Kumpulan cerita horror yang tak pernah dialami oleh orang awam.
Cover by Mpuk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon V a L L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kost Annisa Part 5
Dua Bulan telah berlalu .....
Malam itu mbak Ita menghampiri dan bertanya kepadaku.
"Virsha, ada kak Annisa chat kamu?" tanya mbak Ita, si penjaga kost.
"Mmm ... gak ada sih, Mbak. Ada apa, Mbak?" tanyaku seraya mengingat apakah ada Kak Annisa mengirimkan pesan kepadaku.
"Ooh, gak ada. Itu kamar depan deket pintu ada yg mau masuk besok. Dua orang. Tapi mereka sama sama gak punya kartu ATM. Jadi, Kak Annisa mau minta tolong sama kamu, dia mau ingatkan kamu nanti terima duit anak kost baru itu, terus transfer ke Kak Annisa. Aku juga gak punya ATM, si mas juga gak punya," Jelas mbak Ita panjang lebar.
"Oo gitu, Mbak. Ya udah, nanti kalo Kak Annisa chat di WhatsApp aku, nanti aku yang kirimkan uangnya ya, Mbak," jawabku.
"Ok." Mbak Ita berlalu begitu saja ke arah pagar dan mengunci pagar rumah. Aku pun melirik jam di tangan kiriku dan melihat ternyata sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB.
Aku pun masuk ke rumah dan menuju ke kamar mandi hendak mencuci muka dan mengambil air wudhu. Setelah itu aku langsung ke kamar dan sholat isya. Dan dilanjutkan membaca Al-Quran sebelum tidur. Alhamdulillah hatiku sudah mulai tenang malam ini. Ditambah lagi besok ada anak baru masuk kostan di kamar depan. Aku pun mencoba memejamkan mata dan tak lama aku terlelap.
Dugh ...
Dugh ...
Dugh ...
'Ya Allah, sadarkan aku ya Allah. Ayo ayo bangun, aku harus bangun dari tidur ku. Ayo bangun, gerak ayo gerak!!! Allahuakbar!'
"Haaah.... Haah.. Ya Allah. Apa ini?"
Aku terbangun dari tidurku dengan terengah-engah, napas tersengal seperti habis lari maraton dan lagi-lagi aku merasa ketindihan. Aku melirik jam di handphone melihat pukul 03.45 WIB. Aku pun bangkit dari tidur, membuka pintu kamar dan bergegas ke kamar mandi mengambil wudhu dan sholat tahajjud.
Aku pun berdoa, "Ya Allah ... Ada apa sebenarnya dengan rumah ini? Lindungi aku ya Allah. Aku tidak mengusik tempat tinggal mereka yang tak tampak itu, ya Allah ... Lindungilah hamba-Mu ini ya Allah." Aku melanjutkan dengan membaca Al-Quran sampai waktu subuh datang. Aku pun melaksanakan sholat subuh. dan kembali berdoa kemudian membaca Al-Quran.
Ku lirik jam di dinding menunjukkan pukul 06.00 WIB. Tiba-tiba saja aku merindukan ibu. Aku bergegas untuk mengambil ponselku dan mencari nama 'ibu' di daftar kontakku.
Ku ambil telpon genggam dan mencari nama ibu.
"Hallo ... Assalamu'alaikum," jawab ibu dari seberang telepon.
"Waalaikumsalam. Bu. Ibu sehat? Udah hampir 2 minggu gak telepon. Maaf, Bu ...," jawabku dengan nada bergetar dan menangis tertahan.
"Iya nak. Ga papa. Kenapa? Pagi-pagi sudah menelpon? Kamu sudah sholat?" tanya ibu khawatir.
"Sudah, Bu. Alhamdulillah," jawabku singkat.
Tak bisa tertahan lagi, air mataku mulai tak terbendung dan menetes satu persatu. Aku mulai menangis sesenggukan. Mungkin ibu menyadarinya dan merasa sangat khawatir dengan keadaanku.
