Zeline, Anakku! kalian tidak berhak mengambil nya! Jangan ambil Zeline ku!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sangrainily, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman
Taxi berhenti di halaman rumah Stella. Rani dan Azriel membantu Stella untuk turun dari taxi. Stella mengucap kan terimakasih pada Azriel. Ketika Stella ingin masuk ke dalam, Azriel menghenti kan Stella.
"Ada apa?" senyuman manis Stella, membuat Azriel semakin menyukai nya. Rani memilih untuk masuk terlebih dahulu.
"Azriel?" panggil Stella.
"Hmmm, tidak! Aku ingin menanya kan sesuatu pada mu. Maaf jika aku lancang dan membuat mu nanti nya tersinggung." ucap Azriel, Stella mengerti apa yang akan di tanyakan oleh Azriel.
"Apakah dia ayah dari anak mu? Maaf, aku tadi melihat jika bukan budaya dari kita. Dan, selama aku mengenal mu aku melihat kau wanita yang begitu patuh dan taat pada kepercayaan kita. Lalu? Mengapa kau bisa hamil?" ucap Azriel.
Stella terdiam. Ia tak mau mengungkit masa lalu nya tetapi karena Stella sudah menanggap Azriel seperti seorang kakak dan sahabat. Ia pun mencerita kan segala nya pada Azriel.
Flashback.
Stella dan Aska adalah murid yang sangat pintar. Mereka satu sekolah saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Stella dan Aska seringsekali satu tim dalam ikut Olimpiade Matimateka. Mereka selalu memenang kan lomba dan mengharum kan sekolah juga kota mereka. Di saat masuk SMA, Aska memilih untuk tinggal bersama Nenek nya di Eropa. Sejak kecil, Aska sering ke Eropa untuk liburan atau pun Sekolah di sana.
Saat naik kelas 2 SMA, Aska pindah kembali ke Indonesia, tidak di sangka ia masuk ke sekolah di mana Stella pun bersekolah. Mereka sekelas, kepintaran mereka berdua sering membuat mereka bersama dalam mengikuti lomba olimpiade. Hal itu membuat ke dua nya jatuh hati dan memiliki hubungan Istimewa. walau berbeda budaya dan kepercayaan mereka tetap berpacaran. Mereka kuliah di satu universitas dan jurusan yang sama, bahkan Prestasi ke dua nya juga tetap berkembang saat mereka menjadi mahasiswa.
Sembilan Bulan Yang lalu
Stella dan Aska mewakili Indonesia memenang kan lomba di Negara Jepang. Teman-teman mereka meminta adanya pesta di sebuah club malam. Stella tak menyukai pesta apalagi di sebuah club malam karena keluarga Stella terutama papa nya sangat tidak menyukai hal itu. Tetapi, teman mereka begitu memaksa membuat Stella tak ada pilihan lain selain mengiyakan ajakan teman-teman nya. Bahkan, Ia dan Aska berbohong pada kedua orang tua Stella. Mereka beralasan akan mengikuti sebuah ajang olimpiade. Sebab, itu mereka harus pergi ke luar kota.
*******
Stella merasa tidak nyaman dengan pesta ini. Apalagi, ia harus memakai baju yang ketat dan terbuka. Rambut di ikat ke atas, dan make-up tipis. Membuat Stella semakin cantik dan memukau. Semua pria yang memandangi nya pun akan jatuh hati pada nya. Pandangan liar dari orang-orang membuat Stella sangat tidak nyaman.
"Sayang, jangan khawatir! Aku akan menjaga mu di sini, Tak akan ada yang berani menyakiti kekasih ku." Aska mencoba meyakin kan kekasih nya. Stella tersenyum dan percaya pada Aska. Aska juga tidak ada berpikiran yang buruk pada Stella. Aska menikmati acara nya, bahkan ia menari, mengajak Stella. Aska dengan senang hati meminum alkohol karena itu adalah kebiasaan nya di Eropa.
"Ak-aku tidak minum!" tolak Stella dengan lembut.
