NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Turunin ego lo dikit...

“What the hell?! Lo lagi ngapain?”

Gerakan Naresa yang akan mengangkat koper ke tangga seketika terhenti. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Kale berdiri di lantai bawah.

“Lo ngangkat semua koper ini sendirian?” tanya Kale, melirik dua koper besar yang berjajar di dekatnya, lalu satu koper yang sedang Naresa pegang.

Naresa hanya tersenyum kikuk. Entah kenapa, rasanya seperti baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang memalukan. Padahal, ia hanya sedang mengangkat koper. Namun, melihat ekspresi Kale yang tampak begitu terkejut membuatnya semakin salah tingkah.

“Salahin kakakmu, tuh!”

Naresa langsung terdiam. Bibirnya terkatup rapat, seolah baru menyadari apa yang baru saja ia katakan. “Maksudnya… aku kan butuh barang-barangku. Ya, pokoknya gitu.” Ia mengalihkan pandangan.

Kale menatapnya beberapa saat tanpa berkata apa-apa. Sebelum akhirnya ia menaiki beberapa anak tangga hingga berhenti tak jauh di bawah posisi Naresa.

“Sini. Biar gue aja yang bawa.”

Sebelum Naresa sempat menjawab, Kale sudah mengambil gagang koper dari tangannya.

Naresa hanya diam dan bergeser sedikit, memberi jalan pada Kale yang membawa koper itu menaiki tangga, diikuti Naresa beberapa langkah di belakangnya.

“Koper seberat ini lo bawa sendiri?” Kata Kale begitu tiba di lantai atas. Ia meletakkan koper tersebut di samping koper lain yang sudah berdiri di dekat kamar.

“Lo kayaknya batu banget, ya."

Naresa mengerjapkan mata. Ia tidak tahu harus menanggapi ucapan itu sebagai sindiran semata atau memang ada maksud lain di baliknya.

“Kalau ada apa-apa itu ngomong. Di sini kan ada Pak Ratman.”

“Ya kan Pak Ratman-nya lagi nggak ada.”

“Kan ada gue. Apa susahnya tinggal bilang?”

Naresa mengangkat kedua bahunya santai. “Ya udahlah. Mau gimana lagi? Udah terjadi juga, kan?”

Kale masih menatapnya, seolah belum puas dengan jawaban itu. “Jadi, semua koper ini lo bawa dari rumah?”

“Iya. Kenapa sih?” Naresa menghela napas kecil. “Jangan terlalu dikejut-kejutkan gitu dong. Biasa aja kali.”

Ia melangkah melewati Kale, lalu mendorong salah satu koper itu masuk ke dalam kamar. “Kalau mau bantu silahkan. Dan makasih udah bantu.”

...…...

“I’m dead.”

Kale langsung merebahkan dirinya ke sofa begitu selesai membawa dua koper yang tersisa. Ia menyandarkan kepala pada sandaran sofa dan menengadah menatap langit-langit, berusaha menetralkan napasnya yang masih memburu setelah menaiki tangga sambil membawa koper-koper tersebut.

“Gitu aja capek,” ujar Naresa begitu meletakkan segelas air putih di atas meja kaca di hadapan Kale.

Mendengar itu, Kale mengalihkan pandangannya menatap Naresa yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. “Ya wajar lah. Orang gue nggak peregangan dulu.” Kale bangkit sedikit dari sandaran sofa, lalu meraih gelas yang sudah disiapkan Naresa. “Kaget nih otot-otot gue.”

Air dalam gelas itu diteguknya hingga habis dalam sekali tegukan. Setelahnya, Kale meletakkan gelas kosong tersebut di atas meja dengan gerakan sedikit kasar hingga bunyi TAK terdengar di antara suasana ruangan.

“Coba turunin ego lo dikit.” Kale menarik napas panjang, lalu mengangkat pandangannya ke Naresa. “Nggak semua hal harus lo lakuin sendiri. Apalagi ngangkat barang berat kayak gini.”

Nada bicara Kale tetap lugas, tanpa sedikitpun usaha untuk memperhalus apa yang hendak disampaikannya. “Kalau mau ngangkat beban kayak gitu, minimal peregangan dulu. Otot juga perlu dipanasin. Kalau sampai cedera, yang repot lo sendiri.”

“Apalagi lo kan cewek…” Kale melanjutkan ketika melihat Naresa hanya diam menatapnya. “Kenapa nggak nunggu si Ardan aja, sih?”

Raut wajah Naresa langsung berubah muram. Ia menatap Kale beberapa saat, masih diam menghadapi rentetan nasihat yang terasa seperti omelan itu. Entah memang begitu cara Kale menunjukkan kepedulian atau lelaki itu memang tidak tahu bagaimana cara menyampaikannya dengan lebih baik, Naresa tidak ingin memperpanjangnya.

“Makasih udah bantuin.”

Setelah mengatakan itu, Naresa berbalik sebelum Kale sempat menanggapi. Ia masuk ke kamar, kemudian menutup pintu di belakangnya, meninggalkan Kale seorang diri.

“Di kasih tahu malah ngambek,” gumam Kale lirih.

