Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.
Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.
Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…
Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9
Bab 9: Takut Saudara Susah, Takut Saudara Naik Rolls-Royce
"Jadilah Arya yang lebih kuat."
Kalimat Anindya masih teringat ketika Arya menerima pesan dari Bayu pada malam berikutnya.
Bro, hidup belum? Ke warung biasa. Gue traktir sate karena dengar lo kena PHK.
Arya menatap layar, lalu tertawa. Bayu adalah satu dari sedikit teman yang tetap menghubunginya meski selama tiga tahun terakhir Arya hampir selalu menolak ajakan bertemu.
Ia membalas singkat.
Gue datang. Tapi malam ini gue yang traktir.
Di ruang keluarga, Anindya sedang membaca dokumen di tablet. Arya berdiri di depan sofa.
"Aku mau bertemu Bayu. Mungkin pulang agak malam."
Anindya langsung menutup tablet. "Oke."
Arya menunggu.
"Apa?" tanya Anindya.
"Nggak ada pertanyaan?"
"Mau ketemu di mana?"
"Warung sate dekat kampus lama."
"Sama siapa saja?"
"Bayu. Mungkin Sinta ikut."
Anindya mengangguk. "Hati-hati di jalan. Kalau minum, jangan menyetir pulang. Hubungi aku."
"Cuma itu?"
"Harusnya aku bilang apa?"
Arya tidak tahu.
Karina biasanya meminta foto lokasi, nama semua orang yang hadir, dan waktu pulang pasti. Dua kali Arya terlambat tiga puluh menit, pintu apartemen dikunci dari dalam.
Anindya justru membuka kembali tabletnya. "Bersenang-senanglah. Kamu sudah lama nggak bertemu temanmu."
Kebebasan sederhana itu terasa lebih asing daripada kartu sepuluh miliar.
Arya mengambil kunci Rolls-Royce. "Aku kabari kalau terlambat."
"Baik, Mas Arya."
Warung sate itu berdiri di tepi jalan yang ramai, dengan meja kayu, lampu gantung kuning, dan asap arang yang bergerak sampai ke tempat parkir.
Bayu sudah duduk bersama Sinta. Ia mengenakan kaus lama dan mengangkat tangan tinggi-tinggi ketika melihat sebuah mobil hitam melambat di depan warung.
"Woi, jangan parkir di situ! Nanti mobil orang kaya kegores—"
Kalimatnya berhenti ketika pintu pengemudi terbuka.
Arya turun.
Jam logam di pergelangan tangannya memantulkan lampu warung. Petugas parkir segera datang membantu, sementara beberapa pengunjung menoleh ke lambang kendaraan di kap.
Mulut Bayu tetap terbuka.
Sinta menyikut lengannya. "Tutup. Lalat masuk."
"Itu Arya?"
"Kalau bukan, berarti ada sultan lain yang wajahnya sama."
Arya berjalan mendekat. "Katanya mau traktir orang kena PHK."
Bayu berdiri dan memegang kedua bahunya. "Bro. Jujur. Lo habis merampok bank mana?"
"Duduk dulu."
"Nggak bisa. Otak gue masih memuat ulang."
Sinta menarik Bayu kembali ke kursinya. "Biarkan dia bicara. Jangan langsung menuduh kriminal."
Arya duduk. Pemilik warung sendiri datang membawa menu, padahal biasanya mereka harus melambaikan tangan beberapa kali.
Bayu menunjuk mobil di luar. "Itu pinjaman?"
"Punya gue."
"Sewaan?"
"Dokumennya atas nama gue."
"Replika?"
"Kalau lo tanya sekali lagi, gue pulang."
Bayu menepuk meja. "Gila! Benar kata orang. Kita bukan takut saudara susah. Kita takut saudara tiba-tiba datang naik Rolls-Royce!"
Sinta menatap Arya lebih teliti. "Bukan cuma mobil. Kamu terlihat berbeda."
"Lebih ganteng?" tanya Arya.
"Lebih berani bercanda," jawabnya. "Itu kemajuan."
Sate datang. Arya memesan beberapa hidangan tambahan dan minuman. Bayu menunggu sampai pelayan pergi sebelum mencondongkan tubuh.
"Sekarang cerita. Tiga hari lalu lo bilang kantor lo bermasalah. Hari ini lo turun dari mobil delapan belas miliar."
Arya mengusap tepi gelas. "Gue kena PHK."
"Lalu?"
"Malamnya Karina minta cerai."
Tawa Bayu hilang. "Serius?"
"Serius."
Sinta meletakkan sendok. "Kamu baik-baik saja?"
"Sekarang lebih baik."
"Karina selingkuh?" tanya Bayu.
