Terbunuh tepat saat ingin mengubah hidupnya, seorang pemuda reinkarnasi ke Dunia "Astral" dunia raksasa berisi 10 benua. Berbekal kekuatan, ingatan, dan wujud Uchiha Sasuke, ia diberi satu misi suci oleh Dewa Agung: memburu 'Eternity', satu-satunya pemilik 'System' yang mengancam tatanan dunia.
Namun, perburuannya berubah rumit saat menembus lantai 100 sebuah dungeon. Bukannya monster, ia justru bertemu Saviera, seorang Demigod, dan Elaina, anak malaikat kecil yang tiba-tiba memanggilnya "Papa".
Di antara misi memburu sasaran misterius dan ikatan keluarga baru yang mengisi kehampaan jiwanya, jalan mana yang akan ia pilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shodiq Daryanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Lantai Demi Lantai
Anak tangga batu yang turun spiral itu berakhir lebih cepat dari yang Sasuke kira—hanya sekitar tiga puluh anak tangga sebelum ia tiba di sebuah ruangan luas berbentuk lingkaran, diterangi obor-obor biru yang menyala tanpa jelaga di sepanjang dindingnya. Di tengah ruangan, terukir angka besar di lantai batu:
LANTAI 1
Tidak ada monster menyambutnya. Hanya keheningan, dan satu-satunya pintu keluar berbentuk gerbang batu di seberang ruangan, sudah terbuka lebar seolah mempersilakannya masuk lebih dalam.
Sasuke melangkah maju berhati-hati, meski indranya tidak menangkap ancaman apa pun. Begitu ia melewati ambang gerbang itu, sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhnya—seperti melewati selaput tak kasatmata—dan seketika ia mendapati dirinya berdiri di ruangan yang sama sekali berbeda: sebuah aula batu luas dengan langit-langit tinggi, dipenuhi pilar-pilar besar, dan di ujung ruangan, sesosok makhluk menyerupai ksatria baja berkarat berdiri diam, memegang pedang besar yang ujungnya menancap ke lantai.
LANTAI 2
Begitu Sasuke melangkah lebih jauh ke tengah ruangan, mata merah menyala di balik helm ksatria baja itu hidup, dan makhluk itu mencabut pedangnya dari lantai dengan suara berderit logam yang menggema di seluruh ruangan.
Sasuke tidak menunggu serangan pertama. Ia melesat maju, tangan kanannya membentuk segel dengan kecepatan yang nyaris tak terlihat mata biasa.
"Katon: Goukakyuu no Jutsu."
Bola api raksasa meledak dari mulutnya, melesat lurus menghantam dada ksatria baja itu dengan kekuatan yang menggetarkan seluruh ruangan. Logam yang sudah berkarat itu meleleh sebagian di titik hantaman, membuat makhluk itu terhuyung mundur beberapa langkah namun tetap berdiri, mengangkat pedangnya untuk membalas.
Sasuke menghilang dari pandangan, muncul kembali tepat di belakang makhluk itu dalam sepersekian detik—bukan lewat kekuatan istimewa, melainkan kecepatan murni hasil latihan bertahun-tahun sebagai shinobi. Satu tebasan tangan kosong yang dialiri chakra cukup untuk memenggal kepala ksatria baja itu bersih dari lehernya.
Tubuh logam itu ambruk, pecah berkeping-keping menjadi debu yang menghilang begitu menyentuh lantai—seolah dungeon ini menelan kembali apa yang pernah diciptakannya.
Gerbang berikutnya terbuka di ujung ruangan.
---
LANTAI 5
Lantai-lantai berikutnya berlalu dengan pola yang perlahan mulai terbaca—ruangan baru, penjaga baru, pertarungan yang harus ia selesaikan sebelum gerbang berikutnya sudi terbuka. Segerombolan serigala bayangan yang menyerang serentak dari segala arah ia hadapi dengan satu putaran *Shuriken Kagebunshin no Jutsu*, menciptakan lusinan bayangan dirinya sendiri yang masing-masing melempar shuriken tepat sasaran, membubarkan gerombolan itu dalam hitungan detik.
LANTAI 12
Sesosok golem batu raksasa menghadangnya, tingginya hampir menyentuh langit-langit ruangan. Sasuke hanya perlu satu pukulan telak yang dialiri chakra petir tanpa nama teknik tertentu, cukup untuk meretakkan tubuh batu itu menjadi berkeping-keping.
LANTAI 20
Di sini, untuk pertama kalinya, ia merasakan sesuatu yang benar-benar menguji dirinya—bukan dari kekuatan lawan, melainkan dari jumlahnya. Ruangan luas itu dipenuhi puluhan prajurit bayangan bersenjata lengkap, mengepungnya dari segala penjuru sekaligus.
Sasuke menyeringai tipis, ekspresi yang jarang muncul di wajahnya sejak reinkarnasi.
"Chidori Nagashi."
Aliran listrik biru menyebar dari tubuhnya ke segala arah, menyambar setiap prajurit bayangan yang berada dalam radiusnya sekaligus. Puluhan sosok itu ambruk bersamaan, tersengat hingga hancur menjadi kepingan cahaya yang larut ke udara.
Ia berdiri di tengah ruangan yang kini sunyi, napasnya sedikit memburu—bukan karena pertarungan itu berat, melainkan karena penggunaan chakra dalam skala besar tetap menuntut tubuhnya untuk bekerja, terlepas dari seberapa besar cadangan yang ia miliki.
---
Semakin dalam ia melangkah, semakin ia menyadari pola dungeon ini—bukan hanya soal kekuatan lawan yang meningkat, tapi juga jenis tantangan yang berubah. Beberapa lantai berisi teka-teki yang harus dipecahkan sebelum gerbang berikutnya terbuka; beberapa lainnya adalah lorong panjang penuh jebakan tersembunyi yang menuntut kewaspadaan lebih daripada kekuatan.
LANTAI 35
Di lantai ini, ia berpapasan dengan sisa-sisa jelas dari petualang yang gagal—perisai bengkok tergeletak di sudut ruangan, beberapa bercak gelap di lantai batu yang sudah lama mengering. Ia berhenti sejenak, menundukkan kepala singkat sebagai penghormatan kecil untuk orang-orang yang tidak pernah kembali dari tempat ini.
Kesadaran itu membuatnya sedikit lebih waspada. Lantai-lantai di depan tidak akan lagi semudah ini.
---
LANTAI 50 — SARANG SANG WYVERN
Gerbang di ujung lantai empat puluh sembilan membawanya ke sesuatu yang benar-benar berbeda dari semua yang ia lalui sebelumnya—bukan ruangan tertutup, melainkan sebuah gua raksasa alami dengan langit-langit yang menjulang puluhan meter di atasnya, dipenuhi stalaktit tajam yang menggantung seperti gigi-gigi raksasa. Lantai gua ini dipenuhi tulang-belulang berbagai ukuran, sebagian masih mengenakan sisa-sisa zirah berkarat.
Suara geraman berat menggema dari kegelapan di atas, diikuti kepakan sayap yang begitu besar hingga menciptakan hembusan angin yang menggoyangkan jubah Sasuke bahkan dari jarak jauh.
Sesosok wyvern raksasa turun dari langit-langit gua, sisiknya berwarna merah gelap kehitaman seperti darah kering, matanya menyala kuning terang penuh kebuasan purba. Panjang tubuhnya saja sudah melebihi tiga rumah bertingkat, dan setiap kepakan sayapnya menciptakan gelombang angin yang cukup kuat untuk merobohkan pohon.
Sasuke berdiri diam, menilai lawannya dengan tenang meski instingnya berteriak bahwa ini bukan sekadar penjaga lantai biasa.
Wyvern itu tidak menunggu lama. Ia menukik turun dengan kecepatan mengejutkan, rahangnya yang dipenuhi taring sepanjang lengan manusia terbuka lebar, siap mencabik apa pun yang ada di bawahnya.
Sasuke melompat menghindar di detik terakhir, merasakan angin panas dari napas makhluk itu menyapu punggungnya. Ia mendarat di salah satu stalagmit besar, namun belum sempat mengatur napas, ekor wyvern itu sudah menyambar dari samping—kali ini terlalu cepat untuk sepenuhnya dihindari.
Ekor bersisik tajam itu menghantam bahunya, melemparkannya menabrak dinding gua dengan keras. Rasa sakit yang tajam menjalar dari bahu kanannya, dan untuk pertama kalinya sejak memasuki dungeon ini, Sasuke merasakan sesuatu yang hampir terlupakan olehnya: rasa takut yang samar, sisa dari dua kehidupan yang kini menyatu dalam dirinya.
“Makhluk ini serius” pikirnya, bangkit dari reruntuhan batu sambil menyeka darah dari sudut bibirnya.
Wyvern itu kembali menukik, kali ini disertai semburan api dari mulutnya—bukan api oranye biasa, melainkan nyala biru pekat yang jauh lebih panas, membakar apa pun yang dilaluinya menjadi abu dalam sekejap.
Sasuke merapatkan tangannya, membentuk segel dengan cepat.
"Suiton: Suijinheki."
Dinding air raksasa terbentuk di hadapannya tepat sebelum semburan api biru itu tiba, menciptakan ledakan uap yang memenuhi seluruh gua dengan kabut tebal. Dari balik kabut itu, Sasuke melesat maju, memanfaatkan momen di mana pandangan wyvern itu ikut terhalang.
Ia melompat, berlari menapaki dinding gua secara vertikal dengan chakra yang mengalir di telapak kakinya, mengejar sosok wyvern yang masih berputar mencari targetnya yang menghilang.
"Chidori."
Kilatan petir biru menyala terang di tangan kanannya, suaranya bergemuruh seperti seribu burung berkicau serentak. Ia menikam tepat di titik lemah leher wyvern itu—celah kecil di antara sisik-sisik tebal yang selama ini melindunginya.
Wyvern itu mengaung kesakitan, suaranya menggema memekakkan telinga di seluruh gua, tubuhnya berguling di udara sebelum akhirnya jatuh menghantam lantai gua dengan getaran dahsyat yang membuat beberapa stalaktit di atas berjatuhan.
Namun makhluk itu belum menyerah. Dengan sisa tenaga terakhirnya, ia bangkit, mata kuningnya masih menyala penuh amarah, bersiap untuk satu serangan terakhir yang nekat—menerjang langsung ke arah Sasuke tanpa memedulikan lukanya sendiri.
Sasuke menutup mata kanannya sejenak. Ketika ia membukanya kembali, pola unik berputar di mata kanannya—Mangekyou Sharingan yang teraktivasi penuh.
Kerangka ungu translusen raksasa mulai terbentuk mengelilingi tubuhnya, tulang-tulang spektral yang perlahan diselimuti otot dan zirah bercahaya.
"Susanoo."
Sosok raksasa itu mengangkat pedang spektralnya tepat saat wyvern itu tiba, menghantamkan tebasan tunggal yang membelah tubuh makhluk raksasa itu dari kepala hingga ekor dalam satu gerakan bersih. Kedua bagian tubuh wyvern itu jatuh terpisah, menghantam lantai gua dengan suara menggelegar sebelum akhirnya diam, larut menjadi partikel cahaya yang naik ke langit-langit gua dan menghilang.
Susanoo di sekelilingnya perlahan memudar. Sasuke jatuh berlutut, napasnya terengah-engah, keringat membasahi seluruh tubuhnya. Bahunya masih berdenyut nyeri dari hantaman ekor tadi, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasakan betapa dekatnya ia dengan bahaya sesungguhnya—bukan karena kekuatannya kurang, melainkan karena ia sempat meremehkan lawan yang seharusnya ia hormati sejak awal.
"Baiklah," gumamnya sambil bangkit perlahan, mengusap darah dari bibirnya sekali lagi. "Pelajaran diterima."
