NovelToon NovelToon
TEROR!

TEROR!

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Hantu
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Maple_Latte

Sinopsis

Sabrina, seorang gadis desa yang cerdas, berhasil meraih impiannya berkuliah di kampus elite ibu kota lewat jalur beasiswa.

Namun, kehidupan barunya yang tampak sempurna hancur berantakan ketika sebuah tragedi tak terduga terjadi: Sabrina nekat melompat dari lantai atas gedung kampus dan tewas seketika.

Kematian tragis tersebut menyisakan tanda tanya besar bagi orang-orang di sekitarnya. Apa yang sebenarnya terjadi di balik tembok kampus megah itu hingga mendorong Sabrina mengambil langkah se-ekstrem itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jeritan histeris!

Enam bulan kemudian...

Langkah kaki Sabrina terasa begitu berat, seolah setiap pijakan di atas anak tangga semen yang dingin diikat oleh rantai besi yang tak terlihat.

Dengan tubuh yang lemas dan tak berdaya, ia menaiki anak tangga satu persatu, hingga anak tangga terakhir. Ia mendorong pintu besi menuju atap gedung, membiarkan derit nyaring engselnya menembus kesunyian dan terlempar bersama angin sore.

Udara dingin seketika menyapa wajahnya yang pucat. Namun, rasa dingin di luar sana sama sekali tak sebanding dengan kekosongan membeku yang memenuhi dadanya.

Sabrina berjalan tanpa ragu sedikit pun menuju bibir atap gedung. Pandangannya lurus ke depan, begitu hampa dan tak berjiwa, menembus riuk pemandangan di bawah sana, di mana para mahasiswa bersiap pulang dan sebagian lagi baru tiba.

Gadis itu berdiri tepat di tepi atap yang curam. Angin kencang mempermainkan rambut dan kibasan kemeja sederhananya. Namun, pandangannya tetap kosong, seakan rasa sakit telah menelan akal sehatnya.

Kedua tangannya perlahan terangkat, bergerak gemetar menyentuh perutnya, dia lalu menangis dalam diam, hanya tetesan air mata yang membasahi pipinya yang menjadi saksi atas luka yang di deritanya.

Air mata itu mengalir tanpa suara. Di bawah sana, suasana terlihat begitu bising dan ramai oleh orang-orang yang berlalu-lalang, tanpa pernah menyadari , di atas kedung itu, Sabrina sedang bertarung dengan jiwanya yang menjerit penuh kehampaan.

Di ketinggian ini, di bawah senja yang perlahan meredup menuju gelap, Sabrina memejamkan matanya rapat-rapat.

Rasa sakit yang melukai, kepedihan pengkhianatan, dan rasa malu yang begitu berat menghimpit dada seolah menyatu menjadi sebuah dorongan yang tak lagi tertahankan.

Dengan jemari yang masih mendekap erat perutnya dan air mata yang terus menetes tanpa henti, ia menarik napas panjang terakhirnya. Sabrina bersiap menyerahkan seluruh rasa sakit itu pada kehampaan udara sore yang dingin.

Dari tempatnya berdiri, manusia di pelataran bawah tampak begitu kecil. Tanpa keraguan lagi dia mencondongkan tubuhnya, menyerahkan diri pada kehampaan udara kosong di bawah sana.

BUK!

​Sebuah benturan hebat dan pekat menghantam lantai ubin pelataran kampus secara brutal.

Suara hantaman dahsyat itu memutus bisingnya tawa dan obrolan ratusan mahasiswa di bawah sana, membekukan waktu dan menyisakan keheningan yang teramat mencekam di Universitas Artha Persada.

Keheningan yang membekukan itu hanya bertahan selama sekejap mata, sebelum akhirnya pecah oleh gelombang histeria yang luar biasa.

"AAAAAAHHH!"

Jeritan melengking dari seorang mahasiswi di barisan depan membelah udara sore itu. Pekikan itu begitu nyaring dan penuh ketakutan, menjadi pematik dari kekacauan massal yang seketika melanda seluruh pelataran kampus.

Lantai ubin abu-abu yang tadinya bersih kini bersimbah cairan merah pekat yang mengalir deras, menyebar cepat dari tubuh kaku Sabrina yang terhempas dalam posisi tak wajar.

Pemandangan mengerikan itu tersaji begitu brutal di depan mata ratusan pasang insan yang baru saja bersiap untuk pulang.

Mereka mundur beberapa langkah dengan wajah yang pucat pasi bak mayat. Dengan tubuh gemetar hebat, meremas erat lengan temannya yang sama-sama mematung ketakutan.

Beberapa mahasiswi yang berdiri paling dekat dengan lokasi jatuhnya Sabrina langsung jatuh terduduk di atas ubin, tak sanggup menopang kaki mereka yang mendadak lemas.

Tangisan histeris meledak di mana-mana. Ada yang berteriak meminta tolong dengan suara tercekat, ada yang menutup mata rapat-rapat sambil bersembunyi di balik punggung rekannya, dan tak sedikit yang langsung berbalik arah lalu muntah karena tak kuat menyaksikan dampak benturan dahsyat tersebut.

"Tolong! tolong!" jerit mahasiswi berpakaian kemeja biru yang melihat jelas detik-detik tubuh Sabrina menghantam lantai. Isak tangisnya pecah menjadi raungan panik, matanya melotot lebar menatap noda darah yang makin meluas hingga hampir menyentuh ujung sepatunya.

