Mahardika yang harus menanggung penyakit kusta selama 3 tahun, setelah berobat di berbagai macam caranya, dari obat alternatif, hingga rumah sakit besar, tapi penyakitnya tak kunjung sembuh.
Hingga akhirnya, uang tabungan habis untuk berobat dan hanya tinggal sebidang tanah dan sebuah rumah yang tersisa. Dan itu tidak mungkin ia jual karena hanya itu satu-satunya peninggalan untuk anak dan istrinya.
Hingga akhirnya ia bermimpi ada seorang kakek datang dan memintanya untuk datang ke gunung Merapi jika ia mau sembuh.
Mahardika pun meminta izin dengan istrinya, dan berharap bisa sembuh jika ia berobat dengan kakek tersebut.
Hari berganti bulan, hingga akhirnya dia tahun berlalu. Kini Mahardika sudah sembuh total dan sehat kembali dan mendapatkan wasiat menjadi tabib.
Tapi saat ia pulang, alangkah terkejutnya dia. Karena rumah dan tanah itu sudah terjual, dan lebih sakitnya, anaknya ternyata di titipkan ke panti, sementara istrinya sudah menikah lagi.
Akhirnya ia membangun keh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Deretan mobil SUV hitam tanpa pelat nomor melaju kencang, lalu mendadak berhenti secara di depan pagar Klinik Herbal Nirwana Medika.
Ckiiiiiith!
Pintu-pintu mobil terbuka. Lebih dari dua puluh orang pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam dan kacamata gelap melangkah keluar.
Para pria itu memancarkan aura membunuh yang hingga membuat warga miskin yang sedang mengantre berobat langsung melangkah mundur ketakutan.
Srett! Klak-klak!
Tanpa peringatan, beberapa pria bertato di barisan depan menarik pistol dari balik jas mereka, mengarahkannya langsung ke udara dan ke arah para asisten klinik.
"Semua diam di tempat! Jangan ada yang bergerak atau mencoba memanggil polisi!" teriak seorang pria berpipi sumbing yang menjadi pimpinan pengawal.
Bayu dan para pemuda desa yang sedang menumbuk obat di halaman samping langsung berdiri, menutupi jalan masuk dengan wajah tegang.
"K-kalian siapa?! Ini tempat pengobatan, dilarang membawa senjata tajam atau senjata api ke sini!" gertak Bayu, berusaha memberanikan diri meski dadanya berdebar kencang.
Pria sumbing itu melangkah maju, lalu menghantamkan gagang pistolnya ke meja pendaftaran hingga kayu tebal itu terbelah dua. Brak!
"Tutup mulutmu, Bocah! Panggil tabib utama tempat ini sekarang juga! Jika bos kami tidak bisa disembuhkan hari ini, kami tidak cuma meratakan bangunan megah ini... kami akan membakar seluruh tempat ini beserta kalian hidup-hidup!" bentak pria sumbing itu garang.
Mahardika melangkah keluar dengan tenang. Di belakangnya, Amel memegang ujung baju ayahnya.
"Menodongkan senjata di tempat orang yang sedang berobat. Sopan santun kalian benar-benar buruk," kata Mahardika dengan suara rendah.
"Sopan santun?! Di dunia kami, senjata adalah aturan! Kamu yang bernama Mahardika, kan?! Jangan banyak bacot! Cepat obati bos kami!" perintah pria itu.
Pintu SUV bagian tengah terbuka. Dua orang pengawal bertubuh besar memapah seorang pria paruh baya keluar dari mobil.
Pria itu mengenakan kemeja sutra hitam berdada terbuka, memperlihatkan tato naga emas yang membentang di lehernya.
Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat, bibirnya menghitam, dan dari sela jarinya yang menekan dada, terus menetes darah berwarna kehitaman yang berbau amis.
Pria itu adalah Tuan Naga, pimpinan tertinggi sindikat Dunia Hitam yang menguasai wilayah pesisir luar kota.
Tuan Naga terbatuk keras. Darah kental kembali menyembur dari mulutnya, mengenai tanah gembur di depan pintu klinik.
