Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Nora
Di ruangan tengah, dua keluarga saling berbincang tentang rencana mereka mendekatkan Felicia dan Alex.
"Aku menyerahkan semua keputusan pada Alex, Kak. Ini tentang masa depannya dan juga Sunny," ucap nyonya Gio pada Anindita, mama Felicia.
"Kami tau, kami juga tidak akan memaksa. Kita hanya berusaha agar mereka dekat. Lagipula, Felicia sama sekali tidak tau tentang maksud dan tujuan kita mempertemukan mereka, yang Felicia tau, di hanya di tunjuk sebagai brand ambassador di perusahaan kalian," jelas Anindita.
"Felicia kelihatan sayang anak-anak, ya. Dia mudah sekali akrab dengan Sunny," sela tuan Gio.
"Dia mendirikan panti asuhan besar di salah satu daerah di kota XX, tentu saja dia menyukai anak-anak," jawab Anindita.
Selain berpenampilan anggun dan cantik, Felicia juga mempunyai kelebihan dari kebaikan hatinya.
"Felicia tumbuh dewasa semakin cantik, dia juga sukses besar. Aku bangga memiliki keponakan sepertinya," ucap tuan Gio.
"Ah, Gio. Melanie pun hebat, dia tangguh. Kalian sangat sabar menjalani cobaan ini, kalau saja aku jadi kalian, mungkin kehilangan anak semata wayang bisa membuatku mati seketika," ucap Antonie sambil menepuk pundak saudaranya. Gio Rendra adalah saudara kandung atau lebih tepatnya adik dari Anindita, jadi hubungan kekerabatan mereka sangat dekat.
"Ini semua berkat cucu dan menantuku. Kami beruntung mereka pun kuat menjalani semua ini."
"Ya, aku masih bisa melihat dengan jelas bahwa Alex itu masih sangat mencintai Melanie, kalian benar-benar beruntung memiliki menantu sepertinya."
"Maka dari itu, Alex masih terperangkap dalam masa lalunya. Itu membuat kami bingung, Sunny butuh sosok seorang ibu, sedangkan Alex sama sekali tidak berniat untuk dekat dengan wanita manapun," keluh nyonya Gio.
Antonie dan Anindita pun saling berpandangan lalu mengangguk paham. Akan sulit bagi mereka untuk membuat Alex dan Felicia dekat, selain Alex masih sangat mencintai Melanie, Felicia pun memiliki kabar dekat dengan salah seorang teman sesama model di managementnya.
Hingga waktu menjelang sore, kedua keluarga itu pun akhirnya mengucapkan salam perpisahan. Antonie dan Anindita akan langsung kembali ke luar negeri, sedangkan Felicia akan menetap disini, dia sudah membeli apartemen beberapa minggu lalu karena enggan tinggal di rumah besar orang tuanya. Bagi Felicia, tempat yang cukup akan lebih menenangkan daripada tempat yang besar namun tidak memiliki teman.
"Main-mainlah ke apartemenku, Alex. Jangan lupa ajak Sunny," ucap Felicia sebelum ia pamit pulang.
"Ya, akan ku usahakan jika ada waktu."
Alex tidak menanggapi serius tawaran Felicia. Baginya, itu hanya sekedar basa-basi untuk mengakrabkan diri.
Setelah semua tamu pulang, Alex mengantar Sunny kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri. Di rumah ini, Sunny memiliki pengasuh yang sudah sepuh, sebenarnya Alex berpikir untuk membawa pengasuh ini ke rumahnya, namun mengingat usia wanita itu sudah cukup tua, Alex merasa kasihan jika membebankan anak seumuran Sunny yang sedang aktif-aktifnya.
"Kamu cari pengasuh baru saja, Alex. Bibi Nina sudah terlalu tua, kasihan dia," ungkap nyonya Gio kala itu. Mertua Alex itu juga merekomendasikan suatu tempat yang menyediakan jasa pengasuh dan babysister yang bisa di kontrak untuk jangka waktu yang cukup lama.
Namun Alex hanya menyanggupinya, ia merasa belum siap jika harus menyerahkan Sunny untuk di rawat oleh orang lain yang bukan keluarganya.
Setelah Sunny mandi dan berganti pakaian, Alex pamit untuk menemui seseorang, Alex sudah berjanji untuk bertemu membahas tentang proyek kerja sama yang akan ia tandatangani.
