NovelToon NovelToon
Antara Benci Dan Cinta

Antara Benci Dan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Pernikahan ini bukan tentang cinta, melainkan sebuah hukuman.

Bagi Alvan, Andira adalah wanita berdarah dingin yang harus membayar kematian adiknya. Demi membalas dendam, ia mengikat Andira dalam pernikahan sedingin es yang penuh aturan ketat dan kebencian.

Bagi Andira, pernikahan ini adalah satu-satunya cara membuktikan bahwa ia tidak bersalah dan mengungkap kebenaran di balik jebakan kelam keluarga sendiri.

Namun, saat rahasia mulai terkuak dan dalang sebenarnya bersembunyi di balik senyuman terdekat, akankah benih cinta sanggup tumbuh di atas tanah dendam?

"Aku menikahimu bukan untuk membahagiakanmu, Andira, tapi untuk memastikan kamu membayar setiap tetes air mata keluargaku."

Kita Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Antara Benci Dan Cinta.
By - Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Malam semakin larut di mansion Samudra, tetapi ketegangan yang ditinggalkan oleh ledakan emosi Elena justru menggantung makin pekat di udara. Map tebal berisi kertas-kertas transaksi rahasia palsu itu kini tergeletak di atas meja kerja Alvan.

Di ruang keluarga lantai bawah, Elena melancarkan serangan berikutnya. Dengan langkah gemulai dan raut wajah penuh duka yang dipoles sempurna, Elena duduk berlutut di sebelah kursi roda Ibu Rosa.

"Ibu..." bisik Elena, suaranya gemetar menahan tangis yang sengaja dibuat terdengar memilukan. Tangannya memegang erat telapak tangan Ibu Rosa yang dingin. "Elena takut sekali... Elena baru tahu kalau ternyata Mbak Andira dan ayah sudah lama mengincar aset Mas Roy. Bukti transaksi bank asing yang Elena temukan itu sudah sangat jelas."

Ibu Rosa mengusap rambut Elena dengan tangan gemetar. Dadanya naik turun menahan amarah yang kembali membakar jiwanya. "Kasihan kamu, Elena... Kasihan Roy-ku. Anakku yang malang tewas di tangan wanita pemeras itu!"

"Ibu harus kuat," lanjut Elena dengan tatapan mata yang licik saat membelakangi pelayan. "Elena sengaja membawa dokumen keuangan ini supaya Mas Alvan tidak tertipu oleh wajah lugu Mbak Andira. Wanita itu sangat pandai bersandiwara, Bu. Lihat saja bagaimana dia berpura-pura menjadi korban saat sup panas tadi siang tersiram ke tangannya. Itu semua cuma taktik supaya Mas Alvan kasihan padanya!"

Ibu Rosa menggeram pelan, mengepalkan tangannya. "Aku tidak akan biarkan iblis itu tenang di rumah ini! Biar Alvan tahu siapa sebenarnya wanita yang dia bawa ke sini!"

Di balik tirai ruang tengah yang gelap, Elena menyunggingkan senyum kemenangan yang amat tipis. Ibu Rosa adalah senjata terbaiknya, sebuah tameng emosional yang siap menghantam Andira kapan saja tanpa membuat tangan Elena sendiri ternoda.

~

Sementara gelombang fitnah baru berhembus kencang di lantai bawah, Andira berada di kamar mandi kecil dekat kamarnya. Air dingin yang mengalir dari kran membasahi kulit tangan kanannya yang melepuh merah. Rasa perihnya luar biasa, membuat napasnya sesekali tercekat.

Namun, Andira menolak untuk menyerah pada rasa sakit itu.

Setelah mengoleskan sedikit salep antiseptik sederhana yang ditemukannya di kotak P3K dapur, Andira membungkus pergelangan tangannya dengan kain kassa tipis. Ia mengenakan kemeja katun lengan panjang untuk menutupi perban tersebut, agar tak ada yang menganggapnya sedang mengobral iba.

Tugasnya malam ini belum selesai. Sejak dipindahkan dari sel penahanan, Andira melihat betapa kacau dan dinginnya cara hidup Alvan. Pria itu bekerja tanpa henti, pakaian kerjanya sering kali menumpuk di meja rias, dan kamar utamanya yang luas teratur secara kaku tanpa sentuhan kenyamanan.

