Diasingkan keluarga sendiri dan dituntut menopang hidup sang kakak yang seorang model, Aruna terbiasa mengalah hingga dijebak orang tuanya ke dalam pernikahan paksa dengan Kaivan Adikara. Kaivan yang dingin dan perfeksionis terlanjur menuduh Aruna sebagai wanita licik yang sengaja menjebaknya demi menumpang hidup, membuat hari-hari Aruna di rumah itu terasa makin kelam dan penuh prasangka.
Di tengah dinginnya dinding rumah Kaivan dan tekanan dari keluarga yang terus merendahkannya, Aruna perlahan belajar berhenti mengemis kasih sayang. Namun tepat saat Aruna mulai menyerah dan menutup hatinya rapat-rapat, Kaivan justru baru menyadari luka mendalam yang disimpan sang istri-memaksa pria itu berjuang dari nol untuk menebus kesalahannya sebelum semuanya terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9.Skenario yang rapi
Langkah kaki Kaivan terasa berat saat menaiki tiap anak tangga kayu menuju lantai dua area barat rumahnya. Tubuh Aruna yang berada di dalam papahannya terasa begitu ringan—jauh lebih ringan dari yang diperkirakan oleh pria bertubuh jangkung itu.
Rasa panas yang menguar dari kulit Aruna menembus kain kaos hitam Kaivan, seolah-olah tubuh gadis itu sedang dibakar oleh api demam yang sangat tinggi.
Kaivan tidak mempercepat langkahnya, tidak pula menunjukkan raut wajah panik.
Ekspresinya tetap datar, ingin, dan kaku, layaknya seorang pria yang hanya sedang memindahkan sebuah barang yang mengganggu pemandangan di ruang tengahnya.
Pria itu menyusuri koridor remang-remang hingga berhenti di depan sebuah pintu kayu polos di ujung lorong—kamar yang sejak awal memang disiapkan untuk Aruna.
Dengan menggunakan sikutnya, Kaivan mendorong pintu kayu yang tidak terkunci itu hingga terbuka perlahan.
Sensasi dingin dan asing langsung menyambutnya. Saat Kaivan melangkah masuk, keheningan yang tak biasa seolah menyergap indramu. Kamar itu terasa sangat suram, sepi, dan hampa. Tidak ada aroma parfum mahal, tidak ada hiasan mewah, dan tidak ada kesan hangat sebagaimana kamar seorang putri dari keluarga terpandang yang biasa Kaivan temui.
Kaivan melangkah mendekati tempat tidur berukuran sedang yang terletak di sudut ruangan. Ia membaringkan tubuh Aruna secara perlahan di atas kasur. Kepala Aruna terkulai lemas di atas bantal putih, wajahnya yang pucat pasi nampak semakin kontras dalam remangnya cahaya lampu kamar.
Sebelum berbalik meninggalkan ruangan itu, pandangan mata Kaivan yang tajam secara tidak sengaja mengedar, mengamati sekeliling kamar yang selama beberapa hari ini ditempati oleh Aruna.
Ruangan itu terlalu kosong. Di atas meja rias kecil, tidak ada botol-botol perawatan kulit mahal atau koleksi perhiasan yang berkilauan. Hanya ada sebuah sisir kayu sederhana dan satu botol pelembab bibir murah. Namun, yang paling menarik perhatian Kaivan adalah pintu lemari pakaian berbahan kayu veneer yang dibiarkan sedikit terbuka.
Di dalam lemari yang luas itu, hanya ada beberapa stel baju yang tergantung kaku.
Pemandangan itu membuat alis tebal Kaivan menyipit seketika.
Secara perlahan, langkah kakinya bergerak mendekati lemari tersebut. Kaivan memperhatikan pakaian-pakaian yang tergantung di sana dengan cermat. Itu bukan pakaian bermerek tinggi buatan perancang busana ternama.
Kain-kain itu tampak lusuh, pudar warnanya, bahkan ada beberapa bagian keliman benang di ujung lengannya yang sudah terurai karena sering dicuci. Pakaian itu adalah jenis pakaian murah yang biasa dijual di pasar grosir biasa.
