Benar kata pepatah jika jodoh maut dan rezeki sudah ada yang mengatur. Ada orang yang bertahun-tahun pacaran tapi hanya jadi tamu undangan ada pula yang datang niat jadi tamu undangan eh malah di minta menggantikan calon memepelai.
Di dunia ini tidak ada yang kebetulan.
Siapa sangka Alin harus mendadak menikah dengan Keenan Pria yang 14 tahun lebih tua darinya.
Dan di saat benih-benih cinta sudah mulai tumbuh diantara mereka siapa sangka sang mantan datang kembali dalam kehidupan Keenan. Akankah pernikahan mereka berakhir bahagia? Atau Keenan akan kembali ke pelukan sang mantan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jesslyn Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah baru
Setelah kurang lebih 30 menit perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah baru. Rumah itu memang tidak sebesar rumah utama Keenan tapi cukup besar dan nyaman untuk di tempati mereka berdua.
Terlihat Alin tertidur pulas setelah kejadian memalukan tadi. "Lin bangun," Keenan mengguncang tubuh Alin tidak ada reaksi dari gadis itu.
"Alin sudah sampai," Keenan menepuk-nepuk pipi Alin. Alin mengerjapkan matanya mengumpulkan kesadaran setelah perjalanan panjang dari alam mimpinya.
"Hoammss..." Alin menguap menutup mulut kemudian mengucek-ngucek matanya. Sungguh tidak ada anggun-anggunnya gadis ini.
Kemudian Keenan turun dan mengambil barang-barang di bagasi Alin berlari kecil mengikuti langkah Keenan.
"Waahh Bagus banget rumahnya Om," Puji Alin ketika memasuki rumah. Rumah yang telah lengkap dengan semua perabotannya Keenan memang sepetinya sudah begitu matang mempersiapkan rumah tersebut. Alin begitu kagum dengan design interior yang simple dan elegan sepertinya membuat dirinya betah berlama-lama diam di dalam rumah. Ketika Alin tengah asyik menikmati keindahan dari setiap sudut rumah tiba-tiba ada satu benda yang mengganggu penglihatannya. Ya foto prewedding Keenan dan Laura tergantung rapi di ruangan tamu dengan ukuran yang cukup besar.
"Foto ini boleh di buang aja gak si?" Alin berkacak pinggang di depan foto tersebut.
"Saya akan menurunkannya nanti," jawab Keenan kemudian dia mengajak Alin naik ke lantai dua menunjukan kamarnya.
Kemudian dia berhenti di depan pintu kamar berwarna putih. "Ini kamar kamu, kamu bebas mendekor nya sesuka hati," Keenan membuka pintu dan memperlihatkan kamar yang ukuran
nya lumayan besar namun masih nampak polos belum banyak barang-barang di sana.
"Kamar saya di sebelah sana, ingat! jangan pernah masuk ke kamar saya tanpa seijin saya," Keenan menunjuk satu kamar yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.
Alin merebahkan tubuhnya di atas ranjang. sedari tadi banyak sekali notif pesan masuk dari ponselnya. Kemudian dia mengecek satu persatu pesan yang masuk. Baru tiga hari menyandang status istri tapi rasanya dunia Alin telah berubah 180 derajat kalau dulu setiap hari dia tidak pernah betah di rumah dan selalu pergi saat teman-temannya memanggilnya untuk bermain bahkan kini dia sudah bisa mengabaikan pesan dari teman-temannya dan menolak untuk pergi dengan alasan sibuk. Alin bertekad untuk merubah dirinya walau tidak mudah dan tentunya butuh proses.
Malam hari Keenan tengah memasak makan malam sedangkan Alin hanya duduk manis melihat sang suami. Alin begitu kagum dengan sosok Keenan yang pandai memasak Keenan bahkan terlihat sangat lihai menggunakan alat-alat dapur berbeda dengan dirinya yang hanya untuk memasak mie istan saja tidak bisa.
"Om," Panggil Alin.
Tidak ada sautan dari Keenan.
"Om Ken," panggil Alin sekali lagi
Lagi-lagi tidak ada jawaban dari Keenan, dia nampak sibuk dengan spatula dan wajan yang ada di hadapannya.
"Isshh Om Keenan," Alin merasa kesal sehingga dia berjalan mendekati Keenan dan berdiri di sebelahnya.
"Kamu panggil saya?" tanya Keenan datar.
"Panggil siapa lagi? Dirumah ini cuman ada aku sama Om," Kesal Alin.
"Saya bukan Om kamu jadi untuk apa saya jawab," ucap Keenan dengan entengnya.
"Terus Alin panggil apa dong?"
"Terserah asal jangan panggil Om."
