NovelToon NovelToon
Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Idola sekolah
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: IRISVEL

SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Permainan balas?

BAB 7: "PERMAINAN BALAS DENDAM BERDARAH"

Motor Sport hitam milik Langit berhenti persis di depan gerbang rumah keluarga Shena. Suara raungan mesin yang gahar mendadak padam, menyisakan keheningan sore di perumahan elit tersebut.

Aira langsung melepas helmnya dengan kasar dan melemparkannya tepat ke dada tegap Langit. Refleks Langit yang cepat membuat cowok itu berhasil menangkap helm tersebut dengan satu tangan tanpa kesulitan sedikit pun.

"Lu gila ya, Kanebo?!" amuk Aira sambil mengelus dadanya yang masih berdebar kencang. "Lu ngegas motor kayak lagi dikejar malaikat maut! Kalau gue jatuh terus muka gue lecet gimana, Ha?!"

Langit merapikan rambut hitamnya yang sedikit berantakan, lalu menatap Aira datar. "Kan gue udah suruh pegangan."

"Ya tapi gak usah pake atraksi akrobatik juga, Bego!" semprot Aira. Dia menghentakkan kakinya kesal, berbalik hendak melangkah masuk ke dalam rumah. "Udah ah, makasih tumpangannya! Jangan pernah jemput atau anter gue lagi!"

"Shena."

Panggilan dingin Langit menahan langkah Aira. Cewek itu menoleh malas, menaikkan sebelah alisnya. "Apaan lagi?"

Langit menunjuk luka goresan amat tipis di buku jari tangan kanan Aira—bekas gesekan balok kayu saat dia menumbangkan anggota geng Krava tadi.

"Dua hari lagi ada study tour ke area perkemampuan kawasan pegunungan," ujar Langit, suaranya kembali formal dan kaku khas Ketua OSIS. "Lu dalam pengawasan gue penuh.

Luka sekecil apa pun di badan lu mulai hari ini... bakal ada harganya yang harus dibayar sama orang yang bikin luka itu."

Aira terkekeh geli, merasa penawaran dan ancaman Langit sangat berlebihan. "Dih, sok posesif banget lu. Urus aja diri lu sendiri. Dadah, Kanebo Kering!"

Aira melambaikan tangannya tanpa menoleh lagi, menghilang di balik pintu gerbang rumahnya. Langit tetap bergeming di atas motornya selama beberapa menit, menatap pintu rumah yang tertutup rapat, sebelum akhirnya menghidupkan kembali mesin motornya dan melaju pergi membelah kegelapan malam.

Di dalam rumah, suasana ruangan tengah mendadak mencekam. Bik Maya—ibu tiri Aira—sedang duduk di sofa kulit bersama putri kesayangannya, Selly, adik tiri Aira yang berusia satu tahun lebih muda.

Begitu Aira melangkah masuk dengan gaya santainya, Bik Maya langsung berdiri dari sofa. Wajah wanita paruh baya itu masih menyisakan rasa kesal dari kejadian beberapa hari lalu saat tangannya cengkeram oleh Aira.

"Bagus ya! Pulang jam segini, seragam berantakan, gak ada sopan santunnya!" bentak Bik Maya sambil berkacak pinggang. "Lu habis kelayapan sama cowok geng motor kan?! Mau jadi jalang lu di luar?!"

Aira menghentikan langkahnya di dekat tangga. Dia menoleh pelan, menatap ibu tirinya dengan mata yang berkilat dingin.

"Mulut lu bisa dijaga gak, Mah?" bisik Aira rendah. "Mau tangan lu yang sebelah lagi yang gue tahan sampai bunyi krek?"

Bik Maya spontan mundur satu langkah, wajahnya agak pucat memengingat cengkeraman maut Aira waktu itu. Tapi Selly, adik tirinya yang manja dan licik, mendadak ikut campur.

"Mamah gak usah takut sama cewek gila ini!" teriak Selly sengit. "Eh, Aira! Lu tuh cuma anak pungut di rumah ini! Jangan sok jagoan ya lu! Kak Valerie udah ceritain semuanya ke gue, lu di sekolah sok-sokan ngelabrak orang dan bikin malu keluarga!"

Aira memiringkan kepalanya. Oh, jadi Selly ini temenan sama Valerie? Pantesan kelakuannya sama-sama busuk.

"Anak pungut?" Aira berjalan mendekati Selly. Langkahnya pelan tapi penuh tekanan intimidasi yang amat sangat. Selly yang tadinya sok berani mendadak gemetaran melihat tatapan mata Aira yang seperti pemangsa melihat mangsa.