Ia kembali menyandarkan tubuhnya pada sofa yang terasa jauh lebih nyaman daripada yang ia ingat. Napasnya memang sudah mulai kembali normal, tetapi rasa lelah masih terasa di bahu dan lengannya. Keringat yang membasahi tengkuk pun belum sepenuhnya mengering.

Niat awalnya keluar dari kamar tadi sebenarnya untuk mencari lokasi yang cocok dijadikan studio pribadinya. Namun, niat itu urung begitu saja. Setelah berkeringat sebanyak ini, rasanya malas untuk kembali keluar rumah. Sepertinya, mencari tempat untuk studionya bisa ditunda sampai besok.

Pandangannya kemudian berkeliling, mengikuti setiap sudut ruangan yang perlahan terasa asing sekaligus akrab. Sudah lama sekali ia tidak berada di sini.

Setelah lulus SMA, Kale langsung pergi ke luar negeri untuk melanjutkan kuliahnya sekaligus memulai hidupnya sendiri di sana. Bertahun-tahun ia habiskan jauh dari rumah hingga tempat ini perlahan menjadi bagian dari masa lalu yang nyaris tak pernah lagi ia pikirkan. Namun, begitu duduk di sofa ini, beberapa kenangan yang selama bertahun-tahun tersimpan jauh di sudut ingatannya seolah muncul kembali satu per satu.

Dulu, lantai atas ini menjadi bagian dari kehidupan Kale dan Ardan sejak mereka masih kecil hingga beranjak dewasa. Ia masih ingat bagaimana mereka bebas keluar-masuk kamar masing-masing, menghabiskan waktu bersama tanpa pernah memikirkan batas ruang seperti sekarang.

Kini, semuanya tampak berbeda. Tata ruangnya memang tidak sepenuhnya berubah, tetapi suasananya sudah bukan lagi milik dua bersaudara itu. Sejak Ardan menikah, ibu mereka memutuskan menjadikan lantai atas sebagai ruang privat bagi Ardan dan Naresa.

Kale mengalihkan pandangan ke arah kamar yang baru saja dimasuki kakak iparnya.

Dulu kamar itu milik Ardan. Sekarang, kamar itu menjadi rumah kecil bagi Ardan dan istrinya.

Entah mengapa, menyadari hal tersebut membuat Kale tersenyum tipis. Ada sesuatu yang aneh dari kembali ke rumah setelah bertahun-tahun pergi. Tempatnya masih sama, tetapi banyak hal di dalamnya sudah tidak lagi menunggunya seperti dulu.

Untuk beberapa saat, ia tidak berniat beranjak ke mana-mana. Ia hanya ingin duduk sebentar di tempat yang dulu pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Sementara itu, di dalam kamar, Naresa juga sedang berusaha menenangkan pikirannya sendiri. Ia mengembuskan napas panjang sebelum membaringkan tubuhnya di atas ranjang, lalu menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang masih dipenuhi perkataan Kale.

Sebenarnya, Naresa tahu Kale tidak sedang bermaksud buruk. Hanya saya, cara lelaki itu menyampaikan semuanya terasa terlalu blak-blakan. Alih-alih terdengar seperti bentuk perhatian, perkataan Kale justru membuatnya merasa seperti sedang dimarahi karena melakukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lakukan.

Padahal, Naresa tidak merasa perlu diperlakukan seperti seseorang yang tidak tahu batas kemampuan tubuhnya sendiri. Ia hanya ingin membawa barang-barangnya ke kamar ini.

Mengandalkan Ardan pun rasanya tidak banyak membantu. Suaminya itu hanya mengatakan nanti, tetapi kapan tepatnya “nanti” itu datang? Ia tahu Ardan sedang sibuk dengan urusan perusahaan milik keluarga besar mereka, perusahaan yang sejak awal didirikan oleh nenek Ardan. Naresa sendiri tidak tahu banyak tentang apa yang sedang dihadapi suaminya. Setiap kali Ardan bercerita tentang rumitnya urusan perusahaan, ia hanya bisa mendengarkan. Sebisa mungkin, ia tidak ingin menambah beban pikiran Ardan dengan hal-hal kecil yang sebenarnya masih mampu ia urus sendiri.

Selama masih bisa melakukannya sendiri, kenapa tidak? Toh, ia juga tidak setiap hari mengangkat barang-barang berat seperti tadi.

Hanya saja, mungkin persoalannya memang bukan pada apa yang dikatakan Kale, melainkan bagaimana keluarga Ardan terbiasa mengatakannya. Mereka mengatakan apa pun yang ada di kepala mereka tanpa terlalu memikirkan bagaimana perkataan itu akan diterima orang lain. Dan Naresa belum terbiasa dengan itu. Hatinya terlalu rapuh untuk menghadapi ketegasan keluarga besar Ardan yang terkadang terasa seperti hantaman, bahkan ketika yang mereka maksudkan sebenarnya adalah bentuk perhatian.

Naresa kembali mengembuskan napas panjang.

“Kok Kak Ardan beda, ya, sama mereka?” Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya.

Untuk pertama kalinya, Naresa menyadari bahwa meskipun Ardan tumbuh di tengah keluarga yang begitu blak-blakan, cara Ardan memperlakukannya terasa berbeda.

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!