan jadi sendiri, jadi aku harus menemani ibu di rumah. Dia butuh teman mengobrol," ujar Haris meminta Renata untuk memaklumi keadaan.
Renata menghela napas. Ya, itu risiko jika ingin hidup mandiri. Suaminya harus berbagi perhatian dengan sang ibu dan dirinya. Karena Haris adalah anak satu-satunya, maka memang harus menemani sang ibu juga.
"Oh, ya sudah. Ibu sehat 'kan, Mas?" tanya Renata membawakan tas Haris.
"Sehat, Ren."
"Syukurlah," sahut Renata sambil meletakkan tas suaminya di dalam kamar. "Mas, makan dulu, aku masak ayam goreng lengkuas kesukaanmu," ujar Renata keluar dari kamar membuka tudung saji. Semua yang ada di meja sekarang sudah dingin sempurna.
"Duh, dingin, Mas. Aku hangatkan dulu, ya?"
Renata mengangkat piring yang berisi ayam goreng itu untuk dia hangatkan di dapur.
"Besok saja lah, Ren. Tadi aku sudah makan di rumah ibu, kok!" tolak Haris yang sudah membuka seluruh kancing bajunya lalu masuk ke dalam kamar.
Rasanya kecewa. Renata sudah membeli ayam di dekat minimarket, dan memasak petang itu. Juga menahan lapar demi makan bersama dengan suami, tapi ternyata Haris tak mau makan.
"Ya sudah, Mas."
Mungkin suaminya lelah. Akhirnya Renata menutup tudung saji kembali. Tak lagi bersemangat untuk makan. Dia pun membereskan peralatan dapur yang digunakan petang tadi. Saat selesai dan kembali, ternyata suaminya sudah berganti pakaian, lalu mendengkur di atas kasur busa.
***
Hari berikutnya, Eny menemani Helen untuk memilih cincin pernikahan. Susi menyuruh Melia untuk mendatangi toko perhiasan. Tentu saja dijemput oleh Haris.
Haris sampai terburu-buru pulang kerja untuk menjemput Melia. Dia belum sempat berganti pakaian.
"Wah, Mas. Tak kusangka, kamu serius ternyata," ujar Melia tersenyum. Dia memakai celana panjang, tapi masih juga menonjolkan keseksian tubuhnya.
Sumpah, Haris sampai tak berkedip menatap Melia, tak percaya bahwa dia bisa menggaet wanita cantik itu. Apa sih kelebihannya? Mungkin ini yang dinamakan cinta itu buta. Semoga Melia buta soal cinta terus. Harapan Haris.
"Ya serius lah. Buktinya ibuku juga mendukung. Yuk, kita berangkat sekarang," ajak Haris.
"Iya, Mas Haris ...."
Melia kemudian menerima helm dari tangan Haris lalu membonceng menuju ke toko perhiasan dengan senang, sepanjang perjalanan berceloteh tentang model cincin yang dia inginkan.
Tp d liat dr sifat haris emang kayak nya lemah gampang tergoda
tak boleh sombong
jangan julid
jangan berprasangka buruk
jika tuhan sudah berkehendak... maka terjadilah..
terima kasih otor.. cerita y nano nano