Mengapa? bisik batin Kaivan, memunculkan sebersit keraguan yang membingungkan di kepala batu milik sang pria.
Ayah Aruna—Surya Rasyara—dikenal sebagai pengusaha kaya yang kerap memamerkan kemewahan di berbagai acara sosial. Kakak perempuannya, Karin, selalu tampil glamor dengan gaun-gaun impor dan perhiasan berharga ratusan juta rupiah yang sering bertengger di majalah-majalah gaya hidup. Orang tua dan kakaknya hidup dalam kemewahan yang serba ada. Lantas, mengapa Aruna—anak kandung dari keluarga yang sama—hidup dalam kesederhanaan yang tragis seperti ini? Mengapa baju-bajunya begitu lusuh?
Keheranan itu sempat membuat Kaivan mematung di depan lemari selama beberapa detik.
Namun, dengan cepat logika penuh prasangka milik Kaivan kembali mengambil alih pikirannya. Barikade pertahanan di dalam dadanya kembali berdiri kokoh.
Ah, tentu saja, batin Kaivan, mengulas senyum tipis yang penuh cemoohan dingin. Ini pasti bagian dari rencananya. Atau rencana keluarganya.
Kaivan mengepalkan tangannya di balik saku celana.
Pengalaman hidupnya yang keras mengajarkannya bahwa manusia sanggup melakukan sandiwara apa saja demi mencapai tujuannya. Bagi Kaivan, kesederhanaan Aruna yang terkesan mengenaskan ini tak lain adalah taktik manipulasi yang matang.
Keluarga Rasyara sengaja membentuk citra Aruna sebagai gadis malang yang tertindas agar Kaivan merasa iba, menurunkan kewaspadaannya, lalu tanpa sadar membiarkan gadis itu menguasai harta dan emosinya.
"Skenario yang sangat rapi," gumam Kaivan pelan, menatap Aruna dengan sorot mata yang kembali membeku dan penuh penghinaan.
"Kau berpura-pura menjadi korban agar aku luluh, bukan? Sayang sekali, Aruna... aku tidak semenjijikkan itu untuk terkecoh oleh akting murah seperti ini."
Pria itu berbalik hendak meninggalkan kamar tanpa niat untuk memedulikan Aruna lebih lanjut. Bagi Kaivan, pingsannya gadis itu hanyalah reaksi kelelahan biasa yang ditujukan untuk mencari perhatiannya.
Namun, baru dua langkah Kaivan berjalan menuju pintu, suara napas Aruna terdengar makin berat dan tersandat-sandat. Gadis itu mulai meracau pelan di dalam pingsannya. Tubuhnya yang terbaring di atas kasur bergetar hebat, menggigil di bawah rengkuhan demam tinggi yang makin menjadi-jadi.
Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergumam tanpa arah, menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Kaivan menghentikan langkahnya. Pria itu menghela napas panjang, merasa gusar dan sangat terganggu. Jika terjadi sesuatu yang fatal pada Aruna di dalam rumahnya, hal itu hanya akan mendatangkan kerumitan hukum dan kerugian bagi reputasinya.
Dengan wajah yang menyiratkan kejengkelan, Kaivan merogoh ponsel dari saku celananya. Ia menggeser layar dan mencari kontak dokter pribadinya.
"Dokter Adrian," ujar Kaivan begitu panggilan tersambung. Suaranya terdengar kaku dan dingin, tanpa ada nada kepanikan sedikit pun.
"Ada apa, Pak Kaivan? Apakah Anda merasa tidak sehat?" tanya suara di ujung telepon dengan nada sigap.
"Bukan saya. Seseorang di rumah ini pingsan dan tubuhnya panas," jawab Kaivan acuh tak acuh.
"Datang saja secepatnya. Bawa peralatan medis lengkap."
Tanpa menunggu balasan dari dokter pribadinya, Kaivan langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak.