"Ayo lah, Stella! hanya sedikit." ucap teman nya. Aska yang melihat Stella di paksa pun mendatangi mereka.
"Biar aku saja yang minum! Jika dia nggak mau, Nggak usah di paksa lah!"
"Biar kan Stella minum soda, aja! Ini untuk mu, Stella! Dan ini untuk mu, Aska." tanpa sepengetahuan Aska dan Stella. Teman mereka sudah mencampur kan obat untuk merangsang ke dua nya. Teman nya tak menyukai jika Aska dan Stella selalu mendapat kan penghargaan di kampus. Melihat Stella dan Aska meminum minuman itu, telihat senyum licik dari teman mereka. Tujuan nya adalah untuk membuat Stella dan Aska terangsang. Jika mereka melakukan hubungan terlarang itu, teman nya akan memotret diri nya dan akan melapor ke pihak kampus. Dengan itu, Stella dan Aska akan di DO dari kampus.
Benar saja, tak lama minum soda itu. Stella merasa begitu sangat gerah, ia ingin membuka baju nya. Kesadaran Stella semakin tak terkendali. Aska yang masih tersadar pun mencoba mengontrol Stella. Aska membawa Stella pergi dari club dan memasuk kan nya ke dalam mobil.
Bagaimana ini? Nggak mungkin aku membawa nya pulang. Kedua orang tua nya pasti akan sangat marah melihat keadaan Stella seperti ini. Dan aku? Aku bisa saja tidak di boleh kan lagi berhubungan dengan Stella. Kedua orang tua nya sudah mempercaya kan dia pada ku. ~ Batin Aska.
Tak ada pilihan lain, Aska terpaksa membawa Stella ke sebuah penginapan. Aska menuntun Stella ke dalam kamar.
"Aska, ini sangat panas. Emmmm." ucapan Stella semakin melantur.
"Stella, Sayang. Sadar lah! Jangan seperti ini." Aska mencoba untuk membuat Stella tersadar. Tapi, perlahan dia pun kehilangan kendali.
"Nggak! Aku harus kuat! Aku nggak boleh menyentuh nya, Aku mencintai nya dan aku akan menjaga nya." ucap Aska yang menampar diri nya sendiri.
"Aska, Sayang...! Kemari..!!" Stella menarik kera baju Aska. Aska mencoba untuk memberontak dan menjauh dari Stella. Namun, Stella mendekat kan diri nya. Aska pun semakin tak sadar dan kehilangan kendali sehingga terjadi lah kecelakaan itu.
Flashback end!
*********
"Bagaimana yang harus aku kata kan? Aku sendiri juga tak mengingat nya, Azriel. Yang aku ingat, kami pergi kesebuah pesta bersama teman-teman untuk merayakan kemenangan aku dan dia menang lomba. Tapi, ketika keesokan pagi nya aku terbangun. Aku melihat diri ku dan Aska tidak memakai sebenang pakaian pun. Aku juga tak mengerti apa yang terjadi. Aku mencoba menanya kan pada, Aska. Tapi, dia juga tak mengingat nya. Yang dia ingat adalah saat aku kehilangan kendali." ucap Stella menangis. Ia merasa seperti wanita kotor yang tak ada guna nya. Stella mengingat saat dahulu, ia mengetahui jika diri nya ternodai, Aska mencoba menenang kan dan meminta maaf pada nya.
"Ak-aku bersumpah, Azriel! Ka-kami hanya melakukan itu sekali, dan itu pun kecelakaan tanpa sadar. Aku juga nggak tahu, jika aku akan mengandung seperti ini."
"Jika aku sadar, Aku tidak akan mungkin melakukan hal serendah ini. Aku sangat memahami kehormatan seorang wanita. Aku memang mencintai nya tapi aku tak mungkin memberikan kesucian ku kepada lelaki yang belum tentu menjadi suami ku. Tapi, takdir berkehendak lain. Mungkin, ini memang kesalahan ku. Kebodohan ku. Aku melakukan larangan Allah untuk tidak berpacaran, tetapi aku tetap berpacaran. Ini hukuman untuk ku."
kasihan Stella