Shania, seorang gadis modern, terjebak dalam tubuh Aurelia Valerius—istri dari Damian Valerius, jenderal tiran yang kejam dan membencinya. Mengetahui takdir aslinya akan berujung pada kehancuran dan penyiksaan, Shania memilih kabur diam-diam dan merintis hidup baru sebagai pembuat roti di sebuah kota kecil.
Sementara itu, Damian yang awalnya merasa lega mendadak tersiksa oleh kehampaan di rumahnya. Ketika ia berhasil menemukan sang istri yang kini hidup mandiri namun diliputi ketakutan mendalam, sang jenderal harus membayar mahal semua dosa masa lalunya untuk mendapatkan kembali hati wanita yang dulu ia abaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 7
Cengkeraman pada rahang bawah Shania terasa begitu keras, menghimpit kulitnya hingga menyisakan rasa sakit yang berdenyut-denyut. Kepala Shania terpaksa mendongak ke belakang, dipaksa untuk menyelaraskan sudut pandangnya dengan wajah sang Jenderal yang hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Di dalam jarak yang teramat dekat itu, aroma tembakau pekat dan hawa dingin perbatasan bercampur menjadi satu, menciptakan atmosfer menyesakkan yang membuat paru-paru Shania menolak bekerja.
Manik mata abu-abu badai milik Damian menghujam manik hijau wanita itu tanpa kedip. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tidak pula hardikan kasar seperti yang biasa dilemparkan para bangsawan lalim di istana. Yang ada hanyalah keheningan yang jauh lebih menakutkan—sebuah tatapan investigatif tingkat tinggi dari seorang komandan militer yang sedang membedah isi kepala tawarannya.
Damian mengamati setiap inci wajah di hadapannya. Ia mencari-cari sisa-sisa kepalsuan, secercah kilat kelicikan faksi Adipati Christopher, atau setidaknya topeng arogan yang selama bertahun-tahun selalu dikenakan oleh Aurelia Valerius setiap kali berhadapan dengannya.
Namun, yang ia temukan di dalam manik mata hijau itu hanyalah ketakutan murni, kepasrahan yang rapuh, dan pantulan bayangan dirinya sendiri sebagai algojo yang siap mencabut nyawa. Tidak ada rencana tersembunyi. Tidak ada skema pengkhianatan politik. Hanya ada kehampaan jiwa yang ketakutan setengah mati.
Alis tebal Damian semakin bertaut dalam. Garis rahangnya mengeras membentuk sudut yang tajam. Semakin ia mencoba mencari celah kebohongan di balik tatapan itu, semakin ia merasa asing dengan kenyataan di hadapannya. Wanita ini—yang dulu selalu menyambut kepulangannya dengan lemparan vas kristal dan jeritan histeris menuntut perhiasan berlian—kini berdiri di sudut dapur yang kotor, berlumuran tepung gandum, dengan tubuh gemetar hebat di bawah cengkeramannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang mematikan. Detak jantung Shania berpacu begitu cepat, memukul tulang rusuknya dengan brutal seakan ingin menjebol rongga dadanya. Ia tidak berani bernapas terlalu keras, takut embusan udaranya justru memicu kemarahan sang Jenderal.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Damian tiba-tiba mengempaskan tangan dan rahang Shania begitu saja.
Gerakan itu kasar dan mendadak. Shania, yang kehilangan topangan, terpelanting kecil ke belakang. Punggungnya menghantam sudut meja kayu, membuat napasnya tersengal tertahan. Ia meringis pelan, mencengkeram rahangnya yang terasa nyeri sambil merosot setengah duduk di atas lantai dapur yang dingin.
Damian tidak memandangnya lagi. Pria itu berdiri tegak, merapikan sarung tangan kulit hitamnya dengan gerakan dingin, lalu memutar tubuhnya dalam balutan mantel hitam berat. Tanpa mengeluarkan sepatah penjelasan atau ancaman verbal, sang Jenderal melangkah pergi meninggalkan dapur belakang. Derap sepatu lars militernya bergemerincing menjauh, menghilang perlahan di balik koridor batu yang sunyi, meninggalkan Shania seorang diri dengan sisa-sisa teror yang masih membekas di kulitnya.
Malam berlalu dengan lambat, membawa serta angin dingin musim semi yang menderu-deru di luar jendela jeruji besi kamar tidur utama. Shania menghabiskan sepanjang malam dalam terjaga, meringkuk di atas kasur luas yang terasa bagai padang es, meraba rahangnya yang masih menyisakan memar samar.
Keesokan harinya, ketika fajar menyingsing dengan warna kelabu pucat yang malas, atmosfer di Kediaman Valerius kembali diselimuti kesunyian yang kaku.
Jam menunjukkan pukul sembilan pagi ketika Damian, yang baru saja menyelesaikan laporan strategi militer bersama Kapten Julian di ruang kerja utama, memutuskan untuk berjalan menuju sayap timur untuk memeriksa barak pengawal pribadi. Jalur tercepat menuju barak tersebut adalah dengan melewati koridor dalam yang melintasi area domestik—sebuah jalur yang biasanya tidak pernah ia lalui karena menganggapnya tidak penting.