Ia melempar ponselnya ke atas meja kecil di samping pintu, lalu bersedekap dada sambil menyandarkan punggungnya pada dinding kamar yang dingin, menunggu kedatangan sang dokter dengan tatapan mata yang tetap terkunci pada tubuh Aruna yang tak berdaya.
Kurang dari tiga puluh menit kemudian, Dokter Adrian—seorang pria paruh baya berwajah tenang dengan kacamata berbingkai tipis—tiba di kamar Aruna. Dengan sigap dan profesional, dr. Adrian membuka tas medisnya, mengeluarkan stetoskop, termometer digital, dan alat pengukur tekanan darah.
Kaivan berdiri beberapa langkah di belakang dr. Adrian, memperhatikan proses pemeriksaan itu dengan menyilangkan kedua tangannya di dada. Wajahnya tetap datar, tak menunjukkan kekhawatiran sedikit pun.
Dokter Adrian memeriksa suhu tubuh Aruna melalui dahi dan telinganya. Begitu melihat angka yang tertera di layar termometer digital, alis dokter paruh baya itu bertaut erat.
"Suhu tubuhnya mencapai 39,8 derajat Celsius," ujar dr. Adrian dengan suara serius. "Ini demam yang sangat tinggi, Pak Kaivan."
Dokter Adrian kemudian melanjutkan pemeriksaan pada denyut nadi dan tekanan darah Aruna. Ia juga menyibakkan sedikit kelopak mata bawah Aruna untuk melihat tingkat kepucatannya, lalu menekan lembut daerah perut dan lengannya. Semakin lama memeriksa, raut wajah dr. Adrian tampak makin prihatin.
"Bagaimana kondisinya, Dokter? Apakah dia hanya berpura-pura?" tanya Kaivan dengan nada sarkastik yang dingin.
Dokter Adrian menoleh, menatap Kaivan dengan tatapan heran dan tidak percaya atas pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh pengusaha muda tersebut.
"Berpura-pura?" Dokter Adrian menggelengkan kepala perlahan sambil menghela napas berat.
"Pak Kaivan, kondisi fisik wanita muda ini sangat buruk. Ini sama sekali bukan akting atau kepura-puraan."
"Maksud Anda?" alis Kaivan bertaut tipis.
Dokter Adrian membereskan sebagian alat medisnya lalu menjelaskan secara terperinci.
"Nona ini mengalami penurunan kondisi fisik yang sangat drastis atau drop total. Penyebab utamanya adalah kelelahan fisik yang ekstrem serta stres emosional yang amat berat dalam jangka waktu yang cukup lama. Tubuhnya sudah mencapai batas maksimal untuk bertahan."
Dokter Adrian jeda sejenak, menatap wajah pucat Aruna yang terbaring kaku, lalu kembali menatap Kaivan.
"Dan yang paling memprihatinkan... Nona ini mengalami malnutrisi kronis. Dia sangat kekurangan gizi karena jarang makan."
Mendengar kata 'kekurangan gizi', dada Kaivan terasa seperti mendapat pukulan kecil yang tak kasat mata. Namun, pria itu dengan cepat menyembunyikan keterkejutannya di balik raut wajah yang kaku.
"Kekurangan gizi?" ulang Kaivan dengan nada datar, seolah kata itu terasa sangat aneh baginya. "Dia adalah putri dari keluarga Rasyara. Bagaimana mungkin dia kekurangan gizi?"
"Saya tidak tahu latar belakangnya, Pak Kaivan," balas dr. Adrian tegas namun sopan.
"Tetapi hasil pemeriksaan fisik tidak pernah berbohong. Tekanan darahnya sangat rendah, kadar gula darahnya merosot drastis, dan jaringan ototnya menunjukkan bahwa dia sudah sangat jarang makan makanan bergizi dalam waktu yang lama. Dia seperti orang yang dibiarkan kelaparan atau hanya diberi makan seadanya selama bertahun-tahun. Ditambah dengan beban kerja fisik dan tekanan mental, imun tubuhnya runtuh total."