Gerbang berikutnya terbuka di ujung gua, memancarkan cahaya redup yang menuntunnya untuk terus melangkah.
---
LANTAI 74
Hari sudah berganti entah untuk keberapa kalinya sejak ia memasuki dungeon ini—waktu terasa aneh di dalam sini, terkadang beberapa lantai berlalu dalam hitungan menit, terkadang satu lantai saja menghabiskan waktu berjam-jam karena teka-teki rumit yang harus ia pecahkan. Sasuke berhenti sejenak di sebuah ruangan kosong tanpa penjaga, duduk bersandar di salah satu pilar batu, mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Ia mengeluarkan sisa perbekalan dari tasnya, mengunyah roti kering dalam diam, pikirannya melayang jauh. Sudah puluhan lantai ia lalui, namun tidak ada satu pun petunjuk yang mengarahkannya pada misinya yang sebenarnya—pencarian akan satu orang yang disebut Eternity di tengah dunia yang teramat luas ini.
“Mungkin aku hanya mencari alasan untuk menunda” pikirnya, hampir tersenyum sinis pada dirinya sendiri. “Atau mungkin aku memang butuh sesuatu untuk dilakukan selain berjalan tanpa arah.”
Ia menutup matanya sejenak, membiarkan keheningan dungeon ini menenangkan pikirannya sebelum melanjutkan perjalanan.
---
LANTAI 89 — PARA PENJAGA BERSAYAP
Semakin mendekati lantai seratus, suasana dungeon berubah drastis. Ukiran-ukiran di dinding menjadi semakin rumit, obor-obor biru digantikan cahaya keunguan yang berdenyut lembut seperti detak jantung raksasa. Udara sendiri terasa lebih berat di sini, sarat dengan tekanan yang membuat bulu kuduk berdiri.
Ruangan yang menyambutnya kali ini adalah sebuah katedral bawah tanah, dengan jendela-jendela kaca patri raksasa yang entah bagaimana menampilkan cahaya meski tidak ada matahari di kedalaman ini—gambar-gambar pada kaca itu menampilkan sosok-sosok bersayap yang jatuh dari langit, mengelilingi altar batu di tengah ruangan.
Dari altar itu, tiga sosok bangkit perlahan—malaikat jatuh bersayap hitam legam, wajah mereka pucat sempurna tanpa cacat, mata mereka kosong tanpa pupil, memancarkan cahaya putih dingin. Masing-masing menggenggam tombak cahaya yang berdenyut seperti detak jantung.
Mereka tidak menyerang serampangan seperti penjaga-penjaga sebelumnya. Ketiganya bergerak dengan koordinasi sempurna, mengepung Sasuke dari tiga sudut berbeda sekaligus, seolah sudah terlatih bertarung sebagai satu kesatuan selama ribuan tahun.
Sosok pertama menyerang dari depan dengan tusukan lurus secepat kilat. Sasuke memiringkan tubuhnya, namun belum sempat sepenuhnya menghindar, sosok kedua sudah muncul dari sisi kanan, tombaknya menggores lengan kanan Sasuke, meninggalkan luka panjang yang mengeluarkan darah segar.
Ia mendesis menahan sakit, melompat mundur menciptakan jarak—namun sosok ketiga sudah menunggu di titik pendaratannya, tombaknya terarah lurus ke jantung.
Sasuke memutar tubuhnya di udara, mengorbankan keseimbangan demi menghindari tusukan fatal itu, hanya berhasil menggeser targetnya dari jantung ke rusuk kirinya—tombak cahaya itu menembus dagingnya, meski tidak cukup dalam untuk menjadi luka mematikan.
Rasa sakit yang membakar menjalar dari rusuknya, namun ia menggertakkan gigi, menggunakan momentum tusukan itu untuk berputar dan menghantamkan sikunya telak ke wajah pucat sosok ketiga, memaksanya mundur beberapa langkah.
“Tiga lawan sekaligus, terkoordinasi sempurna,” pikirnya cepat, darah menetes dari rusuk dan lengannya. “Kalau aku terus bertahan seperti ini, mereka akan mengulitiku perlahan.”
