Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Bayang-Bayang Sang Penguasa dan Muslihat di Balik Tirai
Langkah kaki Ceisya menyusuri koridor rumah sakit swasta itu terasa begitu ringan, namun setiap detik yang ia lewati di sisi Sylus justru terasa seperti berjalan di atas sehelai benang tipis yang siap putus kapan saja. Di luar pandangan para pengawal elit, dewan sindikat, dan seluruh dunia hitam yang melihat mereka sebagai pasangan paling mematikan yang tak terpisahkan, dinamika di antara keduanya menyimpan rahasia psikologis yang jauh lebih tegang, kompleks, dan penuh perhitungan senyap.
Begitu pintu kaca mobil SUV lapis baja berteknologi tinggi itu tertutup rapat, mengisolasi mereka dari bisingnya dunia luar dan meninggalkan pelataran rumah sakit yang lengang, Ceisya segera bergerak. Gadis itu dengan sengaja menggeser posisi duduknya, menciptakan jarak beberapa sentimeter dari tubuh bidang suaminya. Manik mata hijau terangnya menatap lurus ke arah jendela luar, mengabaikan pantulan manik mata merah menyala milik Sylus yang sejak detik pertama tidak pernah lepas mengawasinya dengan intensitas yang membakar.
Aku tidak boleh terperangkap dalam sangkar ini sepenuhnya, batin Ceisya bergejolak tajam, menyusun strategi di balik kepalanya yang dingin. Sylus berbahaya. Obsesinya adalah pisau bermata dua. Jika aku terus menempel padanya tanpa ruang gerak, aku akan kehilangan kendali atas rencanaku sendiri untuk menghabisi sisa keluarga utama.
"Kau terlalu tegang, Ratu kecilku," suara bariton Sylus memecah keheningan kabin yang pekat. Tangan besar pria itu terulur tanpa kompromi, jemarinya yang kokoh mencengkeram pergelangan tangan Ceisya dengan lembut namun mutlak, menarik gadis itu kembali ke dalam dekapannya tanpa memberi ruang sedikit pun untuk menolak. "Mulai malam ini, tidak ada lagi alasan bagimu untuk tidur di kamar terpisah, menghindari tatapanku, atau menghabiskan waktu sendirian di ruang kerja penthouse."
Ceisya mengerjap pelan, merasakan debar jantungnya berpacu bukan karena rasa takut yang melumpuhkan, melainkan karena insting bertahan hidupnya berteriak kencang di bawah tekanan dominasi pria itu. Dalam naskah asli dan rencana aslinya, ia tidak pernah berniat menjadi burung peliharaan dalam sangkar emas—meskipun sangkar itu bertabur berlian dan dijaga ketat oleh The Crimson King sendiri. Ia ingin kebebasan bergerak, ia ingin menyelidiki jaringan sisa faksi musuh tanpa harus diawasi selama dua puluh empat jam penuh oleh predator paling mematikan di dunia hitam.
"Sylus, aku bukan tahanan yang bisa kaukurung sesuka hatimu," ucap Ceisya dengan nada suara yang dingin dan datar, mencoba menarik pergelangan tangannya dari genggaman pria itu. Ia menyembunyikan hasrat tersembunyi untuk mencari celah melarikan diri atau setidaknya menciptakan jarak aman. "Perjanjian pernikahan kita bukan berarti kau bisa mengekang seluruh ruang gerakku di luar kendali. Aku memiliki urusan sendiri yang harus diselesaikan, dan itu tidak melibatkan pengawalan ketat setiap detik."
Sylus menyeringai kecil, tawa rendah yang terdengar berbahaya dan memabukkan lolos dari tenggorokan pria itu. Alih-alih melonggarkan cengkeraman atau mendengarkan protes sang istri, tangan Sylus justru merayap naik, melingkari pinggang ramping Ceisya dengan kuat, lalu merapatkannya begitu rupa hingga tidak ada celah udara yang tersisa di antara tubuh mereka. Napas panas Sylus yang beraroma tembakau mahal menerpa kulit leher Ceisya, membuat bulu kuduk gadis itu meremang hebat melawan kehendaknya sendiri.
"Urusanmu adalah urusanku, Ceisya," bisik Sylus tepat di telinganya, suaranya mengandung ancaman manis yang teramat mematikan. "Kau pikir setelah aku merangkak ke neraka keluargamu dan menyeretmu keluar, aku akan membiarkanmu berjalan sendirian di luar sana? Jangan pernah berpikir untuk mencoba menjauh dariku, bahkan sejauh satu langkah kecil sekalipun. Jika kau mencoba melangkah keluar dari jangkauan pandanganku, aku akan membakar setiap tempat yang kau tuju hingga rata dengan tanah tanpa ampun."
