NovelToon NovelToon
Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Minta Rujuk? Maaf, Anak dari Ratu Konglomerat Sudah Lahir

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / CEO / Menantu Pria/matrilokal
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Dimas Prasetyo

Di malam ulang tahun sang mertua, Raka menyiapkan satu meja penuh masakan—dan menunggu sendirian sampai dingin, karena istri, anak, dan mertuanya malah pergi ke ruang VIP mewah yang dipesan Sebastian, sang cinta lama. Malam itu juga Raka berhenti jadi "kacung": ia mengajukan cerai, pergi tanpa menuntut sepeser pun harta keluarga Prawira, dan melangkah keluar dengan kepala tegak.

Semua orang menyangka si menantu numpang itu akan merengek balik dalam 24 jam. Yang tidak mereka tahu: Raka bukan sekadar pelukis mural berbakat yang bisa membangun kerajaannya sendiri dari nol lewat siaran langsung dan ukiran—ia adalah **putra sejati yang hilang dari Dinasti Giok Adiwangsa**, keluarga konglomerat nomor satu yang mencarinya belasan tahun. Dan perempuan sederhana yang diam-diam mengejarnya? Dialah **Anindya, Sang Ratu Konglomerat Wibisana**, yang menyembunyikan kekayaan triliunan demi cinta yang ia pendam 15 tahun.

Saat Raka naik dari "menantu buangan" jadi tuan muda dinasti giok, saat setiap penghinaan dibalas dengan bukti, bakat, dan kuasa—mantan istri, mertua matrealistis, dan sang cinta lama satu per satu menyesal setengah mati. Larasati akhirnya berlutut memohon rujuk.

Tapi maaf, Bu—**anak dari Ratu Konglomerat sudah dalam kandungan, dan aku tak akan menoleh lagi.**

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dimas Prasetyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22 — Relief Timbul yang Viral dan Kemunculan Reno

Dua minggu setelah akta cerai masuk ke laci, sebuah video lama-lama baru meledak.

Raka sebenarnya datang ke TK Bintang Cemerlang hanya untuk pemeriksaan garansi. Serah-terima akhir telah selesai. Nilai teknis, hasil uji udara, serta pelunasan proyek juga sudah tercatat sejak peresmian.

Hari itu ia memeriksa dua titik bekas dinding lembap, daya lekat lapisan luar, dan permukaan jalur sentuh yang setiap hari diraba ratusan jari kecil.

"Tidak ada retak rambut," kata Beni sambil memperbesar foto dokumentasi.

Raka mengusap bagian akar pohon timbul dengan sarung tangan. "Bandingkan dengan foto serah-terima. Sudut bawah ini lebih mengilap."

"Rusak?"

"Bukan. Sering disentuh."

Seorang anak yang lewat bersama gurunya menunjuk jalur itu. "Itu jalan biji jadi pohon."

Anak lain berdiri di bawah burung rangkong dan mengepakkan tangan. Bayangan sayap relief jatuh miring karena cahaya pagi. Lapisan daun, burung, rusa, dan wajah anak tampak benar-benar memiliki kedalaman, bukan hanya permainan warna.

Bu Rina merekam dari ujung koridor.

"Saya unggah ke grup orang tua sebagai laporan pemakaian dua minggu," katanya.

"Jangan tampilkan wajah anak tanpa persetujuan," ingat Raka.

"Saya ambil dari belakang. Berkas persetujuan untuk dokumentasi sekolah juga sudah ada."

Video tiga puluh delapan detik itu dimulai dengan telunjuk seorang murid mengikuti bentuk biji. Kamera lalu bergerak menyusuri akar, tunas, pakis, rusa, dan burung rangkong. Pada akhir video, cahaya dari jendela membuat semua lapisan melemparkan bayangan berbeda.

Bu Rina menambahkan satu kalimat: Dua minggu disentuh anak-anak, bentuk tetap aman dan utuh.

Seorang orang tua membagikannya ke TikTok. Orang tua lain menaruh tautan dokumen bahan dan ringkasan hasil uji di komentar. Dalam tiga jam, tayangan melewati seratus ribu.

Menjelang sore, angkanya menembus satu juta.

Ponsel Beni berbunyi tanpa jeda.

"Seratus empat puluh tiga formulir masuk," katanya di Studio. "Empat puluh tujuh tanya harga tanpa ukuran. Dua puluh sembilan minta selesai minggu depan. Ada yang mengira semua dinding biayanya sama."

"Saring seperti biasa."

"Video satu juta, wajah lo tetap kayak orang nunggu air mendidih."

"Kalau airnya belum mendidih, gue senyum juga tidak membantu."

Beni tertawa, lalu memasang pertanyaan wajib pada formulir: ukuran, kondisi dinding, fungsi ruangan, akses lokasi, tenggat, dan kisaran anggaran. Dari seratus empat puluh tiga, hanya tiga puluh satu yang mengisi lengkap. Semuanya tetap berstatus prospek sampai survei dan kontrak.

Pengikut Studio Nusa Karya naik dari sekitar lima puluh ribu menjadi delapan puluh tujuh ribu dalam satu hari.

Nama lain ikut menempel pada video.

#MasKalem.

Julukan itu lahir dari potongan wajah Raka saat membaca komentar yang menuduh relief tersebut hanya hasil filter. Malamnya, ia membuka live di Studio. Beni menaruh panel uji, bahan dasar, pigmen, mistar proyeksi, serta lampu sorot di meja.

Komentar bergerak cepat.

