NovelToon NovelToon
Setelah Kata Usai

Setelah Kata Usai

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menikah dengan Kerabat Mantan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:226
Nilai: 5
Nama Author: Fahri Sohil Munawar

Beberapa hubungan berakhir bukan karena rasa cinta yang pudar, melainkan karena rahasia yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.
​Diputus sepihak oleh Putri membuat Alex terjebak dalam labirin pertanyaan tanpa jawaban. Rasa patah hati membawanya pada titik terendah, memaksa Alex merangkak bangkit dan menata ulang takdirnya lewat kata demi kata yang ia tulis.
​Kehadiran Syafa seperti cahaya senja yang tenang—menghangatkan hatinya yang beku dan membantunya menyembuhkan luka. Namun, saat batas antara masa lalu dan masa depan semakin kabur, Alex dihadapkan pada kenyataan pahit yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya.
​"Setelah Kata Usai" adalah perjalanan emosional tentang bagaimana menyembuhkan diri dari pengkhianatan, memahami arti melepaskan, dan menemukan cinta sejati di tempat yang paling tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahri Sohil Munawar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Diam adalah senjata

Pagi mulai berganti. Pada akhirnya, Alex bisa tidur dengan tenang malam itu, meskipun hatinya masih sangat kacau dan hancur berantakan setiap kali memikirkan pesan terakhir dari Putri. Kalimat ketus itu terus berputar-putar di kepalanya seperti kaset rusak.

Keesokan paginya, Alex mencoba mengalihkan pikirannya dengan mulai menjalankan rutinitas seperti biasa, yaitu berolahraga. Ia mengenakan sepatu Asics Gel-1130 putih kesayangannya dan mulai berlari kecil mengelilingi kompleks perumahan demi menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya. Namun, fokusnya tetap saja buyar. Langkah kakinya terasa berat, sedikit terganggu oleh bayang-bayang masalah hubungan yang sedang ia alami sekarang.

"Hmmm... kira-kira apa ya yang dibicarain Angel ke Putri?" tanya Alex dalam hati sambil terus berlari kecil dengan napas yang mulai terengah-engah. Rasa penasaran itu benar-benar menyiksanya.

Setelah selesai berolahraga, Alex segera pulang untuk mandi dan membersihkan diri. Kebetulan hari ini jadwal kuliahnya sedang libur. Untuk mengisi waktu luangnya sekaligus menenangkan pikiran yang sedang penat, Alex berniat mengajak kedua sahabat dekatnya untuk nongkrong ke kafe. Dia sudah tidak kuat lagi memendam masalah ini sendiri dan berniat menceritakan kejadian tadi malam kepada mereka.

Alex meraih handphone-nya, lalu membuka aplikasi WhatsApp dan langsung mengirim pesan ke grup obrolan yang hanya berisi dirinya, Umam, dan Marko.

"Woiii," seru Alex membuka obrolan.

Tak butuh waktu lama, sebuah balasan muncul.

"?? " Umam hanya menjawab singkat dengan dua tanda tanya, khas gayanya yang malas mengetik panjang.

"Ngopi yo di Cafe Ceng Kuy," ajak Alex langsung pada intinya.

Membaca ajakan itu, Umam langsung membalas dengan nada meledek. "Idih, tumben banget. Berhasil kah taktik lo yang tadi malam, makanya sekarang langsung ngajak ngopi-ngopi?" tanya Umam penasaran.

Di tempat lain, Marko yang melihat isi chat tersebut mendadak mengernyitkan dahi. Jantungnya sempat berdegup agak kencang, tapi dia mencoba bersikap biasa saja di dalam grup.

"Taktik apaan dah? Kok gue kagak tahu?" tanya Marko, berpura-pura kebingungan karena dia memang tidak diberi tahu oleh Alex sebelumnya mengenai rencana meneror Putri pada malam itu.

Alex yang sedang malas mengetik panjang lebar karena suasana hatinya yang masih buruk langsung memotong pembicaraan. "Udah, nanti aja di kafe ceritanya. Gas ngga?" tanya Alex memastikan.

"Gasss!" jawab kedua rekannya hampir bersamaan di dalam grup.

"Okey, mau pagi, siang, atau malam?" tanya Alex memberikan pilihan waktu.

Marko langsung menyambar, "Siang aja, nanti jam dua-an gimana?"

"Oke, gass," timpal Umam setuju.

Sambil menunggu siang tiba, Alex menggunakan waktu luangnya itu untuk menonton film di kamar demi membunuh rasa bosan dan mengalihkan pikirannya sejenak.

Saat jam menunjukkan pukul 13.00, Alex bersiap-siap dan langsung berangkat menuju kafe tersebut. Cuaca hari ini sungguh cerah, angin berembus tenang, dan tidak ada halangan atau kemacetan apa pun di jalan raya saat ia berkendara menuju ke sana. Perjalanan terasa sangat lancar.

Sesampainya di kafe, Alex langsung memilih meja dan duduk sendirian. Ia terpaksa harus menunggu kedua temannya itu, karena seperti biasa, kedua sahabatnya itu sungguh sangat ngaret kalau urusan janjian. Waktu berjalan beberapa menit, namun batang hidung mereka berdua belum juga kelihatan.

Karena mulai kesal menunggu kedua temannya yang ngaret, Alex merogoh handphone-nya dan mengirim pesan dengan nada mengomel di grup WhatsApp mereka.

"Woyy,mana lo semua???" kirim Alex di grup, lengkap dengan tanda tanya yang banyak untuk menunjukkan rasa tidak sabarnya.

Namun, tidak ada balasan satu pun dari mereka. Layar grup itu tetap hening. Alex menduga, mungkin mereka berdua saat ini memang sedang di jalan dan fokus berkendara sehingga tidak sempat mengecek handphone.