"T-Tabib Mahardika... Mereka bilang... kamu punya ilmu ajaib. Sembuhkan aku... Berapa pun uang yang kamu minta... ratusan miliar... akan kuberikan..." suara Tuan Naga terdengar serak dan berat, dengan rasa sakit yang luar biasa.
Mahardika tidak melirik tumpukan koper uang yang dibawa anak buah Tuan Naga.
Ia memejamkan mata sejenak, mengaktifkan penglihatan tembus pandangnya.
Di dalam tubuh Tuan Naga, Mahardika melihat gumpalan energi hitam keunguan yang sangat pekat sedang mengamuk hebat.
Energi itu memakan saluran darah, menggerogoti organ dalam, dan menghancurkan pembuluh jantung Tuan Naga secara perlahan.
"Ini bukan penyakit medis... Ini adalah hantaman Chi Jahat tingkat tinggi. Seseorang telah menghantam pembuluh darah utamanya dengan teknik Pemutus Jantung," batin Mahardika.
Pria sumbing itu kembali mengacungkan pistolnya tepat ke dahi Mahardika. "Kenapa kamu malah diam?! Cepat obati Bos Naga! Kalau kamu menggelengkan kepala, kupastikan peluru ini menembus kepalamu detik ini juga!"
Amel melangkah satu langkah di depan ayahnya. "Paman jahat! Jangan nodong Papa pakai besi hitam itu!" teriak Amel membela ayahnya.
"Amel, mundur sebentar ya, Sayang," kata Mahardika lembut seraya mengusap rambut putrinya.
Mahardika lalu mendongak, menatap pria sumbing itu dengan energi kehidupan membuat tubuh mereka seketika lemas.
Brak! Deg!
Para pengawal bersenjata mendadak berlutut di atas tanah secara bersamaan.
Tangan mereka gemetar hebat, tak sanggup menahan bobot pistol yang tiba-tiba terasa seberat bongkahan besi ratusan kilogram.
Pistol-pistol itu terlepas dari genggaman dan jatuh di atas tanah.
"A-apa ini...?! Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?!" jerit pria sumbing itu dengan napas tersengal-sengal, matanya terbelalak penuh ketakutan.
Mahardika melangkah pelan mendekati pria sumbing itu, lalu menatapnya dari atas.
"Senjata api milikmu tidak ada artinya di sini. Nirwana Medika adalah tempat untuk menyelamatkan nyawa, bukan tempat untuk memamerkan kekerasan. Jika kamu ingin bosmu hidup, buang semua senjatamu dan berlututlah dengan benar!" kata Mahardika dingin.
Tuan Naga yang menyaksikan keajaiban tersebut merinding.
Pria tua yang sudah puluhan tahun melintasi pertumpahan darah di dunia hitam itu tahu betul, pemuda di hadapannya bukanlah manusia biasa.
Ini adalah sosok master ahli seni beladiri dan pengobatan tingkat legendaris yang mustahil dilawan dengan peluru!
"D-Diki... lempar senjatamu...! B-berlutut pada Tabib Mahardika... Cepat!" perintah Tuan Naga seraya menahan sakit.
"T-tapi Bos...!"
"Lakukan, Bodoh!" bentak Tuan Naga terbatuk-batuk.
Pria sumbing itu dan seluruh pengawalnya dengan wajah pucat pasi menundukkan kepala dalam-dalam ke tanah, memohon ampun. "Maafkan kami, Tabib! Ampuni kelakuan kami! Tolong selamatkan Bos kami!"
Mahardika menarik kembali tekanan energinya. Ia kemudian menatap Tuan Naga yang terkulai lemah.
"Bawa dia masuk ke dalam ruang perawatan," perintah Mahardika pada Bayu dan para asistennya.
"Energi racun di tubuhnya sudah hampir menyentuh jantung. Jika terlambat lima menit lagi, tidak akan ada obat di dunia ini yang sanggup menyelamatkan nyawanya," kata Mahardika denga suara tenang kembali.