Dengan langkah pelan, Andira masuk ke dalam kamar utama Alvan saat pria itu masih mengurung diri di ruang kerja.

Kamar utama itu beraroma kayu cendana dan udara dingin dari AC. Andira mulai bekerja dalam keheningan. Ia mengambil jas-jas kerja Alvan yang menggantung kaku di walk-in closet, menyikat debu tipis di permukaannya, dan merapikan kemeja-kemeja mahal pria itu berdasarkan urutan warna dan bahan.

Ia merapikan tempat tidur berukuran king-size yang berantakan, mengganti seprai sutra kelabu dengan yang baru, lalu menata bantal-bantalnya dengan presisi yang sempurna.

Di atas meja sisi tempat tidur, Andira meletakkan secangkir teh herbal hangat beraroma chamomile dan lavender, racikan alami untuk meredakan stres dan insomnia yang ia tahu kerap diidap Alvan akibat beban kerja dan duka atas Roy.

Setiap gerakan Andira dilakukan dengan sangat lembut dan penuh kehati-hatian, seolah-olah ia sedang merawat rumahnya sendiri, bukan penjara tempatnya dikurung.

~

Pukul sebelas malam, pintu kamar utama terbuka.

Alvan melangkah masuk dengan bahu yang tampak berat dan wajah yang teramat lelah. Pikirannya dipenuhi oleh perdebatan internal yang menyiksa.

Di satu sisi, dokumen yang dibawa Elena tampak sangat meyakinkan dengan stempel hukum yang lengkap. Namun di sisi lain, naluri bisnisnya yang tajam, yang selama ini tak pernah meleset dalam membaca karakter orang, merasakan ada kejanggalan dalam tuduhan tersebut.

Namun, begitu Alvan melintasi ambang pintu kamarnya, langkah kakinya terhenti kaku.

Kamar tidur yang biasanya terasa dingin, kaku, dan asing bagaikan kamar hotel, kini memancarkan kehangatan yang tak biasa.

Udara kamar beraroma lembut bunga chamomile yang menenangkan jiwa. Pakaian-pakaian kerjanya di dalam lemari yang biasanya tergantung berantakan kini tersusun sangat rapi, teratur hingga ke sudut lipatan terkecil.

Alvan melangkah mendekati meja sisi tempat tidur. Di sana, di sebelah cangkir teh hangat yang masih mengeluarkannya uap tipis, terdapat selembar catatan kecil yang ditulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan elegan:

'Teh chamomile hangat ini dapat membantu meredakan tegang di kepala Anda setelah seharian bekerja. Selamat beristirahat, Pak Alvan.'

Alvan menyentuh cangkir porselen itu. Suhunya hangat, pas untuk diminum.

Pria itu tertegun lama. Pembunuh berdarah dingin yang diceritakan Elena tidak akan memikirkan kenyamanan kecil seperti ini. Seorang wanita licik yang hanya mengincar harta tidak akan merapikan sudut-sudut baju dengan ketelitian sedetail ini tanpa dipinta atau dipamerkan.

Alvan menyesap teh hangat itu pelan. Rasa manis tipis dari madu murni dan aroma lavender menyapu tenggorokannya, seketika mengendurkan urat-urat lehernya yang tegang.

"Siapa sebenarnya kamu, Andira ?" batin Alvan bergulat. "Apakah kamu iblis berpakaian malaikat... atau kamu benar-benar malaikat yang sedang kuteror dalam dendamku sendiri ?"

~

Andira masih berada di area ruang pakaian walk-in closet di sudut kamar utama. Ia sedang merapikan jas hitam tebal yang baru saja dilepas oleh Alvan sewaktu pria itu kembali dari luar tadi sore.

Jas itu terbuat dari bahan wol Italia berkualitas tinggi. Saat Andira menyikat bagian lengannya, jemarinya membelai sebuah lipatan tersembunyi di bagian saku dalam dada kiri, saku rahasia yang biasanya hanya digunakan untuk menyimpan dokumen sangat penting atau barang pribadi kecil.

Jemari Andira merasakan sebuah gumpalan kertas kecil yang agak keras di dalam saku tersebut.

