Nadira hanyalah gadis yang diberi kesempatan hidup dengan menjadi wadah reinkarnasi. Dia ingin terhindar dari berbagai masalah, tetapi kehidupan Hana membawanya terjun mendalami masalah-masalah melebihi ekspetasinya.
Demi menjaga kedamaian bumi, Nadira menerima bibit kekuatan Hana. Diikuti dengan rasa penasarannya sejak remaja, Nadira mencoba mencari benang merah pada masalah Hana dan dirinya sendiri.
---Twins Knight's Series---
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nabila Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[S1] 8. Ancaman (1)
Memanfaatkan aku hanya demi Bizar bergabung, aku tidak ingin menyetujuinya. Aku tidak mau. Lagipula aku teringat tentang Bizar yang bilang akan menemuiku lagi. Nyatanya tidak. Dia sama saja seperti teman-teman kelas lainnya.
Bizar mungkin sudah mengembangkan robot yang dia inginkan tanpa persetujuanku. Lagipula kenapa aku harus repot-repot memikirkannya? Seharusnya aku membeli bahan-bahan makanan sekarang!
Aku menutup payung merah dan menyimpan di tempat yang disediakan toko. Sepi, bukan karena tidak ada peminat. Melainkan, gerimis sejak pagi belum juga berhenti. Terlebih masih banyak yang khawatir semenjak insiden lusa lalu. Sekolah diliburkan demi keselamatan. Seharusnya mereka senang karena libur, tapi trauma sudah membayang-bayangi pikiran mereka. Itu yang aku pikirkan.
Dibandingkan itu, sepertinya aku juga butuh liburan. Terlepas dari masalah Azumi, Hana dan kesebelasan kesatria, aku ingin menenangkan diri dengan memasak dan membaca buku.
"Kata temanku dulu, percuma saja ... semakin kamu menghindari, semakin besar pula untuk bertemu." Aku tertawa geli ketika Hana berucap disela-sela tanganku mengambil beberapa sayuran segar.
Apa sih, Hana, enggak nyambung! Aku pikir Hana akan jadi orang tua yang sangat menurut dengan peraturan. Tidak, dia terlihat seperti orang yang mudah diajak bercanda. Mungkin saja dia lebih bisa dibilang tahu waktu yang tepat.
"Kamu tahu siapa yang bilang? Namanya Kazuo, orang yang dianggap Bizar. Aku bukan peramal, tapi bisa saja kamu bertemu dengannya, Dira." Aku berhenti sejenak dalam memilih tomat. Benar saja, belum lewat beberapa hitungan aku sudah melihatnya. Bizar.
Bizar ada di antara rak berisikan mi instan. Rambutnya acak-acakan, bahkan lebih berantakan daripada sebelumnya. Namun, dia memakai kacamata bundar, agaknya mirip dengan Harry Potter. Cukup! Kenapa aku jadi memperhatikan dia sih?
Haha, lucu Hana. Bilang saja dia sudah ada di sini. Kali ini Hana yang tertawa geli. Membiarkanku kesal sendiri. Padahal aku sadar saat ini aku ada di depan umum.
"Aku baru tahu malah! Ya, Bizar itu memang aneh menurutku. Bahkan ketika aku masih hidup, dia penuh teka-teki," ucap Hana mulai serius.
Terserahmu saja! Aku ingin santai hari ini.
Hana bungkam. Aku pun kembali memilih tomat yang warnanya merah dan bundar. Aku mencoba mencium baunya, itu yang paling aku suka lakukan. Setelahnya aku beralih ke arah tumpukan makanan beku. Mungkin saja aku bisa menemukan resep baru.
Bizar tidak melihatku. Aku memang mengharapkannya begitu. Namun, perasaanku mulai tidak enak. Lagi. Aku tidak bisa mengabaikan ini. Aku melirik, mungkin saja ada petunjuk. Tidak ada apapun, itu artinya tidak akan ada bahaya apapun. Apa kali ini aku terlalu berlebihan menanggapinya?