Langkah kaki Damian terhenti ketika ia mendapati pintu kayu dapur belakang terbuka separuh. Dari dalam ruangan kecil itu, samar-samar tercium aroma mentega panggang yang hangat, berpadu dengan manisnya vanila dan ragi.
Aroma itu lagi.
Alis Damian sedikit terangkat. Tanpa sadar, ia membelokkan arah langkahnya, mendekati pintu dapur belakang yang terbuka tanpa suara. Ia tidak berniat masuk; ia hanya berdiri di dekat dinding batu yang menjorok, menyembunyikan postur tubuh tingginya di balik bayangan koridor, lalu melayangkan pandangan dingin ke dalam ruangan melalui celah pintu.
Di dalam dapur yang sederhana itu, Shania berdiri di depan meja kayu.
Wanita itu tampak jauh lebih tenang dibanding kemarin. Jubah wol abu-abunya tergulung hingga siku, memperlihatkan pergelangan tangan putihnya yang kini dipenuhi noda tepung putih. Rambut panjang kecokelatannya diikat longgar ke belakang menggunakan sehelai pita kain sederhana, menyisakan beberapa helai anak rambut yang membingkai leher jenjangnya.
Aurelia sedang fokus. Gerakan tangannya tampak begitu telaten dan sabar. Ia sedang menekan gumpalan adonan roti di atas talenan, lalu melipatnya dengan presisi yang menunjukkan bahwa ia sangat menikmati proses tersebut. Sesekali, wanita itu meniup helai rambut yang jatuh menutupi matanya, lalu tersenyum tipis—sebuah senyuman kecil yang tulus, sangat asing, dan belum pernah disaksikan oleh siapa pun di kediaman ini selama bertahun-tahun pernikahan mereka.
Damian terpaku di tempatnya.
Jantung seorang jenderal perang yang terbiasa menghadapi pertumpahan darah mendadak melambat, terhipnotis oleh pemandangan yang teramat kontras di hadapannya. Tangan wanita itu—tangan yang dalam ingatan hukum kekaisaran seharusnya sibuk menuntut mahar permata, menandatangani surat utang belanjaan mewah, atau mencakar wajah para pelayan—kini belepotan tepung murah, merawat adonan roti dengan kelembutan yang menyentuh hati nurani yang paling dalam.
Tidak ada jeritan. Tidak ada amukan. Tidak ada topeng kebencian. Yang ada hanyalah sosok seorang wanita muda yang tampak begitu rapuh, namun di saat yang sama, memancarkan ketenangan batin yang tidak tersentuh oleh kekejaman dunia luar.
Damian menyipitkan mata abu-abunya, menatap lekat-lekat punggung Shania yang sedikit membungkuk. Gejolak rasa penasaran bercampur kecurigaan kembali menghantam benaknya. Siapa sebenarnya makhluk di hadapannya ini? Bagaimana bisa jiwa seorang wanita berubah seutuhnya hanya dalam kurun waktu beberapa hari?
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari ujung koridor yang berlawanan.
Seorang pelayan pria paruh baya berlari kecil membawa gulungan surat penting berstempel lilin merah kebesaran istana. Begitu melihat sosok sang Jenderal berdiri di dekat pintu dapur belakang, pelayan itu langsung menghentikan langkahnya, membungkuk dalam-dalam dengan napas tersengal.
"Y-Yang Mulia Jenderal!" panggil pelayan itu dengan suara bergetar ketakutan karena hampir menabrak atasannya. "Maafkan kelancangan hamba! Surat darurat baru saja tiba dari Senat Kekaisaran! Ini menyangkut pergerakan pasukan pemberontak di perbatasan selatan!"
Suara seruan pelayan itu cukup nyaring untuk memecah keheningan di dalam dapur belakang.
Shania, yang tadinya tenggelam dalam ketenangan adonannya, mendadak tersentak kaget. Gerakan tangannya terhenti seketika. Namanya atau suara di luar sana—ia tahu suara derap sepatu dan seruan itu milik siapa.
Dengan napas tercekat, Shania perlahan memutar kepalanya ke arah pintu masuk dapur.
Di ambang pintu, mata hijau Shania langsung beradu pandang dengan sepasang mata abu-abu badai milik Damian yang sedang menatapnya tajam dari balik bayangan koridor.
Belum sempat Shania menarik napas untuk menenangkan debar jantungnya, Damian—dengan ekspresi wajah yang mengeras dingin setelah mendengar laporan surat istana—tiba-tiba melangkah maju memasuki dapur kecil itu. Pria tersebut mengabaikan pelayan pembawa surat, mendekati meja tempat Shania berdiri, lalu mencengkeram pergelangan tangan wanita itu dengan erat secara tiba-tiba—
mampir diceritaku juga ya😊