"Kenapa daddy nggak nginap di sini?" tanya Sunny.
"Sayang, daddy ada janji. Seharian ini kita udah main sama-sama."
Sunny memanyunkan bibirnya, antara kesal dan tidak rela setiap kali Alex pergi dan tidak tau kapan akan kembali pulang.
"Sunny ikut. Sunny mau tinggal sama daddy," rengek Sunny.
Menghela nafas panjang, Alex berjanji pada Sunny untuk segera menyiapkan semuanya. Entah bagaimana caranya, Alex harus segera mencari pengasuh baru untuk Sunny.
Keluar dari rumah itu, Alex menelpon Hayley, menanyakan tempat dimana ia bisa mendapatkan seorang perawat sekaligus pengasuh yang bisa di percaya.
Namun Hayley tidak bisa menjawab karena ia sama sekali belum berpengalaman mencari tenaga pengasuh, tapi Hayley berjanji akan membantunya mencari.
🖤🖤🖤
Malam ini Alex bertemu dengan seseorang di luar jam kerja, namun pertemuan ini tetap membahas tentang pekerjaan mereka. Alex termasuk orang yang sibuk hampir 24 jam di dalam dan di luar kantor, ia selalu berusaha sebaik mungkin mengelola perusahaan tanpa melakukan kesalahan.
"Baiklah, Tuan Alex. Terimakasih sudah mau menemui saya. Besok siang, sekretaris dan orang suruhan saya akan datang ke kantor untuk menyerahkan semua berkas dan dokumen yang perlu tuan baca," ucap orang yang sedang berbincang dengan Alex di ruang VIP sebuah restoran.
"Baik, saya tunggu."
Orang itu pamit untuk kembali pulang lebih awal, sedangkan Alex masih ingin berlama-lama duduk di resto ini, karena perut yang masih lapar, akhirnya ia memesan sebuah menu pada pelayan.
Saat Alex sibuk membaca buku menu dan belum bisa menentukan pilihan, pelayan resto terus memperhatikan seperti pernah saling mengenal.
"Ini, aku pesan udang asam manis saja," ucap Alex, lalu menyerahkan kembali buku tanpa menoleh pada si pelayan.
Pelayan yang berdiri dengan setelan seragam biru lengan pendek dan rok selutut, terus memperhatikan Alex, ia ingin menyapa namun tidak yakin bahwa orang yang ia lihat adalah orang yang pernah ia temui lima tahun lalu. Yang pelayan tersebut ingat, hanya warna rambut silver yang menyala.
"Kenapa masih di sini? cepat bawakan aku makanannya," tegur Alex.
Seketika pelayan pergi menuju dapur, ia meminta para koki menyiapkan menu, sedangkan dirinya sibuk memastikan bahwa si rambut silver adalah orang yang pernah menabraknya dulu, sekaligus menyelamatkan hidupnya.
Sepuluh menit berlalu, seorang koki meneriakinya karena ia terus melamun dan tidak melayani pengunjung lain.
"Nora! Makanan sudah siap."
"Eh, eh. Iya, maaf." Nora berjengit kaget, lalu buru-buru membawa menu udang asam manis dalam nampan dan membawanya kembali ke meja Alex.
Sambil meletakkan makanan di meja, Nora kembali melirik.
"Maaf, Tuan. Maaf jika saya salah, tapi apakah tuan bernama Alex, Alexavier Bancroft?"
Alex mengalihkan pandangannya menatap Nora dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Kamu mengenalku?" tanya Alex. "Sepertinya aku juga pernah melihatmu."
"Nora, aku Nora Arabella. Lima tahun lalu tuan menabrakku dan membawaku ke rumah sakit, tuan ingat?"
"Nora?" ulang Alex. Sekilas, kejadian di masa lalu membuat hati Alex perih, Nora lah sebab dia melupakan janji pertemuannya dengan Melanie malam itu.
"Oh ya. Aku ingat," ucap Alex, kemudian ia meminta Nora duduk di kursi di sebrang meja.
"Maaf, Tuan. Tapi ini masih jam kerja, aku harus melayani pengunjung lain."
Alex berdiri. "Antar aku ke atasanmu, aku akan bicara dengannya."
🖤🖤🖤