NovelToon NovelToon
Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Status: tamat
Genre:Cintamanis / Diam-Diam Cinta / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aruna Senja

Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.

Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.

Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.

Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.

Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.

Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?

(148 kata Indonesia)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 007

Salah Paham Cici

Ternyata, "ulang dari awal" bukan kalimat biasa.

Itu kutukan.

Keesokan paginya, Kiara bangun dengan kedua paha seperti habis dipakai naik-turun tangga kantor pajak selama tiga hari. Begitu ia mencoba duduk, otot betisnya menarik. Begitu ia berdiri, pinggangnya ikut protes. Ia memegang tepi ranjang, menggigit bibir agar tidak mengeluarkan suara memalukan.

Rayhan Tan benar-benar tidak punya hati saat melatih orang.

Atau mungkin ia punya hati, tapi bentuknya seperti buku panduan operasi kepolisian.

Kiara berjalan keluar kamar dengan langkah kecil-kecil. Ia kira bisa turun tanpa ketahuan, tetapi baru mencapai anak tangga kelima, suara dari bawah sudah memotong udara.

"Pegangan."

Rayhan berdiri di dekat meja makan, sudah rapi dengan kemeja hitam dan celana bahan. Di tangannya ada cangkir kopi. Wajahnya tenang, seolah bukan dia penyebab seorang perempuan berusia dua puluh satu tahun berjalan seperti nenek-nenek.

"Aku bisa," gumam Kiara.

Ia turun satu anak tangga lagi.

Pahanya berdenyut.

Kiara berhenti.

Rayhan meletakkan cangkir. "Aku gendong?"

"Jangan!"

Jawaban itu keluar terlalu cepat. Rayhan mengangkat alis sedikit.

Kiara memegang railing lebih erat. "Maksudku, nggak perlu. Aku cuma pegal."

"Pegal normal."

"Normal untuk siapa? Anggota Densus?"

Sudut bibir Rayhan bergerak. "Kamu baru latihan dasar."

"Kalau itu dasar, aku nggak mau tahu tingkat lanjut."

Rayhan berjalan mendekat, tetapi berhenti dua anak tangga di bawahnya. "Hari ini jalan pelan. Banyak minum. Nanti malam kompres hangat."

"Nanti malam?" Kiara langsung waspada. "Masih latihan?"

"Tidak. Pemulihan."

"Syukurlah."

"Besok latihan lagi."

Kiara hampir terpeleset.

Rayhan mengulurkan tangan, menangkap sikunya sebelum ia jatuh. Sentuhan itu singkat, tapi cukup membuat sisa kantuknya hilang. Ia mendongak dan mendapati Rayhan menatapnya dengan ekspresi terlalu serius untuk seseorang yang baru saja membuat ancaman olahraga.

"Aku tidak akan memaksamu kalau tubuhmu belum siap," katanya. "Tapi kamu harus bisa lepas dari orang seperti Brandon."

Nama itu membuat udara pagi sedikit berubah.

Kiara mengangguk pelan. "Aku tahu."

Rayhan melepaskan sikunya. Di meja makan sudah ada roti bakar, telur, dan susu hangat. Di samping piring, ada satu tube kecil salep otot.

"Pakai setelah mandi."

Kiara mengambil tube itu. "Kak Rayhan selalu siap begini?"

"Aku tidak suka kecolongan dua kali."

Kalimat itu pendek, tetapi Kiara mendengar hal lain di baliknya. Semalam di lorong karaoke mungkin masih tertinggal di kepala Rayhan juga. Bukan hanya di kepalanya.

Di kantor, masalah baru dimulai bahkan sebelum Kiara duduk.

Cici melihat cara Kiara berjalan dari pintu redaksi, lalu matanya membesar seperti menemukan berita eksklusif.

"Ki."

"Jangan."

"Gue belum ngomong."

"Mukamu sudah ngomong."

Cici menarik kursi ke samping meja Kiara dan mencondongkan tubuh. "Kenapa jalan lo begitu?"

"Latihan."

"Latihan apa?"

"Bela diri."

Cici menatapnya dari atas sampai bawah. Lalu dari bawah sampai atas. "Bela diri sama siapa?"

Kiara pura-pura membuka laptop. "Instruktur."

"Instruktur namanya Tetangga Misterius?"

Jari Kiara berhenti di keyboard.

Cici langsung menunjuk wajahnya. "Nah! Lo diam setengah detik. Berarti benar."

"Ci, aku pegal karena latihan. Jangan mikir aneh-aneh."

"Gue nggak mikir aneh-aneh. Gue cuma melihat fakta." Cici menghitung dengan jari. "Satu, lo pulang sama cowok misterius. Dua, cowok itu muncul pakai seragam dan nyaris bikin Brandon pipis di tempat. Tiga, hari ini lo jalan kayak habis diterkam serigala."

