Cerita ini berlatar belakang seribu tujuh ratus tahun setelah pertarungan dewa, batu-batu sakral kini tersebar ke berbagai penjuru dunia, setiap kaum yang memilikinya memanfaatkan batu tersebut untuk kepentingan kaum mereka, Zeel Greenlight seorang pemuda dari kota benteng Clever kehilangan kedua orang tuanya saat peristiwa malam darah, inilah awal dari perjalanannya untuk mencari siapa dan kenapa pembunuhan itu terjadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefrie Pratama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 2 : Malam Darah II
Zeel mengetuk pintu namun tak ada respon, tak terdengar bunyi apapun dari dalam bangunan.
Gubrakkk ....
Tanpa berpikir panjang Zeel mendobrak pintu dengan sikutnya.
Dengan kekuatannya tak begitu sulit bagi Zeel
mendobrak pintu kayu.
Setelah membuka pintu secara paksa, Zeel masuk ke dalam markas defender.
Tak ada seorangpun orang di lantai satu markas tersebut.
Suasana markas cukup hening.
Beberapa lilin menerangi ruangan tersebut.
Tak banyak barang di ruangan tersebut.
Hanya beberapa rak buku serta tangga menuju ke lantai atas.
Zeel memutuskan untuk menaiki tangga tersebut.
Beberapa lantai sudah Zeel lalui, namun Zeel tak kunjung melihat sosok sang ayah.
Zeel memutuskan untuk menaiki tangga hingga lantai teratas, tempat peralatan kuno shield defender berada.
Setiba di lantai teratas, Zeel sangat terkejut melihat sosok ayahnya tertelungkup bersimbah darah di lantai.
Sebuah benda tajam menancap di punggung sang ayah.
Zeel yang melihat itu segera mendekati sang ayah.
“Ayah!” teriak Zeel panik.
Zeel memperhatikan sekitar, ia tidak melihat ada orang lain selain ayahnya di ruangan tersebut.
Zeel menoleh ke jendela namun tidak ada siapa-siapa di sana.
Alat kuno shield defender terlihat baik-baik saja.
Zeel menengok ke arah atas dan menemukan keanehan.
Terdapat kerusakan pada langit-langit ruangan tersebut.
Ayah Zeel nampak tidak berdaya.
Melihat keadaan ayahnya Zeel tak kuasa membendung rasa sedihnya.
Zeel berusaha mencabut benda tajam tersebut dari punggung sang ayah.
Zeel berusaha semaksimal mungkin namun tak membuahkan hasil.
Benda tajam itu menancap sangat kuat pada punggung sang ayah.
Zeel tidak tau harus berbuat apa, air mata mengalir terus menerus dari mata Zeel.
Ia terus menggam tangan sang ayah sembari terus memanggil sang ayah.
“Zeel … apa itu kamu?” ucap ayah Zeel.
Zeel membalas, “iya ayah … ini anakmu Zeel.”
“Zeel anakku … bawa ini bersamamu,” kata ayah Zeel.
Dengan keadaan badan tertelungkup, ayah Zeel berusaha menggerakan kepalanya menghadap Zeel.
Kemudian dengan tangan yang gemetar ayah Zeel membentangkan telapak tangan kanannya tepat di hadapan Zeel.
Secara spontan Zeel menatap telapak tangan kanan ayahnya.
Dari telapak tangan ayah Zeel muncul partikel-partikel aneh berukuran kecil.
Partikel-partikel tersebut melayang-layang di udara dengan sangat indah.
Partikel-partikel tersebut nampak berwarna hijau di mata Zeel.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Zeel melihat warna hijau seindah ini.
Tidak lama setelah itu, partikel partikel tersebut menghilang entah ke mana.
“Jangan khawatirkan aku … selamatkan Clare dan ibumu,” ucap ayah Zeel.
Zeel dengan berat hati melepaskan tangan ayahnya yang sudah mulai dingin.
Mungkin ini terakhir kalinya Zeel bertemu dengan sang ayah, namun Zeel memilih berbesar
hati untuk meninggakan sang ayah.
Zeel menuruni tangga sembari mengusap air mata di pipinya.
Selepas menuruni tangga Zeel meninggalkan markas defender melalui pintu timur.
Zeel terus berlari menuju ke rumah Clare dengan rasa khawatir.
Sepanjang perjalanan hanya mayat-mayat yang ia jumpai.
Malam itu suasana wilayah penduduk Clever sangat mencekam.
Tubuh mayat bertebaran di mana-mana.
Genangan air hujan menyatu dengan darah mayat, tak satupun orang yang masih hidup Zeel jumpai.
Zeel tiba di halaman rumah Clare, terlihat oleh Zeel kebun bunga Clare yang tidak
indah lagi.
Sebagian bunga nampak terinjak, sebagian bunga becampur dengan darah.