Aira berhenti tepat di depan Selly, memajukan wajahnya hingga berjarak belasan senti.

"Inget ya, Selly," bisik Aira dengan senyuman miring yang menyeramkan. "Keluarga ini bisa berdiri kaya gini karena harta peninggalan almarhum ibu kandung gue. Lu sama mamah lu tuh cuma benalu yang numpang hidup di atas tanah ibu gue. Sekali lagi lu nyebut gue anak pungut, gue pastikan baju-baju mahal lu sama mamah lu bakal melayang ke luar rumah malam ini juga."

"L-lu... lu berani diancam kita?!" gagap Selly dengan mata berkaca-kaca ketakutan.

"Coba aja kalau gak percaya," balas Aira santai. Dia menepuk-nepuk pundak Selly pelan, membuat gadis muda itu makin tersentak ketakutan, lalu Aira berjalan santai naik ke kamarnya di lantai dua.

Bik Maya dan Selly hanya bisa mematung di ruang tamu dengan dada berombak menahan emosi dan ketakutan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dari sosok Aira Shena.

Keesokan harinya di sekolah, pengumuman tentang kegiatan study tour dan camping tiga hari dua malam di Hutan Pinus Perhutani dipajang di papan pengumuman. Semua murid menyambutnya dengan antusias. Bagi mereka, ini kesempatan buat liburan dan refreshing dari tumpukan tugas.

Tapi tidak bagi Valerie Anindya.

Di dalam toilet cewek yang sepi, Valerie berdiri di depan cermin, merapikan kuncir rambutnya. Wajahnya yang biasa terlihat polos nan menggemaskan kini berkerut penuh kebencian.

"Di sekolah ini dia memang bisa berlagak jagoan karena banyak orang yang liat," desis Valerie pelan pada bayangannya di cermin. "Tapi di hutan pinus nanti... gak bakal ada CCTV, gak bakal ada guru yang awasi tiap detik."

Pintu toilet terbuka, dan Selly—adik tiri Aira—masuk dengan tergesa-gesa.

"Kak Valerie!" bisik Selly pelan seraya mengunci pintu toilet dari dalam. "Gue udah berhasil ngumpulin info yang lu minta."

Valerie berbalik, menatap Selly dengan dingin. m

"Gimana?"

"Nanti pas acara jurit malam di perkemahan, pembagian kelompok bakal diatur sama panitia OSIS. Gue udah bayar salah satu anggota OSIS buat tukar kertas pengundian. Aira bakal dapet rute paling terpencil di dekat area jurang tua yang udah dilarang dilewati!" terang Selly panjang lebar dengan senyum jahat.

Valerie menyunggingkan senyum kemenangan. Ini dia.

"Bagus," puji Valerie pelan. "Pastikan rute itu gak diketahui sama Langit. Gue bakal atur supaya Langit sibuk di pos utama."

Valerie meremas pinggiran wastafel toilet hingga jemarinya memutih. Di dalam alur cerita novel asli, ini adalah flag kematian utama Aira Shena—momen di mana Aira bakal dijebak masuk ke area berbahaya dan dikeroyok hingga jatuh ke jurang.

"Aira Shena..." gumam Valerie penuh nada racun.

"Di camping nanti, tempat itu bakal jadi kuburan buat lu!"

Sementara itu di kelas, Aira yang sedang tertidur lelap dengan kepala bersandar di atas meja mendadak membuka matanya. Dia meraba dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang tanpa alasan.

Sensasi aneh ini... batin Aira sambil menatap ke luar jendela kelas.

Sebagai mantan preman yang sering bertaruh nyawa di jalanan, Aira punya insting bahaya yang sangat tajam. Dia tahu betul bahwa ada bahaya besar yang sedang mengintainya dalam waktu dekat.

Aira menyeringai tipis, lalu mengeluarkan permen karet baru dari saku seragamnya.

"Perkemahan hutan pinus ya?" gumam Aira pelan. "Bagus deh. Di tempat sepi kayak gitu... gue gak perlu nahan-nahan diri lagi buat ngebereskan sampah-sampah yang ganggu hidup gue!"

see you next bab 8

janga lupa like dan komen jika suka cerita ini

1
PengGeng EN SifHa
kenapa si shamena shena nanana di juluki CEWEK TRANSMIGRAN thoor ?

dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?
PengGeng EN SifHa
alur cerita yg sulit dijabarkan,akan tetapi sangat seru dimana jiwa muda yg penuh tantangan...dimana dunia nyata saja sudah seru & ini dunia fana + seru lagi dengan logika yg begitu badas.
PengGeng EN SifHa
gedebak gedebig dar der dor kembang api to raa ??🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!