"Cici!"

Beberapa kepala di meja sebelah menoleh.

Cici langsung merendahkan suara, tetapi matanya semakin bersinar. "Ki, jawab jujur. Dia siapa?"

Kiara menelan ludah. "Tetangga."

"Tetangga yang bisa bawa lo ke ruang latihan keluarga Tan?"

"Kamu tahu dari mana?"

"Galih dengar Aldi bilang 'Pak Rayhan'. Satu kantor sekarang tahu nama dia. Tinggal hubungan lo aja yang belum jelas." Cici menyipitkan mata. "Rayhan Tan itu polisi kaya raya yang kemarin muncul kayak adegan drama. Tetangga doang? Serius?"

Kiara membuka dokumen kosong di laptop. "Kita kerja."

"Pengalihan isu gagal."

Untungnya Bu Ratna keluar dari ruangannya tepat waktu. "Kiara, nanti siang kamu ikut saya rapat tim kriminal. Cici, berhenti menginterogasi temanmu seperti infotainment."

Cici langsung duduk tegak. "Siap, Bu."

Bu Ratna melirik Kiara. Tatapannya turun sebentar ke cara Kiara duduk pelan, tapi ia tidak bertanya. "Kamu sanggup?"

"Sanggup, Bu."

"Kalau tidak sanggup, bilang. Saya butuh reporter, bukan martir."

Kiara mengangguk. "Iya, Bu."

Bu Ratna meletakkan satu map tipis di meja Kiara. "Ini daftar berita kriminal yang sedang kita pantau. Kasus Brandon belum boleh naik sebelum polisi memberi lampu hijau, jadi jangan ada yang mengejar sensasi. Tapi kamu boleh ikut membaca pola liputan, belajar cara memisahkan fakta, rumor, dan tekanan keluarga kaya."

Cici yang tadi ingin bercanda langsung menutup mulut.

"Kota Barat Post bukan akun gosip," lanjut Bu Ratna. "Kalau kita salah satu kata, korban bisa diserang balik. Kamu mengerti, Kiara?"

Kiara menatap map itu. Di sampulnya tertulis Tim Kriminal dengan spidol hitam.

"Saya mengerti, Bu."

"Bagus. Hari ini kamu belajar dulu. Besok baru saya kasih tugas kecil."

Setelah Bu Ratna pergi, Cici mencondongkan tubuh lagi. "Reporter, bukan martir. Tapi kalau soal cowok, lo jelas martir. Menderita diam-diam."

"Aku nggak menderita."

"Oh? Jadi menikmati?"

Kiara hampir melempar sticky notes ke wajahnya.

Ponselnya bergetar. Pesan dari Rayhan muncul.

Rayhan:

Sudah sampai kantor?

Kiara menatap layar terlalu lama.

Cici mencuri lihat sebelum Kiara sempat membalik ponsel. "Aha! Pak Rayhan lagi?"

"Ci."

"Dia nanya apa?"

"Nanya sudah sampai atau belum."

"Perhatian banget untuk tetangga."

Kiara mengetik balasan singkat.

Kiara:

Sudah. Jalan pelan seperti saran Kak Rayhan.

Rayhan:

Jangan naik turun tangga kalau tidak perlu.

Kiara:

Ini kantor, bukan rumah satu lantai.

Rayhan:

Kalau perlu, minta Cici ambilkan.

Cici membaca pesan itu dari samping, lalu memegang dada. "Aduh. Dia sudah tahu nama gue. Ini makin serius."

Kiara mengunci ponsel. "Kerja, Cici."

"Tunggu." Cici tiba-tiba membuka browser. "Rayhan Tan umur berapa?"

"Dua puluh tujuh."

"Lahir bulan apa?"

Kiara seharusnya tidak menjawab.

Tapi mulutnya lebih cepat. "November."

Cici pelan-pelan menoleh. "Lo tahu bulan lahir tetangga?"

Kiara membeku.

Ia tahu karena tanggal lahir Rayhan tertulis di dokumen pemberkatan sederhana yang masih tersimpan di laci kamarnya.

"Aku pernah lihat," jawabnya lemah.

Cici mengetik cepat. "November berarti bisa Scorpio. Ki, tahu nggak, katanya cowok Scorpio itu..."

"Jangan lanjutkan."

Cici membaca layar, lalu senyumnya melebar seperti setan kecil menemukan bahan bakar. "Intens. Posesif. Dan kalau soal gairah, katanya paling kuat."

Wajah Kiara langsung panas sampai telinga.

Cici menepuk meja pelan, puas. "Nah. Itu muka orang yang tahu sesuatu."

1
Alissia
hai thor🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!