Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.
Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26.Saat Sakit Aku, Dia yang Merawatku dengan Diam-Diam
Hujan deras yang berlangsung seminggu terakhir perlahan menyisakan udara yang dingin dan lembap. Namun sayangnya, tubuhku tak sanggup lagi menahan gigitan dingin itu. Pagi itu, saat aku terbangun, kepalaku terasa berat seakan dihantam benda keras. Tenggorokanku perih dan panas, dan seluruh tubuhku terasa linu tak tertahankan. Aku mencoba bangun, namun rasanya sekujur tubuhku tak mau diajak bekerja sama. Demi tugas kuliah yang harus dikumpulkan siang ini, aku tetap memaksakan diri berangkat ke kampus, berpikir bahwa cukup istirahat dan minum obat, semuanya akan membaik.
Namun kenyataan berkata lain. Sepanjang jam pelajaran berlangsung, kepalaku semakin pening. Mataku terasa perih setiap kali melihat tulisan di papan tulis, dan keringat dingin mulai membasahi punggungku meski udara di dalam kelas cukup sejuk. Aku berusaha keras duduk tegak, mencatat, dan bersikap seakan tak ada apa-apa. Namun setiap kali ia berjalan melewati bangkuku, aku merasakan tatapannya yang berhenti sedikit lebih lama dari biasanya — tatapan yang penuh kekhawatiran, bukan sekadar perhatian biasa.
Saat jam pelajaran usai dan mahasiswa mulai beranjak keluar, aku berusaha berdiri. Namun tiba-tiba pandanganku menggelap, kakiku lemas, dan aku hampir jatuh terjerembap ke lantai. Dengan sigap, Arga melangkah cepat dan menahan lenganku sebelum tubuhku sempat menyentuh lantai.
"Lisna! Kau tidak apa-apa?" suaranya terdengar cemas, namun ia segera menetralkan nada bicaranya saat beberapa mahasiswa menoleh. Ia segera melepaskan tanganku, namun tetap berdiri di dekatku. "Kau terlihat sangat pucat. Sebaiknya kau segera beristirahat."
"Aku... aku hanya sedikit pusing, Pak. Nanti juga sembuh," jawabku pelan, berusaha tersenyum walau kepalaku terasa semakin berat.
"Pergilah ke ruang istirahat di gedung sebelah. Di sana sepi dan tenang. Beristirahatlah di sana sampai merasa lebih baik," perintahnya lembut namun tegas, seakan tak memberi ruang untuk menolak.
Aku mengangguk lemah, lalu berjalan gontai menuju ruangan itu. Ruangan itu memang sepi, hanya berisi satu tempat tidur lipat dan meja kecil. Begitu berbaring, rasa lelah yang sedari tadi kutahan seketika meledak. Mataku terasa berat, dan tak lama kemudian aku terlelap dalam tidur yang gelisah.
Entah berapa lama aku terlelap, tiba-tiba suara pintu yang terbuka perlahan membangunkanku. Aku membuka mata perlahan, dan jantungku bergetar melihat sosok yang berdiri di sana — Arga. Ia masuk dengan langkah yang sangat pelan, seakan takut membangunkanku. Di tangannya, ia membawa kotak obat, segelas air hangat, dan sebungkus roti tawar.
"Kau... kenapa ada di sini, Kak?" tanyaku pelan, suaraku masih terdengar serak dan lemah.
Ia mendekat perlahan, meletakkan barang-barang itu di meja kecil di samping tempat tidur. "Aku memastikan kau benar-benar beristirahat. Dan... aku tak bisa tenang jika tahu kau sedang sakit sendirian."
Ia duduk di kursi di samping tempat tidurku, lalu dengan hati-hati meraih tanganku yang tergeletak di atas selimut. Tangannya terasa hangat dan menenangkan. "Kau demam cukup tinggi, Lisna. Kenapa memaksakan diri datang ke kampus dalam keadaan seperti ini?"
"Aku harus mengumpulkan tugas..." jawabku pelan, menunduk merasa bersalah.
