"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tersesat di Curug Sendang
Sopir angkot itu akhirnya memutuskan untuk berjalan kaki menuju desa terdekat guna mencari bantuan, meninggalkan ketiga anak itu menunggu di dalam angkot dengan pesan singkat, "Jangan ke mana-mana, ya, Dek. Bapak paling lama satu jam."
Namun setelah lebih dari satu jam menunggu di bawah teriknya matahari siang tanpa kabar, kesabaran Adit mulai habis. "Aduh, laper. Udah gitu, sinyal juga nggak ada buat telepon rumah."
Raka mengecek jam di ponselnya yang untungnya masih menyala meski sinyal hilang total. "Kita udah nunggu satu jam lebih. Menurutku kita coba jalan aja, siapa tau ketemu warung atau rumah penduduk."
Naya, yang sedari tadi memandangi pemandangan perbukitan hijau yang sebenarnya cukup indah meski situasinya genting, mengangguk setuju. "Lagian katanya Curug Sendang emang deket sini. Coba kita cari plang penunjuk arah, biasanya kalau tempat wisata ada."
Mereka bertiga akhirnya memutuskan berjalan kaki menyusuri jalan setapak di sisi jalan utama, berharap menemukan tanda-tanda kehidupan. Setelah sekitar dua puluh menit berjalan, mereka menemukan sebuah plang kayu usang bertuliskan "Curug Sendang, 500 meter" dengan panah menunjuk ke arah hutan kecil di sisi jalan.
"Nah! Ketemu!" seru Adit girang, langsung berlari mendahului kedua sahabatnya menyusuri jalan setapak yang semakin menyempit dan rimbun.
Setelah melewati jalan setapak yang cukup menantang—beberapa kali harus melompati akar pohon dan menuruni tanah yang agak licin—mereka akhirnya sampai di sebuah air terjun kecil yang mengalir jernih ke sebuah kolam alami di bawahnya, dikelilingi bebatuan besar dan pepohonan rindang yang menaungi seluruh area dari sengatan matahari.
"Ya ampun," gumam Naya takjub, matanya berbinar menatap pemandangan yang jauh melampaui ekspektasinya. "Ini... ini cantik banget."
Ketiganya langsung melepas alas kaki, membiarkan kaki mereka menyentuh air jernih yang sejuk, melupakan sejenak kelelahan dan rasa panik akibat angkot yang mogok. Adit, dengan semangat khasnya, langsung mencebur ke kolam yang lebih dalam, disusul tawa riang yang menggema di antara tebing-tebing kecil sekitar air terjun.
"Raka! Naya! Sini, seger banget airnya!" serunya, menyipratkan air ke arah kedua sahabatnya yang masih duduk di pinggir kolam.
Naya tertawa, ikut menceburkan kaki lebih dalam meski tidak berani ikut berenang seperti Adit. Raka duduk di sebelahnya, menikmati suasana yang jarang mereka rasakan—bebas dari tugas sekolah, bebas dari masalah rumah, hanya tiga sahabat menikmati keindahan alam yang sederhana namun berharga.
"Coba deh kalau hidup bisa terus kayak gini," gumam Naya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. "Tenang, nggak ada yang berantem, nggak ada yang harus milih siapa yang bakal ditinggalin."
Raka menoleh, menangkap nada sedih di balik kalimat itu. "Kamu masih mikirin soal itu?"
Naya mengangguk pelan, menatap air yang mengalir jernih di depannya. "Minggu depan sidangnya. Aku harus milih ikut Ayah atau Ibu."
Untuk sesaat, Raka tidak tahu harus berkata apa. Namun ia memberanikan diri menggenggam tangan Naya yang basah karena air kolam, sebuah gestur sederhana yang menyampaikan lebih banyak daripada kata-kata apa pun.
"Apa pun pilihanmu nanti," katanya pelan, "kamu tetap sahabat kami. Nggak akan berubah."
Naya menatapnya lama, dan untuk sesaat, dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar—hanya ada suara gemericik air terjun, kicau burung di kejauhan, dan dua pasang mata yang saling menatap dengan perasaan yang belum sepenuhnya mereka pahami sendiri.
Momen itu terpecah oleh suara Adit yang tiba-tiba menjerit dari tengah kolam. "WOI! Ada... ada yang gerak di bawah kakiku!"
Raka dan Naya sontak berdiri panik, sementara Adit berusaha berenang secepat mungkin menuju pinggir kolam, wajahnya pucat pasi. Sebelum ia sempat mencapai tepi, sesuatu yang besar dan gelap tampak bergerak cepat di bawah permukaan air jernih itu, mengarah tepat ke arahnya.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan