Jangan dibaca karena ini memang cerita
yang alurnya tidak jelas. Karena saya pengarangnya jadi suka-suka saya mau nulis apa.
Brian Haris Abdullah
Aku akan melindungi istriku meski aku harus mengorbankan nyawaku sebagai taruhannya. Karena aku tak akan membiarkan siapapun melukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHIRLI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keras Kepala
Sore hari setelah pekerjaannya di perkebunan telah selesai, Mayang yang menenteng dua kantong plastik berisi penuh dengan buah-buahan yang dipetik langsung dari kebun ayahnya tampak berjalan menuju motornya. Gadis itu menyalakan mesin sebelum kemudian melesat pergi. Bukan ke arah rumahnya, melainkan menyusuri jalan setapak yang berlawanan arah.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan, akhirnya ia sampai di sebuah rumah berukuran sedang dengan tembok bercat putih. Seorang wanita muda tiba-tiba muncul di ambang pintu setelah mendengar motor Mayang datang.
Wanita itu terlihat kurus dan tampak pucat. Namun, meski begitu ia tetap menampilkan senyuman termanisnya saat menyambut sang teman datang. Lebih-lebih lagi melihat dua kantong buah-buahan yang ditenteng Mayang di tangan kanan dan kiri.
“Kamu beneran datang?” sambutnya setelah Mayang berdiri tepat di hadapan.
“Kalau aku bilang bakal mampir ya pasti mampir lah, Vi,” jawab Mayang semringah.
Silvi tersenyum penuh haru, lantas mempersilahkan teman masa kecilnya itu masuk ke rumah.
“Ngomong-ngomong makasih banyak untuk buah dan waktu luangnya. Aku yakin, kamu pasti capek banget.” Silvi berucap tak enak hati seraya duduk di sisi Mayang. Ya, dialah yang meminta Mayang datang karena ia menginginkan buah segar. Sebenarnya ia tak enak hati. Namun, karena kondisinya yang lemah sangat tidak memungkinkan untuk nekat keluar rumah dengan berkendara sendirian.
“Apaan, sih Vi. Aku seneng kok main ke sini. Kebetulan aku juga kangen. Udah hampir setengah bulan kita nggak ketemu.” Mayang terseyum manis, lantas mengusap perut Silvi yang mulai membuncit. “Oh, iya, gimana kehamilan kamu? Sehat, kan? Sampai sekarang kamu masih sering muntah juga?” tanyanya penasaran.
“Iya, nih.” Silvi mencebik penuh sesal sambil mengangguk mengiyakan. “Sampai bosen. Lihat, badanku sampai kurus, kan?” imbuhnya sambil menunjukkan tulang selangka yang menonjol.
“Bentar lagi juga normal. Morning sick memang sering diderita ibu-ibu yang masih hamil muda. Sabar, ya. Kamu pasti bisa.” Mayang merangkul temannya untuk menguatkan.
“Makasih ya, May.” Silvi tersenyum haru sambil membalas rangkulan Mayang. Keduanya lantas hanyut dalam rangkulan untuk beberapa saat, hingga Silvi mengurai tangannya dan menatap Mayang dengan seksama. Sebuah tanya akhirnya lolos dari bibirnya.
“May, aku kan sudah hamil, terus kamu kapan mau nikah? Jangan ditunda lama-lama, May. Nggak baik membujang lama-lama. Toh hidup kamu udah mapan, masih mau gapai apa lagi?”
Pertanyaan Silvi itu berhasil menyentil perasaan Mayang. Gadis itu mendengkus, lantas membuang pandangan.
“Males ah, bahas itu. Aku mau pulang aja.” Mayang kesal dan hendak beranjak. Namun, tangan Silvi buru-buru menahannya.
“May, mau kemana? Kamu kesel aku tanyain gitu?” tanya Silvi memastikan.
Mayang mendesah pelan, lantas kembali membenamkan bokongnya pada sofa empuk lagi.
“Bukannya kesel. Aku Cuma belum siap nikah aja, Vi. Lagian jodohnya belum ada,” jawab Mayang.
“Itu karena kamu terlalu pilih-pilih, May,” sahut Silvi. Ia berkata demikian pun bukan tanpa alasan.
Keduanya saling pandang dalam keheningan sesaat. Melihat Silvi yang seolah menunggunya bicara, Mayang pun buka suara.
“Sebenarnya aku udah ditembak Rangga dan diajak nikah. Tapi ....” Mayang menggantung ucapannya.
“Kenapa? Kalian nggak lanjut gara-gara kamu hadiahi bogem mentah?” tebak Silvi, dan sialnya hal itu benar. Wanita hamil itu bahkan tahu semua kisah cinta sahabatnya, begitu pula dengan Mayang yang sebenarnya memiliki perasaan terhadap Rangga.
“Itu karena otak dia mesum, Vi!” tegas Mayang dengan intonasi tinggi.
Silvi hanya geleng kepala, lantas mengusap lembut bahu sahabatnya.
“May, nggak semua otak laki-laki itu isinya mesum. Bisa jadi kan, itu hanya ungkapan sayang Rangga sama kamu. Saking bahagianya dia kamu terima!”
“Tapi tetep aja, nggak usah sampai peluk-peluk juga, Vi. Kan aku jadi ilfil!” sambar Mayang tak mau kalah.
Silvi menyerah. Ia paham betul bagaimana watak gadis di depannya itu. Pikirnya percuma bicara pada gadis keras kepala.