Pandangan aneh itu kembali. Lebih jelas dan aku bisa mengingatnya. Warna keabu-abuan yang mendominasi, mirip dengan warna tv di jaman dahulu. Namun, itu tidak bisa menghilangkan aku perihal yang ada di dalamnya.
Bizar mendongkak dan melihat langit-langit. Matanya berkilat kesal. Aku menutup mata lagi. Kali ini aku menemukan sesuatu yang berbeda. Azumi lagi-lagi datang mengacaukan daerah sekitar. Seorang gadis terluka parah. Aku tidak yakin. Apakah aku yang terluka?
Aku mencoba menguak informasi lebih dalam, tapi yang aku dapatkan hanya sakit. Tubuhku oleng ke belakang, tepat ada seorang laki-laki di belakang. Aku yang tertahan olehnya merasa malu dan takut.
"Hati-hati," ucapnya dengan suara dingin. Aku bisa menerka pemilik suara tersebut. Suara oang yang kutinggalkan kemarin. Benar, ini suara Galih.
"Terima kasih, Galih," jawabku dibalas tatapan kaget miliknya. Aku tidak memiliki waktu untuk sekedar basa-basi dengannya. Aku harus membuktikan penglihatanku!
"Nadira, rasa tidak tenang ini bisa jadi bumerang untuk dirimu sendiri. Tenanglah, atur emosimu." Hana memperingatkan aku. Separuh hatiku ingin menurut, tapi tetap saja rasa ingin tahuku memberontak.
Aku hanya ingin membuktikan apa yang aku lihat!
"Aku tidak memiliki kemampuan penglihatan. Kamu hanya berhalusinasi, Nadira," balas Hana dalam pikiran, lalu aku tepis. Tidak peduli. Aku memang egois. Aku ingin tahu lebih.
Tepat saat aku melihat ke seberang, Bizar sudah melihat ke langit-langit toko. Mata yang berkilat kesal itu benar-benar mirip. Aku nyaris tidak percaya. Ingin rasanya aku ke sana, atau mengatakan pada Hana apa yang baru saja aku lihat. Namun, —
Bumm!
—Galih menarik tanganku, sampai aku tertarik ke belakang. Aku terbelalak. Ledakan dari bola api yang mengarah padaku sudah meledak di rak camilan. Itu memutuskan kontakku dan Bizar, tapi juga membuatku lebih terkejut ketika Galih hanya diam dan tenang-tenang saja.
"Lagi-lagi," keluhnya. Dia melepas genggaman di pergelangan tanganku. Beberapa langkah dia maju, dan berdiri di depanku. "Pergilah, Dira. Di sini bahaya!"
Aku geram. Dia bilang bahaya tapi dia malah berdiri di hadapanku, seolah-olah dia bisa menangkisnya. Di seberang kami, Bizar kembali muncul dengan gaya yang berbeda.
Lensa kacamata yang dia gunakan menjadi biru. Rambutnya lebih panjang, dan entah sejak kapan dia memakai sarung tangan berwarna hitam.
"Glenn," panggil Bizar entah pada siapa. Aku lihat Galih tersenyum, lebih mengarah pada pandangan yang meremehkan. Keduanya sama-sama maju, sementara aku diam di tempat.
Galih agak menoleh ke sumber api sebelumnya. Gadis itu di sana, Azumi yang menyerang kami. Dia lalu berucap, "Kadang aku bingung dengan berapa banyak orang itu menyimpan kekuatannya."
Haruskah aku ikut bicara?
Bizar tertawa. Dia tiba-tiba jongkok dan menempelkan tangannya di lantai. Terlihat simbol-simbol aneh tergambar di sekitarnya. Simbol hitam itu kemudian mengeluarkan cahaya terang yang skau tidak tahu sama sekali apa fungsinya.