Namun, tidak ada balasan satu pun di grup. Mungkin mereka berdua memang sedang berada di jalan dan fokus menyetir motor. Alex hanya bisa menghela napas pasrah. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi kafe sambil sesekali mengetukkan jarinya ke atas meja untuk mengusir bosan. Menunggu sendirian di tempat itu ternyata menjadi bumerang. Tanpa disangka, di tengah kesunyian itu, pikiran Alex kembali melayang dan ingatan tentang bayang-bayang Putri mendadak muncul lagi di kepalanya.

Baru sekitar setengah jam menunggu sendirian, kedua temannya itu akhirnya menunjukkan batang hidung mereka di depan pintu kafe. Begitu melihat posisi duduk Alex, kedua rekannya itu langsung berjalan menghampiri.

"Coy, gak telat kan gue?" ucap Umam sambil tertawa tanpa dosa, mencoba mencairkan suasana.

"Yee..." jawab Alex ketus, menatap Umam dengan pandangan malas.

Marko kemudian menarik kursi di sebelah Umam lalu ikut menyahut, "Tumben banget lo ngajak ngopi ,Lex. Biasanya juga kagak pernah."

"Udah, pesen aja dulu, gak usah banyak bacot," potong Alex cepat dengan nada bicara yang masih dingin.

"Dihh..." Umam mengernyitkan dahi, merasa heran karena jawaban Alex barusan terdengar begitu ketus dan tidak santai seperti biasanya.

Saat pelayan kafe datang menghampiri meja mereka untuk mencatat pesanan, Alex langsung menyebutkan minumannya tanpa melihat menu lagi. "Gue Americano satu."

Mendengar pilihan kopi hitam itu, Umam spontan menoleh ke arah Alex lalu meledeknya, "Sepahit itukah hidup kau, Lex?"

"BACOT DAH, CEPET!" jawab Alex ketus sambil melotot ke arah Umam, membuat kedua sahabatnya itu makin yakin kalau suasana hati Alex memang sedang benar-benar hancur siang ini.

Setelah kopi-kopi pesanan mereka datang dan tersaji di atas meja, Alex sengaja tidak memancing perbincangan ke arah Putri. Rencana awal Alex hari ini memang murni hanya ingin melepas penat dan mencari hiburan bersama para sahabatnya agar bisa melupakan sejenak masalah hatinya.

Selama beberapa saat, mereka akhirnya mengobrol seru seperti biasa. Topik obrolannya mengalir acak membahas hal-hal konyol khas anak tongkrongan tanpa menyentuh sedikit pun bahasan tentang Putri. Namun, di tengah-tengah obrolan saat suasana mendadak hening sejenak, benteng pertahanan Alex runtuh. Ia malah tanpa sadar membuka sendiri topik yang berhubungan dengan cewek itu.

"Inpo cewek jomblo dong," ucap Alex tiba-tiba, memecah keheningan dengan nada sok santai, padahal aslinya hanya untuk menutupi rasa sakit hatinya.

"Dihh..." Umam spontan melirik ke arah Marko dengan dahi mengernyit heran.

Melihat kelakuan aneh sahabatnya yang mendadak minta dicarikan gebetan baru, Umam langsung menyahut, "Belum juga selesai masalah lo sama yang itu, sekarang malah mau nyari perkara lain aja lo, Lex!"

"Wkwkwk, biar cepet move on," jawab Alex sambil tertawa paksa, mencoba menyembunyikan luka yang sebenarnya masih basah.

"Yang ada malah nambah masalah, Lex. Jangan lo lupain seseorang dengan menggunakan orang lain," kata Marko menimpali, mencoba bersikap sok bijak. Di dalam hatinya, kalimat itu sekaligus menjadi tameng agar Alex tidak benar-benar mencari cewek baru dulu sebelum taktik menjauhkan Putri yang sedang ia jalankan selesai.

Drrtt... Drrtt…

Keheningan setelah kalimat bijak Marko itu mendadak dipecahkan oleh getaran pelan sebuah handphone di atas meja. Layar ponsel milik Marko mendadak menyala terang, menampilkan sebuah notifikasi pesan WhatsApp yang baru saja masuk.

Secara tidak sengaja, pandangan mata Alex langsung tertuju pada layar tersebut. Bola matanya melebar sekilas ketika membaca nama si pengirim pesan yang tertera dengan jelas di sana.

Itu pesan dari Putri.

Jantung Alex mencelos, rasanya seperti dihantam godam tak kasat mata. Otaknya langsung dipenuhi beribu pertanyaan. Kenapa Putri mengirim pesan ke Marko? Ada apa dengan mereka? Apakah mereka sedekat itu?

Namun, alih-alih langsung melabrak atau merebut handphone tersebut, Alex mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Ia menarik napas dalam-dalam dan memilih untuk diam, berpura-pura tidak melihat pesan itu karena takut merusak suasana tongkrongan pada saat itu.

1
Putry Chan
deskripsi terlalu bertele-tele, belum nyambung.
judul dan tagar tidak nyambung " dusta yang sempurna" tema balas dendam, romansa fantasi tapi deskripsi nya hanya berbicara putus cinta dan trauma tidak ada unsur kebohongan, fantasi, atau persaingan.
tidak memancing penasaran.
kurang emosi yang terasa

dan cover tulisan belum menyatu
kurang memikat mata
belum ada menggambar isi cerita
Fahri Sohil Munawar: terimakasih kak atas sarannya akan saya perbaiki terimakasih mohon bimbingannya
total 1 replies
Anisa Nur Afifah
lanjut kakk
Fahri Sohil Munawar: makasih kak sudah mampir 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!