"Lebih aneh." Arya memandang dua sahabat di depannya. "Dia menjual status suaminya kepada sahabat sendiri seharga Rp 2 miliar."
Bayu berkedip. "Ulangi."
Arya menjelaskan wasiat Eyang Kusumo, syarat pernikahan sah, perceraian yang sudah diam-diam diproses Karina, serta pernikahannya dengan Anindya sehari sesudah akta cerai terbit.
Sepanjang cerita, sate Bayu tidak disentuh.
Ketika Arya selesai, Bayu bersandar perlahan. "Jadi kemarin lo masih suami Karina. Sekarang lo suami Anindya Kusuma?"
"Secara hukum, ya."
"Anindya Kusuma yang itu? Pewaris yang fotonya sering muncul di berita bisnis?"
"Kalau ada dua orang dengan nama sama, mungkin bukan."
Sinta mengabaikan lelucon itu. "Karina benar-benar menerima uang untuk menceraikanmu?"
"Uang muka enam ratus juta sudah masuk."
"Dan dia mengira kalian akan rujuk dua bulan lagi?"
"Iya."
Bayu akhirnya mengambil segelas teh dan menenggaknya sampai habis. "Gue merasa hidup gue terlalu normal."
Arya tertawa, tetapi setelahnya ia mulai bercerita lebih jujur. Tentang tiga tahun tanpa hobi. Tentang gaji yang selalu habis. Tentang surat PHK yang diletakkan di bawah cincin pernikahan.
Bayu tidak lagi bercanda.
"Kenapa lo nggak pernah bilang?"
"Malu. Gue pikir semua pernikahan memang butuh pengorbanan."
"Pengorbanan bukan berarti hilang," kata Sinta. "Kalau bersama seseorang membuatmu tidak mengenali dirimu sendiri, itu peringatan."
Arya mengangguk. "Gue baru sadar setelah keluar."
Bayu menepuk bahunya. "Yang penting lo keluar. Mobil itu bonus."
"Bonusnya agak besar," kata Sinta.
Mereka bertiga tertawa.
Bayu kemudian melirik ponsel Arya yang sejak tadi tetap diam. "Istri baru lo nggak menelepon?"
"Nggak."
"Nggak minta lokasi?"
"Nggak. Dia cuma bilang jangan menyetir kalau minum."
Sinta mengangguk kecil. "Dia memberi batas keselamatan, bukan menguasai waktumu. Beda."
Arya memutar gelas di tangannya. Perbedaan itu memang sederhana, tetapi justru terasa besar. Anindya tahu ia keluar bersama siapa dan ke mana, lalu memilih percaya. Karina dulu punya semua informasi yang sama dan masih menganggapnya berbohong.
"Mungkin karena pernikahan ini cuma kesepakatan," katanya.
Sinta menatapnya lama. "Atau mungkin karena dia menghormatimu. Jangan terlalu cepat mengecilkan hal baik hanya karena kamu belum terbiasa menerimanya."
Arya tidak menjawab. Kata-kata itu terlalu mirip dengan pesan Anindya di ruang olahraga.
Di Vila Kusuma, Anindya sudah melihat jam untuk ketujuh kalinya.
Pak Darto masuk membawa teh. "Non Anindya, Den Arya baru pergi satu jam."
"Saya tidak bertanya."
"Tapi Non melihat gerbang dari jendela setiap lima menit."
Anindya menutup tirai. "Aku cuma memeriksa cuaca."
Ponselnya berbunyi. Nama Tania muncul di layar.
"Nin!" Suara ceria sahabatnya langsung memenuhi ruang. "Jadi kapan kita ke Bali? Aku sudah kirim pilihan vila."
"Aku nggak bisa."
"Kenapa? Grup Kusuma mau kiamat?"
"Aku mau menemani suamiku."
Hening dua detik.
"Suami siapa?"
"Suamiku."
"Anindya Kusuma, kamu minum apa?"
Anindya tersenyum. "Nanti aku ceritakan."
Panggilan berakhir setelah Tania memaksanya berjanji bertemu. Pak Darto masih berdiri dengan wajah tenang.
"Non tidak ingin menelepon Den Arya?"
"Nggak. Aku nggak mau dia merasa diawasi."
"Keputusan yang bijak."
"Tapi kalau lewat tengah malam, saya boleh mengirim pengawal, kan?"
Pak Darto menahan senyum. "Tunggu sampai Den Arya menelepon."
Kembali di warung, Bayu menatap Rolls-Royce melalui jendela terbuka, lalu menatap Arya.
"Gue masih belum percaya. Siapa sebenarnya istri baru lo itu?"
Arya mengangkat gelasnya.
"Kalau gue tahu jawabannya, mungkin gue nggak akan datang ke sini untuk mabuk dan mencari tahu."