Keinginan Ceisya untuk menjaga jarak langsung terpukul mundur oleh dinding posesif yang dibangun oleh suaminya sendiri. Namun, di balik tatapan dinginnya yang menusuk, sudut bibir Ceisya terangkat membentuk senyuman tipis yang tidak disadari Sylus.
Bagus, batin Ceisya tajam, menerima fakta bahwa ia harus bermain cantik di dalam sangkar emas ini. Semakin besar obsesimu padaku, semakin mudah aku memanfaatkan celah di balik kekuasaanmu untuk menghancurkan musuh-musuh kita tanpa harus mengotori tanganku sendiri.
Jauh dari kemewahan penthouse Manhattan, suasana di dalam kamar VVIP rumah sakit utama tidak semati atau seputus asa yang dibayangkan sebelumnya.
Beberapa jam setelah kepergian Sylus dan Ceisya yang meninggalkan jejak teror psikologis yang mendalam, pintu kamar perawatan Bianca perlahan terbuka lebar tanpa suara. Seorang pria bertubuh tegap berbalut setelan jas abu-abu gelap melangkah masuk dengan langkah terukur, memastikan tidak ada perawat atau pengawal luar yang mengawasi. Itu adalah Lucas, tangan kanan kepercayaan dari faksi barat yang selama ini diam-diam menjadi pelindung rahasia keluarga utama sekaligus sekutu paling setia bagi sang anak emas.
Bianca, yang sebelumnya tampak terbaring tak berdaya, pucat pasi, dan nyaris pingsan dalam lautan histeria, perlahan membuka matanya. Manik mata biru terangnya tidak lagi menyisakan air mata kelemahan atau ratapan putus asa; sebaliknya, pandangan itu berubah menjadi sangat dingin, penuh perhitungan, licik, dan diselimuti oleh dendam kesumat yang membara hingga ke sumsum tulang belakang.
"Kau melihatnya, Lucas?" bisik suara Bianca parau namun penuh penekanan yang menusuk, ia menepis selang oksigen yang mengganggu dari wajahnya dengan gerakan kasar penuh amarah. "Wanita sialan itu... Ceisya... dia merebut semuanya dariku. Perjanjian masa kecilku, posisi ratu di sisi The Crimson King, dan seluruh harga diri keluarga kita yang telah diinjak-injak di hadapanku."
Lucas mendekati ranjang perlahan, lalu menunduk hormat dengan gestur kaku, namun sorot matanya menyiratkan kesetiaan mutlak kepada pewaris sah keluarga utama. "Nona Bianca, saya memahami kemarahan Anda. Para tetua dewan sindikat di faksi barat dan sisa-sisa pengawal setia kita tidak akan pernah tinggal diam membiarkan wanita bayaran itu menduduki singgasana tertinggi. Mereka sedang menyiapkan langkah perlawanan bawah tanah."
Senyuman tipis, menyeramkan, dan penuh kelicikan terukir di bibir pucat Bianca. Ia tahu betul bahwa dirinya tidak boleh kalah begitu saja hanya karena satu kekalahan telak di hadapan Sylus di rumah sakit ini. Permainan kekuasaan yang sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia masih memegang kartu truf tersembunyi yang belum disentuh atau diketahui oleh Ceisya maupun sang raja mafia.
"Mereka pikir aku hancur hanya karena aku kehilangan posisi itu malam ini?" suara Bianca mendesis dingin, meremas seprai putih rumah sakit dengan kuku-kukunya yang memutih. "Tidak, Lucas. Kehadiranku yang dianggap lemah ini justru akan menjadi bumerang bagi mereka. Selama para tetua faksi barat masih memegang dokumen rahasia perjanjian leluhur, kita masih punya cara untuk membalikkan keadaan."
Lucas mendongak, menatap nyonya mudanya dengan kilat persetujuan. "Apa perintah Anda selanjutnya, Nona? Para tetua menunggu instruksi langsung dari Anda untuk bergerak."
Bianca memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca yang memperlihatkan gelapnya langit malam kota Manhattan, manik matanya memantulkan ambisi gelap yang siap meledak kapan saja. "Sebarkan berita bahwa aku akan segera pulih sepenuhnya. Biarkan Ceisya menikmati kemenangan semunya di pelukan Sylus... karena begitu perang faksi dimulai dari dalam, aku akan pastikan wanita itu mati dalam keadaan paling mengenaskan di hadapan suaminya sendiri."