Itu cuma lukisan pakai bayangan.

Pasti panel cetak dari pabrik.

Coba bikin langsung kalau asli.

Raka tidak membacakan ejekan satu per satu. Ia memperlihatkan jam, menyalakan kamera sudut kedua, lalu menunjukkan panel kosong dari depan dan belakang.

"Saya tidak akan menyelesaikan relief permanen dalam satu live karena bahan membutuhkan waktu mengikat dan curing," katanya. "Malam ini saya tunjukkan tahap bentuk dan ilusi warna. Jangan samakan demonstrasi dengan produk siap pasang."

Ia menandai garis horizon, membentuk tiga lapisan daun pada panel uji, lalu menggeser lampu ke kiri dan kanan. Bayangan berubah mengikuti tonjolan nyata.

Setelah permukaan contoh yang disiapkan sebelumnya siap dicat, Raka mewarnai satu sisi dengan gradasi. Dari depan, daun tampak lebih dalam. Dari samping, penonton tetap melihat proyeksi fisiknya.

"Kalau cuma lukisan datar?" tanya Beni.

Raka mengambil panel imitasi murah yang dibeli secara resmi dari pasar daring. Motifnya meniru hutan milik TK, tetapi semua kedalaman berasal dari warna gelap.

Ia mematikan lampu depan dan menyalakan lampu samping.

Bayangan relief buatannya tetap bergerak.

Bayangan pada panel tiruan menghilang.

Komentar berubah.

Oh, jadi begitu bedanya.

Mas Kalem tidak debat, langsung praktik.

Bang, kelas daring kapan?

"Harga murah bukan otomatis salah," kata Raka. "Yang salah adalah menjual lukisan datar sebagai relief timbul, memakai foto proyek orang lain, atau menjanjikan bahan yang tidak digunakan. Tanyakan penampang, sampel, dan dokumen bahan sebelum membayar."

Ia tidak menyebut toko penjual panel imitasi. Beni hanya menyimpan tautan, faktur pembelian, rekaman iklan, serta perbandingan visual untuk arsip jika kelak ada penyalahgunaan merek.

Puncak penonton live mencapai dua puluh enam ribu. Tiga sekolah mengirim permintaan survei melalui kanal resmi. Sebuah jaringan ruang bermain meminta katalog keselamatan. Tidak satu pun diumumkan sebagai pesanan jadi.

"Mas Kalem cocok," kata Beni setelah siaran.

"Tidak."

"Internet sudah memutuskan."

"Internet juga pernah memutuskan panel datar itu relief."

Ponsel Raka bergetar. Nama Pak Sujarwo muncul setelah bertahun-tahun hanya hadir melalui ucapan singkat pada hari besar.

"Saya melihat videomu," kata pria itu setelah Raka mengangkat. "Kamu... masih menggambar."

"Masih."

"Perusahaan Reno bergerak di pemasaran digital. Kalau perlu bantuan trafik, mungkin—"

Suara Marlina terdengar di belakang, tidak cukup jauh dari gagang telepon.

"Untuk apa menawarkan bantuan? Anak buangan itu cuma sedang beruntung. Gelombangnya juga akan turun."

Sujarwo terdiam.

Raka memandang angka tayangan di layar, lalu mematikannya.

"Saya tidak butuh trafik yang tidak bisa saya pertanggungjawabkan, Pak. Kalau Bapak menelepon untuk menanyakan kabar, saya sehat."

"Raka, dulu soal kamu pergi dari rumah—"

"Saya sedang bekerja. Selamat malam, Pak."

Ia mengakhiri sambungan tanpa marah. Beni tidak bertanya. Ia hanya memindahkan tiga permintaan survei ke kolom verifikasi.

Di sebuah gedung kaca SCBD, grafik yang sama terbuka pada layar ruang rapat PT Nexora Digital.

Reno Wijaya berdiri di depan kurva pertumbuhan Studio Nusa Karya. Di sisi layar terdapat pemetaan sentimen, akun yang paling sering membagikan video, serta kata kunci #MasKalem.

"Organik?" tanyanya.

Seorang manajer menjawab hati-hati. "Sebagian besar. Dorongan awal dari komunitas orang tua dan pendidikan. Setelah satu juta tayangan, rekomendasi platform mengambil alih."

"Berapa lama untuk menurunkannya?"

"Kalau tidak ada isu negatif, kita tidak punya alasan. Menyerang tanpa narasi bisa membuat simpati naik."

Reno tersenyum tipis. "Saya tidak menyuruh kalian menyerang malam ini."

Ia menggeser layar ke profil Raka. Nama lama, riwayat keluarga, perceraian, proyek, dan komentar publik muncul dalam beberapa kolom.

"Pantau semua. Klien, mantan istri, kontrak, kesalahan kerja, apa pun. Cari alasan yang terlihat alami. Kalau dia jatuh, publik harus merasa merekalah yang menjatuhkannya."

Manajer itu menulis instruksi. Nexora memiliki jaringan pemantauan kampanye dan vendor buzzer yang biasanya dipakai untuk mengendalikan krisis merek. Malam ini, kemampuan itu diarahkan kepada satu orang.

Reno masuk ke ruang pribadinya dan berdiri di depan cermin. Ia merapikan dasi, tetapi yang dilihatnya bukan hanya adik angkat yang pernah diusir dari rumah.

Ia melihat ancaman terhadap gelar satu-satunya penerus Wijaya.

"Raka Wijaya," katanya pada bayangannya. "Selamat datang di arena gue."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!