Arga menghela napas pelan, namun tak terdengar marah. "Tugas bisa ditunda. Tapi kesehatanmu tidak. Jika kau sakit, aku yang akan khawatir." Kata-katanya begitu lembut, namun penuh dengan ketulusan yang mendalam.
Ia membuka kotak obat, mengambil obat yang tepat, lalu menuangkan air hangat ke dalam gelas. Dengan lembut ia membantuku bangun sedikit, menyandarkan punggungku ke bantal. "Minumlah obat ini dulu. Lalu makan sedikit roti agar perutmu tidak kosong."
Tangannya memegang gelas itu saat aku minum, memastikan tak ada air yang tumpah. Gerakannya begitu hati-hati, begitu penuh perhatian, seakan aku adalah benda paling berharga yang harus dijaga dengan segala kelembutan. Setelah minum obat, ia membantuku memakan sedikit roti, lalu menarik selimut hingga menutupi bahuku.
"Tidurlah lagi. Obatnya akan bekerja dan demammu akan turun," ucapnya pelan sambil mengusap pelan rambutku yang terurai di atas bantal. Sentuhannya begitu lembut dan menenangkan. "Aku tak bisa tinggal lama di sini, orang-orang akan mencurigai. Tapi aku akan kembali sebentar lagi untuk mengecek keadaanmu."
Sebelum pergi, ia meletakkan sebuah botol berisi air hangat di dekatku. "Minumlah ini sesering mungkin. Jangan biarkan tubuhmu kekurangan cairan." Lalu ia berjalan menuju pintu, menoleh sekali lagi, dan berbisik pelan, "Cepat sembuh ya, Lisna. Aku butuh kau sehat dan ceria."
Pintu tertutup perlahan, menyisakanku sendirian di ruangan itu. Namun kali ini, aku tak merasa kesepian. Hatiku terasa hangat dan penuh, meski tubuhku sedang sakit. Ia datang diam-diam, merawatku diam-diam, dan pergi diam-diam. Tak ada yang tahu, tak ada yang melihat. Namun perhatiannya itu terasa jauh lebih nyata dan jauh lebih berharga daripada perawatan di mana pun.
Tak lama kemudian, ia kembali — kali ini membawa sebuah kotak berisi bubur hangat. "Ini... makanlah saat sudah agak dingin. Jangan sampai kau sakit dan tidak makan," ucapnya tanpa menatap mataku terlalu lama, seakan takut terlihat terlalu dekat jika ada yang lewat. Ia meletakkannya di meja, lalu berbicara dengan nada yang sedikit lebih tegas namun tetap lembut, "Pulanglah lebih awal hari ini. Jangan memaksakan diri. Aku sudah mengizinkan ketua kelasmu untuk mewakilkan tugasmu."
Aku menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca, terharu hingga tak mampu mengucapkan kata-kata yang panjang. "Terima kasih... Kak. Terima kasih sudah merawatku. Padahal... kita tak boleh diketahui orang lain."
Arga tersenyum tipis, senyum yang penuh kasih sayang. "Justru karena itu, aku harus merawatmu dengan cara seperti ini. Agar kau tetap sehat, agar kita bisa terus berjuang bersama. Dan percayalah... meski tak ada yang tahu, perhatianku padamu takkan pernah berkurang sedikit pun."
Ia melangkah pergi, kembali menjadi sosok dosen yang tegas di luar sana. Namun di dalam ruangan itu, aku tahu — ia adalah pria yang paling lembut dan paling peduli padaku. Merawatku diam-diam, menjagaku tanpa diketahui siapa pun, dan memberikan perhatian yang tak bisa diukur dengan apa pun.
Sore itu, saat aku pulang ke rumah dengan perasaan yang jauh lebih baik, aku menyadari satu hal: cinta itu bukan hanya tentang saat kita sedang bahagia dan sehat bersama. Cinta itu juga tentang saat kita sedang lemah dan sakit, dan orang itu tetap ada — bahkan jika ia harus melakukannya secara diam-diam, hanya untuk memastikan kau baik-baik saja. Dan Arga... ia membuktikannya dengan caranya sendiri. Caranya yang sederhana, penuh kasih sayang, dan selalu menyentuh hatiku paling dalam.
bersambung...