Sepanjang hidupnya, Bayu Rahaja selalu dijuluki si pembawa sial hingga puncaknya kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah tragedi yang memaksanya pulang ke rumah tua keluarganya. Di tengah keputusasaan saat ditagih hutang dan membereskan barang-barang usang peninggalan kakeknya, darahnya tanpa sengaja menetes ke sebuah batu hitam kehijauan yang diam-diam mengaktifkan sebuah pusaka kuno. Waktu di sekitarnya mendadak berhenti, dan Bayu menyadari bahwa kesialannya selama ini adalah harga yang harus dibayar untuk membangkitkan Batu Waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Krak.
Bayu membungkukkan badannya lalu mencengkeram tepi topeng besi yang sudah penyok itu dengan tangan kanannya.
Ia menarik benda logam itu dengan paksa hingga terlepas sepenuhnya dari wajah pria di bawah kakinya.
Kepingan besi itu jatuh berdentang ke atas lantai kayu berdebu.
Bayu membelalakkan matanya saat melihat wajah pria tua berusia lima puluhan tahun dengan bekas luka bakar di pipi kirinya.
"Paman Herman?" bisik Bayu dengan suara bergetar tidak percaya.
Pria di bawah kakinya itu meringis pelan sambil memegangi rahangnya yang lebam dan berdarah.
"Sudah lama sekali tidak berjumpa secara langsung, Bayu," ucap Herman menyeringai masam.
"Kamu... kamu sahabat baik ayahku dulu," batin Bayu mengepalkan tangannya sekuat tenaga.
"Kenapa kamu tega membantai keluarga kami dan merebut dokumen ini?" tuntut Bayu dengan emosi yang membara.
Hendra dan orang orang di Kobra Tower ternyata hanyalah pion pelaksana dari pria di hadapannya ini.
Herman tertawa terbahak bahak hingga terbatuk batuk mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Sahabat baik?" ejek Herman menatap Bayu dengan tatapan dingin penuh kebencian.
"Ayahmu itu terlalu bodoh dan merasa sok suci karena menolak menjual Batu Waktu kepada Organisasi Pusat."
"Kalau saja dia mau bekerja sama sejak dulu, orang tuamu tidak akan mati membusuk di dalam jurang."
"Dasar bajingan tua!" teriak Bayu menginjak dada Herman dengan sangat keras.
Bugh.
Herman terbatuk keras namun seringai di bibirnya sama sekali tidak pudar.
Brak.
Pintu besi ruangan lantai dua itu tiba tiba didobrak kasar dari arah luar.
Anya dan Clara berlari masuk dengan napas terengah engah serta pakaian yang sedikit kotor.
"Bayu! Kamu tidak apa apa?" teriak Anya panik begitu melihat Bayu berdiri di atas tubuh musuhnya.
"Aku berhasil meretas node pemancar distorsi spasial di luar tadi," tambah Clara mengacungkan alat peretasnya.
"Dinding pembatas ruang di luar sudah hancur total."
Bayu menoleh sebentar ke arah kedua gadis itu sambil menganggukkan kepalanya pelan.
"Aku baik baik saja, Anya," sahut Bayu menenangkan kekhawatiran mahasiswi fisika itu.
Clara melangkah cepat mendekati meja kerja kayu di sudut ruangan.
Mata tajam sang informan bawah tanah itu menangkap keberadaan amplop cokelat tebal yang tergeletak pasrah.
"Ini dia dokumen asli milik orang tuamu," ucap Clara menyambar amplop itu dan memasukkannya ke dalam tas.
"Bagus Clara, amankan benda itu sekarang juga," kata Bayu memberi perintah.
Herman yang terbaring lemah di lantai mendadak tertawa semakin kencang menembus keheningan ruangan.
"Kalian bertiga benar benar anak anak muda yang sangat naif," gumam Herman menggerakkan tangan kirinya ke balik jaket.
Klik.
Suara sakelar kecil berbunyi nyaring dari balik dada pria tua itu.
Biiiip. Biiiip. Biiiip.
Suara sirine darurat berfrekuensi tinggi mendadak berbunyi sangat keras menggelegar di seluruh bangunan gedung.
Lampu merah di sudut sudut ruangan mulai berkedip kedip dengan tempo yang sangat cepat.
"Apa yang baru saja orang tua ini lakukan?" tanya Anya membelalakkan matanya ketakutan.
"Sialan! Dia mengaktifkan protokol penghancuran diri berbasis bom peledak di bawah fondasi gedung!" teriak Clara membaca sinyal bahaya dari layar laptopnya.
"Waktu mundur ledakan tinggal tiga puluh detik lagi!"
Herman menatap Bayu dengan sorot mata gila yang memancarkan keputusasaan mendalam.
"Jika aku tidak bisa mendapatkan Batu Waktu itu, maka tidak ada seorang pun yang boleh membawanya keluar dari bukit ini hidup hidup!" seru Herman histeris.
"Ayo kita keluar dari sini sekarang juga!" teriak Bayu memutar badannya meninggalkan Herman.
"Tunggu! Bagaimana dengan orang tua ini?" tanya Anya menunjuk tubuh Herman yang tergeletak.
"Biarkan saja dia busuk bersama dengan kejahatannya di tempat ini!" potong Clara menarik paksa tangan Anya.
Mereka bertiga berlari sprint sekencang kencangnya menuruni anak tangga kayu yang mulai bergetar hebat.
Brak. Brak. Brak.
Bongkahan semen dan debu tebal mulai berjatuhan dari langit langit gedung pos pengawas.
Biiiip. Biiiip.
[Peringatan Sistem: Anomali energi peledak tingkat tinggi terdeteksi di sekitar pengguna.]
[Estimasi waktu sebelum benturan gelombang ledakan: 10 detik.]
"Lari lebih cepat!" seru Bayu mendorong tubuh Anya dan Clara untuk melompati pintu keluar utama.
Mereka bertiga berhasil menembus keluar pintu gedung tepat saat hitungan mundur menyentuh angka nol.