Tak jauh dari halaman rumah Clare Zeel melihat mayat pria tergeletak.
Terlihat oleh Zeel luka bekas tusukan pada bagian perut mayat pria tersebut.
Zeel nampak acuh dengan keberadaan mayat pria tersebut, saat itu keselamatan Clare adalah
prioritasnya.
Keadaan pintu rumah terbuka,terlihat oleh Zeel jejak kaki besar beserta tetesan darah masuk ke dalam rumah Clare.
Zeel memberanikan diri untuk masuk ke dalam rumah Clare, namun Zeel tidak melihat siapa-siapa.
Terlihat penyangga pintu rumah Clare yang patah, seakan-akan pintu rumah Clare dibuka paksa dari luar.
Zeel melihat secara teliti jejak kaki besar beserta tetesan darah yang ia lihat.
Jejak kaki itu terlihat berputar balik menuju pintu rumah.
Seakan-akan masuk kemudian keluar, Zeel yang tidak melihat siapa-siapa berteriak menyebut nama Clare.
“Clare!”
“Clare!
“Kamu ada dimana?”
Sesaat setelah Zeel berteriak, terdengar decitan dari permukaan lantai rumah Clare.
Zeel yang mendengar suara itu menoleh ke arah sumber suara.
Terlihat Clare yang sedang menahan permukaan lantai dari bawah dengan kedua tangannya.
Zeel yang melihat itu segera membantu Clare keluar dari bawah permukaan lantai tersebut.
“Clare kamu tidak apa-apa?” tanya Zeel sembari
menggegam erat tangan Clare.
Dengan lemas Clare menjawab, “aku baik-baik saja.”
“Shiro di mana?” tanya Zeel.
Dengan nada lemas Clare menjawab, “Shiro tertidur di bawah.”
Melihat keadaan tubuh Clare yang lemas Zeel menggendong Clare ke tempat tidur.
Kemudian mengambil Shiro yang tertidur di bawah dan meletakannya di samping Clare yang
terbaring lemas.
Selepas itu Zeel mengambil segelas air minum dari dapur rumah Clare.
Kemudian ia menarik kursi yang ada di kamar Clare setelah itu Zeel duduk di dekat Clare yang
terbaring lemas.
“Minumlah ini,” kata Zeel sembari menyodorkan segelas air ke arah Clare.
Tanpa berkata-kata, Clare duduk di tempat tidurnya
Gluk, gluk, gluk ....
Clare meminum segelas air yang diberikan Zeel.
Zeel menggegam gelas dengan kedua tangannya, terlihat oleh Zeel tangan Clare yang gemetar.
“Clare, apa yang terjadi?” tanya Zeel sambil menatap Clare.
Clare gemetar, “aku melihatnya dari jendela ... monster itu membunuhnya.”
“Monster?” tanya Zeel penasaran.
Clare menceritakan pembunuhan yang terjadi di depan rumahnya.
Zeel menduga mayat yang ia lihat di dekat halaman Clare adalah pembunuhan yang Clare ceritakan.
Berdasarkan fisik monster yang Clare ceritakan, monster itu memiliki kesamaan dengan monster yang Zeel hadapi di gerbang barat.
“Setelah aku melihat itu … aku sangat ketakutan,
tiba-tiba sekujur tubuhku terasa lemas dan ingin muntah, aku teringat ada ruangan tersembunyi di bawah tanah rumah ini, kemudian aku membawa Shiro untuk bersembunyi di ruangan itu,” Cerita Clare.
Zeel mengambil gelas kosong dari tangan Clare yang gemetar kemudian meletakkan gelas
itu di meja dekat kasur Clare.
Melihat Clare yang masih ketakutan, Zeel kemudian menggegam tangan Clare, selepas itu Clare melanjutkan ceritanya.
“Di saat aku bersembunyi di ruangan bawah tanah ... aku mendengar suara keras dari arah pintu, setelah itu aku mendengar suara langkah kaki berjalan di atasku ... tiba-tiba suara langkah kaki itu berhenti tepat di lantai yang berada di atasku, jantungku berdetak dengan cepat,” Cerita Clare.
“Tenanglah, sekarang sudah tidak apa-apa,” ucap Zeel sembari mengelus rambut Clare.
Clare melanjutkan ceritanya, “Setelah jantungku berdetak dengan kencang aku terjatuh pingsan ... aku kembali tersadar ketika kamu menyebutkan namaku.”
Setelah melihat Clare sudah cukup tenang, Zeel memutuskan untuk membawa Clare dan Shiro
bersamanya.
Zeel tidak bisa meninggalkan Clare dan Shiro dalam situasi seperti ini, Zeel tidak tahu kapan monster tersebut akan kembali menyerang rumah Clare.
..."Sampai jumpa ayah."...
...-Zeel-...
kak jangan lupa mampir do novel ku NEGRI JIRAN.
mohon dukungannya