NovelToon NovelToon
Takdir Kita Yang Belum Selesai

Takdir Kita Yang Belum Selesai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nita_001

Setelah dikhianati dan meledakkan diri bersama musuhnya, Chongyue, kapten tim elit pemburu vampir, justru terlahir kembali di dunia kultivasi dalam tubuh Nona Kelima Kediaman Jenderal Kerajaan Dong—seorang gadis yang dianggap bodoh dan tidak berguna.

Namun, tidak ada yang tahu bahwa di balik tubuh lemahnya itu tersembunyi sebuah segel misterius.

Ketika segelnya terbuka, Chongyue berubah menjadi seorang jenius dengan kekuatan luar biasa. Dalam perjalanannya menjadi kuat, dia bertemu Bei Mingye, Pangeran Keenam yang dijuluki Raja Hantu—pria dingin yang ditakuti seluruh Benua Timur, tetapi justru rela menjadi pelindung Chongyue.

Bersama-sama, mereka menghadapi keluarga, sekte kuno, musuh dari alam atas, serta rahasia besar tentang asal-usul Chongyue.

Di tengah takdir yang terus mempermainkan mereka, mampukah dua hati yang telah dipertemukan itu bertahan hingga akhir?

Yuk ikuti kisah lengkapnya dalam sebuah kisah berjudul: TAKDIR KITA YANG BELUM SELESAI

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita_001, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Wajah cantik di balik topeng penyamaran

Setelah itu, Chongyue mencuci wajahnya dan mulai membersihkan luka di lengannya dengan air bersih.

Prosesnya menyakitkan, terutama ketika kain menyentuh bagian lukanya yang masih terbuka.

Namun dia hanya mengernyit sesekali dan tidak mengeluarkan suara, terbiasa menahan rasa sakit dari kehidupan sebelumnya.

Setelah selesai, Chongyue mengangkat kepalanya. Tatapannya tertuju pada sebuah cermin kusam yang tergantung di atas meja rias, permukaannya dipenuhi noda dan retakan kecil.

Dia penasaran, seperti apa sebenarnya wajah tubuh barunya ini?

Chongyue berjalan mendekati cermin dengan langkah perlahan. Namun, begitu melihat pantulan dirinya—

Dia terdiam.

Wajah itu sangat biasa, bahkan dapat dikatakan tidak memiliki sesuatu yang bisa menarik perhatian.

Kulitnya pucat karena kekurangan gizi. Pipinya sedikit cekung, sementara rambutnya tampak kusam dan tidak terawat.

Tidak ada sesuatu yang istimewa dari wajahnya ini. Namun, sepasang mata itu-- Biru.

Biru jernih seperti kristal yang diterpa cahaya, begitu mencolok hingga tampak tidak cocok dengan wajah pucat di sekitarnya.

Chongyue mengernyit.

Wajah biasa dengan mata seperti ini?

Sungguh aneh.

Berdasarkan ingatan pemilik tubuh, tidak ada satu pun anggota Keluarga Xuan yang memiliki mata berwarna biru, apalagi warna biru sejernih itu.

Chongyue mengangkat sebelah alisnya.

Ada yang tidak beres.

Dia menyentuh wajahnya sendiri, memeriksa setiap bagian dengan ketelitian seorang prajurit yang terbiasa mencari penyamaran.

Pipi. Rahang. Hidung. Dahinya.

Otot-otot wajahnya terasa kaku, tidak bergerak secara alami ketika disentuh.

Tidak alami. Seolah-olah ada sesuatu yang menutupi wajah asli ini, menyembunyikan bentuk sebenarnya di balik lapisan yang sangat tipis.

Chongyue terdiam.

Di era modern, teknik penyamaran merupakan sesuatu yang umum, terutama di kalangan agen dan anggota organisasi rahasia.

Namun jika dunia ini benar-benar dunia kultivasi, teknik penyamaran seharusnya jauh lebih maju daripada sekadar kosmetik atau prostetik.

