Ethan Spencer Eko Argantara menolak keras perjodohan sepihak yang diatur keluarganya setibanya dia pulang dari New York. Baginya, menikahi gadis pilihan orang tua adalah hal konyol. Sialnya, sebuah insiden di department store mempertemukannya dengan Nayla Syakila Atmaja, gadis angkuh yang sukses memicu emosinya dalam pertengkaran dramatis, yang ternyata adalah sang calon tunangan.
Namun, rasa kesal Ethan berubah menjadi simpati ketika dia tahu Nayla menjadi target dari mantan tunangannya. Ethan membuang rasa gengsinya lalu melindungi Nayla
Di bawah satu atap dengan Nayla sebagai pasangan suami istri, Ethan siap melakukan apa saja demi melindungi miliknya.siapa pun yang berani menyentuh Nayla, harus berhadapan dengan dia.
"Tugasku adalah menjagamu, tapi obsesiku adalah memilikimu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vedyta Hyuk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Nayla berubah jadi cantik.
Stela terkekeh kecil melihat tingkah sahabatnya yang tampak bingung dengan jawaban mereka.
"Memangnya apa yang salah dengan penampilanku? Biasa saja kok, tidak ada yang aneh kan..." Revo Nathan langsung menarik topi hitam yang dipakai Nayla hingga rambut indah panjangnya terurai jatuh bebas.
"Hei! Kembalikan topiku itu!" protes Nayla berusaha meraihnya kembali.
"Nona Nayla... kamu itu wanita, bukan anak laki-laki! Berhenti memakai topi dan mengikat rambut sembarangan seperti preman. Coba lihat ke cermin, wajahmu kusut tanpa riasan sedikit pun. Kamu pikir ada pria yang akan melirik wanita seperti itu?"
"Iya benar! Dia mirip anak bebek yang belum mandi setahun, hahaha jadi bang Denis kakak bebek dia anak bebek!"
"Itu bener itu, berarti bang Denis kakak bebek, dan Nayla adik bebeknya, hahaha!"
"Benar sekali! Pantas saja Ethan bilang kau terlihat seperti pura-pura jadi wanita dan bukan asli cewek ya ampun, hahaha!"
"Kalian berdua diam!!! Argh kalian kejam sekali!" Nayla menjitak kening Revo Nathan gemas, sementara Stela tertawa lebar melihat wajah sahabatnya yang memerah padam menahan malu.
"Mulai sekarang kamu harus mengubah penampilanmu! Jangan biarkan Ethan meremehkan mu begitu terus! Ya ampun Nay sebenernya kamu cantik lho"
"Benar! Kamu harus mulai berdandan. Pakai sepatu hak tinggi kamu, dan rutinlah ke salon, potong rambut ubah gaya jadi Curly panjang pasti imut deh!"
**
"Argh... mereka menyebalkan sekali! Membuatku makin kesal saja!" Sesampainya di kamar, Nayla melempar tas selempang merah mudanya sembarangan lalu menjatuhkan diri di atas kasur. Dia menatap langit-langit kamar dengan perasaan berkecamuk.
Apakah benar aku jelek. Padahal baginya penampilan yang wajar saja sudah cukup. Sejak dulu ia memang tak suka sepatu berhak tinggi. Lalu mengapa baru sekarang semua orang berkomentar begitu?
Dengan tergesa dia bangkit dan berdiri di depan cermin meja rias. Menatap lekat bayangan wajahnya yang tampak pucat dan kurang terawat. Lalu menghela napas panjang.
"Apakah aku harus mulai belajar merias diri lagi? Dasar Ethan... sama saja seperti bang Marcus dan dui kurcaci itu yang hobi menghinaku!"
Pintu kamar terbuka pelan.
"Nayla? Kau sudah pulang? Kenapa menangis? Ada apa?" Kakak iparnya baru saja masuk dan tampak heran. Pagi tadi saat Nayla berpamitan ke kantor Denis, tapi sekarang wajahnya masih tidak terlihat ceria seperti biasa.
"Kak... apakah aku ini jelek?"
"Ha? Apa maksudmu?" Bu Soran ikut duduk di tepi ranjang di samping Nayla yang sedang meremas rambutnya berantakan.
"Siapa yang bilang kamu jelek? Kau itu cantik sekali, Nayla. Ayah mertua dan bang Denis sering bilang wajahmu cantik persis seperti mendiang Ibumu."
"Tapi Ethan bilang aku wanita aneh... dan dia tak mau menikahi wanita sepertiku. Katanya aku itu memalukan..." Nayla terisak.
"Apa? Dia berani bilang begitu?" Nayla mengangguk sedih, memeluk bahu kakak iparnya yang sedang mengandung empat bulan.
"Berani sekali dia... Sungguh kejam sekali ucapan itu."
"Revo juga menyuruhku mengubah penampilan... Kak, apakah aku benar-benar jelek?"