"Kalau begitu saa.....
"Jangan panggil sayang."
"Oke deh! Bang Kee..... nan, Hahahaha,"
Seketika Alin mendapat pelototan dari Keenan.
"Ih canda, canda gitu aja ngambek. oke deh Mas Keenan," ucap Alin sok imut mengedipkan sebelah matanya.
"Itu terdengar lebih baik," ucap Keenan datar.
Alin begitu menikmati makanan yang di masak Keenan. Keenan memang pandai memasak karena dia dulu tinggal di luar negeri selama 5 tahun untuk menimba ilmu dan mengharuskannya untuk hidup mandiri terlebih lagi dia anak dari pemilik hotel dan pewaris tunggal yang sedikit banyak mengharuskannya untuk mengetahui banyak hal tentang makanan bahkan sampai memasak.
Setelah selesai makan Keenan memberikan sebuah dokumen kepada Alin.
"Apa ini Mas?" tanya Alin membolak balikan berkas tersebut.
"Kenapa banyak tanya? tinggal buka aja."
Alin pun segera membuka dan membacanya.
"Waahh serius Alin kuliah di sini? langsung di terima gak ada test-test lagi?" mata Alin begitu berbinar melihat isi dari berkas-berkas terbut. "Padahal Alin udah 2 kali ikut test tapi gagal. Makasih ya mas," Wajah Alin begitu sumringah.
Tanpa sadar Keenan menarik sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyuman melihat gadis itu yang begitu terlihat bahagia.
"Bilang terimakasih sama Papa itu Papa yang kasih bukan saya," ucap Keenan datar kemudian meninggalkan Alin yang sedang berjingkrak-jingkarak kegirangan. Ya itu memang dari Pak Wira, Saat itu Pak Adi sempat bercerita kalau Alin ingin sekali masuk ke Universitar tersebut namun, sayang 2 kali mengikuti test Alin harus gagal sehingga Pak wira berinisiatif untuk menempuh jalur khusus agar Alin bisa masuk.
Alin rasanya tidak sabar untuk pergi ke kampus besok, dia ingin melihat ekspresi teman-temannya saat melihat dia besok pasti mereka sangat kaget. di tengah-tengah lamunnanya tiba-tiba ruangan menjadi gelap.
"Mas...," Panggil Alin yang merasa sedikit takut saat keadaan ruangan gelap gulita di tambah lagi ini rumah baru yang kata orang-orang banyak sekali mitos-mitos tentang keberadaan mahluk ghoib saat berada di bangunan baru.
Hawa dingin menyeruak bulu kuduk Alin merinding. dilihat kanan kiri gelap dan tiba-tiba muncul sesosok mahluk pucat dengan mata yang menyala.
"Aarggghhhh," teriak Alin kaget bakan dirinya sampai meloncat.
"Berisik," ternyata itu adalah Keenan yang menyorotkan senter tepat di bawah wajahnya.
"Ngagetin aja sih?," kesal Alin.
"Kenapa? takut?"
"Enggak siapa yang takut, Alin cuman kaget," Alin membela diri sambil menantang.
"Baguslah kalau gak takut, kamu harus tahu di sini tuh ada penunggunnya," Keenan sengaja menakut-nakuti.
Nyali alin sedikit menciut mendengar pernyataan Keenan, "Lagian di perumahan elit kaya gini kenapa bisa mati lampu sih," Alin mengalihkan pembicaraan.
"Entah lah, Saya mau cek dulu ke luar,"
"Alin ikut," Alin memegang ujung kaos yang di kenakan Keenan.
"Takut?"
"Alin cuman mau temenin Mas Ken kali aja Mas yang takut," Alin mencari alasan.
Alin mengikuti setiap langakah kaki Keenan, tapi matanya menyapu keseluruh ruangan takut-takut kalau rumah ini benar-benar ada penugunggunya. Keenan membuka gorden melihat keluar rumah dan ternyata gelap gulita.
"Gimana ini? kalau mati lampunya lama bagaimana? Alin gak bisa tidur kalau gelap. Alin takut," rancau Alin tanpa sadar.
"Yaudah kalau gitu gak usah tidur, tunggu sampai lampunya nyala."
"Kalau mati sampai pagi gimana?"
"Ya jangan tidur sampai pagi,"
"Kata pak haji gak boleh begadang kalau tiada artinya," ucap Alin sambil menyanyikan lagu tersebut.
Kemudian Keenan berjalan menuju ke luar rumah.
"Mau kemana?" tanya Alin yang masih saja mengekorinya.
"Mau nyalakan genset," jawabnya enteng.
"Kenapa gak dari tadi aja sih," Kesal Alin.
.
.
.
.
.
Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen dan Vote yaa...