NovelToon NovelToon
Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Penyesalan Suami: Istriku Ternyata Seorang Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat / CEO
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Kinara rela meninggalkan status sebagai anak konglomerat demi bisa menikah dengan kekasih hatinya. Ia rela hidup susah, menemani dari nol dan berjuang bersama dengan sang suami hingga sukses. Namun nyatanya semua pengorbanan itu tidak membuat kehidupan rumah tangga Kinara baik-baik saja. Setelah 5 tahun membina rumah tangga bersama, Rashid justru tega mengkhianatinya. Kinara ditalak dan dibuang begitu saja seperti barang yang tak lagi berguna.

Tak terima dikhianati, Kinara bertekad untuk membalas semua perbuatan mantan suami dan juga selingkuhannya. Mampukah Kinara kembali ke keluarga Santoso dan membalaskan dendam sakit hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 07 — Seseorang dari Masa Lalu

Menjelang sore, Kinara akhirnya menutup toko kuenya. Setelah seharian membersihkan tempat itu, tubuhnya memang terasa lelah, tetapi hatinya justru jauh lebih ringan.

Ia merasa memiliki sesuatu yang bisa dikerjakan tanpa harus memikirkan Rashid. Toko kecil itu mungkin sudah lama terbengkalai, tetapi bagi Kinara, tempat tersebut terasa seperti bagian dari dirinya yang akhirnya berhasil ia temukan kembali.

Shena sudah menunggunya di dalam mobil. Begitu Kinara masuk dan memasang sabuk pengaman, Shena langsung bertanya, "Sudah selesai?"

Kinara mengangguk. "Sudah. Besok aku akan mulai membuat beberapa kue untuk dijual."

Shena tersenyum, tapi raut wajahnya tetap merasa khawatir. "Bagus. Tapi, apa kau tidak masalah membuka kembali toko kue itu? Tanpa asisten pula. Aku tidak tega, bagaimana jika aku bicara saja dengan Om Harland?"

"Jangan! M-maksudku, bukannya aku tak mau kembali ke rumah. Hanya saja, kau tahu, kan? Jangan sekarang, Shen. Aku belum siap bertemu mereka. Aku ingin menenangkan diri dulu dan membuat diriku pantas untuk kembali." Kinara berucap pelan. Keinginan kembali itu sangat kuat, ia merindukan ayah dan ibu serta kakak-kakaknya, tetapi ia juga belum siap menghadapi mereka. 

"Baiklah jika itu kemauanmu, katakan padaku jika kau membutuhkan bantuan. Dan jika kau serius ingin mengembangkannya, aku bisa membantumu." Shena kembali menawarkan diri meskipun semalam, Kinara sudah menolak bantuannya. 

Kinara menoleh dan langsung menggeleng. "Jangan, kau cukup bantu aku dengan satu hal itu saja. Oke?"

Shena terkekeh. "Baiklah, baiklah, aku pasti akan menjalankan tugas darimu dengan sangat baik sehingga pria badjingan itu akan langsung tahu posisinya!" serunya dengan semangat menggebu-gebu.

Kinara menghela napas panjang, setiap teringat Rashid, ia kembali merasa bersalah dan bodoh. "Aku pasti sudah menyusahkan banyak orang, ya, Shen?" kepalanya tertunduk lesu. 

Kalimat itu membuat Shena terdiam sesaat sebelum akhirnya tertawa kecil. "Sudahlah, Ra. Setidaknya sekarang kau tidak meminta aku berinvestasi pada laki-laki yang tidak tahu berterima kasih itu lagi. Sudah, sudah, ayo kita pulang. Kau harus masak untukku hari ini, ya.”

“Oke, aku akan memasak makanan yang enak dan kau harus makan masakanku hingga habis.” 

Keduanya tertawa lebar seiring dengan mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Namun tawa itu tidak bertahan lama. Saat mereka baru beberapa meter meninggalkan toko, Shena tiba-tiba memperlambat laju mobil. Kinara yang menyadarinya segera menoleh.

"Kenapa?"

Shena tidak langsung menjawab. Tatapannya tertuju pada sebuah restoran di seberang jalan. Kinara mengikuti arah pandang sahabatnya. Kemudian tubuhnya seketika menegang.

Seorang pria baru saja keluar dari restoran. Tinggi dan tegap, mengenakan kemeja berwarna krem yang dipadukan dengan celana panjang gelap. Wajahnya terlihat lebih dewasa dibandingkan lima tahun lalu, tetapi Kinara masih mengenalinya hanya dalam sekali pandang.

“Arvian?” lirih Kinara, memperhatikan pria yang pernah menjadi kekasihnya itu selama beberapa detik.

Shena menghentikan mobilnya dan mengutuk dirinya sendiri karena sudah salah memilih jalan. “Maaf, aku seharusnya tidak lewat jalan ini.” 

Kinara tak menggubrisnya, ia membeku di tempat, matanya tertuju kepada Arvian yang sedang menggandeng seorang perempuan di sampingnya. Perempuan itu tampak anggun dan sesekali tersenyum ketika berbicara dengannya. Cara Arvian memperlakukannya terlihat begitu akrab dan penuh perhatian.

Kinara tidak mampu mengalihkan pandangan. "Shen, itu benar-benar Arvian yang kita kenal, kan?" tanyanya lirih . Suaranya hampir tidak terdengar.

"Benar, itu Arvian Wiraatmadja," jawab Shena pelan. “Dan perempuan yang di sampingnya itu adalah tunangannya.” 

Shena memperhatikan Kinara selama beberapa detik. “Kau baik-baik saja, Ra?” 

Kinara menoleh, lalu mengangguk dan tersenyum. “Aku baik-baik saja, senang rasanya bisa melihatnya lagi setelah 5 tahun.” 

Lima tahun telah berlalu, tetapi satu pertemuan singkat ternyata mampu mengembalikan begitu banyak kenangan yang selama ini berusaha Kinara kubur dalam-dalam. Arvian pernah menjadi bagian besar dalam hidupnya sebelum Rashid datang. 

Arvian mengenal Kinara jauh sebelum ia menjadi istri Rashid. Pria itu bahkan pernah berusaha meyakinkannya agar tidak meninggalkan keluarganya hanya demi pernikahan yang belum tentu berhasil. Namun Kinara tidak mendengarkannya.

Kala itu, Kinara mengira Arvian hanya tidak rela kehilangan dirinya. Saat itu, perasaan Kinara kepada Rashid membuatnya begitu yakin bahwa ia telah menemukan pria yang tepat. Ia lebih memilih Rashid dan meninggalkan Arvian begitu saja.

Shena menepuk bahu Kinara pelan hingga perempuan itu sedikit terperanjat, "Jangan mengharapkannya lagi, percayalah, dia bukan pria yang sama seperti 5 tahun lalu, Ra. Dia sudah berubah dan akan segera menikah."

Kinara langsung menoleh. "Aku tahu, Shen. Aku hanya tidak menyangka saja. Waktu berlalu begitu cepat, ya?"

“Apa kau menyesal meninggalkannya?” tanya Shena lagi.

Kinara mengedikkan bahu ringan. “Entahlah,” katanya lemah. “Aku lebih merasa bersalah padanya, Shen. Dia pria yang tulus. Tapi beruntunglah dia sudah menemukan pasangan hidupnya, aku turut bahagia untuknya.” 

“Tentu saja kau harus bahagia, kau tidak tahu seberapa hancurnya dia saat itu. Jika kau bertemu dengannya nanti, kau harus meminta maaf. Aku bicara seperti ini demi menyadarkanmu,” ucap Shena menohok. “Kalian berdua harus sama-sama melanjutkan kehidupan masing-masing.” 

Kinara terdiam. Tentu saja Shena benar. Lima tahun telah berlalu. Arvian berhak melanjutkan hidupnya. Ia juga berhak menemukan kebahagiaannya sendiri. Bahkan seharusnya Kinara merasa senang melihat pria yang pernah dicintainya itu akhirnya menemukan seseorang. Namun entah mengapa, dadanya terasa sesak.

"Ya, aku pasti akan meminta maaf padanya. Aku sudah berhutang maaf padanya," ucap Kinara akhirnya. Suaranya terdengar lirih. 

Shena meliriknya. "Kau baik-baik saja, kan?"

Kinara tersenyum tipis. "Kenapa aku tidak boleh baik-baik saja?" Ia menoleh dan memaksakan senyumnya. “Sudahlah, ayo kita pulang. Aku sangat lelah hari ini.” 

Shena tidak menjawab. Ia tahu sahabatnya terlalu pandai menyembunyikan perasaan.

Kinara kembali menatap Arvian. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan pria itu sekarang. Tidak ada lagi kehangatan yang dahulu selalu ia lihat ketika Arvian memandangnya. Tidak ada lagi rasa sakit yang pernah ia temukan ketika mereka berpisah. Yang terlihat hanya ketenangan, seolah lima tahun terakhir telah benar-benar menghapus dirinya dari kehidupan pria itu.

Kinara seharusnya merasa lega. Namun justru ada rasa perih yang tidak bisa dijelaskan. Bukan karena ia masih menginginkan Arvian. Setidaknya itulah yang ingin ia yakini. Melainkan karena untuk pertama kalinya, ia melihat dengan jelas akibat dari keputusan yang ia ambil lima tahun lalu. 

Shena akhirnya menyalakan mesin mobil. Sebelum mobil bergerak, Kinara sempat melihat Arvian untuk terakhir kalinya. 

Pria itu sudah masuk ke dalam mobil bersama calon istrinya. Tidak sekalipun ia menoleh ke arah Kinara. Entah mengapa, hal itu terasa lebih menyakitkan daripada yang seharusnya.

Kinara bersandar pada kursinya dan memejamkan mata.

Mobil mulai bergerak meninggalkan tempat itu. Namun tanpa diketahui Kinara, Arvian sempat melihat sebuah mobil yang baru saja melintas di hadapannya. Tatapannya berhenti sesaat ketika menyadari siapa yang berada di dalamnya dan ekspresi wajahnya berubah untuk sepersekian detik.

"Kenapa?" tanya perempuan di sampingnya.

Arvian segera mengalihkan pandangan. "Tidak ada apa-apa. Ayo pulang.”

1
yosh—
wah, kelas✨
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 🤭
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Tentu saja, pulanglah 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
setuju 👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😔
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😔
HK: 😔😔😔😔😔
total 1 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
serakah 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 👍🏻
Iffanaya 😽
double up kk 😁
Iffanaya 😽: semangat ya kak 💪
total 2 replies
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Janji harus ditepati 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
terlambat 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
mantan istrimu
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan 😏
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
pasti kerjaan Marisa 😤
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
tas dan juga kopernya
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
betul 😏
Iffanaya 😽
si jalang itu gk cukup kah jd pelakor skrng ngehancurin usaha mantan istri suami nya 😠
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Rasain kegagalanmu 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
hati" modus penjahat 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!