Di usia 23 tahun, Intan yang introvert mulai cemas karena tak kunjung ada pria yang melamarnya. Desakan rasa takut itu membuatnya nekat mengunduh aplikasi pencari jodoh.
Di sana, ia terbuai manisnya perhatian seorang pria. Namun, setelah rasa percaya terbangun, Intan justru kena tipu. Uang tabungannya sebesar dua juta rupiah raib, dan pria itu menghilang begitu saja.
Bukan soal nominal uangnya, melainkan pengkhianatan yang meremukkan harga diri dan kepolosannya. Malam itu, di depan cermin, Intan menyapu sisa air matanya. Gadis lugu dan penakut dalam dirinya telah mati.
"Kamu salah pilih korban," bisiknya dingin.
Luka itu menjelma dendam. Intan bersumpah akan mengejar penipu itu ke mana pun demi menuntut balas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Bertahan dengan Sisa Keyakinan
Panas terik matahari pukul satu siang menghantam area konstruksi Zona Tiga tanpa ampun.
Bau tanah merah yang berdebu menyengat hidung, bercampur dengan aroma minyak solar dari mesin-mesin berat yang tak berhenti meraung.
Bagi Intan Saputri, berada di tengah lingkungan yang bising dan berantakan ini adalah ujian fisik terberat yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
Keringat dingin membasahi bagian belakang kemeja putihnya.
Pelipisnya meneteskan peluh, membuat beberapa helai rambut sebahunya menempel di pipi.
Kaki Intan yang terbungkus sepatu kets murah terasa pegal luar biasa setelah berjam-jam berdiri, memindahkan tumpukan kardus katering, dan menyusuri area proyek yang berdebu.
Namun, yang paling menyiksa bukanlah lelahnya fisik. Yang paling menantang adalah bagaimana ia harus menahan hempasan kenyataan bahwa pencarian ini bisa jadi merupakan jalan panjang yang menguras habis sisa-sisa tenaga dan keyakinannya.
"Ini daftar tanda terima untuk divisi mekanik, Tan."
"Tolong kamu minta stempel dan tanda tangan ke kantor direksi teknis di sebelah sana"
Seru Bang Doni sambil menunjuk sebuah bangunan semi-permanen dari kontainer bekas di sudut lapangan.
"Baik, Bang."
Jawab Intan dengan suara yang sedikit parau.
Ia memeluk papan jalan berklip di dadanya, melangkah di atas tanah merah yang bergelombang.
Di sekelilingnya, pandangan mata dari para pekerja proyek masih terus mengikutinya.
Siulan godaan dan gurauan kasar beberapa kali terdengar saat ia melintas.
"Mungil banget, Dek!"
"Awas kena debu nanti hilang!"
Tawa seorang pekerja berrompi oranye dari atas perancah besi.
Dahulu, godaan seperti itu akan langsung menghancurkan mental Intan, membuatnya ingin menangis dan bersembunyi di dalam kamar.
Namun kini, Intan bahkan tidak memiringkan kepalanya sedikit pun. Hatinya telah membeku, kebal dari segala macam cibiran.
Ia terus melangkah menuju kantor kontainer tersebut dengan tatapan lurus.
Ia mendorong pintu kaca kantor direksi teknis. Suara gemuruh mesin di luar seketika teredam oleh sapuan udara dingin dari pendingin ruangan.
Di dalam kontainer itu, terdapat beberapa meja kerja yang dipenuhi oleh tumpukan cetak biru (blueprints), helm keselamatan, dan komputer.
Tiga orang pria berseragam kemeja lapangan tampak sedang berdiskusi sengit di depan sebuah papan tulis.
"Permisi, Pak. Saya dari Katering Barokah."
"Mau minta tanda tangan dan stempel bukti terima untuk pengiriman hari ini"
Ujar Intan sopan namun tegas.
Salah seorang pria paruh baya berkacamata menoleh, mengusap dahinya yang berkerut.
"Oh, katering ya?"
"Mana nota tagihannya?"
Intan menyerahkan lembaran kertas di papan jalannya. Pria itu memeriksa sejenak, lalu membubuhkan tanda tangan dan stempel basah.
Saat pria itu sibuk menstempel kertas, mata Intan dengan cepat menyapu sekeliling ruangan.
Ia memperhatikan papan nama staf proyek, daftar kontraktor pelaksana, hingga bagur organisasi teknis yang tertempel di dinding.
Matanya tertuju pada satu baris nama daftar sub-kontraktor: PT Rian Cipta Konstruksi.
Jantung Intan seketika berdesir hebat. Dadanya yang semula dihinggapi rasa lelah mendadak seperti disengat aliran listrik.
Rian?
Apakah ada hubungannya dengan pria itu?
"Pak... maaf saya mau tanya"
Sela Intan pelan, mencoba menjaga suara dan ekspresi wajahnya agar tetap datar dan tak memicu kecurigaan.
Pria berkacamata itu mendongak.
"Ya?"
