DI ANTARA DUA BAYANGAN
Kebangkrutan bisnis sang ayah memaksa Aira—gadis SMA yang polos, penakut, dan penurut—menjadi jaminan utang keluarga. Ia diserahkan ke kediaman megah keluarga Pradipta dan dijodohkan dengan Vino, pewaris tunggal yang arogan, playboy, dan tak segan mengintimidasinya. Bagi Vino, Aira tak lebih dari benalu dan pelayan terhormat. Di sekolah maupun di rumah, Aira harus menelan bulat-bulat rasa malu saat Vino terang-terangan memamerkan kemesraan dengan Caren, kekasihnya.
Di tengah kehempaan dan rasa takut yang menghimpit, muncul Darel. Sepupu Vino yang baru pulang dari luar negeri itu hadir bak pahlawan. Dengan tutur kata lembut, perhatian manis, dan senyum hangatnya, Darel menjadi satu-satunya tempat Aira bersandar.
Namun, Aira tak menyadari bahwa keselamatan yang ia rasakan hanyalah ilusi. Di balik topeng sempurnanya, Darel menyimpan obsesi gelap dan jiwa psikopat yang siap menghancurkan siapa saja. Saat Vino perlahan mulai menyadari perasaannya dan melihat bahaya ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32: Perangkap yang Terpasang
Malam merayap makin pekat di kediaman Pradipta. Angin dingin berhembus kencang di luar, mengetuk-ngetuk kaca jendela lorong lantai dua hingga menimbulkan suara berderit samar. Suasana rumah terkesan sangat sepi karena Pak Pradipta dan beberapa asisten rumah tangga sedang menginap di luar kota untuk urusan bisnis keluarga.
Di dalam kamarnya, Darel menyelesaikan persiapan terakhirnya. Botol kecil berisi cairan bening tak berbau diletakkan di atas meja. Jemarinya yang dingin meneteskan beberapa mililiter cairan obat tidur dosis tinggi tersebut ke dalam segelas susu hangat.
Seringai tipis yang amat pekat terukir di wajah Darel. Rencananya sudah tersusun rapi. Ia tahu Vino sedang dalam perjalanan pulang membawa bukti-bukti dari Inggris. Namun, sebelum Vino sempat menginjakkan kaki di rumah ini dan membeberkan semuanya, Aira sudah akan berada di bawah kendalinya.
Darel membawa nampan berisi gelas susu hangat itu keluar dari kamarnya. Langkah kakinya begitu ringan dan tanpa suara, membelah kegelapan lorong menuju pintu kamar Aira di ujung corridor.
Tok...tok...tok...
Aira yang sedang duduk membeku di tepi ranjangnya terkejut saat mendengar ketukan pelan di pintunya. Jantungnya langsung berdegup kencang oleh rasa cemas yang berkecamuk. Sejak insiden pengintaian dan baku hantam tempo hari, Aira selalu dalam kondisi siaga penuh.
"Aira... ini Kak Darel," suara dari balik pintu terdengar begitu lembut, persis seperti nada suara santun yang selalu ia gunakan selama bertahun-tahun. "Saya cuma mau antar susu hangat. Kamu belum makan malam kan dari tadi?"
Aira tidak menjawab. Ia memeluk lututnya rapat-rapat, enggan mendekati pintu. "Aku gak haus, Kak. Aku mau tidur."
Di balik pintu, rahang Darel mengeras sejenak sebelum ia memaksa suaranya tetap tenang.
"Aira, tolong dengarkan saya sebentar," panggil Darel lagi, merendahkan intonasinya agar terdengar sangat menyedihkan. "Saya tahu kamu takut sama saya gara-gara kejadian kemarin. Saya cuma mau minta maaf... Soal foto-foto itu, ada penjelasan yang harus kamu dengar secara langsung sebelum Vino datang dan memperkeruh semuanya."
Aira menahan napasnya. Nama Vino disebut membuat pertahanannya sedikit goyah.
"Vino belum pulang dari sore, Aira. Dan saya rasa kamu berhak tahu apa yang sebenarnya terjadi," lanjut Darel penuh manipulasi. "Buka pintunya sebentar saja. Setelah ini saya janji gak akan ganggu kamu lagi."
Aira menatap gagang pintu dengan ragu. Kepalanya dipenuhi oleh kebingungan dan rasa ingin tahu yang campur aduk. Rasa takutnya sedikit terkikis oleh intonasi Darel yang terdengar sangat memohon. Aira akhirnya menurunkan kakinya dari ranjang, melangkah sangat perlahan menuju pintu, lalu memutar kunci dengan tangan bergetar.
Klik.
Pintu terbuka sedikit. Darel berdiri di sana dengan senyuman paling hangat yang pernah ia miliki, menyodorkan nampan berisi gelas susu.
"Diminum dulu ya? Supaya pikiran kamu agak tenang," kata Darel lembut.
Aira menatap gelas itu, lalu menatap mata Darel. Ia tidak menyadari bahwa di balik kehangatan palsu di mata Darel, ada perangkap mematikan yang siap mencengkeram hidupnya malam ini.
***
Aira menerima gelas susu hangat itu dengan canggung. Rasa tidak enak hati pada Darel—yang selama ini selalu bersikap bak pelindung di rumah Pradipta—membuatnya tidak sanggup menolak terus-menerus.
"Makasih, Kak..." bisik Aira pelan. Tanpa rasa curiga sedikit pun, Aira meminum beberapa tegukan susu hangat itu hingga tersisa setengah.
Darel memperhatikan setiap tegukan Aira dengan binar mata yang kian pekat. Setelah Aira meletakkan gelas kembali di atas nampan, Darel menyunggingkan senyuman yang mendadak berubah sangat dingin.
"Bagus," gumam Darel singkat.