"Kamu cantik, Nayla. Tapi mungkin benar apa kata Revo... cobalah mulai berubah sedikit saja."
"Maksud Kakak apa?"
"Berhentilah keluar rumah dengan rambut berantakan dan topi. Ganti celana robek-robekmu dengan rok atau celana kain yang lebih rapi dan sopan. Bukankah akan terlihat jauh lebih anggun?"
"Ya ampun... berarti aku harus memakai rok juga?" Bu Soran tersenyum lalu menarik Nayla berdiri kembali di depan cermin.
"Dengar... mulai sekarang kau harus belajar merawat diri dan berdandan. Kakak janjikan... nanti Ethan yang menghinamu itu justru akan merasa malu melihatmu berubah."
"Baiklah... demi keluarga aku terpaksa menikah dengan pria angkuh itu. Tapi aku tak pantas terus dihina begitu, iya bukan?"
Bu Soran tersenyum geli mendengar ucapan lugas adik iparnya itu.
***
Rumah Keluarga Ethan — pondok indah Jakarta.
Sinar matahari sore menembus jendela besar berhias tirai cokelat, membuat Ethan terbangun dengan perasaan kesal. Tidur siangnya yang nyenyak terusik oleh ketukan pintu yang tak henti-henti berbunyi.
"Argh... siapa sih?! Setiap kali aku tidur selalu saja diganggu!"
Dengan dada telanjang dan wajah masih cemberut, Ethan berjalan membuka pintu bersiap memaki si pengganggu itu.
"Siapa kau?!! Mommy..?!" kaget Ethan
"Astaga... kamu berani sekali membentak Ibu?" Ethan menelan ludah. Sempat lupa bahwa ia mengunci kamarnya dari dalam, dan kini justru membangkitkan amarah ibunya.
"Maaf, Mommy... ada apa?"
"Lihat jam berapa sekarang! Sudah jam empat sore! Fotografer pak Ferry, perancang busana Bu Hanifah... bahkan Nayla sudah datang dan menunggumu di bawah! Dasar anak malas, enak saja masih enak-enakan tidur!"
"Iya... maaf Mommy, aku segera mandi!" Ethan tersenyum canggung.
"Itu karena kebiasaanmu pulang larut malam! Jangan pikir di sini kau bisa bebas sebebas di apartemen mu! Ingat, kemarin itu yang terakhir kalinya kamu berpesta di luar! Jika tidak, Mommy takkan mengizinkanmu tinggal di sini lagi!"
"Iya, Mommy... aku mengerti. Sekarang aku mandi dulu ya." Ethan hanya menunduk mendengarkan ceramah panjang ibunya. Telinganya terasa panas namun dia tak berani membantah. Padahal hari ini dia terpaksa melakukan sesi foto pra-nikah dengan wanita yang dia anggap biasa saja dan tak menarik sama sekali.
"Baiklah, Ibu tunggu di bawah. Pastikan sebelum jam enam sore, kamu sudah selesai berfoto."
"Siap, Mom, ya ampun Cepat sekali."
Bu Yohana tersenyum lembut saat putra kesayangannya mengecup pipinya sekilas lalu menutup pintu kembali.
"Dasar anak bandel... tapi tetap saja Ibu sayang," gumamnya pelan sambil melangkah pergi.
Setelah mandi dan bersiap rapi, Ethan melangkah turun ke lantai bawah dengan langkah malas. Sebenarnya dia enggan sekali menemui tamu-tamu itu, apalagi dia harus berfoto bersama wanita yang dia anggap biasa saja dan berantakan, tak ada menariknya sama sekali..
"Selamat sore, Tuan Ethan."
"Selamat sore, Pak Ferry, Nyonya~..."
Sesampainya di ruang tamu, saat dia menyapa fotografer dan penata rias yang sedang menunggu. Namun pandangannya tertahan pada sosok yang duduk di samping ibunya. Seorang gadis cantik yang membuatnya penasaran siapa sebenarnya wanita itu.
"Mom maaf... aku terlambat?"
"Ah akhirnya putraku yang tampan turun! Maaf ya, Nayla, dia memang agak manja hari ini."
"Tidak apa-apa, tante Yohana." Senyum itu... suara itu...Mata Ethan membelalak tak percaya. Wajahnya seketika memerah.
"Nayla...?" Dia tertegun bagaikan orang yang kehilangan akal sehatnya. Awalnya dia mengira melihat bidadari yang tersesat di rumahnya. Namun saat kesadaran menyusul... itu adalah Nayla.
Nayla? TIDAK MUNGKIN!
Ethan menggeleng kuat tak percaya. Mustahil wanita yang selalu tampak berantakan dan jelek itu bisa berubah secantik ini. Apakah matanya bermasalah? Belum genap dua minggu mereka tak bertemu, dan gadis yang dia anggap biasa saja dan bahkan buruk rupa, kini berubah begitu... luar biasa cantik.