" Ada yang kurang?"
"Tidak, Pak."
"Saya hanya penasaran..."
" PT Rian Cipta Konstruksi itu sub-kontraktor untuk bagian apa ya, Pak?"
Tanya Intan.
Pria itu terkekeh pelan sambil menyerahkan kembali papan jalan milik Intan.
"Oh, itu?"
"Itu cuma nama perusahaan fiktif yang bulan lalu sempat bikin masalah di sini."
Ada orang ngaku-ngaku perwakilan mereka, minta modal uang muka material ke beberapa vendor kecil"
"Terus kabur bawa lari uangnya."
"Kasusnya sudah dilaporkan ke polisi, tapi pelakunya hilang begitu saja."
Bagaikan hantaman angin kencang, kenyataan itu menghantam dada Intan.
Modus operandi yang sama. Pola penipuan yang serupa.
Pria bernama Rian itu ternyata memang penipu kawakan yang sudah biasa melancarkan muslihatnya di kawasan industri ini.
Nama yang dipakainya palsu, perusahaannya palsu, dan jejak yang ditinggalkannya sengaja dibuat kabur agar tak mudah terlacak.
"Berarti... pelakunya belum tertangkap sampai sekarang, Pak?"
Desak Intan, matanya menatap lurus sang petugas teknis.
"Belum."
"Orang seperti itu biasanya pintar cuci tangan dan berpindah-pindah kota."
"Makanya, kalau ada penawaran investasi atau bisnis proyek dari orang tak dikenal, jangan mudah percaya, Mbak."
Ujar pria itu memberi nasihat.
Intan meremas tepi papan jalannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Terima kasih informasinya, Pak."
Ia keluar dari kantor kontainer tersebut dengan rasa sesak yang kembali merayap di tenggorokan.
Ternyata musuh yang dihadapinya jauh lebih lihai dan berpengalaman dari yang ia duga.
Pria itu bukan sekadar penipu amatir di aplikasi pencari jodoh, melainkan seorang predator kawakan yang menjadikan kepolosan orang lain sebagai mata pencahariannya.
Intan berjalan kembali menuju mobil bak terbuka milik katering.
Rasa lelah yang teramat sangat mendadak menyerbu seluruh persendian tubuhnya.
Uang simpanannya sudah menipis, pekerjaannya di katering sangat berat, dan sasaran yang ia kejar bagaikan menggenggam angin di tengah badai.
Apakah aku bisa berhasil?
Apakah gadis desa seperti aku benar-benar bisa menagih keadilan dari seorang penipu profesional?
Pertanyaan itu berputar-putar di dalam kepalanya, menguji ketahanan batinnya yang paling dalam.
Sisa-sisa keraguan mulai mencoba merusak benteng pertahanannya.
Ia menyandarkan tubuhnya di samping mobil bak terbuka, menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh bekas debu merah.
Senja mulai membayang di ufuk barat kawasan industri, mengubah warna langit menjadi keemasan yang muram.
Di saat rasa putus asa hampir merayap masuk, Intan merogoh saku celananya.
Ia menyentuh buku catatan hitam kecil miliknya. Ia mengingat kembali raut wajah ibunya yang menahan tangis di teras rumah, mengingat rasa sakit hati saat uang tabungannya raib, dan mengingat bersitan rasa malu yang harus ia tanggung di desanya.
Tidak. Ia tidak boleh berhenti di sini.
Jika ia menyerah sekarang, maka kepolosannya akan sia-sia.
Jika ia pulang dengan tangan kosong, ia akan selamanya menjadi Intan yang dulu—gadis yang mudah ditipu dan dikasihani.
"Dua juta rupiah itu mungkin lenyap, tapi rasa sakit ini tidak akan pernah hilang sebelum kamu membayar tuntas, Rian."
Bisik Intan dingin pada dirinya sendiri.
Intan menegakkan punggungnya kembali. Matanya yang sempat redup kini menyala kembali oleh sisa keyakinan yang mengeras.
Pria itu mungkin lihai menghapus jejak digital dan memalsukan identitas, tetapi pria itu tinggal dan bergerak di dunia yang sama dengannya.
Dan selama Intan masih bernapas, perburuan ini tidak akan pernah selesai.
"Yuk, Tan!"
"Kita balik ke ruko, barang sudah selesai diturunkan semua."
Panggil Bang Doni dari atas kabin mobil.
"Iya, Bang."
"Saya datang."
Jawab Intan mantap.
Dengan sisa tenaga dan keyakinan yang masih tersimpan di dadanya, Intan melompat naik ke atas mobil bak terbuka.
Langkahnya mungkin masih panjang dan penuh marabahaya, tetapi ia telah berjanji pada dirinya sendiri: ia tidak akan pernah berbalik arah.
*
*
*
*
Jangan lupa like, komen dan subscribe 😇
ceritanya bikin penasaran
rugi, mereka yg g baca karyamu
walau Maya aj belum bisa menguak siapa pelakunya