Dokter Adrian segera menyiapkan cairan infus beserta vitamin dan obat penurun demam dosis tinggi. Dengan cekatan, sang dokter menusukkan jarum infus ke punggung tangan Aruna yang kurus dan dingin, lalu menggantungkan kantung cairan di tiang besi di samping tempat tidur.
"Saya sudah memasangkan infus cairan glukosa dan obat penurun panas," kata dr. Adrian setelah selesai menata peralatan.
"Nona ini harus beristirahat total. Jangan biarkan dia melakukan aktivitas fisik berat terlebih dahulu. Saat dia sadar nanti, berikan dia makanan bertekstur lembut seperti bubur dan pastikan dia meminum obatnya secara teratur."
Kaivan merengkuh napas pelan. "Apakah perlu dibawa ke rumah sakit?"
"Untuk saat ini belum perlu, kecuali jika demamnya tidak kunjung turun dalam delapan jam ke depan," jawab dr. Adrian.
"Saya sudah memasukkan obat yang cukup kuat melalui cairan infus. Saya akan meninggalkan beberapa resep dan obat-obatan di meja. Jika ada perkembangan buruk, segera hubungi saya kembali."
"Baik. Terima kasih, Dokter Adrian," sahut Kaivan singkat.
Kaivan mengantar dr. Adrian menuju pintu depan rumah. Setelah melunasi biaya pemeriksaan dan mengantar sang dokter hingga ke pelataran, Kaivan kembali berjalan menyusuri rumahnya yang sepi.
Langkah kakinya kembali membawa pria itu berdiri di ambang pintu kamar Aruna.
Di dalam kamar yang remang-remang itu, suara tetesan cairan infus yang jatuh satu per satu terasa sangat mendominasi. Tubuh Aruna terbaring kaku dengan selang infus yang menancap di tangannya. Wajahnya masih pucat, namun napasnya sudah sedikit lebih teratur dibandingkan sebelumnya.
Kaivan berjalan mendekati sisi tempat tidur. Pria berhati dingin itu menatap kantung infus yang tergantung, lalu beralih memperhatikan wajah Aruna dari jarak dekat.
Kekurangan gizi? Jarang makan? Kelelahan ekstrem?
Kata-kata dr. Adrian kembali berputar-putar di dalam benak Kaivan. Pria itu mengepalkan jemarinya kencang-kencang. Hatinya yang keras bergejolak pelan, mencoba memproses fakta medis yang baru saja ia dengar. Logikanya yang penuh prasangka kembali menolak kenyataan tersebut.
Keluarga Rasyara adalah keluarga kaya raya, batin Kaivan membentak pikirannya sendiri. Tidak mungkin seorang anak pengusaha bisa mengalami malnutrisi. Ini pasti trik lain. Mungkin dia sengaja melaparkan dirinya sendiri sebelum datang ke rumah ini agar terlihat menyedihkan di depanku.
Ya, bagi Kaivan yang sudah terbiasa dengan kepalsuan dunia bisnis dan pengkhianatan orang terdekatnya, pikiran buruk adalah satu-satunya benteng untuk melindungi dirinya agar tidak kembali dimanfaatkan. Ia menolak percaya bahwa ada ketulusan atau penderitaan nyata pada diri Aruna.
Kaivan menarik napas panjang, melangkah mundur menjauhi tempat tidur Aruna. Sorot matanya yang membeku kembali terlihat jelas.
"Kau pikir dengan cara menyiksa tubuhmu sendiri seperti ini, kau bisa membuatku kasihan padamu, Aruna?" gumam Kaivan sangat pelan, dengan nada suara yang begitu dingin dan menusuk.
"Trikmu sangat menyedihkan. Sampai kapan pun, kau tetaplah seorang Rasyara... dan aku tidak akan pernah sudi tertipu oleh rasa iba."
Dengan gerakan kaku dan tanpa simpati sedikit pun, Kaivan membalikkan badan dan melangkah keluar dari kamar tersebut, menutup pintu kayu itu rapat-rapat, meninggalkan Aruna sendirian dalam suramnya malam dan dinginnya ruang yang sepi.
_Bersambung