Galih mengeluarkan cahaya dari tangannya. Tanpa ragu dia menembak beberapa bola cahaya ke arah Azumi. Aku ingin membantu, aku coba untuk mengingat instruksi Hana.
"Jangan gegabah, tetap fokus!" Aku mengangguk. Perlahan-lahan busur dan panah sudah ada di dalam genggamanku. Di tengah pertempuran mereka, aku sudah siap untuk menembak. "Pakai poison arrow. Itu akan melumpuhkan syaraf milik Azumi!"
Aku menurut, bibirku mulai merapal. "Poison arrow!" Seketika anak panah itu menghitam, seolah memang ada racun di sana.
Fokus. Aku harus bisa fokus. Tidak boleh salah mengambil kesimpulan. Aku menarik anak panah. Terus-menerus, aku menyesuaikan posisi.
Dan lepas begitu saja. Harusnya mengenai sasaran. Meski aku berteriak berhasil, Galih dan Bizar tidak. Ini menyedihkan.
"Dira! Di belakang!" Aku menengok ke belakang.
Suasana yang dingin dan atmosfer berat. Itulah perasaanku sekarang ketika berbalik dan melihat Azumi tersenyum aneh. Dia tidak menyerangku, dia terlanjut tertawa.
"Aku hanya ingin Hana. Kemampuan Hana! Berikan padaku." Perintah milik Azumi membuatku kaget sampai mundur beberapa langkah ke belakang. Bizar dan Galih berdiri di hadapanku, apa ini yang dinamakan takut?
Minta kekuatan kamu, tapi aku enggak tahu cara kasihnya.
"Jangan berikan padanya, Dira!"
Hana berkata agak panik. Berarti ini sangat fatal. Aku menunduk. Menunggu Azumi berkata-kata lagi.
Tiba-tiba saja Bizar dan Galih terpental ke pojok ruangan masing-masing. Tersisa hanya aku saja di hadapannya. Tanganku mulai gemetar.
"jadi itu pilihanmu? Maka lihatlah kado dariku untukmu di rumah," ucap Azumi.
Aku terdiam. Azumi perlahan hilang dengan pesan terakhir yang disampaikan kepadaku.
Sekali lagi, firasatku buruk. Aku harus segera pulang ke rumah.
--------
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu wajib searchnya pakek tanda kurung dan satu novel lagi judulnya Caraku Menemukanmu
btw, ini POV-ny ada ketuker-tuker wkwqk
Radja: Kalimat terakhir kamu kalau mati?
Bizar: gimana jadinya kalau kemampuan kamu di bidang teknologi tiba-tiba hilang?
QnA 😉
1. Nadira : Kalau Hana bisa jadi anggota keluargamu, kira-kira kamu anggap kakak atau adik?
2. Radja : Kalau dari kepintaran, Bizar menang, apakah dari ketampanan kamu bisa mengalahkannya?
3. Bizar : Kamu gak ada kriteria cewek idaman sama sekali? :v
nadira;alasan terbesarmu sanggup menjalani hidup?, Radja;utk apa sebenarnya tujuan utama kekuatanmu?, bizar;apa kamu bisa menciptakan robot yg peka utk jadi kekasihku?
Nadira : Kenapa kamu belum mati juga?
Radja : Apa yang akan kami lakukan jika Nadira mati?
Bizar : Apa ada alat untuk menghidupkan Nadira kembali jika dia mati?
#MiracleofWish #NamikazeHana
1.Nadira : Bagimu Hana itu apa?
2.Radja : Alasan terbesar kamu tidak mau menjalin hubungan percintaan dengan Nadira?
3.Bizar : Penyebab kamu menyukai teknologi?
1. Nadira : Apa yang alasan terbesarmu untuk tetap bertahan hidup?
2. Radja : Apa hal paling menarik dari Nadira untukmu?
3. Bizar : Apa yang kamu pikirkan saat melihat Nadira dan Radja tampak bermesraan?