Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Suara alarm ponsel berbunyi nyaring tepat pukul empat pagi. Mia menggeliat, menggapai ponselnya dengan mata yang masih berat. Tubuhnya pegal luar biasa setelah kemarin duduk hampir sepuluh jam di depan mesin jahit. Namun, ia tidak punya waktu untuk bermalas-malasan.
Mia segera bangkit dari kasur tipis yang digelar di lantai kontrakan sederhana di sebuah gang kawasan industri Bekasi.
Di sampingnya, Edo masih terlelap. Suaminya itu menarik selimut hingga menutupi wajahnya ketika alarm kembali berbunyi. "Matiin, berisik," gerutunya tanpa membuka mata.
Mia segera mematikan alarm. "Iya." Berjalan Mia ke dapur sempit yang hanya dipisahkan tirai lusuh. Tangannya cekatan mencuci beras, menyalakan rice cooker, lalu memotong bawang dan cabai untuk membuat telur dadar. Sembari memasak, Mia sesekali melirik jam dinding. "Duh, udah jam empat lewat dua puluh lima menit," bisiknya. "Aku harus buru-buru nih. Takut ketinggalan angkot pertama." Ia segera menggoreng dua telur yang sudah ia campurkan dengan irisan bawang dan cabe. Menumpahkannya ke wajan. "Setelah ini, aku harus segera mandi." Tak butuh waktu lama, telur dadar sudah matang. Mia mematikan kompor dan bergegas masuk ke kamar mandi.
Azan subuh berkumandang, tapi tak membuat Edo terbangun dari tidurnya. Lelaki itu masih bergelung dalam selimut.
Mia keluar dari kamar mandi dengan langkah tergesa. Mengambil mukena dan langsung menunaikan salat subuh. Ketika ia mengusapkan telapak tangan ke wajah, ponsel iphone 5S milik Edo berbunyi. Mia menolehkan kepalanya ke arah ponsel suaminya yang berada di samping kepala Edo. "Siapa yang nelepon subuh-subuh begini?" Bokongnya sudah terangkat untuk beranjak, namun tanpa diduga, tangan Edo dengan cepat menyambar ponsel itu, dan lelaki itu langsung bangun. Tanpa duduk terlebih dahulu, Edo langsung berlari ke kamar mandi.
Mia melongo, menatap kepergian suaminya. "Ya Allah... dengar suara HP aja langsung bangun. Suara azan udah berkumandang dari tadi, tapi dia asyik mendengkur. Aneh. Mana tuh HP langsung dibawa ke kamar mandi lagi," gerutu Mia sedikit kesal. Ia melepas mukena dan melipatnya, menyimpannya ke tempat semula.
Tak butuh waktu lama, Mia sudah siap dengan seragam kerja berwarna biru tua, kerudung paris senada dan celana jeans hitam memeluk tubuhnya. Ia duduk di depan cermin, mengoleskan pelembab seger snow yang ditimpa dengan bedak padat dari produk Marina.
Edo keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah, wangi sabun dan shampo menguar. Ia melirik Mia, "Alah, ngapain pake dandan segala sih?" cibirnya. "Meskipun ditimpa bedak setebal apa pun, wajah kamu tuh tetap kelihatan tua!" hinanya sambil tertawa.
Mia menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengusapkan bedak ke pipi. Matanya tiba-tiba memanas. "Jangan menangis, Mia. Ini bukan hal aneh. Edo 'kan emang sudah sering menghina kamu." Mia membatin, menguatkan hatinya. Ia menarik napas dalam-dalam, membuangnya pelan. Mengabaikan hinaan yang baru saja dilontarkan suaminya. Tangan Mia kembali melanjutkan kegiatannnya.
"Mia..." Edo memanggil sambil memakai seragam kerjanya.
"Apa?"
"Bagi duit, dong," pinta Edo enteng.
Mia tak lantas menanggapi. Ia membereskan dulu alat make up-nya. "Duit buat apa? Bukannya kemarin kamu baru gajian ya? Masa uang kamu sudah habis lagi?" cerocos Mia jengkel.
Edo mendengus. "Gajiku udah habis dipake buat bayar cicilan HP sama si Ohang."
"Bukannya cicilan HP cuma dua ratus ribu ya? Berarti masih ada tiga ratus ribu lagi, kan?"
"Sisanya udah aku pake buat benerin motor," jawab Edo sambil mendekat ke Mia. "Udah lah, Mia. Jangan banyak tanya. Sini minta duit! Cepe lah."
Mia menoleh, menatap wajah suaminya yang pagi ini begitu menyebalkan. "Nggak ada uang segitu, Do. Ini tuh udah mau akhir bulan. Uang bekalku saja sudah menipis. Kita harus hemat." Mia beranjak, mengambil tasnya.
"Mia!" Edo menarik pergelangan tangan Mia. Matanya melotot. "Pelit banget sih kamu!" sentaknya. "Motorku nggak ada bensinnya!" Cengkeraman tangan Edo mengencang.
"Akh, sakit, Do." Mia meringis, berusaha melepaskan cengkeraman tangan Edo.
"Aku bakal lepasin, tapi kasih aku duit sekarang juga!" desak Edo.
"Iya, iya." Mia akhirnya menyerah. Daripada ia bertengkar dan akhirnya kesiangan berangkat ke tempat kerja, Mia memilih mengalah saja.
Edo melepaskan cengkeraman tangannya. "Mana?" Tangannya menengadah.
Mia merogoh tasnya, memberikan uang lima puluh ribu pada suaminya. "Cuma ada segini."
"Ah! Masa cuma gocap sih?" sungut Edo kesal.