Andira meragu sejenak. Menyentuh barang pribadi Alvan adalah pelanggaran atas aturan ketat rumah ini. Namun, desakan rasa ingin tahu dan bisikan intuisi yang tajam membuatnya merogohkan jemarinya ke dalam saku rahasia itu.

Ia menarik keluar selembar kertas tipis yang terlipat rapi menjadi empat bagian.

Andira membeberkan kertas itu di bawah pendar lampu walk-in closet. Itu adalah sebuah struk pembayaran cetakan mesin dari sebuah restoran mewah bertaraf internasional di kawasan Jakarta Selatan.

Mata Andira membelalak saat membaca rincian yang tertera di atas struk tersebut.

Nama Tempat - L'Étoile Fine Dining & Lounge

Tanggal & Waktu - 14 November 2025 - Pukul 20.45 WIB - Malam Kematian Roy Samudra

Nomor Meja / Ruangan - VIP Private Room 02

Rincian Pesanan - 2x Vintage Red Wine 2012, Executive Dinner Set for Two.

Metode Pembayaran - Kartu Kredit An. Elena Rosadi.

Darah Andira seketika berhenti mengalir. Suhu tubuhnya membeku.

Malam itu, tanggal 14 November adalah malam di mana Roy tewas teracuni di vila perbukitan. Saat polisi dan keluarga berkumpul di rumah sakit malam itu, Elena menangis histeris di depan Alvan dan Ibu Rosa.

Elena bersumpah dengan menyertakan nama Tuhan bahwa pada malam kejadian, ia sedang berada di luar kota - Surabaya untuk mengurus pembukaan cabang lini perhiasannya, sehingga ia tidak bisa mendampingi Roy.

Namun struk di tangan Andira ini membuktikan kebohongan fatal tersebut.

Tepat di malam Roy tewas, Elena tidak berada di Surabaya. Elena berada di Jakarta, makan malam romantis di ruangan VIP sebuah restoran mewah bersama seorang rekan dan pesanan wine tersebut dilakukan hanya dua jam sebelum Roy dinyatakan meninggal dunia oleh tim medis.

"Kenapa Elena berbohong pada Alvan dan polisi tentang keberadaannya malam itu? Kenapa struk atas nama Elena ini bisa ada di dalam saku rahasia jas kerja Alvan ?"

Jantung Andira berdegup kencang bagaikan drum yang ditabuh bertubi-tubi. Napasnya memburu. Ini bukan sekadar kebetulan. Ini adalah retakan pertama pada dinding kebohongan raksasa yang selama ini mengurungnya.

"Apa yang sedang kamu lakukan di sana?"

Suara Alvan yang berat dan dingin mendadak menggelegar dari ambang pintu walk-in closet, memotong keheningan malam dengan sangat tajam.

Andira terkejut setengah mati. Ia dengan cepat mencoba menyembunyikan struk tersebut di balik tangannya yang terbungkus perban, lalu memutar tubuhnya menghadap Alvan yang kini berdiri tegap menatapnya dengan pandangan curiga.

Langkah kaki Alvan yang berat mulai melangkah mendekat, matanya mengunci jemari Andira yang mengepal kaku di belakang punggung.

"Kamu menyentuh saku jas pribadiku?" bisik Alvan penuh ancaman, aura intimidasi seketika memenuhi ruangan sempit itu. "Apa yang kamu cari, Andira?!"

...----------------...

To Be Continue ....

1
Ibuk Oppo
dobel up kakak
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Andira kamu wanita kuat tetap semangat ya Allah bersamamu 🥺...elena kamu boleh tertawa sepuasnya sebelum semua kebusukan mu terbongkar 😏
Reniochim
seru nih kayaknya..sekelebat ceritanya kayak sinetron ikatan cinta.
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Rina Kurnia
waduuhh....miss ra...tragis kali ya....🥺🥺
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
Eva Karmita
mampir otor 🙏
Eva Karmita: 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
total 2 replies
Ma Em
Miss jgn terlalu kejam nanti Alvan pada Andira kasihan karena Andira mungkin dijebak oleh adik tirinya si Alena .
Miss Ra: 🤗/Chuckle/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!