Dia terus meraba wajahnya, mencari bagian yang terasa berbeda dari kulit asli.

Sampai akhirnya—

Dia menyentuh bagian belakang lehernya.

Ada sesuatu seperti sebuah lipatan kecil yang hampir tidak terlihat, tersembunyi di balik rambutnya.

Mata Chongyue menyipit.

Dengan hati-hati, dia menarik lipatan itu lalu kemudian sesuatu terkelupas dari kulitnya.

Sebuah lapisan tipis seperti kulit manusia perlahan terangkat dari wajahnya, memperlihatkan bahwa seluruh wajah yang selama ini terlihat hanyalah penyamaran.

Chongyue membeku.

Topeng penyamaran.

Dia menariknya perlahan hingga seluruh lapisannya terlepas, lalu menatap benda itu dengan ekspresi serius.

Kemudian dia kembali menatap cermin.

Kali ini, napasnya tertahan.

Wajah di dalam cermin telah berubah sepenuhnya. Wajah mungil yang tidak lebih besar dari telapak tangan, dengan garis-garis wajah yang lembut dan proporsional.

Alisnya halus. Hidungnya mancung. Bibirnya merah muda dan tipis, membentuk garis yang tampak lembut meskipun wajahnya masih terlihat pucat.

Namun, yang paling mencolok adalah sepasang mata biru kristal yang begitu jernih hingga seperti menyimpan cahaya di dalamnya.

Yang paling mencolok adalah, di tengah dahinya ada sebuah tanda teratai merah. Warnanya pekat, seolah-olah tinta merah telah meresap jauh ke dalam kulitnya.

Merah seperti darah. Merah seperti teratai yang mekar dari kedalaman neraka.

Chongyue menarik napas kasar, sementara jantungnya berdetak lebih cepat.

Gambaran yang tadi muncul di kepalanya kembali terlintas dengan jelas.

Wanita cantik. Bayi. Teratai merah.

Dan sekarang...

Tanda yang sama berada di dahinya sendiri.

“Jangan-jangan...”

Chongyue menatap pantulan dirinya dengan tatapan tidak percaya. “Bayi itu... adalah aku?”

Jika bayi itu benar-benar dirinya. Lalu siapa wanita itu? Juga, siapa anak laki-laki yang memberikan kalung itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepalanya, saling bertumpuk dan menuntut jawaban.

Namun, Chongyue tidak memaksakan diri untuk mencari jawabannya saat itu juga. Setidaknya untuk saat ini, ada hal yang jauh lebih penting daripada masa lalu yang belum dipahaminya.

Dia harus bertahan hidup.

Terlepas dari siapa wanita misterius itu, Chongyue yakin akan satu hal-- Dia bukan keturunan Keluarga Xuan!

Ibu kandung Xuan Chongyue, berdasarkan ingatan yang diwariskan tubuh ini, merupakan wanita yang cukup cantik dan sangat menyayangi putrinya.

Meski seluruh keluarga menganggap Xuan Chongyue bodoh dan tidak berguna, wanita itu tidak pernah meremehkannya.

Tidak sekali pun.

Topeng ini kemungkinan besar dipasangkan olehnya, mungkin untuk melindungi putrinya dari bahaya yang tidak diketahui.

Bagaimanapun, memiliki wajah secantik ini di tengah keluarga yang penuh intrik hanya akan mengundang bahaya—terutama jika pemilik wajah itu dianggap tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

Chongyue merenung sejenak, menimbang semua kemungkinan yang ada.

Setelah berpikir lama, dia memasang kembali topeng kulit itu dengan hati-hati, memastikan setiap bagian menempel sempurna pada wajahnya.

Untuk saat ini, menyembunyikan wajah aslinya adalah pilihan terbaik.

Dalam kondisi tubuhnya yang masih lemah, menarik perhatian hanya akan membuatnya menjadi sasaran yang lebih mudah bagi orang-orang yang ingin mencelakainya.