"Kalau nggak mau ya udah-"
"Sini!" Dengan kasar, Edo merebut uang itu dari tangan Mia. "Aku berangkat dulu." Ia berbalik mengambil jaket dan helm.
"Tumben kamu sudah seminggu ini berangkatnya pagi terus? Biasanya kan jam tujuh baru berangkat." Akhirnya pertanyaan yang selama seminggu ini terpendam keluar juga dari mulut Mia.
Edo berdecak, "Lagi pengen berangkat pagi aja. Biar bisa ngopi dulu sama anak-anak."
"Kalau gitu, bisa atuh kamu nganterin aku ke pabrik? Udah lama banget kamu nggak pernah nganterin aku. Terakhir kali tuh dua tahun yang lalu. Pas kamu masih pake motor Astrea."
"Ahh!" Edo mengibaskan jaketnya ke wajah Mia. "Manja banget sih kamu! Biasanya juga naik angkot. Udah, ah. Aku malas berdebat!" Berlalu Edo meninggalkan Mia.
Mia mengembuskan napas berat, "Aku bukan manja, Do. Tapi aku kangen tahu nggak pengen dibonceng sama kamu. Pengen merasakan lagi naik motor Ninja kebanggaanmu itu. Aku lho, yang bayar cicilannya setiap bulan," batin Mia melirih.
Dari luar, terdengar suara knalpot khas dari motor Ninja 150 RR milik Edo meraung, dan perlahan menjauh.
Mia keluar, dan melihat motor suaminya sudah tak ada. Ia mengunci pintu, bergegas ke depan untuk menunggu angkot.
Baru satu langkah, suara seorang lelaki dari pintu seberang kontrakan memanggilnya. "Teh Mia!"
Mia menoleh, melempar senyum kecil dan membalas panggilan itu. "Pagi, A Iki?"
Rifki, lelaki yang biasa dipanggil Iki melempar senyum kecil juga pada Mia. Membuat lesung pipinya terlihat. "Mau berangkat ya, Teh?"
"Iya, A." Mia mengangguk.
"Kirain mau dianterin sama Edo?"
Decakan kecil keluar dari bibir Mia. "Dia mah udah nggak mau nganterin aku, A. Tadi juga aku minta dianterin. Eh, malah bilang, "kamu tuh jangan manja, biasanya juga suka naik angkot!" gitu, A." Mia menirukan suara suaminya.
Geleng-geleng kepala Rifki. "Gimana kalau bareng aku aja, Teh? Pabrik kita 'kan masih satu kawasan?" tawar lelaki yang kini sudah memanaskan motor Ninja empat tak-nya.
Membola sedikit mata Mia. "Aduh, terima kasih, A. Tapi nggak usah. Aku naik angkot saja. Permisi, A. Aku duluan." Tanpa menunggu tanggapan dari Rifki, perempuan berkerudung biru tua itu segera pergi, bahkan nyaris berlari.
"Teh Mia... Teh Mia," gumam Rifki meraungkan gas motornya.
_______
"Selamat pagi, dara manisku."
"Ihhh... A Edo," rengek gadis berseragam SMA berambut dikuncir kuda.
"Sudah siap berangkat sekolahnya, Bela sayang?" tanya Edo sambil menatap wajah Bela tanpa berkedip. Membuat kedua pipi gadis itu merona. "Ayo, naik, Sayang. Sini Aa pakaikan helm-nya."
Bela memberikan helm warna pink yang dijinjingnya kepada Edo.
Edo memasangkan helm itu ke kepala Bela dengan hati-hati, lalu menoel dagu gadis itu. "Kamu makin hari makin cantik aja sih, Sayang. Aku jadi makin cinta."
"Mmm... Aa, udah deh, jangan menggombal terus." Bela memukul dada Edo pelan.
"Aa nggak menggombal, Sayang. Aa serius. Kamu sungguh cantik bak bidadari," puji lelaki berjaket denim itu tak henti.
"Aa..." Bela merengek manja. "Aa juga makin ganteng aja."
"Makasih, cintaku. Yuk, naik!" Edo naik lebih dulu ke atas motor kebanggaannya. Disusul Bela yang langsung nemplok di belakang tubuh Edo. Memeluk pinggang lelaki itu erat. "Kita berangkat sekarang ya, Sayang?"
"Iya, Aa. Jangan ngebut-ngebut ya?"
"Oke, Cinta." Edo menghidupkan mesin, menarik gas dan meninggalkan jalanan depan gang sempit itu. Motor melaju membawa dua sejoli yang tengah dimabuk asmara tersebut.
"Aa! Nanti sore jadi jalan-jalannya?!" teriak Bela dari belakang.
"Jadi, dong, Sayang. Nanti pulang kerja, Aa langsung jemput kamu!" balas Edo. "Kamu tunggu di depan gang seperti barusan ya?"
"Iya!"
"Jangan lupa bawa yang biasa. Jaga-jaga, ya, Sayangku!"
"Iya, Aa. Aku nggak akan lupa, kok. Tenang saja."
"Sip, kamu memang paling pengertian." Edo menyeringai di balik helm-nya. "Senangnya hatiku. Inilah keuntungan punya wajah tampan. Di rumah ada si Mia sumber dana, dan di luar... aku punya Bela yang cantik jelita. Bisa kubawa ke mana-mana. Hahaha...!" Edo membatin dengan penuh kebahagiaan.
😁😁🤭
si setan edo kenapa g di bikin nyungsep aja sih thor ..laju laju membawa kendraan trus nyungsep luka luka hilang lah ketampanan yg di banggakanya👍👍💪