"Nak... Kenapa? Kamu menangis? Ada apa, sayang? Cerita lah," tanya ibu.
Dan aku pun mulai luluh, menceritakan semua kejadian selama aku kost disini.
"Ibadah kamu sudah kamu tingkatkan?" tanya ibu memastikan.
"Sudah, Bu tapi mungkin belum maksimal. Kenapa aku selalu diganggu di tempat-tempat yang baru. Aku capek, Bu. Aku membiasakan diri di dunia nyata, tetapi di mimpi mereka mengejarku. Seperti tidak menyukaiku," keluhku sambil sesenggukan.
"Iya ... sabar ... Kamu berdoa saja. Minta perlindungan Allah. Ibu di sini tidak pernah putus mendoakan anak-anak ibu. Sekarang kamu bangun, keluar rumah. Coba jalan-jalan pagi, biar gak suntuk. Hitung-hitung sebagai olahraga pagi. Hari ini kamu tidak ada jadwal kuliah, kan?" tanya ibuku setelah memberikan saran untukku.
" Iya, Bu. Iya hari ini tidak ada jadwal. Iya bu, nanti saya coba jalan-jalan pagi. Biar segar. Ibu jaga kesehatan ya, nanti kalau ada waktu libur aku pulang," jawabku sambil menyeka air mataku yang mulai terhenti. Hatiku mulai sedikit tenang dan lega.
"Iya, Nak. Jaga diri baik-baik di sana. Jangan makan sembarangan ya. Sudah dulu. Ibu mau beberes rumah ya. Assalamu'alaikum." Panggilan berakhir sebelum ibu menutup teleponnya aku pun menjawab ucapan akhir dari ibuku.
"Iya bu. Waalaikumsalam."
Tuut....
Aku pun bergegas bangkit untuk membereskan mukena, membersihkan kamar, dan berganti baju. Kemudian aku melangkah keluar kamar dan membuka pintu. Sekilas sebelum menutup pintu aku melirik ventilasi kamar depan dekat pintu tersebut. Dan bergumam dalam hati, "bismillah untuk pagi ini. Semoga setelah ini tidak ada hal-hal aneh lagi yang terjadi."
Aku pun menutup pintu rumah dan keluar sambil berjalan santai seorang diri. Udara pagi nan sejuk sangat terasa.
1 jam berlalu ....
Aku melirik jam di tangan kiriku dan menunjukkan pukul 07.30 WIB. Aku singgah di warung untuk sarapan pagi di ujung gang kost.
"Buk, lontong sayur yah. Makan sini," kataku sambil mengambil gorengan dan duduk di bangku yang telah tersedia.
"Iya, Nduk. Menunggu yaa," jawab ibu penjual lontong tersebut.
Dia membuatkan pesenanku dengan lihai dan kemudian mengantarkannya ke mejaku. Berhubung masih pagi dan belum banyak pembeli, ibu penjual lontong duduk di sebrang mejaku. Dia memulai pembicaraan.
"Nduk, tinggal dimana?" tanyanya basa-basi sambil melipat serbet tangan.
"Di kost putri Annisa, Buk, rumah berlantai dua, rumah pertama di depan gang," jawabku sambil tersenyum dan melanjutkan makan pagi yang telah aku pesan.
Aku melirik ibu tersebut. Keningnya mengernyit sedikit seperti mengingat-ingat tempat alamatku.
"Mmm ... rumah bertingkat sebelah kanan cat putih kekuning-kuningan itu, ya?"
"Aha, iya Buk. Rumah berpagar hijau itu," jawabku santai.
"Oooh... Iya baru ingat saya, Nduk. Itu yang punya rumah ibu dokter. Dokter muda sekitar 32 tahun umurnya. Kamu tau kan?" tanya si ibu sambil berdiri mengambil air teh kepunyaannya.
"Ha iya bu, saya baru tau kalau kak Annisa itu dokter" jawabku, kemudian meneguk air putih yang tersedia di meja.
...*****...
bersambung ....