Suasana pelataran berubah menjadi mimpi buruk yang riuh dan mencekam. Jeritan histeris dari para mahasiswa perempuan bersahut-sahutan di antara deru langkah kaki orang-orang yang berlarian panik.

Di tengah pusaran kekacauan dan kepanikan massal itu, jasad Sabrina terbaring kaku dan tak lagi bernyawa, dikelilingi oleh lembar-lembar kertas modul yang kini bernoda merah pekat.

Kerumunan mahasiswa yang panik mulai mendesak mundur, membentuk lingkaran besar yang menyisakan ruang kosong di tengah pelataran.

Beberapa petugas keamanan kampus berlari terengah-engah membelah barisan manusia, wajah mereka yang biasanya tegas kini berubah pucat pasi saat menyaksikan genangan darah yang makin meluas.

​"Mundur! Semuanya mundur! Jangan ada yang mendekat!" teriak salah satu satpam dengan suara bergetar.

"Ada apa?!" cerceh Rian panik. Ia, Fano, dan Adrian yang baru saja melangkah keluar dari lorong gedung tertegun menyaksikan kekacauan massal di pelataran utama.

Napas mereka memburu, dahi mereka berkerut dalam melihat kerumunan mahasiswa yang memadat rapat, sementara jeritan histeris dari para mahasiswa perempuan terus melengking membelah udara sore.

Suasana di tempat itu mendadak begitu pekat dan mencekam. Rasa penasaran yang bercampur firasat buruk mendorong ketiga pria itu untuk segera menerobos barisan manusia.

"Misi! Permisi! Kasi jalan!" teriak Adrian keras seraya menyikut kasar bahu-bahu mahasiswa yang berjejal di hadapan mereka.

Dengan membelah kerumunan secara paksa, mereka bertiga akhirnya berhasil merangsek sampai ke barisan paling depan, tepat di batas jalur pejalan kaki. Namun, begitu pandangan mereka terbuka lebar, langkah kaki ketiganya seketika terkunci mati. Waktu seolah berhenti berputar.

Pemandangan mengerikan yang terpampang tepat di depan mata membuat dada mereka serasa dihantam godam berat. Muka Adrian, Rian, dan Fano mendadak pucat pasi, benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja disaksikan oleh mata kepala mereka sendiri.

Di atas ubin abu-abu yang dingin, sesosok tubuh terbaring kaku dalam posisi yang tak wajar. Genangan darah segar berwarna merah pekat yang membazir di sekelilingnya terus mengalir meluas, membasahi lembar-lembar modul praktikum yang berantakan.

Rian menutup mulutnya dengan tangan yang gemetar hebat, mundur setengah langkah karena ketakutan dan rasa mual yang mendadak menyerang perutnya.

"Itu... itu kan..."

"Sabrina?!" pungkasi Adrian dengan teriakan tertahan yang bergetar.

Ketiga sahabat itu saling pandang, tak percaya, dengan apa yang mereka lihat. Di depan mereka tubuh Sabrina kaki dengan darah yang mengalir deras dari kepalanya yang hancur.

****

Untuk para pembaca, karya author kali ini alurnya akan maju mundur ya. Masa kini, lalu mundur lagi ke belakang.

1
Nurr Tika
apa teman"julian ada hubunganya dengan kematian sabrina
Nurr Tika
julian km ga akan hidup tenang
Nurr Tika
kayanya sabrina hamil terus julian ga mau tanggung jawab
Nurr Tika
nanti km menyesal sabrina
Nurr Tika
sabrina knpa langsung suka sih harusnya selidiki dulu
Nurr Tika
ternyata julian palayboy
Siti Yatmi
nah kan..bener 1 lagi test pack menghancurkan wanita bodoh....sabrina kamu sadar ga sih...kamu itu cinta bukan budak nafsu, setiap ketemu ko pasti anu2..ya hamil lah...
Siti Yatmi
test pack.....jawaban yg selalu membuat hancur wanita bodoh....
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..kasian banget kamu, terlalu naif kamu jd cwe....
Siti Yatmi
nah..kan hamidun...deh...hadehhh..sabrina oon amat sih..ga selamanya itu pil bisa cegah kehamilan...astogeeeee....
Siti Yatmi
masih abu2 sementara..menerka nerka...😄
Siti Yatmi
ya Tuhan sabrina..lo mah bukan polos, tapi begoooo....pacaran aja belom lama, udh mau aja di anu anu..haduhh
Siti Yatmi
hadehhh .julian....kamu mah bukan cinta, tapi nafsu....harus nya sabrina jgn mau...
Siti Yatmi
ngga ada caption nya thor..🤣
Siti Yatmi
thor...itu flash back kah???sumpah..ga mudeng aku...😄
Maple latte: iya itu flashback🤭 aduhh🤣
total 1 replies
Siti Yatmi
kaya lagu kotak...🤭
Siti Yatmi
masih teka teki banget..hemmmm...ayo thor...jadi penasaran tingkat dewa...wk2
Maple latte: 🥰🥰 Sabar ya, pelan2 aja🤭
total 1 replies
Siti Yatmi
ya ampun julian....org mah ikut kata hati, bukan kata temen, ya kali temen lu mati, lu juga ikut..dablek banget ih...
Siti Yatmi
kaya nya julian cinta sama sabrina,tapi ego nya terlalu tinggi, kasian sabrina ..
Riska Salahudin
masih penasaran apa yg membuat sabrina bundir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!