Ia mengaktifkan Mangekyou Sharingan-nya, pola unik berputar cepat di mata kanannya.
"Amaterasu."
Api hitam legam muncul di sosok pertama yang paling dekat dengannya, membakar tanpa henti meski sosok itu berusaha memadamkannya dengan sihir cahaya yang ia miliki—api hitam itu justru terus menyebar, tidak terpengaruh sedikit pun oleh perlawanannya, hingga akhirnya sosok itu ambruk, terbakar habis dalam jeritan sunyi tanpa suara.
Namun dua sosok tersisa justru semakin ganas, seolah kehilangan satu rekan membuat mereka melipatgandakan intensitas serangan. Keduanya menyerang bersamaan dari kedua sisi, tombak cahaya mereka menciptakan kilatan yang hampir membutakan.
Sasuke menghilang dari posisinya, chakra petir mengalir deras membentuk pedang di tangan kanannya. Ia muncul tepat di antara keduanya, gerakannya begitu cepat hingga untuk sesaat tampak seperti ia berdiri di dua tempat sekaligus.
"Kirin."
Petir raksasa menyambar dari langit-langit ruangan—entah bagaimana dungeon ini memungkinkan fenomena seperti itu terjadi di bawah tanah—menghantam kedua sosok bersayap itu secara bersamaan dengan kekuatan yang menggetarkan seluruh katedral bawah tanah. Ledakan cahaya putih menyilaukan memenuhi ruangan selama beberapa detik, disertai suara gemuruh yang menggema jauh ke lorong-lorong di sekitarnya.
Ketika cahaya itu mereda, kedua sosok bersayap tadi sudah tidak ada lagi—hanya bulu-bulu hitam yang berjatuhan perlahan ke lantai batu, satu-satunya jejak bahwa mereka pernah ada.
Sasuke berdiri di tengah reruntuhan kaca patri yang berjatuhan, terengah-engah, darah masih mengalir dari luka di lengan dan rusuknya. Ia merobek sepotong kain dari jubahnya, membalut luka-luka itu seadanya sambil bersandar sejenak di salah satu pilar yang masih berdiri.
"Itu," gumamnya pelan, di antara napas yang masih memburu, "jauh lebih berat dari yang kuduga."
Ia menatap lengannya yang terluka, teringat kembali betapa dekat ia dengan bahaya sesungguhnya di lantai ini—pengingat bahwa meski kekuatannya luar biasa, ia tetap bukan sesuatu yang tidak bisa terluka, tidak bisa mati.
Setelah beberapa saat beristirahat, memulihkan sebagian staminanya, ia bangkit kembali. Gerbang di ujung katedral itu terbuka perlahan, memperlihatkan lorong panjang yang gelap—jalan terakhir menuju lantai seratus.
---
LANTAI 99
Ruangan terakhir sebelum lantai seratus terasa berbeda dari semua yang sebelumnya—benar-benar kosong, tanpa penjaga, tanpa jebakan, hanya kegelapan yang menyelimuti seluruh ruangan kecuali satu gerbang besar di ujung yang memancarkan cahaya keemasan lembut.
Sasuke berdiri di ambang gerbang itu, luka-lukanya masih berdenyut meski sudah mulai mengering berkat regenerasi alami tubuhnya yang jauh melampaui manusia biasa. Entah kenapa ia merasakan sesuatu yang berbeda dari kelegaan biasa setelah menuntaskan lantai demi lantai. Ada sesuatu yang menunggunya di baliknya sana—sesuatu yang jauh lebih penting dari sekadar penjaga dungeon biasa. Ia bisa merasakannya, meski tidak bisa menjelaskan dengan pasti dari mana perasaan itu berasal.
Ia menarik napas dalam, merapatkan jubahnya untuk menutupi luka yang masih tersisa, dan melangkah maju menembus gerbang keemasan itu.
---
*Bersambung ke Bab 7: Lantai Seratus*