Namun, ada satu masalah lain yang tidak bisa diabaikannya.

Matanya.

Warna biru kristal itu terlalu mencolok dan dapat membongkar penyamarannya kapan saja.

Dia harus menyembunyikan warna matanya sesegera mungkin.

Berdasarkan ingatan pemilik tubuh, terdapat pegunungan di luar ibu kota yang kaya akan tanaman obat dan binatang spiritual.

Jika beruntung, dia bisa menemukan bahan yang cukup untuk membuat ramuan yang dapat mengubah warna matanya, setidaknya untuk sementara waktu.

Chongyue mengambil keputusan untuk pergi kesana setelah mempertimbangkan situasinya.

Setelah membuang air bekas membersihkan luka, dia kembali berbaring di atas ranjang kayu yang dingin.

Tubuh ini terlalu lemah untuk melakukan apa pun, dan memaksakan diri hanya akan memperburuk luka-lukanya.

Dia hanya bisa memulihkan tenaganya terlebih dahulu, lalu meninggalkan ibu kota besok.

Malam berlalu dalam keheningan.

Beberapa waktu kemudian, fajar menyingsing perlahan. Cahaya pucat menembus celah jendela dan jatuh di lantai kamar yang dingin, membentuk garis-garis tipis di antara bayangan.

Chongyue membuka matanya. Tubuhnya masih terasa lemah, tetapi setidaknya kondisinya jauh lebih baik daripada malam sebelumnya.

Dia bangkit perlahan dan mengemasi dua set pakaian sederhana, memilih barang-barang yang tidak akan menarik perhatian.

Mengingat wajah Xuan Chongyue telah dikenal luas oleh orang-orang di ibu kota, dia tidak ingin mengambil resiko dengan berjalan keluar menggunakan penampilan aslinya.

Chongyue melepas topeng kulit dari wajahnya, kemudian mengenakan pakaian sederhana dan sebuah topi bambu besar yang menutupi sebagian besar wajahnya, memastikan tanda teratai merah serta mata birunya tidak terlihat oleh siapa pun.

Setelah memastikan penyamarannya cukup meyakinkan, dia membuka pintu kamar dengan hati-hati.

Koridor Kediaman Jenderal masih sunyi, karena sebagian besar orang belum memulai aktivitas pagi mereka.

Tidak ada seorang pun yang memperhatikannya.

Chongyue melangkah keluar dengan tenang, menahan rasa sakit yang masih tersisa di tubuhnya.

Tanpa menoleh ke belakang, dia menyelinap meninggalkan Kediaman Jenderal, melewati halaman-halaman sepi dan pintu belakang yang jarang digunakan.

Tidak ada yang tahu bahwa Nona Muda Kelima yang selama ini dianggap sebagai gadis cacat telah mati.

Tidak ada yang menyadari bahwa tubuh yang selama ini mereka hina kini telah ditempati oleh jiwa yang sama sekali berbeda.

Yang keluar dari kediaman itu bukan lagi Xuan Chongyue yang dulu. Melainkan seorang wanita yang telah melewati kematian. Seorang pejuang dari dunia lain yang telah kehilangan segalanya, tetapi memperoleh kesempatan kedua untuk memulai kembali.

Dan kali ini...

Dia tidak akan membiarkan siapa pun menentukan hidupnya lagi.

1
marlaina marliana
beraninya main keroyokan dasar iblis
marlaina marliana
semangat chongyue, balas dendam musnahkan semua musuh 💪💪
marlaina marliana
nah baru tau cerita awalnya pertemuan mereka ternyata seperti itu ya 🤔
marlaina marliana
masih menyimak 😊😊❤❤
marlaina marliana
kakak syantik ini sama seperti yg yg f**z* ya.
Author Nita_001: Iya kak say, aku pindah kesini, karena disana sepi pembacanya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!